Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Diruang dokter


__ADS_3

Kedua bola mata yang sayu. Menatap ayahku yang berdiri mematung dari tempat ku. Kepanikan yang mengguncang saat ini membuat semuanya redam.


Wanita itu begitu menghanyutkan hari ini. Sorot matanya yang tajam membuat ku tenggelam dalam ketakutan.


Rumah sakit yang ramai membuat aku terbawa dalam keheningan. Riuh orang-orang yang bersilewaran begitu menelan tubuh lemahku.


" Liyan, jangan berdiri disitu. Pergi kesana cari tempat duduk untuk mu." Pekiknya.


Menatap nya. " Ia Bu!" Pergi berlalu meninggalkan nya dengan menyeret kaki lemahku sedikit gontai. Tubuh mungil yang lemah aku seret dengan paksa menjauh dari tempat yang aku singgahi.


" Dengar, jangan kemana-mana! Nanti kau jadi kerjaanku lagi, mencari! Buang-buang waktu!" Dengan nada suara sedikit meninggi.


Berjalan perlahan dan menghentikan langkah. Diam mendengar ucapan nya. Menatap lurus kedepan tanpa menoleh kebelakang.


Di belakang dia terus bersuara mengenai diriku yang sakit-sakitan. Ingin rasanya aku berteriak memberontak. Namun, dengan keadaan yang mengapit ku memaksaku untuk diam seperti patung.


" Liyan, ayo cepat!" Manarik lenganku. Sehingga membuat tubuh lemahku ingin tersungkur.


Dengan gagap aku mencoba untuk menahan agar aku tidak terjatuh. Kakiku begitu tersengal melangkah mengikuti langkahnya yang kencang. Orang -orang yang berjalan begitu sesak mengapit tubuhku yang lemah. Membuat napasku begitu sesak.


" Liyan, hati-hati! Ini begitu ramai. Lihat jalan mu!" Dengan penuh perhatian.


"Ia Bu!" Berjalan.


Rumah sakit yang begitu banyak dikelilingi oleh kursi-kursi yang tersusun rapi. Kami lewati dengan perlahan.


Begitu banyak terlihat orang-orang yang sibuk menunggu panggilan. Ada yang melamun dengan pandangan kosong. Ada yang sibuk dengan menyusun berkas. Ada yang sibuk mendiamkan anak nya yang rewel. Ada yang membuka kotak makannya untuk sekedar mengisi perutnya yang kosong. Ada yang tertawa menikmati rumah sakit yang begitu penat.


Ada yang berjalan dengan terseok-seok menyeret kakinya agar cepat sampai menemui dokter. Itulah pada diriku saat ini. Harus berjalan dengan kencang. Mengikuti ibu sambungku yang melangkah di depan.


" Liyan, cepat! itu ruangan dokternya." Menggenggam tanganku.


Kedua bola mataku langsung menatap ruangan yang di tunjuk oleh nya. Begitu, gemetar aku menatapnya.


" Bu, aku takut lah !" Gemetar.


" Takut!" Menatapku. "Jangan takut. Dokternya tidak galak. Kemaren kan, kamu lihat dokternya.


Baik, kan!" Penuh penekanan.


" Tapi, Bu. Aku takut sama jarum suntiknya." Dengan lirih.


" Ah! itu tidak apa-apa. Kan, cuman jarum suntik. Jarum suntik itu tidak sakit." Meyakinkan.


Mendengar dia mengatakan jarum suntik tidak sakit dan dokternya yang baik hati. Membuat ku seperti ingin memilih. Dokter yang baik dan jarum suntik yang sakit.


Pikiranku pun sepanjang jalan terus berpikir. Hatiku begitu senang jika mengingat tentang dokternya. Tapi, begitu mengingat jarum suntik hatiku kembali deg-degan ketakutan.


" Sekarang kita tunggu disini!" Melepaskan genggamannya.


Aku pun memutarkan badanku duduk di kursi tunggu.


" Duduk disini ya! Dengar jangan kemana-mana." Mengayunkan telunjuknya ke udara. Memberi peringatan.


" Baik, Bu." Jawabku spontan sambil mengangguk.


Dia pun memutarkan badannya menghilang dari hadapanku.


Di depan pintu dia berhenti. Di dalamnya terdapat beberapa perawat yang bekerja. Mereka begitu sibuk. Ada yang berdiri memanggil pasien. Ada yang menulis beberapa lembar kertas. Ada yang menerima berkas pasien baru. Seperti, ibu sambungku saat ini. Membawa rekam medis ku untuk diserahkan kepada mereka. Agar di periksa oleh dokter yang akan menangani ku.


