Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Bercerita pada Ayah


__ADS_3

"Aku akan bilang pada Ayah," anjur adikku.


"Bilang apa?" tanyaku.


"Kalau mereka semua jahat. Mereka gak mau memanggilku bermain," sesal adikku bersedih.


"Dik, mungkin kita gak akan dikasih Ayah lagi keluar," ucapku sambil melihat adikku yang duduk bersedih.


Tatapan adikku langsung melihat ke arahku yang sangat yakin kalau Ayahku seperti itu.


"Kakak yakin?" tanya adikku.


"Eem," jawabku mengangguk. Duduk di samping adikku yang merenungi dirinya. "Makanya, jangan suruh mereka menunggumu untuk bermain," tegurku dengan bijak pada adikku.


"Kak, kalau Ayah kayak gini terus. Kapan aku bisa bermain Kak?" tanya adikku, melirikku yang duduk merebahkan tubuh.


"Kakak gak tau, Dik," jawabku, menunduk lesu.


"Kakak kalau di tanya selalu gak tau," timpal adikku sebal.


Bermain diluar rumah itu adalah kesenangan adikku dan aku juga. Namun, karena kesalahan yang kami buat apabila telah diberi sedikit kebebasan membuat ayah kami mengeluarkan peraturan baru.


"Kakak harus bilang apa, Dik? Memang Kakak gak tau," sesalku mendalam.


Kebijakan dari peraturan baru yang diterapkan ayah kami terhadap aku dan adikku malah semakin membuat dia dan aku terkurung di dalam rumah sepanjang waktu.


"Kakak bilang kek. Dik nanti kalau ada waktu kita pergi diam-diam," saran adikku.


"Apa? Kita akan pergi diam-diam?" tanyaku terheran. Duduk dan memutar kepala melihat adikku.


"Iya Kak," jawab adikku entang.


"Engga! Kakak gak mau," tolakku secara langsung.


"Tapi kenapa Kak? 'Kan kita cuma di halaman saja," saran adikku.


Sejenak aku pusing dibuat oleh adikku yang selalu bersemangat untuk bermain. "Kak, kita gak bermain jauh-jauh kok. Ayolah Kak! Kita bermainnya sebentar saja di halaman," pinta adikku merayu agar aku mau luluh seketika.


"Ana, Ayah udah berpesan sama Kakak. Kalau kita gak boleh keluar," kataku pelan membujuk adikku.


"Kakak selalu takut Ayah. Padahal 'kan Ayah baik. Kenapa Kakak harus takut?" tanya adikku ingin tahu.


"Bukan itu Dik. Ayah kalau udah berpesan. Pesannya jangan dilanggar!" ucapku pada adikku. Duduk sambil bersandar di tempat tidur.


"Alah, Kakak," rajuk adikku cemberut manja.


Adu mulut antara aku dan adikku tidak pernah usai. Hampir setiap kami berjumpa. Kami pasti sering beradu argument dan berdebat setiap kali membahas tentang ayah.


"Ana, jangan merajuk. Nanti Ayah tau dan dia marah sama kita," kataku.


"Marah kenapa Kak ?" tanya adikku.


"Karena kau merajuk," jawabku langsung, menatap nanar lurus ke depan.


Refleks adikku langsung menutup mulutnya dan menatap wajahku yang melihat lurus ke depan.

__ADS_1


"Aku gak merajuk kok," bantah adikku langsung. "Aku 'kan cuma marah aja karena Kakak selalu takut sama Ayah," cetusnya.


"Ana, kalau perkataan Ayah kita langgar. Ayah akan menghukum kita," kataku dengan lirih.


"Nah! Itu 'kan lebih bagus, Kak. Supaya kita bisa keluar," lanjut adikku senang.


Ruangan kamar sejenak hening. Aku tidak lagi mau berkata apapun terhadap adikku. Apalagi harus sampai membuat semuanya menjadi kacau dan kusut.


"Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Mendengarnya aku dan adikku pun bertemu pandang sambil bertanya dalam diri kami masing-masing.


"Assalamualaikum," katanya dari luar.


Sambil mengerutkan kening. "Kak, itu Ayah," ucap adikku," menajamkan pendengarannya.


"Iya, Kakak pikir juga betul, Dik. Kalau itu adalah Ayah," sahutku. Bangun dan mengintipnya dari balik pintu.


"Memang iya Kak," sambut adikku dengan percaya diri.


Aku pun perlahan mengintipnya. Ternyata suara itu memang adalah ayahku. "Ayah," gumamku senang, melihatnya yang berdiri.


