Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Dititip di rumah kerabat


__ADS_3

"Liyan, Ana!" panggil ayahku keras dari dalam.


"Iya, Ayah," sahutku berlari mendekati ayahku.


"Nak, makanlah! Jangan bermain lagi. Ayah sudah menyiapkan semuanya. Setelah itu bersihkan diri kalian! Kita akan pergi," kata ayahku dengan wajah tertekuk.


Kaki yang sangat senang ingin menikmati makanan yang lezat mendadak terhenti. "Ayah, kita mau kemana?" tanyaku ingin tahu.


"Iya, Ayah. Kita mau pergi kemana? Ini 'kan rumah kita?" tanya adikku terheran dan berdiri di belakangku.


Ayahku bergegas masuk ke dalam kamar. Dia mengambil beberapa pakaian kami yang bagus. "Nak, hari ini kalian akan ikut Ayah," ucap ayahku dengan sedih.


Sontak aku langsung diam membeku. "Ayah, ikut kemana?" tanyaku kembali mencari tahu.


"Nak, sore ini. Ayah akan kerja lagi. Jadi, kalian akan Ayah titipkan di rumah kerabatnya Ayah," terang ayahku.


Langkah kaki adikku lekas melangkah masuk menghampiri ayahku yang menyusun pakaian kami. "Ayah, aku gak mau," tolak adikku secara langsung. "Kerabat Ayah pasti jahat," lanjutnya.


Aku tidak jadi makan setelah mendengar nama rumah kerabat. Perlahan kaki ini kuseret berduri di pinggir pintu kamar ayah kami.


"Nak, Ayah tidak mungkin meninggalkan kalian berdua di sini," ungkap ayahku, menoleh ke arah kami yang berdiri di belakangnya.


Tubuh mungil yang lemah ini semakin gemetar. Sakit yang setengah ingin sembuh kembali menyeruak dan menggigil.


"Kalau Ayah pulangnya lama. Nanti malam kalian sama siapa di sini, Nak?" lanjut ayahku bertanya dengan bimbang.


"Ayah, kami berani, kok," jawabku langsung. "Kami gak takut, Yah," balasku.


Baju yang sudah hampir mau rapi di hentikan ayahku begitu saja. "Nak, Ayah tau kalian Anak Ayah yang sangat pemberani. Tapi, kalau malam Ayah mana mungkin bisa meninggalkan kalian di sini!" kata ayahku, memutar badan melihat ke arah kami. "Sekarang makanlah, Nak. Jangan buat Ayah terlambat mencari uang!" tutur ayahku mengiba.


Kedua kaki dengan berat dan terpaksa aku seret mengambil nasi. "Kak, aku gak mau. Kerabat Ayah jahat," cetus adikku.


Nasi yang kuambil perlahan lama kelamaan semakin pelan. "Ana, kita ikut saja dengan Ayah," saranku.


Piring yang dipegang oleh adikku diletakkannya kembali di atas meja. "Kak, kenapa Kakak mau ikut Ayah? Kakak 'kan tau kalau di luar banyak orang jahat," celetuk adikku.


"Ana, jangan ribut! Kalau mau ikut Ayah. Cepat makan!" tegur ayahku keras dan tegas.

__ADS_1


Piring yang tadi terletak jauh. Secepat mungkin diambil oleh adikku kembali. Sedih bercampur kasihan aku terus menatap adikku yang penuh dengan penolakan.


"Kak, aku gak mau. Mendingan kita di rumah aja. Bilang Kak sama Ayah, kenapa?" keluh adikku melayangkan pertanyaan padaku.


Kesedihan kembali menghiasi rumah kami yang sederhana ini. Sudah banyak yang terjadi, namun, sampai saat ini semua masih singgah dengan senang hati.


"Ana, Kakak gak bisa bilang sama Ayah. Nanti Ayah sedih, Dik," balasku. Berdiri melirik adikku.


Raut muka adikku begitu sedih sambil duduk di sudut pintu dapur. "Kak, Ayah kenapa harus kerja lagi?" tanya adikku sebal. Duduk sambil memangku piringnya.


"Ana, tapi kau 'kan minta uang banyak untuk beli es," balasku menjawab pertanyaan adikku.


Tungkai kaki yang lemah ini aku seret sambil membawa bangku kecil duduk di samping adikku. "Ana, nasinya makan dulu," bujukku lemah lembut pada adikku.


"Kak, aku gak lapar," tutur adikku dengan gurat wajah memelas.


