
Aku hanya diam menatap dengan pandangan kosong ketika mendengar ucapan Widia. Seketika kepercayaan diri ku hilang dan keceriaan di wajah pucatku kini tak terlihat lagi.
Bibir kecilku yang tadi terlihat begitu melengkung kini kembali datar. Diriku seakan rasanya malu karena telah membawa tubuh mungilku yang lemah untuk sekolah.
Antusias ku yang ingin belajar membuat ku begitu sedih dan ingin rasanya, aku menarik langkahku segera pulang bersembunyi dari mata yang menatapku.
Gerutuan kecil terus saja terjadi di dalam diruku yang lemah. Air mata rasa malu kini mulai menganak di pelupuk mataku bersama genggaman jemari kecilku yang lemah.
Widia temanku terus saja menatapku dengan penuh kasihan seakan, dia mengatakan sebaiknya aku pulang saja dan tidak usah terlalu percaya diri bisa mengikuti pelajaran sampai dengan selesai.
"Liyan sebaiknya kamu pulang saja." Usul Widia. Berdiri di sampingku.
Telinga kecilku begitu malu mendengar Widia sehingga aku tidak bisa menatapnya.
Aku hanya bisa diam dan diam sebagai jawaban untuk Widia.
"Eh! Widia kenapa ? Sakit?" Tanya temanku Fikri. Berjalan melihatku.
Widia dan aku pun tidak berani menatap Fikri yang bertanya tentang diriku. Aku yang berdiri menunduk malu sementara, Widia terlihat begitu merasa bersalah karena telah berbicara seperti itu tentang diriku.
"Kenapa kalian diam saja?" Tanya Fikri kembali ingin tahu. Melirik aku dan Widia.
Seketika Widia memutarkan kepalanya, menguasai keadaan untuk menjawab pertanyaan Fikri. "Siapa yang sakit?" Balas Widia seakan menanyakan pertanyaan itu kepada Fikri dan mengalihkan kecurigaannya. "Engga ada yang sakit kok di sini." Tandas Widia dengan wajah datar.
Fikri pun mengangguk sebagai isyarat kalau dia percaya dengan perkataan Widia kemudian dia pergi berlalu.
Sementara diriku masih tetap sama diam dan malu serta sedih.
"Liyan kalau kamu masih sakit lebih baik pulang saja sekarang sebelum bel berbunyi." Saran Widia. "Aku takut kalau kamu pingsan karena kita hari ini upacara bendera." Lanjutnya menatapku.
"Engga,aku engga akan jatuh Widia." Balas ku dengan wajah datar. Menaruh tas.
"Tapi kamu itu pucat." Sambung Widia.
Hari ini, aku begitu terbelenggu dengan apa yang dikatakan oleh Widia sehingga aku tidak bisa mengangkat wajahku menatap Widia.
"Kalau begitu ayo kita keluar." Ajak Widia. Berjalan.
"Ayo!" Sambut ku. Berjalan beriringan bersama Widia keluar.
Demi menutupi kekurangan ku hari ini. Aku terpaksa berjalan dengan tegak sehingga terlihat seperti orang yang baik-baik saja. Aku juga terpaksa menarik bibirku dengan senyum dan merubah wajahku yang terlihat lesu dengan ceria meskipun, kepucatan menyelimuti wajahku saat ini.
Langkah gontaiku yang terlihat seperti orang tak berdaya pun aku atur seketika, agar aku terlihat seperti orang yang berjalan normal.
Tubuh mungilku yang mulai terasa dingin kini aku coba untuk menahannya agar tidak membuat ku drop dan terkulai jatuh.
"Liyan kamu sanggup jalan." Bisik Widia. Berjalan di sampingku.
"Sanggup." Balasku tegas.
Seketika Widia menatapku dengan lekat setelah mendengar ucapanku. Dia sedikit terlihat curiga akan ucapanku kalau aku sanggup setelah aku lihat dari ekor mataku.
Aku seketika merasa takut kalau sempat kejadian terburuk pada ku terjadi hari ini. Kecurigaan yang terlihat di wajah polos Widia seakan membuatku ingin mengatakan yang sejujurnya.
"Widia, kita sebentar lagi ujian ya." Kataku mengalihkan kecurigaan Widia.