Dari tempat yang aku diami saat ini. Aku tidak begitu mendengar apa pembicaraan mereka berdua. Mereka terlihat begitu serius dengan wajah yang ketat.


Sesekali ibu sambungku terlihat menoleh ku. Seakan dia mengatakan sesuatu hal tentang diriku.


Aku yang melihatnya begitu penasaran. Ingin rasanya aku berlari menghampiri mereka. Mencari tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


Gelagat ibu sambungku begitu membuatku tertarik untuk menatapnya dengan tajam.


Melihat segala gerak geriknya yang menatap ku sesekali dari kejauhan.


Begitu juga dengan perawat baju putih itu. Dia begitu tajam melihatku. Mengikuti apa yang disampaikan oleh wanita yang ada di hadapannya.


Gurat wajahnya menunjukkan keseriusan melihatku. Membuatku semakin antusias untuk menghampiri mereka dan mencari tahu.


Ibu sambungku begitu betah berdiri disitu. Dia terlihat dengan anteng tanpa memikirkan diriku. Kata-katanya, yang memberiku peringatan tadi begitu mengikatku sehingga tidak bisa membuatku untuk beranjak.


Wajahnya masih terlihat dengan jelas di hadapanku ketika dia tadi memberiku peringatan begitu menekan. Sorot matanya yang tajam mendelik melihatku.


Seketika, aku mengurungkan niatku untuk berjalan menghampiri nya dengan penuh tanda tanya yang menumpuk di benakku.


Mereka terlihat seperti orang yang panik. Ketika, melihat rekam medis ku dan melihat diriku yang duduk diam menunggu.


Perawat itu terlihat sesekali membuka lembaran demi lembaran. Melihat ku dan melihat rekam medis yang di genggamnya.


Wajahnya, begitu cemas terlihat ketika dia membaca lembaran medis yang di genggamnya.


Spontan wajah ibu sambungku pun ikut berubah. Ketika, perawat itu berbicara sambil melihat rekam medis yang di genggamnya.

__ADS_1


Dia terlihat terpukul. Wajahnya pun sedih seketika. Diam seperti mendengar kabar buruk yang menimpanya secara tiba-tiba.


Tubuhnya kini terlihat diam, lemas tak berdaya. Tangannya pun kini terlihat jatuh terkulai.


Aku begitu panik melihatnya. Ingin melangkah namun, tak berdaya. Keberanian ku menghilang seketika. Kecemasanku membuat ku depresi.


Rasanya hidupku hari ini begitu memilukan. Bernyawa tapi tak berdaya. Waktu yang lama begitu mengikatku dengan kehendaknya. Dia membawa ku berputar semaunya. Menggerakkan ku sesuka hatinya. Menampar ku sekuatnya.


Dia tidak pernah memberiku ruang sedikitpun. Untuk tidak melangkahkan kaki kerumah sakit yang menyeramkan ini. Dia begitu tersenyum melihat ku yang ketakutan. Gemetar, ketika akan menduduki kursi, berhadapan dengan dokter. Apalagi, ketika dokternya menunjukkan jarum suntik yang menakutkan. Memberi obat yang pahit.


Huh! Rasanya aku ingin mencari rumah sakit yang lain. Rumah sakit yang tidak ada jarum suntik dan obat yang pahit.


Tapi, Ayahku begitu senang ketika mendengar rumah sakit. Seakan, ayahku yakin, kalau rumah sakit bisa menyembuhkan aku. Tapi, itu tidak terlepas dari usaha dan doa kepada sang Maha Pencipta.


Kedua netra ku masih nanar menatap ibu sambungku yang terlihat seperti ingin menghampiri ku segera. Wajahnya yang tampak terpukul kini mulai berangsur menghilang.


Perawat yang tadi dengan ketat. Pun, terlihat rileks. Sementara, suara yang mengisi rumah sakit terlihat memenuhi udara. Disana sini begitu, banyak suara terdengar. Suara anak-anak yang menangis dan suara ibu yang mendiamkan anaknya. Suara tawa semangat menyemangati satu sama lain terdengar menembus gendang telingaku.


Mereka terlihat begitu tegar. Aku pun ikut hanyut akan ke tegaran mereka. Pil pahit yang menghampiri tidak membuat semangat ku redup.


.


.


.


Seketika aku hanyut terbawa dalam lamunanku yang menyeramkan dan menyenangkan.


Liyan!


Seketika aku tersentak, gelagapan seperti orang panik.


