Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Mengikat tali sepatu


__ADS_3

Sepatu yang lembab memang tidak enak untuk di pakai ke sekolah karena mengusik kenyamanan dan kaki pun pasti terasa dingin.


"Liyan, kenapa sepatumu kau bawa dari kamar ?" tanya ayahku terkejut melihatnya.


Deg!


Aku langsung terdiam melihat sepatu yang tergantung setengah di udara.


"Ayah tidak pernah melihatmu membawa sepatu ke dalam kamar... ?" tanya ayahku semakin menyelidik. "... kau 'kan, gak pernah suka sepatu masuk kamar. Pasti kau bilang bau!" kata ayahku menajamkan tatapannya padaku. Wajahnya semakin mengerut bercampur curiga berpikir melihat sepatu yang kupegang.


Aku semakin diam saja melihat lantai. Berjalan menuju pintu. "Ayah, semalam aku sengaja menaruhnya di kamar," jawabku menunduk melihat sepatu.


"Kau terlambat pulang ?" tanya ayahku.


Deg!


Tanganku pun langsung terhenti setengah di udara mengikat tali sepatu. Bola mataku pun melebar panik setelah mendengar pertanyaan ayahku yang mendadak seakan dia mengetahuinya.


"Liyan, semalam kau pulang jam berapa?" Ayahku yang telah bersiap untuk kerja kembali bertanya.


Aku terus mengikat tali sepatu hingga selesai. "Ayah... ," Aku diam sedetik mengatur napas memberanikan diri untuk memberitahu ayahku. "... semalam aku pulang larut siang, Yah," jawabku mengerjitkan kedua mata was-was dari kemarahan ayahku. Tetap duduk membelakangi ayahku.


"Pulang larut siang ?" tanya ayahku terkejut setelah mendengarnya.


Aku semakin mengerjitkan kedua mata dengan kencang. "Mmm." Aku mengangguk tanpa menoleh ayahku.


"Lalu, apa kau kena hujan semalam ?" tanya ayahku berlanjut mencari tahu.


Deg!


Glek!


Jantungku berhenti seketika menelan ludah. Bola mata pun semakin melebar melihat pohon bunga yang berdaun hijau. Di ikuti oleh tanganku terkulai lemas.


Hasrat hati ingin menyembunyikannya dari ayahku tapi karena aral melintang menggagalkan semuanya. Rencana yang telah matang kususun tadi malam, pagi ini tidak berjalan dengan mulus. Semuanya di luar kendali. Bola mata terkejut bercampur kecewa pun terpancar jelas.


Pertanyaan ayahku yang menyerang semakin banyak terdengar di telinga.


"Lantas. Makanya, sepatumu basah?" tanya ayahku dengan penuh penekanan mendesakku untuk mengatakannya.

__ADS_1


Aku semakin gugup tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Adik yang selalu berada di sampingku dan selalu membela, ini tidak lagi ada. Dia sudah bangun lebih awal dariku dan telah pergi lebih dulu.


Aku semakin terjebak sendiri dengan pertanyaan ayahku yang bercampur dengan kecurigaan.


"Jawab Ayah! Dari mana kau semalam? Sampai kau pulang siang," kata ayahku terus bertanya dan ingin tahu.


Aku semakin terjepit. Aku seakan dilema pagi ini. Ingin sekali aku rasanya berkata jujur tapi mengingat ayahku aku jadi rasanya ingin berbohong sedikit saja. Namun, itu akan menjadi masalah besar. Ayahku akan semakin menaruh kecurigaan mendalam padaku. Dia juga bisa hilang kepercayaan terhadap apa yang aku katakan ke depannya. Sepertinya aku bagaikan makan buah simala kama. Di satu sisi melindungi diri dari ayahku. Di sisi lain menjaga kepercayaan ayahku.


Keingintahuan ayahku yang antusias membuat aku berpikir lebih keras, jujur atau bohong. Aku yang telah bangun dari duduk berdiri tegak sambil memegang kedua tali tas yang tersandang mendengar kembali.


"Liyan, Ayah tau. Bagaimana Anak Ayah?!" katanya terus mendesak agar aku berbicara.


Namun, mulut ini masih bersikeras untuk menguncinya dengan rapat. Kalau aku berkata jujur, ayahku pasti akan mendelik dengan tajam . Akan tetapi, kalau aku bohong ayahku selamanya, pasti tidak akan percaya lagi padaku, pikirku.