"Ia,kata Ibu itu kita sebentar lagi ujian." Balas Widia menatapku. Duduk.
"Kapan ?" Tanya ku kembali. Melihat yang lain berjalan.
"Aku tidak tahu Liyan." Jawabnya lugas.
Kami pun seketika bertemu pandang dengan gurat wajah penuh tanda tanya tentang ujian yang akan dilaksanakan.
"Aku tidak tahu Liyan.Mungkin sebentar lagi." Sambut Widia. Melihat ku. "Kenapa? Tanya Widia kembali.
"Engga apa-apa.Aku sudah lama tidak sekolah. Jadi, aku takut." Kata ku dengan wajah khawatir.
"Makanya kamu belajar." Sindir Widia.
"Ia tapi aku tidak tahu apa yang aku pelajari." Kataku kembali dengan wajah lirih.
Seketika Widia mengalihkan pandangannya dari ku dan diam mendengar apa yang aku katakan, wajahnya terlihat sedikit sedih. Aku pun menatap lurus ke bawah melihat tanah dengan pandangan kosong.
"Liyan kalau kamu nanti tidak tahu, aku akan kasih tahu kamu." Timpal Widia. Menatap ku.
Mendengar ucapan Widia seketika aku terharu. Sedikit kebahagiaan hadir untuk ku yang membuat semangat ku kembali.
"Mana mungkin kamu bisa mengasih ku nanti." Sahut ku dengan wajah ragu.
"Kenapa kamu bilang begitu." Cetus Widia.
"Kalau kita ujian kan di awasi oleh guru." Balasku dengan wajah datar.
Widia pun akhirnya diam kembali duduk sambil melihat orang- orang yang sedang berjalan di halaman sekolah yang luas dengan wajah sedang berpikir.
__ADS_1
"Liyan tapi kasihan kamu kalau kamu nanti tidak tahu." Balasnya kembali.
Seketika aku mengingat perkataan ibu sambung dan ayahku kalau orang sakit itu di beri keringanan.
"Tapi kalau orang sakit kan di kasih keringanan." Kata ku.
Hahaha! Tawa Widia pun pecah.
"Liyan kamu tahu dari mana,ia itu kalau anak yang lain." Katanya dengan menyeringai.
"Anak yang kayak mana?" Tanya ku ingin tahu.
"Anak yang gurunya baik." Celetuk Widia.
Seketika aku kembali menarik wajah ceriaku kembali.
"Tapi kan guru kita baik." Lanjut ku. Menatap Widia.
Aku teringat dengan ayahku kalau guru kami dikenal oleh ayahku seakan pikiranku pun mencetuskan sesuatu mengenai diriku.
"Kamu pulak lama kali liburnya." Gerutu Widia.
Aku masih diam dalam pikiranku, mengingat tentang guruku yang di ucapkan oleh Widia.
"Widia kalau aku nanti engga dapat ujiannya,aku kayak mana." Lanjut ku dengan lirih menatap Widia.
Widia hanya bergeming menatapku dan memalingkan kembali pandangannya dengan menatap lurus ke depan.
"Liyan." Kata Widia. "Katanya, tinggal kelas kalau tidak tahu." Menatap ku dengan lirih dengan menunduk.
Wajahku terlihat sendu seketika kesedihan menyelimuti hati dan mengisi pikiranku yang kacau.
"Widia, aku tidak mau tinggal kelas." Sambungku dengan lirih.
"Liyan makanya kamu jangan sakit lagi biar kamu bisa belajar." Katanya dengan datar. Menatap ku dengan datar.
Mendengar ucapan Widia aku merasa dia seakan mengejek ku. Aku begitu malu dan terpukul melihat keadaan ku.
"Makanya kalau kamu sakit cepat berobat." Saran Widia melihatku dengan menyeringai.
Aku pun diam dan menutup bibirku untuk bersuara. Aku pun kembali menyelam dalam kesedihanku yang semakin menggambarkan ke keputusasaan bagi diriku.
"Widia, aku engga akan sakit lagi kok." Lanjut ku dengan percaya diri.
Aku terdiam dan membeku, rasanya badai dan petir menyambar tubuh lemahku hari ini sehingga membuat wajahku memerah dan malu serta sedih seketika tubuh lemahku rasanya terbang ke tempat yang penuh dengan lumpur.
