Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Benar-benar berubah


__ADS_3

Tempat tidur yang masih berantakan selekas mungkin kami bersihkan. Pagi ini adikku benar-benar telah berubah. Dia dengan ringan mau membantuku untuk merapikan tempat tidur yang aku rapikan.


"Ana, kau gak nakal lagi, 'kan?" tanyaku mengulanginya dan ingin tahu kembali . Melipat selimut.


"Kak, aku gak kayak dulu lagi. Aku sekarang udah baik," jawab adikku yang menyadarinya. Menyusun bantal dan bantal guling.


Aku mengangguk mempercayai yang dikatakan olehnya. Kamar kami pun yang sering kami gunakan untuk tidur dan bermain terus kami rapikan agar terlihat indah dipandang mata.


"Ana, kalau begitu kau gak... ." Aku tidak jadi melanjutkannya karena mengingat adikku yang tiba-tiba berubah sewaktu-waktu.


"Kakak kenapa diam?" tanya adikku terheran.


Aku gugup mendengar pertanyaan adikku. Kain selimut yang aku lipat pun kini langsung kutaruh di sudut tempat tidur. "Ana, benar ya kalau kau sudah berubah dan gak nakal lagi," kataku menuntut adikku agar tidak berubah lagi, seperti yang selama ini.


"Kakak gak percaya kalau aku udah berubah?" katanya melayangkan pertanyaan terhadapku. Berjalan keluar kamar sambil bercermin.


Aku yang mengikutinya berdiri dibelakangnya. Diam menatapnya dengan lekat dari belakang. "Kau 'kan sering kayak gitu," tandasku kurang percaya.


Mukanya yang terlihat di dalam cermin langsung berubah cemberut dan sebal karena aku tidak mempercayainya. Mata yang melihatnya pun dengan di dalam cermin semakin dalam mengintainya.


"Kakak," panggil adikku dengan rengekannya memutar badan ke belakang tepat ke arahku.


"Hahaha!" Aku sontak tertawa karena telah puas telah menjahili adikku yang merasa tidak nyaman. "Ana, kalau kau benar-benar berubah jangan merengek lagi," pintaku memberi ancaman tegas padanya.


"Iya Kak. Aku gak akan minta apa-apa lagi sama Kakak," sambutnya dengan enteng. Menyisir kembali rambutnya.


Melihat adikku hari ini sepertinya dia benar- benar telah berubah. Sedikit keyakinan berkata di dalam diri ini. Ia terus berbisik padaku kalau adikku mungkin akan berubah.


"Ana, bair kau tau, Dik. Hari ini Ayah gak ada ngasih uang jajan," cetusku langsung. Memutar badan mengambil handuk lalu membersihkan diri.


"Kak, mau ke mana ?" tanya adikku.


"Kakak mau mandi. Kau ikut, gak?" ajakku. Berjalan terus sambil bertanya pada adikku.


"Kak, aku ikut," sahut adikku berlari meninggalkan cermin.


Langkahku terhenti menoleh ke arah belakang menunggunya. "Ana, ayo cepat!" teriakku dari jauh sambil menunggunya.

__ADS_1


"Kak, aku gak jadi," kata adikku dari balik pintu kamar.


"Kenapa?" tanyaku, menatap adikku yang mendadak berubah.


"Dingin," jawab adikku lirih. Malas.


Aku langsung memonyongkan bibirku kesal karena langkahku berhenti gara-gara adikku yang tidak jelas.


"Kakak, mandi saja. Biar aku yang jaga rumah," suruh adikku dengan nada suara yang lembut.


Selekas mungkin aku meninggalkan adikku yang tidak sopan lagi menjahiliku. Handuk dan sabun yang kubawa kini sudah siap untuk menemaniku. Sumur yang biasa kami gunakan untuk mandi telah aku masuki.


Secepat kilat aku menyiram tubuh mungil ini. Terburu-buru mengejar waktu aku menyabuni tubuh mungil dengan lekas. Wajah adik yang tadi berdiri di balik pintu dapur dengan senang menari-nari di depan mata.


"Aku harus cepat. Si Ana kasihan sendiri," gumamku pelan sambil mengilap tubuh mungil.


Handuk dan sabun yang terletak di lantai pun segera kubawa meninggalkan tempat mandian kami.