" Melamun aja kerjamu!" Mendelik. " Ayo cepat!" Menarik lenganku. Berjalan lebih dulu.


Mau tidak mau dengan hati yang berat dan langkah yang tersengal aku terpaksa mengikuti perintahnya. Tanpa banyak kata aku berjalan dengan perlahan.


" Ibu! Apa katanya, aku di suntik?" Menatap ibu sambungku. Berjalan.


" Tidak! Kita cuman disuruh menemui dokter saja!" Dengan tegas.


" Bu, kalau aku di suntik. Aku tidak mau." Protes.


" Tenang saja, engga kan ada yang mau menyuntikmu." Penuh penekanan.


Langkah kami pun tak terasa telah berhenti di depan pintu. Seketika, kaki lemahku gemetar. Mata perih ku menatap kebawah melihat kakiku yang terhenti.


" Mari silahkan masuk!" Sambut seorang perawat. Membuka pintu.


" Silahkan duduk Ibu!" Dengan mengayunkan tangannya.


Mataku begitu gelapan melihat ruangan yang pernah aku masuki sebelumnya. Denyut jantung di dada berdebar tak menentu melihat semua yang terduduk di ruangan.


Sejenak aku mati rasa melihatnya. Kursi yang aku duduki tertawa geli melihatku. Aku berusaha menetralkan untuk mengendalikan diriku. Menghembuskan napas perlahan sambil menatap dengan pandangan kosong.


" Mana anaknya Ibu." Melihat rekam medis yang terletak dihadapannya.


" Ini Bu!" Menarik diriku perlahan.


" Ini ada keluhan apa lagi, Ibu? Saya lihat catatan nya panasnya belum turun juga. Sudah berapa lama? Panasnya tidak turun." Membalik lembaran berikutnya.


" Semenjak minum obat dok. Panasnya masih tinggi terkadang kedinginan juga."


" Tidak pernah turun sama sekali." Ingin tahu.


" Turun dok! Tapi tidak bertahan lama setelah itu naik kembali panasnya. Selang beberapa jam kemudian panasnya naik." Berusaha menjelaskan.


" Apa obatnya tidak rutin diminum?" Melihat Ibu sambungku. " Biasanya, setiap anak yang meminum resep obat yang saya berikan mereka langsung sembuh. Tidak ada keluhan apapun. Tapi kenapa dengan anak Ibu seperti ini? Apa dia ada riwayat penyakit lain, seperti malaria atau demam berdarah, begitu. Kenapa bisa sampai selama ini? Kan, kasihan anak Ibu." Mendesis kecil.


Seketika, Ibu sambungku terdiam mendengar ucapan dokter itu. Menatap ku dengan lirih. Spontan jiwa ke ibuannya keluar.


" Ia dokter! Kami tidak belum mempunyai uang." Kata ibu sambungku dengan lirih.


Dokter itu seketika ikut terlena mendengar curahan hati ibu sambungku. Menarik bibirnya dan menghela napas kasar.


" Baiklah Bu. Sekarang kita periksa darahnya dulu untuk memastikan penyakitnya." Sahut dokter muda itu.


" Baik Bu!"


Dokter muda itu pun memberikan selembar kertas kepada perawat yang telah ia tulis.


" Mari ikuti saya." Perintah perawat itu berjalan lebih dulu.


Kami beranjak mengikuti perawat itu. Mengikutinya melangkah memasuki sebuah ruangan yang lebih menyeramkan. Mataku begitu terbelalak dengan lebar melihat di sekeliling sudutnya. Hening dan terang. Begitu banyak mesin-mesin yang aneh dan lampu-lampu.


Orang -orang berpakaian putih pun terlihat bersilewaran dengan menutupi sebagian wajah mereka. Masing-masing ada yang memegang tabung kecil berbentuk oval. Aku melihat tabung kecil yang berisi gumpalan pekat berwarna merah.


Melihat itu, seketika aku terenyah melihatnya. Wajah ku langsung diam terlihat begitu ketat. Berjalan dengan sedikit gontai. Sambil memasang wajah sedikit takut.

__ADS_1


" Bu, aku takut." Menggenggam jemarinya dengan erat.


" Tenang saja!" Menatapku dengan teduh. Menenangkan.


Sementara, perawat yang tadi berjalan didepan kami. Terlihat berhenti di sebuah ruangan yang terletak paling unjung. Dia masuk sambil menyerahkan berkas yang dibawanya. Berbicara dengan orang yang berpakaian putih sambil menatap kearah ku.


