Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Sabar


__ADS_3

Seketika adikku seperti tersambar petir mendengarnya. Diam dan tidak menoleh ke arahku sekali pun. Baju yang dari semalam masih menemaninya hingga saat ini.


"Jadi, kau gak mau nyelamatkan Kakak dari Ayah," pintaku memohon pertolongan darinya.


Menatap adikku yang berdiri, seperti terhimpit di sudut.


Sampai saat ini dia hanya diam saja. Tidak sepatah kata pun keluar menolak atau pun memarahiku. Dia terus diam dan menunduk melihat lantai yang diinjaknya.


"Ana, kau gak mau membantu Kakak?" tanyaku protes, melirik kaki meja yang membuatku tidak nyaman.


Bimbang bercampur pelik menyelimuti diriku dan adikku kini. Menentukan pilihan antara melindungi sesama kami kakak beradik dari sang ayah atau menyelamatkan diri dari hukuman sang ayah yang tegas itu membuat kami berdua dilema.


Rumah yang sering menjadi tahanan bagi kami berdua masih saja gelap dan terkunci. Sedikit pun tidak menjadi masalah bagi kami berdua saat ini.


"Padahal 'kan, kau bilang kalau kau sayang sama Kakak," singungku dengan sembarang kembali melihat kaki meja yang terbelah dua.


Berdiri diam di tempatnya seakan membuat adikku nyaman. Sementara, aku sudah gundah gulana melihat kaki meja yang tidak sengaja tersenggol.


"Kau gak sayang lagi sama Kakak, ya?" tanyaku mengiba dengan lemah lembut. Duduk sambil mengutarakan isi hatiku yang membuat tanda tanya.


"Aku sayang Kakak, kok. Saaangat sayang," jawab adikku dengan memanjangkan suaranya. Berdiri sambil merasa bersalah. "Karena aku gak mau punya Kakak baru," lanjutnya, menatapku dengan sendu.


Hatiku kembali senang. Masalah meja hilang seketika. Harapan akan adikku sedikit membuahkan hasil. "Ana, jadi, kau mau menolong Kakak?" tanyaku lagi mengulangi untuk yang kesekian kalinya.


"Aku belum tau," jawab adikku dengan sesuka hatinya. "Kakak 'kan tau kayak mana Ayah. Aku takut," sambungnya lirih membuang kepedulian terhadapku.


Glek!


Aku kembali memajukan dudukku sedikit ke depan. Kata-kata adikku, seperti gelombang ombak yang membuatku ingin tenggelam dan membuat napasku tidak lagi terasa berhembus. Aku tidak menyangka kalau adikku kembali balik lagi, seperti yang dulu. Ludah kekecewaan pun kutelan dengan kasar.


Entah apa jadinya nanti kalau adikku tidak mau membantuku. Tatapan lirih terus terlayang di udara yang kosong mendengar harapan demi harapan kosong yang sering terdengar dari adikku.


"Masalahnya itu meja Ayah, Kak," kata adikku kembali memutar badan membelakangiku. Berlagak layaknya, seperti orang yang sudah dewasa. Berjalan melintasi rumah, seperti seorang guru yang mengawasi muridnya.


"Ayah kalau kau yang ngomong pasti mau mengerti?!" harapku memohon belas kasihan adikku yang belum jua terlihat jelas mau menolong.


"Kak, aku udah gak mau lagi membuat Ayah marah," kata adikku memberi alasan. "Karena Ayah udah baik sama kita," tutur adikku lembut.

__ADS_1


Aku langsung menunduk lesu mendengarnya. Kalau saja aku bisa memperbaiki meja mungkin itu sudah aku lakukan, pikirku dengan sesal menatap meja terus.


"Nanti Ayah pulang pasti kita tau, Ayah marah atau tidak?!" lanjut adikku berpasrah. Menjatuhkan tubuh kecilnya duduk menghampiriku. "Sebentar lagi Ayah pulang, Kak," katanya melihat jam dinding.


Aku menatapnya dengan berat hati sambil memangku penyesalan akibat kecerobohanku. Aku yang tadi melarang adikku untuk tidak menaiki meja. Ini malah aku sendiri yang menyenggolnya hingga patah, pikirku dengan penyesalan yang mendalam menatap kaki meja yang teronggok di atas lantai.


"Semoga Ayah gak marah," harapku cemas menatap nanar lurus ke depan. Duduk meratapi meja sambil menelan penyesalan itu yang kami berdua lakukan sampai ini.