"Ayahmu kan pembawa becak dayung. Pembawa becak dayung mana ada uangnya." Sindir Widia kembali.
Mendengar sindiran Widia membuatku begitu terhenyak. Aku yang duduk di sampingnya merasa begitu terpukul.
Aku yang masih kecil dan polos menganggap semuanya dengan mudah berlalu.
Tidak berapa lama kami duduk berdua di pinggiran batu yang terletak tepat di bawah pohon saling melihat satu sama lain.
"Liyan kamu marah ya." Sungut Widia menatapku dengan wajah merasa bersalah.
"Engga." Jawab ku.
Mendengar jawaban ku seketika Widia terlihat senang dan tertawa kecil. Dirinya yang tadi terlihat membeku seperti es kini rileks kembali.
Aku ikut senang juga dan tertawa kecil sama seperti Widia. Aku melupakan semua kesedihan ku yang tercipta akibat perkataan Widia yang mengejek dan menyindir.
Kami pun terlihat akur dan hangat kembali seakan tidak ada terjadi perbuatan yang menyakitkan.
Aku dan Widia melupakan semua yang telah terjadi.
"Liyan, kita sebentar lagi pasti baris." Kata Widia dengan wajah datar.
"Ia,jadi aku nanti ngambil barisan di mana ya." Kataku dengan ragu.
"Di depan saja." Sambung Widia.
Aku hanya diam menatap Widia sebagai jawaban kalau aku setuju atas sarannya.
Tidak berapa lama kami duduk dan bercerita, bel pun berbunyi menandakan seluruh murid untuk mengambil barisan upacara.
Aku dan Widia pun segera beranjak dan mengambil barisan dengan rapi. Aku melihat dari setiap sudut sekolah murid-murid begitu antusias mengambil barisan.
Kami berdua pun segera mengambil posisi masing-masing. Aku berdiri mengambil posisi di depan sesuai pendapat dari Widia. Sementara Widia Mengambil posisi tidak jauh dari belakangku.
Aku yang kurang sehat hari ini berdiri dengan tegak di depan sambil menatap lurus ke depan. Suara tertiban dari pemimpin upacara begitu lantang terdengar sehingga semua murid mengikuti instruksi nya dengan tertib.
Di tengah upacara bendera yang kami laksanakan hari ini. Tiba -tiba aku mulai merasa hal yang aneh dengan diriku sehingga membuat ku begitu gelisah. Tubuh mungilku yang tadi terlihat baik-baik saja kini terasa semakin drop dan membuat ku ingin terhempas ke tanah. Pandangan ku yang kunang-kunang membuat penglihatan ku tidak jelas.
Seketika aku teringat akan ayahku dan diriku juga sekolah ku beserta teman-teman ku. Sebisa mungkin aku menguatkan diriku untuk tetap bertahan ditengah upacara yang belum selesai.
__ADS_1
"Liyan,kamu engga apa-apa,kan." Bisik Widia di telingaku. Berdiri di sampingku. "Kalau kamu tidak sanggup kamu mundur saja ke belakang biar aku yang maju." Pinta Widia.
Panas matahari yang menyinari bumi membuat wajah pucatku semakin terlihat lesu. Tungkai kakiku yang lemah rasanya ingin lepas.
"Ia baiklah." Bisik ku kembali di telinga Widia.
Aku pun memutarkan badanku dengan perlahan dan hati-hati menyeret kakiku yang lemah.
"Ha! Kenapa Liyan ke belakang?" Tanya temanku yang lain.
"Liyan kamu sakit ya?" Tanya Fikri. Berdiri tidak jauh dariku.
Spontan aku menghentikan langkahku dan memutarkan kepalaku melihat nya. Melihat wajahnya dan mendengar apa yang di bilang nya tadi, aku hanya diam sambil mengangguk pelan sebagai jawaban kalau aku membenarkan pertanyaan nya.
Aku kembali berdiri di belakang bersama tubuh mungilku yang lemah dan wajah pucatku.
"Liyan kau duduk saja di situ." Kata temanku.
"Ia." Sahutku dengan suara parauku yang kurang sehat.