Kami yang berjalan sedikit tertinggal segera menghampiri ruangan itu. Berhenti di depan pintu menunggu perintah selanjutnya.


" Ibu, berkasnya sudah saya letakkan di dalam. Ibu tunggu disini untuk pemeriksaan selanjutnya. Nanti mereka akan memanggil dan memberi tahukan bagaimana caranya?" Kata perawat keluar dari ruangan sambil menutup pintu. Menghilang.


" Baik Bu." Menundukkan kepala sedikit.


Setelah itu! Tidak berapa lama orang yang berpakaian putih itu pun keluar dan memanggilku dari balik pintu.


" Mari Bu. Tolong bawa masuk anaknya. Dengan sopan. Menatapku.


Kami pun masuk. Begitu sampai didalam ruangan. Seketika napasku terhenti melihat jarum suntik yang akan di tusukkan ke tubuhku.


" Mari silahkan duduk disini!" Perintah orang itu sambil mengayunkan suntiknya ke udara.


Tubuh lemahku yang membeku. Terpaksa bergerak mengikuti perintah dari orang itu. Gemetar terasa seluruh tubuh mungilku. Tanganku mencengkram jemariku dengan erat.


Wajah polos ku yang pucat begitu ketat. Mataku dengan mendelik melihatnya dan tidak berkedip.


" Adik, kemari!" Duduk di kursi.


Kakiku yang terdiam dilantai seperti terkena lem. Melangkah dengan berat dan melepaskan cengkraman yang menahan kakiku.


Aku langsung duduk di kursi. Tepat disampingnya dengan jarum suntik.


" Taruh tangannya disini ya, dek! Seperti ini!" Memperagakan dengan memegang tanganku.


Melihat jarum suntik yang akan mendarat di tanganku. Refleks aku menariknya seketika.


Ups! Orang itu pun terkejut melihatnya.


" Dek, jangan kayak gitu. Nanti jarum suntiknya patah." Sedikit kesal.


" Kenapa sus? Tanya ibu sambungku. " Kenapa kau lakukan itu?" Menatapku tajam. " Sudah, sudah jangan takut!" Menenangkan.


" Aku takut!" Dengan nada suara lirih. Melihat ibu sambungku. Butiran kristal pun jatuh membasahi pipiku.


" Adek! Jangan takut. Ini tidak sakit. Cuman sebentar kok! Rasanya engga sakit. Sama seperti di gigit semut." Menatapku dengan suara lembut.


" Aku tidak berani! Aku takut!" Menjauh dari kursi.


" Dek, engga apa-apa! Ini engga sakit kok. Biar kamu cepat sembuh." Rayu orang itu menenangkan aku.


" Sini cepat! Itu, dengar apa kata kakak itu." Kata ibu sambungku. Menarik lenganku.


Dengan jantung yang berdebar dan gemetaran. Ketakutan ku yang begitu besar menyelimuti ku. Membuatku seperti orang gila.


" Tapi aku takut!" Kataku kembali. Duduk di kursi.


" Kalau kamu takut jangan dilihat. Pejamkan saja matanya." Pinta orang itu.


Aku pun memejamkan mataku seperti terhipnotis. Mengulurkan tanganku.


" Jangan di buka matanya!" Mengikat lenganku dengan tourniquet.


Tak berapa lama. " Nah, sudah selesai. Engga sakit kan." Menempelkan kapas yang telah diberi alkohol.


Spontan aku membuka kedua mataku. Senyum sumringah pun langsung terlepas dari bibir kecilku.


Rasanya begitu lempang. Ikatan yang membuat aku terlihat seperti batu kini menghilang.


" Engga sakit kan!" Kata ibu sambungku.


Refleks aku menarik bibirku menatapnya.


" Sebentar ya, Ibu. Kita periksa dulu. Silahkan tunggu di luar." Membuka pintu.


" Baik!" Melangkah keluar.


Kami pun berjalan duduk di kursi untuk menunggu hasil dari pemeriksaan. Hatiku rasanya begitu senang. Ternyata, jarum suntiknya tidak sakit.


Kedua netraku pun melihat kedalam ruangan yang ditutupi dengan pintu kaca. Dia sibuk memeriksa hasil darahku tadi.


Aku rasanya seperti menghirup udara segar. Setelah melalui semua yang aku alami hari ini. Menatap lepas sekeliling ruangan yang tertutup.


.


.


.


Terimakasih buat teman-teman yang sudah memberi komentar, like dan favorit.🤗

__ADS_1


❤️❤️❤️


Bersambung.....


__ADS_2