Sepatu yang telah kupakai dan tanah yang akan kulalui tiada henti terus kupandangi sembari berpikir.


"Ayah, memang iya, semalam aku pergi," jawabku kembali mengerjitkan mata kuat bercampur cemas.


Deg!


Ayahku tidak lagi mengeluarkan suaranya dari belakang. Dia diam seakan dia kesal mendengarnya. Ayahku yang berdiri di belakangku dengan pakaian kerjanya membuat bertanya-tanya.


"Liyan, kalau kau sakit kena hujan itu, bagaimana?" tanya ayahku khawatir. Mengusik kembali pendengaranku.


"Uang pasti akan habis untuk mu saja," sambung ibu sambung kami memotongnya tiba-tiba terdengar.


Deg!


Aku kembali tertunduk. Hati yang setengah bahagia kembali bersedih. Mendadak aku dan ayahku langsung terdiam.


"Iya 'kan?" tanya ibu sambungku menekankan seakan pertanyaannya itu membenarkan apa yang di sangkanya.


"Uang masih bisa di car... ." Ayahku menghentikan ucapannya.


"Ayah, maaf 'kan aku," potongku langsung meminta maaf. Memutar badan tepat ke arahnya.


Ayahku langsung menghembuskan napas kasar bercampur kecewa. Ayahku sepertinya frustrasi setelah mendengar jawabanku.


" 'Kan bisa kau tidak ikut, Liyan?!" kata ayahku bertanya.

__ADS_1


Aku semakin membeku tidak bisa berkata-kata lagi. Pilihan sangat sulit bagiku. Mana mungkin aku harus mengikuti semua kehendak ayahku sementara aku masih berstatus sebagai siswa yang punya banyak teman. Kalau teman sakit ya, sudah keharusan kami untuk menjenguknya, pikirku.


Akan tetapi, ayahku sangat sulit untuk memahami itu. Dia sama seperti adikku terlalu egois dalam menjagaku.


Aku dianggap sebagai Anak Emas yang tidak boleh bermain, pergi jauh-jauh, apalagi terlambat pulang sekolah.


Ayahku selalu bilang kalau nanti di luar sana ada orang jahat yang mau menculik dan ayahku juga bilang, kalau wajahku adalah obat lelahnya. Makanya, ayahku menerapkan aku lebih dulu pulang ke rumah sebelum dia kembali dari kerja.


"Dia itu bosan di rumah saja. Kau selalu mengurungnya di sini!" kata ibu sambungku menyambutnya. "Coba dia, kau kasih keluar. Pasti dia tidak akan pergi jauh-jauh," tandasnya.


Pagi ini semakin menjepit sekali. Ayah dan ibu sambungku semakin bersiteru hanya gara-gara aku. Aku terus melirik jam dinding yang terlihat jelas dari luar pintu.


Jam yang sudah setengah berputar. Waktuku tidak banyak lagi. Aku harus segera sampai ke sekolah. Aku berkali -kali melihat mereka dengan harapan kalau mereka sadar kalau aku mau berangkat sekolah.


Aku diam bercampur khawatir mendengarkan mereka yang masih bersiteru dan melirik jam dinding yang telah menunjukan angka 07: 05 WIB. Jantungku semakin berdebar kencang tidak beraturan. Wajah guru dan kepala sekolah telah terpampang di hadapanku kini.


Penjaga pintu gerbang sekolah pun sama juga. Wajahnya yang lucu bercampur bengis itu pun menari-nari di wajahku dengan rotan kecil di tangannya.


Aku semakin kuatir dan cemas melihat waktu yang tidak banyak lagi. "Ayah," panggilku menyela perdebatan mereka sambil mengayunkan tangan kanan ke hadapannya.


Ayahku refleks berhenti dan ibu sambungku pun terpaksa menutup mulutnya yang setengah menganga.


"...aku takut terlambat, Yah," kataku mencium punggung tangan ayahku. Melirik kembali jam yang berdenting.


"Adikmu sudah pergi duluan," kata ayahku mengungkapkan dengan nada suara yang berpaling ke arah yang lain.


"Iya, Yah," jawabku.


"Nanti pulang sekolah. Langsung pulang! Jangan bermain lagi!" kata ibu sambungku berteriak dengan nada suara yang terhalang oleh dinding.


"Iya, Bu," jawabku. Berjalan kencang mengejar waktu yang sedikit.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2