"Ia Liyan kamu duduk saja jangan berdiri,ini upacara nya lama, nanti kamu pingsan." Kata meraka. Melihatku.
Seketika aku pun menghilangkan egoku yang kuat untuk tetap bertahan berdiri mengikuti upacara.
"Baiklah." Sambut ku dengan pelan dengan sedikit menunduk.
Seketika aku menyeret kakiku yang lemah untuk berjalan mencari tempat di mana aku bisa duduk. Perlahan aku melangkah, tiba-tiba aku menghentikan langkahku. "Tapi aku takut nanti di marahi guru kalau aku ketahuan duduk." Kataku dengan wajah ketakutan dan tubuh gemetar.
"Tidak Liyan." Kata mereka. "Guru tidak akan tahu." Menatapku. "Lagi pula kan kamu sakit,nanti kalau ada guru yang melihat dan bertanya kenapa kamu duduk,kamu bilang saja kamu sakit." Sambung temanku yang berdiri tepat di sampingku.
"Ia Liyan, kau engga usah takut nanti kami akan membantumu." Lanjut mereka kembali.
Aku pun melakukan seperti yang mereka katakan padaku. Perlahan aku kembali menyeret kakiku yang lemah berjalan menghampiri pohon bunga yang di bawahnya terdapat tumpukan kecil dari pecahan semen.
Aku pun duduk sambil menarik sedikit badanku untuk meregangkan otot-otot ku yang lemah.
Rasanya semakin lama aku duduk, aku semakin sedih melihat mereka yang begitu sehat aku jadinya, semakin iri.
Secerca harapan yang ku simpan dalam diriku kini hancur luluh berantakan. Seketika angan ku yang begitu yakin dengan ke sembuhanku hilang seketika.
"Liyan apa kau masih kuat." Tanya Septiani. Berjalan pelan menghampiri ku. "Kalau kau tidak sanggup bilang saja,biar aku antar ke kelas." Lanjutnya. Menatap ku.
Melihat simpati Septiani terhadap ku dengan menawarkan uluran tangannya yang tulus untuk menolongku membuat hatiku terharu.
"Aku masih sanggup kok." Jawabku pelan. Menatap Septiani.
Septiani pun pergi meninggalkan ku dan kembali ke barisan bergabung dengan teman-temanku yang lain.
Kekuatan ku yang mencoba melawan sakitku hari ini rasanya sudah tidak ada lagi. Semakin lama aku semakin tidak kuat untuk tetap bertahan menunggu upacara selesai.
Widia yang berdiri menempati posisiku tadi terlihat begitu hikmat. Dalam kelemahan yang membuyarkan keceriaan membuat diriku seperti anak yang terlantar.
Ingin sekali aku kembali ke dalam kelas, terlihat dari sorot mataku yang terus berputar melihat halaman yang sering kami lalui.
Spontan pikiranku tersadar kembali. Aku memalingkan kembali kedua mataku dan mendengar kan upacara yang sedang kami laksanakan.
Tidak berapa lama aku duduk dan ikut mendengarkan, aku mencoba untuk melebarkan bola mataku melihat mereka yang akan selesai sebentar lagi.
Pandangan kedua mataku, aku putar untuk menetralkan ke panikan ku akan guruku yang tida baik katanya.
Ayahku pernah bilang kalau guruku adalah baik dan ia sangat mengenalnya. Pikirku.
Seketika upacara pun berakhir. Ini saatnya aku harus menyeret kakiku kembali ke dalam kelas. Aku begitu tergopoh-gopoh untuk bangun dari duduk ku.
"Liyan ayo!" Sahut Septiani. Mengayunkan tangannya ke udara. Berjalan.
"Ia." Jawab ku dengan mengangguk. Bangun.
Septiani pun memutarkan badannya kembali dan menghilang dari hadapan ku. Aku yang mencoba untuk berdiri tegak semakin terlihat lebih keras untuk berusaha.
"Liyan kamu bisa." Kata Widia. Menghampiri ku.
"Ia aku bisa." Jawabku. Berjalan.
.
.
.
Teman-teman terimakasih telah memberi like, komentar, favorit dan votenya..🤗🥰
❤️❤️❤️
Bersambung....
__ADS_1