
"Iya, Nak! Ayah gak akan ninggalin kalian. Kalian itu Anak Ayah yang paling Ayah sayangi," ucap ayahku.
Segaris senyum bahagia pun tertoreh di bibirku yang pucat. "Terimakasih Ayah," sahutku.
"Selain kalian berdua. Sekarang Ayah sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Nak!" ungkap ayahku dengan sendu. "Ayah tidak bisa hidup tanpa kalian berdua. Ayah tau Nak! Kalian pasti tidak suka melihat Ayah 'kan?! Karena Ayah terlalu sering menghukum kalian," katanya, menatap aku dan adikku.
Aku langsung menunduk malu. Aku sama sekali tidak pernah beranggapan seperti itu mengenai ayahku. Seketika kedua sorot mata yang nanar ini pun tertahan melihat ke bawah.
"Ayah, kami gak pernah kayak gitu," balasku, melihat adikku yang sedikit membenarkan tentang pengungkapan dari ayah kami.
"Tapi itu mungkin untuk mu saja, Liyan," sambung ayahku, melirik adikku.
Adikku hanya diam dan menatap lurus ke bawah sambil tercengang. "Ayah, tau kalau Ayah terlalu sering menghukum kalian. Sampai kalian hari ini belum bisa bermain keluar," tandasnya.
Sebenarnya itu adalah betul. Kalau hingga saat ini kami belum bisa bermain keluar. Sebagaimana anak-anak yang lain. Liburan panjang pun tidak begitu berguna bagi kami berdua.
"Ayah kalau gitu sekarang kami boleh bermain, ya!" pinta adikku memohon dengan lembut.
Aku tercengang mendengar tawaran adikku yang belum pernah mau menyerah sekali pun. Antusias yang sangat tinggi dari adikku masih saja bersemayam di dalam dirinya.
"Ayah, 'kan Ayah di rumah menemani kami," sambut adikku yang terus berharap kalau ayah kami mau merubah keputusannya.
Sekejap ayahku diam dan memutar wajah dari adikku. Wajah senjanya langsung murung mendengar rayuan adikku yang manja meminta ingin bermain.
"Ana, Kakakmu saja tidak meminta apapun kepada Ayah," tutur ayahku terhadap adikku.
Muka adikku refleks cemberut bercampur masam. Tubuh kecilnya yang tadi sudah lebih baikan kini kembali uring-uringan.
"Ayah, padahal 'kan, kami cuma bermain di halaman saja," rengek adikku sebal.
Aku hanya diam saja. Tidak banyak kata yang aku lontarkan kepada ayahku. Tidak seperti adikku yang terlalu diperbudak oleh ambisinya untuk bermain.
"Ayah tau itu Nak! Tapi, Ayah lebih tau dirimu. Kalau Ayah sedikit saja lengah. Kalian berdua pasti pergi diam-diam," cetus ayahku. Berdiri melihat aku dan adikku.
Sungguh ini sangat menyakitkan bagi ayahku. Kepergian ibu sambung kami mendadak membuat ayahku tidak bisa berpikir bijak hari ini.
"Nak," kata ayahku melihat adikku.
Aku dan adikku menaikkan pandangan melihat ke arah ayahku. Aku dan adikku bertemu tatap sambil menahan air muka kesedihan.
"Hari ini, Ayah akan memberi izin untuk kedua Anak Ayah bermain di luar," kata ayahku, memutar badan meninggalkan kami.
"Kak!" panggil adikku langsung sumringah.
__ADS_1
Raut mukaku hanya terlihat datar, melihat pemandangan di dalam rumah kami ini. Sontak rumah ini langsung meredup tanpa rasa kehangatan.
"Ayah, serius, Kak?" tanya adikku.
Tubuh mungil kuseret menghampiri adikku. "Ana, Kakak kurang tau," ucapku, melirik ayahku.
"Kalau Ayah serius. Kita hari ini pasti enak dong, Kak," bisik adikku, menaikkan alis.
"Ana, tapi ingat! Jangan senang dulu! Ayah memang memberi izin untuk kalian. Tapi, bermain di rumah ini aja!" cetus ayahku.
Sontak suara adikku langsung berteriak menolak. "Ayah, tadi Ayah bilang, kami bermain di luar," sesal adikku. "Sekarang, kenapa Ayah berubah lagi?" tanyanya sebal.