"Siapa Kak? Ayah ya?" tanya adikku. Berdiri di belakangku.


"Iya," jawabku langsung berlari mengambil bangku.


Jeglek !


Pintu pun terbuka dengan lebar. Wajah lesu ayahku telah terlihat lelah mencari nafkah untuk kami.


"Ayah lagi cari uang, Nak!" sambung ayahku.


"Uang untuk apa, Yah?" tanyaku.


"Ya untuk kita la Kak. Iya 'kan, Yah?" tanya adikku, mengantar ayahku masuk.


Adikku memang sangat menjengahkan. Dia sama sekali tidak mau jauh dari ayahku. Aku semakin khawatir jika adikku melakukan hal yang sama lagi terhadapku.


"Ayah, kenapa Ayah gak pulang saja? Kalau sudah dapat uang yang banyak," ucap adikku, melihat sebelah tangan ayahku memegang bungkusan plastik.


"Nak, Ayah terjebak macet," jawab ayahku, melihat adikku yang mengantarnya sampai ke dapur. "Ana, apa kau dan Kakakmu bertengkar ?" tanya ayahku, melirik adikku yang selalu nempel pada ayahku.


"Engga, Yah. Kami gak pernah bertengkar," sambut adikku.


"Tapi kenapa Kakakmu berdiri di sana?" tanya ayahku, meletakkan bungkusan plastik yang dibawanya.


Seorang diri aku masih berdiri bersandar di lemari. Dari depan aku terus melihat mereka berdua bercerita di dapur.


"Ayah, kami gak bertengkar kok," sambungku. Berdiri sambil melihat wajah pucatku di dalam cermin.


"Liyan, apa kakimu udah sembuh?" tanya ayahku menyelidiki.


"Sudah Ayah," jawabku langsung.


"Alhamdulillah, Nak," sahut ayahku lega.

__ADS_1


Kegiatan sore hari yang sebentar lagi mau masuk membuat ayahku berkecimpung di dapur untuk menyiapkan makanan.


"Ayah," panggil adikku lembut.


"Iya Nak," jawab ayahku.


"Ayah tau gak kami tadi ngapain di rumah?" kata adikku memberi sebuah pertanyaan kepada ayahku.


Deg!


Kedua bola mataku langsung membelalak. Tungkai kaki yang sudah sembuh ini pun langsung berjalan mendekati adikku.


"Emang tadi kalian berdua ngapain di dalam rumah?" kata ayahku bertanya kembali pada adikku.


"Engga ada Yah," jawabku langsung.


"Hahaha! Kakakmu saja bilang gak ada," ucap ayahku tertawa lebar.


Wajahku langsung pucat bercampur takut kalau adikku sampai mengatakan kepada ayahku kalau kami berdua tadi membuka pakaian yang dirahasiakan itu.


"Ayah, Kakak itu cuma takut," tutur adikku.


"Takut?" tanya ayahku, meletakkan bungkusan plastik. "Takut apa Nak?" tanya ayahku, melirik adikku.


Siraman es seperti sedang tercurah dari atas sekarang membasahi tubuh mungilku yang lemah.


"Ayah, tadi teman kami bermain di halaman kita," ucap adikku.


"Ooh, jadi, itu!" lanjut ayahku lega. "Lalu, kenapa kau bilang Kakakmu takut?" tanya ayahku kembali sedikit menggeleng.


"Memang Kakak takut kok, Yah," balas adikku juga.


"Takut apa Nak?" tanya ayahku lagi.


"Kakak takut untuk bermain keluar," ungkap adikku pelan, melihat ayahku dengan gugup.


"Ana, itu memang Ayah yang melarang Kakakmu. Supaya kalian tidak bermain keluar. Karena Ayah tidak ada di rumah, Nak!" lanjut ayahku panjang lebar.


"Ayah, masa kami di kurung terus di dalam rumah," rajuk adikku cemberut.


"Yang mengurung kalian di rumah, siapa Nak?" tanya ayahku. Berjalan dengan sibuk sambil menyusun barang beliannya.


"Ayah," jawab adikku.


Glek !


Ludahku pun langsung kutelan dengan kasar. Aku tidak menyangka kalau adikku seberani itu. Aku yang tadi berjalan ke dapur kini berdiri mendengarkan mereka berdua sedang berdialog.


"Ayah tidak mengurung kalian. Tapi Ayah hanya menjaga kalian dari culik Anak," ujar ayahku.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2