
Adikku yang duduk di pangkuan ayahku beranjak pergi. Wajah cerdik adikku kini menghiasi raut mukanya dengan senyum tipis dia melihat ibu sambungku yang telah menghilang dari baik pintu.
"Ayah! Kenapa Ayah ribut dengan Ibu itu! Kan, malu sama tetangga Ayah." Kataku dengan pelan menatap ayahku.
" Kamu ini tahu apa,ha!" Kata ayahku dengan suara sedikit meninggi dan wajah sedikit memerah menahan amarahnya.
Aku hanya diam mendengar ucapan ayahku. Rasanya jantungku begitu bergemuruh. Napasku rasanya ingin terhenti seketika. Tatapanku yang penuh ketakutan menatap kelantai semakin panik.
"Liyan, kalau ada orang tua yang lagi ribut kamu jangan pernah ikut campur. Kamu itu masih kecil. Lagi pula masalah ini, kamu itu belum mengerti." Kata ayahku dengan tandas. "Paham kamu!" Kata ayahku kembali sambil berdiri.
" I-ia Ayah." Sambil terbata dan masih menatap kebawah aku menjawab apa yang dikatakan ayahku.
Ayahku pergi meninggalkan aku berjalan dengan cepat.
Setelah ayahku pergi meninggalkan aku. Ibu sambungku yang tadi pergi dengan membawa amarahnya yang menggebu-gebu karena melihat ayahku begitu memanjakan adikku. Kini masuk dan menghampiriku yang berdiri disudut lemari pakaian kami yang terletak tepat diruang tengah bersampingan dengan meja makan ayahku yang dimana ayahku tadi duduk di kursi makan tepat disamping meja itu. Ibu sambungku berhenti dihadapan ku. Menatapku dengan raut wajahnya yang masih juga semberaut dengan langkah yang dihentakkan begitu keras.
Aku yang berdiri diam mematung gemetar dengan wajah yang masih diselimuti dengan sakitku menatap nanar dengan kosong lurus kebawah.
"Itulah Ayah mu, itu!" Dengan mata mendelik dan suara yang tinggi ibu sambungku mengatakan dengan ketus. " Dia selalu memanjakan adikmu itu setiap hari. Sampai aku itu muak melihatnya!" Ibu sambungku menghardik ku dengan sepuasnya. Dengan amarah yang begitu besar mencakar langit dia berkata seperti petasan yang mengeluarkan bara api dari mulutnya.
Sementara aku yang kecil dan mungil ketakutan dan gemetar. Aku tak bisa berkata apa pun bahkan, untuk melihatnya saja aku takut.
__ADS_1
" Kau tahu, anak seperti adikmu itu tidak layak untuk dimanjakan." Kedua matanya terus mendelik begitu besar. Aku yang melihatnya pun sekilas semakin panik. " Lama-lama aku muak melihat kalian! Engga ayah, anak sama saja. Kau juga! Masih kecil sudah sakit-sakitan!" Kedua matanya begitu tajam melihatku dengan wajah memerah.
Aku yang ketakutan spontan menangis. Butiran keristal kecil pun menetes membasahi pipiku yang pucat. Aku tetap diam terperosok kedalam lubang kesakitan yang dalam.Tangis yang kini pecah dengan segugukan aku meluapkan semaunya. Butiran keristal pun semakin tercurah hebat. Tubuh mungilku yang tak berdaya mencoba menopang tubuhku dengan kuat. Wajah polos ku yang dihiasi dengan kepucatan kini memerah menahan sakit didalam hatiku atas ucapan ibu sambungku.
" Ia,kan! Kau juga selalu memanjakan sakit mu, itu! Ada-ada saja tingkah kalian adik beradik, yang satunya manja,yang satunya, penyakitan!" Dengan penuh penekatan dan sorot mata yang tajam. Dia menatap ku semakin tajam seperti ingin menerkamku.
Aku terus menangis. Panas tubuhku yang tinggi kini semakin meninggi terasa bagiku. Raut wajahku semakin memerah dengan tajam. Kedua bola mataku begitu penuh dengan air mata yang menganak di pelupuk mata. Suara segugukan kecilku terdengar kuat yang berusaha aku tahan sehingga terdengar dengan pelan.
"Dimana adikmu tadi,ha!" Ibu sambungku terus menghardik ku. Kata-katanya yang kasar mengalir seperti air tiada henti menghampiriku.
Tangis ku yang semakin pecah tak pernah dia hiraukan sedikitpun.