"Kakak takut?" tanya adikku.


"Iya," jawabku menatap adikku dengan wajah meminta pertolongan. Cemas bercampur takut rasa itu menyerang tubuh mungil sehingga membuat sekeliling yang kulihat merasa tidak nyaman.


"Kak, jangan takut!" kata adikku memberi semangat.


Ketakutan yang kurasakan sedikit memudar menenangkan diri yang tadi berkecamuk melihat kaki meja yang terpampang rusak.


"Assalamualaikum," sapa ayahku langsung mengagetkan, mengetuk pintu yang tertutup rapat.


Sontak aku gemetar mendengar suara ayahku dari luar. Khawatir bercampur panik aku melihat ke arah pintu yang dibuka oleh adikku.


"Kalian belum makan?" tanya ayahku. Berjalan membawa belanjaan ke dapur sambil menolah ke arahku. "Liyan, kau ngapain duduk di situ? Kau masih sakit ?" tanya ayahku berhenti sebentar melihatku.


"Ayah, Kakak gak sakit," jawab adikku langsung memotong pembicaraan. Berdiri sambil melihat ayahku yang lebih tinggi darinya, di ikuti oleh sebelah tangannya memegang tangan ayah kami yang memegang belanjaan.


Setelah mendengar jawaban yang tidak langsung dariku. Ayahku langsung menyeret kaki ke dapur. Di ikuti oleh adikku yang manja.


"Ayah! Ayah bawa apa?" tanya adikku kembali mengulanginya takut kalau ayahku melupakan pertanyaannya.


"Ayah bawa kue, Nak," jawab ayahku, mengeluarkan isi belanjaan dari dalam plastik.


Dengan berat langkah aku terpaksa menyeret kaki ini berdiri di belakang mereka berdua. Menatap ayah dan adik bersama diri yang masih bercampur dengan rasa takut.


"Ayah gak beli es untuk kami?" tanya adikku merajuk memonyongkan bibir cemberut.


"Alah Nak! Ayah lupa kalau kalian minta belikan es lagi," sesal ayahku melepaskan tangannya yang membuka plastik. "Ayah tadi sibuk, Nak. Sewa Ayah ada yang minta di antar dengan buru-buru. Jadi, Ayah lupa karena sibuknya," papar ayahku menjelaskan.


"Tapi 'kan habis itu, Ayah belanja lagi," sahut adikku berani.

__ADS_1


Ayahku kembali melanjutkan mengeluarkan belanjaan dari plastik yang lain. "Ayah, tadi sudah belanja duluan. Baru Ayah mengantarkan sewa Ayah, Nak," terang ayahku menjelaskan. Menyusun cabai dan bawang ke tempatnya.


Aku memutar kedua bola mata mengikuti ke mana arah ayahku bergerak. "Tapi kalau kau gak mau kasih saja kuenya sama Kakakmu. Bair Kakakmu sehat," cetus ayahku yang sibuk mengejar waktu.


"Jadi, aku makan apa, Yah?" tanya adikku sebal dan cemberut melihat ayahku dengan gamblang mengatakan itu.


"Anak Ayah makan nasi saja nanti," jawabku ayahku lugas dengan nada suara lembut.


Adikku diam berpikir, memikirkan yang dikatakan oleh ayah yang barusan pulang dari mencari nafkah.


"Tapi Ayah 'kan mau pergi lagi?" tanya adikku melayangkan rajukannya.


"Pergi ke mana?" tanya ayahku yang selalu senang melihat rajukkan adikku yang manja.


"Sholat jumat," jawab adikku langsung bergeser menutupi sedikit pintu tengah.


Ditengah ocehan mereka berdua aku yang terbelenggu dalam kesalahan yang tidak disengaja semakin pucat membayangkan jika ayahku melihat meja. Ujung kaki kini terasa dingin memikul beban seorang diri.


"Liyan, kau sakit?" tanya ayahku terheran, menatapku sekilas dan mengambil mangkok.


"Gak, Yah," jawabku singkat bercampur panik.


"Lantas kenapa kau berdiri saja di situ?" tanya ayahku kembali, memecahkan telur ke dalam mangkok.


Kedua bola mataku yang tersimpan sedikit rasa takut dan khawatir menatap adikku yang tenang.


"Kalau kau sakit. Jangan di diamkan!" lanjut ayahku yang mengocok telur.


Aku hanya diam saja dan bergeming berdiri menopang tubuh mungil yang menyembunyikan sesuatu.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2