Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Terkejut sambil mengigit jari


__ADS_3

Kami pun diam sambil menatap jalan yang dilalui oleh ayahku yang pergi mau sholat jum'at.


"Ayah, belum pulang juga pulang. Dari tadi aku melihati jalan sampai sekarang, Ayah gak belum nampak," keluh adikku sesal menatap jalan lurus.


"Mungkin Ayah belum bisa keluar, Dik," sambungku penuh sesal juga sambil menghitung daun yang jatuh di atas tanah.


"Kenapa Kakak bilang gitu?" tanya adikku yang berdiri penasaran.


Aku langsung menjawab sambil menyimpan jumlah daun yang kuhitung di dalam kepala. "Mungkin masih banyak orang," jawabku.


"Tapi 'kan, Kak masjidnya besar dan pintunya 'kan banyak?" tanya adikku berpikir seolah mengingat dan melihat masjid yang di maksud.


"Iya, tapi banyak yang duduk di depan pintu," cetusku penuh penekanan.


"Dari mana Kakak tau?" tanya adikku protes. "Kakak 'kan di sini. Gak ikut ke masjid. Kakak sok tau," celetuk adikku yang tidak mau melepaskan pandangan dari jauh.


Sekian lama kami berdiri menanti kedatangan sang ayah yang sudah lama meninggalkan kami berdua di dalam rumah. Menatap nanar ke arah badan jalan setapak yang sering kami lalui tidak belum mau berlalu.


"Kakak pernah lihat masjid," jawabku langsung. Berdiri menatap daun dengan serius yang berwarna hijau dan kuning.


"Kapan?" tanya adikku ingin tahu, memutar kepala menoleh ke arahku yang masih berdiri menemaninya.


"Udah lama, waktu itu Kakak dibawa Ayah ikut dengannya," balasku memberi jawaban agar adikku percaya.


"Ikut ke mana ?" tanya adikku lagi semakin ingin tahu, masih terlihat menoleh ke arahku.


"Kakak gak tau, Dik. Kakak lupa. Itu 'kan udah lama," cetusku malas untuk mengingatnya. Kembali menghitung daun yang sudah bertambah.


"Aku gak percaya," cibir adikku sebal. Berdiri melihat orang yang lewat. "Aku pikir Ayah," gumamnya kecewa.


Aku langsung melupakan daun yang kuhitung setelah mendengar gumaman adikku. Sekian lama lama aku melihatnya. Dia ternyata begitu sangat gelisah, seakan dia terus memikirkan ayah kami yang belum juga kembali.


"Ana, Ayah pasti akan pulang setelah uwa itu?!" kataku menunjuk orang tua yang lewat tadi.


Kedua bola mata adikku langsung menatap ke arahku. "Emang Kakak dukun? Yang banyak tau?" tanya adikku yang sudah lelah menunggu.


Mendengarnya aku langsung menarik sorot mata yang tadi dengan tajam menatap adikku. Seolah terkejut aku langsung melihat yang menepis dihadapanku. Shock bercampur terkejut aku langsung mengelus dada dengan cara menetralkan diriku sendiri.

__ADS_1


Diam seribu bahasa itu lebih baik rasanya bagiku. Ocehan adikku yang terus menerus keluar menyudutkan diri yang sering mengalah ini tidak lagi bisa disesali.


"Kalau Ayah pulang 'kan kita gak sunyi, Kak," ucap adikku penuh harap.


" Ngapain? 'Kan masih siang?" tanyaku menoleh ke arah adikku. Gelisah mengenai Ayah yang sampai saat ini belum datang juga menjadi benalu di dalam diri yang masih terbilang kanak-kanak.


"Walau pun siang, Kak. Tapi, kita gak enak tinggal di rumah tanpa Ayah," keluh adikku murung. Beranjak melihat jam yang sudah berputar ke angka yang lain.


"Ana, Ayah pasti juga tau kalau kita gak ada kawan di rumah?!" kataku, melihat dahan pohon jambu yang bergoyang terbawa angin.


"Iya, tapi Ayah lama kali," keluh adikku yang manja dan cerewet.


"Kau mau ngapain ketemu Ayah dengan cepat?" tanyaku yang kurang tahu, menatap adikku sambil memegang jerejak jendela yang belum bisa kutinggalkan.


"Aku rindu Ayah," jawabnya dengan seadanya, memegang jerejak sambil menunduk.