" Aku tak kasihan melihat suara tangisanmu itu! Karena kau, kan bukan anakku!" Dengan sedikit menahan suara nya yang tinggi.
" Kenapa kau diam saja! Betulkan apa yang aku bilang." Dia semakin melonjak.
Sementara aku yang ada dihadapannya sudah tidak kuat lagi mendengar kan semua ucapannya. Ingin rasanya aku pergi dari hadapannya, tapi aku tidak berani melangkahkan kakiku yang kecil. Tubuh mungilku tersudut seperti terhimpit yang membuat napasku begitu sesak. Tubuh besarnya masih tetap tegak berdiri di hadapanku. Menghalangi langkahku dan menutup jalanku. Semakin lama dia semakin memajukan sedikit tubuhnya di hadapanku dengan sedikit dia mengayunkan tangannya ke udara. Ketakutan ku semakin kuat pikiran ku pun berkecamuk melihat tangannya yang diayunkan ke udara seakan, akan menampar aku.
Napasku semakin berat dan sesak. Ayahku dan adikku tak kunjung tiba sampai saat ini. Ibu sambungku pun terus menatapku dengan mendelik. Kata-katanya yang menghardik ku membuat ku berkubang dengan pikiranku yang berjalan ntah,kemana.
" Kenapa? Apa yang kamu lihat,ha! Apa kau akan mengaduh pada ayahmu,ha! Jawab." Ibu sambungku menatapku dan memberi sebuah pilihan untukku seakan dia mengancam ku.
__ADS_1
Aku yang menangis dengan tersedu mencoba membuka mulut ku yang terkunci rapat. Aku yang takut tidak kuasa membuka mulutku meskipun telah aku paksa. Aku melirik dia. Masih melihat ku dengan sinis.
"Kenapa diam? Ayo cepat jawab!" Dengan suara yang memenuhi seluruh isi ruangan.
Aku hanya diam dan menggelengkan kepalaku sebagai isyarat kalau aku akan diam saja. Aku pun melihat dia menarik napas dengan begitu lega. Wajah merahnya kini sudah mulai berangsur menghilang. Dia pun perlahan pergi.
Sementara, aku masih tetap berdiri diam sambil menyeka butiran keristal yang memenuhi pipi mungilku dengan jemariku. Perlahan aku menetralkan semua ketakutan ku,kesedihanku dan berusaha menetralkan wajahku menjadi lebih baik.
Suara langkah kaki kini terdengar dengan hentakan yang kuat dari pintu dapur kami. Aku spontan memutarkan kepala kecilku ke arah suara hentakan kaki. Mataku yang tadi memerah karena tangisku melihat hentakan itu sambil mengatur napasku.
"Ayah! Kataku dalam hati sambil menutupi semua yang terjadi pada diriku dari ayahku. Aku berusaha tegar seakan tidak terjadi apa-apa. Suara parau ku akibat aku menangis. Sebisa mungkin aku hilangkan. Mataku yang merah belum bisa melihat ayahku dengan tegak. Aku masih menundukkan nya dan melihat lantai.
" Liyan, kenapa kamu berdiri disitu?" Ayahku yang telah bersiap ingin memasuki tempat sholat nya dan melaksanakan ibadah sholat Maghrib seperti biasanya.
Aku melihat dari ekor mataku yang masih menunduk. Ayahku menatapku dengan begitu lekat. Aku melihat dari raut wajahnya seakan dia mengetahui apa yang aku alami. Tersirat dari wajah ayahku yang begitu penasaran dan penuh tanda tanya. Ayahku terus menatapku dengan lekat sambil berjalan menuju kamarnya.Dia melihatku yang tak seperti biasanya, seakan seperti itulah yang ada didalam pikiranku. Namun, aku yang lihai bisa sedikit membaca kecurigaan dari wajah ayahku tentang diriku berusaha bertingkah seperti biasa dengan sikap yang normal.
" Liyan, kamu menangis, ya?" Tanya ayahku yang masih menyimpan kecurigaan terhadap diriku. Tatapannya yang tajam seakan dia tahu tentang semuanya. Kini menghiasai wajahnya yang sudah mulai senja.
" Tidak Ayah!" Aku menjawab dengan suara datar dan rileks.
Saat ini hatiku begitu berkecamuk dengan panik. Kecemasan yang terlihat dari wajahku sesekali aku tepis sedemikian mungkin agar tidak menambah kecurigaan ayahku terhadapku.
__ADS_1
Bersambung.....