"Kalau aku terlambat. Aku takut kalau adikku nanti tiba-tiba pergi," gumamku lagi berjalan kencan.


Gurat wajah adikku yang cerdik dan polos itu dengan senang menari-nari di depan mata. Wajah nakalnya yang suka menjebakku terpampang jelas menertawai.


Deg!


Aku langsung shock melihat rumah yang sepi. "Ana!" panggilku sambil berjalan dengan gerakan terlihat seperti mengintai seseorang yang membahayakan.


Jantungku semakin lemas. Darah pun terasa turun karena melihat rumah yang sunyi sepi. Tak terpikirkan olehku kalau adikku sampai kabur dan bermain dengan bebas. Pikiranku langsung berjalan ke sana mengingat adikku yang cerdik dan lihai dalam mengelabui.


Kaki yang perlahan melewati setengah ruangan rumah terus saja berjalan panik. Raut mukaku sudah tidak karuan lagi terlihat ketika aku menatap diri di depan cermin sekilas.


Dooor !


Hahaha !


Jerit adikku yang selalu senang mengagetkan aku. Tawanya pun terdengar puas karena telah berhasil membalaskan dendamnya.


"Ternyata, Kakak terkejut juga. Hahaha!" katanya tertawa dengan puas. "Hihihi, emang Kakak gak lihat aku berdiri di sini," lanjut adikku menunjuk sudut pintu tengah yang terjepit di antara lemari serta tertawa geli melihat mukaku yang semerawut.

__ADS_1


Tungkai kakiku langsung lemas. Tubuh mungil ini terasa gemetar dan ingin terjatuh ke lantai. Kedua lengan langsung mengusap dada yang tidak karuan.


"Ana, kau kebiasaan selalu mengagetkan Kakak," sentakku, menatap adikku dengan kesal.


"Hahaha!" tawanya yang riang merasa tidak bersalah itu melebar menapakkan kedua gerahamnya.


"Kau itu kalau gak pernah minta maaf. Udah buat Kakak kaget kau malah ketawa," sungutku sebal. Berdiri dengan wajah cemberut bercampur sebal.


"Kak, Kakak tadi lucu. Aku pikir Kakak terbang ke belakang," ledeknya tanpa sesal.


Geramnya aku melihat adikku yang suka bermain tanpa memikirkan lawan mainnya. Dada yang masih lemas. Kuusap agar segera netral .


"Hahaha! Hari ini aku melihat wajah Kakak yang lucu kalau kaget, hihihi," ujar adikku tertawa sambil menutup mulut dengan jemarinya.


Sangat senang dia rasanya membuatku diam, seperti patung yang sudah tidak dipakai lagi. "Ana, kalau sampai Kakak jatuh, kayak mana?" kataku bertanya pada adikku.


"Hahaha! Aku tau kok. Kakak jatuh atau gak," timpal adikku tidak mau disalahkan. "Palingan Kakak menjerit kuat sampai keluar," ledeknya dengan senang hati.


"Aku tau 'kan, Kakak baru sembuh?" teriakku sebal bertanya padanya. "Kakak, itu belum ganti baju. Kau malah kayak gini!" bentakku kesal. Berjalan membuka lemari dan mengambil baju.


"Kak, jangan marahi aku, 'kan kita udah janji," ucap adikku dari belakangku dengan gamblang.


Aku langsung tersadar dan menutup mulut serapat mungkin. Menghela napas sambil mengambil pakaian yang baru. "Ana, siapa yang janji?" tanyaku, menutup pintu lemari.


Adikku terdiam seketika. Dia seolah mendapat lemparan batu besar yang menyerang begitu saja. Menunduk malu dan memutar-mutar tumit kakinya sebagi isyarat menahan rasa malu.


Aku yang melihatnya kemudian berlalu pergi meninggalkan dia sendiri. Sambil mengayunkan kaki aku tersenyum melihat wajah adikku yang menunduk malu.


"Kak, yang janji aku, kok. Bukan Kakak," ungkap adikku dari belakang yang mengurungkan niat untuk terus berjalan.


"Kakak tau. Makanya, Kakak diam saja," balasku, memutar badan, di ikuti oleh tangan sebelah kanan memegang baju.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2