Matahari yang mulai berpindah tanpa sengaja menyuruhku untuk melihat ke arah badan jalan. "Ana, itu Ayah!" teriakku senang, menatap badan jalan dengan lekat sambil memonyongkan bibir sebagai isyarat menunjuk ayah yang kami nantikan sedang berjalan ingin pulang.


"Mana, Kak?" tanya adikku antusias, merapatkan tubuhnya yang kecil ke jendela.


"Apa 'kan Kakak bilang? Ayah pasti pulang setelah uwa itu lewat?!" celetukku seakan mengejek adikku yang lebih tahu dariku.


"Ayah pulang memang rindu sama kita. Bukan karena uwa itu," bantah adikku protes. "Ayah, kenapa Ayah lama?" tanya adikku yang sudah lama menunggu.


"Ayah tadi bawa sewa sebentar, Nak," jawab ayahku pelan sambil membuka sepatu.


"Kenapa Ayah pakai topi? Lobe Ayah mana?" tanyaku terheran melihatnya.


"Ayah taruh di dalam kantong celana," jawab ayahku, meletakkan sepatu di luar sudut dinding dan langsung membuka pintu. "Pintunya, kenapa gak kalian kunci, Nak?" tanya ayahku yang terkejut ketika mendorong pintu.


Aku dan adikku yang sudah berlari menghampiri ayahku berdiri dengan senang melihat sang ayah yang sudah sampai. "Ayah, tadi kawan Kakak datang," ucap adikku memberitahu.


Deg!


Aku tidak menyangka kalau adikku masih ingat yang tadi, pikirku yang sudah melupakannya. Menatap wajah adik yang sedikit membuatku sebal atas pengaduhannya dan juga wajah datar ayahku yang baru sampai tiba-tiba terkejut . "Lalu mereka bilang apa?" tanya ayahku yang sudah lelah. Menggendong adikku yang selalu meminta dimanja oleh ayahku.


Aku yang sedikit iri ketika melihat ayahku yang langsung menggendong adikku membuat hatiku mengerang sedih. Memutar badan mengikuti ke mana ayahku melangkah.

__ADS_1


"Mereka mau ngajak kami bermain," jawab adikku dengan nada suaranya yang manja dan raut muka yang imut.


"Mmm," balas ayahku. Duduk di bangku sambil memangku adikku.


Aku yang tadi keluar dari kamar bersama adikku masih tetap berdiri melihat mereka berdua.


"Liyan, kemari, Nak! Apa kalian sudah makan?" tanya ayahku sambil melambaikan tangan melihatku yang berjalan menuju ke arahnya.


"Aku sudah, Yah," jawab adikku jujur, menatap ayahku dengan wajahnya yang manja.


Aku terus berjalan menghampiri panggilan ayahku. "Kakakmu, apa dia sudah makan?" tanya ayahku, melayangkan pertanyaan pada adikku dan menoleh ke arahnya.


Adikku seketika terkejut dan melayangkan sorot mata panik dengan diam-diam ke arahku yang sudah menghampiri mereka. Bola matanya berputar melihatku sampa aku berhenti.


Sementara ayahku masih terus menunggu jawaban atas pertanyaannya. Memangkuku sebagai isyarat untuk mengusir lelah yang dijalaninya seharian mencari nafkah.


"Tapi telur dadar yang Ayah masak tadi habis, 'kan?" tanya ayahku yang sudah melihat piring di atas meja.


Aku yang duduk di atas pangkuanku sontak teringat dan langsung melirik dengan diam-diam piring telur dadar tadi yang tepat di belakang adikku.


Adikku pun melakukan hal yang sama juga . Dia juga ikut melirik piring yang terletak itu. Menelan khawatir setelah ini, itu terlihat jelas menyelubungi diriku dan sorot mata adikku.


"Ayah tadi menggoreng telurnya banyak," kata ayahku menatap kami dengan penuh tanda tanya. Terheran dan bingung itu yang terlintas dari ayahku.


"Ayah, sebenarnya yang menghabiskan telurnya di Ana," jawabku, menatap adikku yang khawatir.


Spontan terkejut, adikku menggigit jari telunjuknya dengan muka yang meminta belas kasihan agar dia jangan dimarahi.


"Jadi, Adikmu," sahut ayahku langsung melihat adikku yang diam sambil menggigit jari.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2