"Nak, Ayah sudah memberi izin. Jadi, apa salahnya. Kalian berdua bermain di dalam rumah sambil nemani Ayah," ucap ayahku mengiba.
Mengingat permintaan ayahku. Kami tidak bisa untuk menolaknya. Begitu sungkan bagi kami berdua untuk meninggalkan ayah yang paling kami sayangi seorang diri di dalam rumah.
"Padahal, aku pengen bermain keluar," rintih adikku, melihatku bersedih.
"Nanti Ayah pasti akan menyuruh kita bermain di luar?!" ujarku.
Menatap ayahku yang berbesar hati hari ini untuk menemani kami menimbulkan rasa kagum bercampur haru. Sungguh tak di sangka semua ini terjadi begitu cepat.
"Hari ini Ayah di rumah. Jadi, Ayah harap kalian bermain di rumah ya, Nak!" pinta ayahku dengan lemah lembut.
"Kami akan bermain di rumah aja," lanjut adikku. Berdiri di depan pintu melihat keluar yang banyak daun berterbangan.
"Tapi, aku gak punya mainan, Kak," keluh adikku manyun.
Wajahku polosku terikut sedih mendengarnya. "Dik, kita bermain pakai mainan Kakak aja, ya!" bujukku.
"Liyan, kalau Adikmu tidak mau bermain di rumah. Pergilah bermain di luar, Nak," suruh ayahku.
"Ayah!" panggil adikku. Berjalan melintasiku untuk melihat ayahku.
"Iya, Nak," sahut ayahku.
"Ayah mau ke mana?" tanya adikku ingin tahu.
Kedua bibir ayahku langsung tersenyum. "Nak, Ayah mau cuci piring," jawabnya sambil mengambil ember tempat pakaian kotor.
"Ana, akhirnya, Ayah mau juga menemani kita di rumah," kataku pelan.
Punggung ayahku yang sudah menua terlihat dengan ramah membelakangi kami. Jenjang kakinya yang sudah menua berdiri tegak.
__ADS_1
"Ayah, jangan lama-lama Ayah nyuci piringnya. Kami gak berani," harapku memohon.
Sontak adikku langsung menahan tawa. "Ayah, Kakak dari dulu memang selalu penakut, hihihi!" ejek adikku senang.
"Ana," tegur ayahku dengan nada suara pelan. "Ana, kalau Kakakmu penakut. Jangan di ejeki, Nak. Nanti kalau Kakakmu nangis, bagaimana ?" tanya ayahku.
"Ups! Iya, Ayah. Maaf aku lupa," sambung adikku, menutup mulutnya.
Aku menunduk melihat lantai. Ejekan adikku yang selalu garing dan penuh tawa itu terdengar malah menutupi suasana yang mencekam.
"Kakakmu itu mudah nangis, Nak," ucap ayahku. "Jadi, jangan ledek. Nanti Ayah tidak jadi kerja lagi," canda ayahku.
"Biar kami saja yang nyuci piringnya, Yah," lanjutku, mengalihkan pembicaraan ayah dan adikku.
"Jangan Ayah. Nanti Kakak lupa pulang," selah adikku, melarang dengan keras.
"Bair Ayah saja ! Kalian bermain saja," tutur ayahku.
Kami berdua pun bertemu pandang. Ayahku tidak biasanya seperti ini. Mau berkorban waktu demi kami.
"Ayah, kalau begitu kami bermain di luar," pamit adikku meminta izin.
"Pergilah, Nak! Tapi ingat ! Jangan jauh-jauh. Nanti kalian tidak tahu jalan pulang," sungut ayahku, membawa ember yang berisi piring kotor.
"Baik, Yah! Kami akan bermain di halaman aja kok," kataku.
"Hati-hati ya, Nak! Ingat pesan Ayah!" teriak ayahku dari jauh.
Kejahilan aku dan adikku langsung terlihat. Hal ini setidaknya membuat aku merasa senang atau sedih. Aku juga tidak tahu. Belum lagi dengan adikku yang sudah mulai sibuk mencari alat-alat tempurnya untuk bermain.
"Kak, aku mau bermain di luar yang lama," papar adikku, sedikit balas dendam.
"Jangan, Dik! Nanti Ayah marah," tegurku.
"Kakak tenang saja. Ayah gak akan marah. Hari ini 'kan Ayah udah ngasih izin," timpal adikku yang selalu merasa benar.
Semua hari ini seakan berada di dalam genggaman tangan adikku yang terlalu tergiur dengan bermain.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...