"Kenapa kau gak lapar ?" tanyaku terheran.


Nasi yang sudah ada di dalam piring dengan malas dia menyentuhnya. "Kak, kalau kita ditutupkan di rumah kerabat Ayah, aku tidak mau. Kalau begitu lebih baik kita besok sekolah saja," kata adikku menggelitik hati.


Nasi yang kukunyah pun terhenti seketika. "Ana, kita 'kan masih libur," jawabku langsung sambil mengunyah nasi.


Mendengar sambutan ayahku dari dalam kamar bagaikan bencana terdengar oleh telinga. "Ayah, sebentar. Nasi kami masih banyak," kataku.


Nasi yang masih banyak bergegas dengan cara terpaksa kami habiskan. "Uhuk, uhuk, uhuk! Kak, aku tersedak," jerit adikku. Bangun dan mengambil minum.


Kaki yang setengah menutupi pintu. Perlahan aku seret menjauh agar adikku bisa masuk tanpa hambatan. "Ana, makanya kalau makan pelan-pelan," tegurku. Duduk sambil melayangkan sorot mata melihat adikku yang memanjat dengan bangku menuangkan air minum.


Bayangan ayahku yang sibuk ingin segera berangkat kerja menutupi separuh jalan yang sering kami lalui dari dapur keruang tengah.


"Kak, minumnya dikit lagi," kata adikku, meletakkan gelas.


Nasi yang sudah hampir mau habis. Kutelan dengan kasar. "Uhuk, uhuk, uhuk! Ana, boleh Kakak minta minummu?" tanyaku sambil menahan tenggorokan yang tersedak.


Suara berisik kami dari dapur ternyata terdengar oleh ayahku sehingga ayahku berdiri dan melihat kami yang saling bergantian minum.


"Lain kali, kalau makan itu hati-hati !" ucap ayahku.

__ADS_1


Mulut gelas yang terbenam di mukaku refleks mendesak tangan kecil untuk menjauhkannya seketika dari hadapanku.


"Ayah, kami buru-buru," ujarku menoleh dengan sendu.


" Meskipun Ayah menyuruh kalian cepat tapi kalian itu harus tetap hati-hati! Jangan sampai kalian ke tulangan!" pinta ayahku memberi nasihat. Beranjak dari hadapan kami.


Nasi yang sudah habis di piring adikku sekarang dia taruh di tempat piring kotor. "Kak, kita berangkat sekarang?" tanya adikku. Berdiri dan menoleh ke arahku seketika.


Napas aku tarik sambil menyeret kedua kaki menaruh piring dan gelas ke dalam ember. "Iya, Dik," kataku sambil melirik ke arah ayahku yang sudah mengambil topi.


Wajah adikku sekilas murung bercampur tidak rela. "Kak, aku gak mau ikut Ayah," rengek adikku mengeluh. "Karena orang itu jahat Kak," terang adikku mengingat sedikit masa lalu.


"Ana, siapa tahu mereka gak jahat lagi?" sambungku melayangkan pertanyaan terhadap adikku.


Muka tidak rela itu pun tertoreh dengan jelas dihadapanku. "Kak, kalau orang jahat. Pasti akan makin jahat," tandas adikku yang polos.


Langkah kaki lemah yang sangat aku nanti untuk ikut berangkat tiba-tiba ragu dan bimbang. "Kakak jadi, takut, Dik," ungkapku. Berdiri di dapur sambil melirik ayah yang sudah memakai sepatu.


"Liyan, Ana! Ayo cepat, Nak. Ayah mau pergi sekarang," ajak ayahku sambil menyeruput secangkir air mineral.


"Ayah tunggu sebentar! Kami mandi dulu," harapku memohon.


Bergegas dengan kencang kami mengambil handuk dan beberes dengan rapi. "Ayah, baju kami yang ini?" tanyaku, melayangkan baju di hadapan ayahku.


Ayahku menarik kedua bibirnya. "Iya, Nak. Itu bajumu, Liyan," jawab ayahku, meletakkan cangkir.


Baju yang sudah tersedia kami bawa ke dalam kamar mandi. "Ana, ini bajumu!" kataku, menyerahkan sepasang baju cantik dihadapan adikku.


"Apa Kakak gak salah?" tanya adikku.


"Gak, itu memang bajumu. Baju Kakak yang ini," cetusku, menunjukkannya dihadapan adikku.


"Nak, nanti setelah kalian sampai. Jangan nakal, ya!" harap ayahku memohon dengan lembut.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2