
"Liyan! Kalian dimana ?" teriaknya bertanya sambil mengayun kaki dengan kencang.
"Kami di luar, Bu," jawabku dengan jeritan yang dapat di dengar olehnya.
Suara kakinya semakin terdengar mendekat. "Ternyata, kalian duduk di situ. Ibu heran karena tidak mendengar suara kalian. Ibu pikir entah kemana?!" Berdiri di depan pintu dengan wajahnya yang panik menatap kami.
Aku dan adikku tanda tanya yang begitu besar atas sikap dan perilakunya yang tiba-tiba berubah hari ini. Serasa ini masih belum bisa kami percaya, terkhusus diriku melihat perubahannya yang derastis, aku rasanya bagaikan mimpi buruk.
Lain halnya dengan adikku. Dia tidak terlalu memikirkan perubahan ibu pengganti kami terlalu dalam karena baginya apa pun yang terjadi dengan ibu sambung kami sama sekali tidak membawa dampak pengaruh yang besar untuknya karena dia sama sekali tidak pernah menganggapnya sebagai ibunya.
Dia belum bisa menghilangkan egonya yang kuat hingga dia menentang kenyataan yang di hadapannya, bahkan saat ini ke panikan ibu sambung kami terhadap kami pun tidak berpengaruh terhadapnya sedikit pun.
"Aku tidak begitu bahagia mendengarnya," kata adikku dengan ketus. Menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
Ibu sambung kami yang tidak mengetahuinya tetap mengkhawatirkan kami dengan perhatiannya. "Sedang apa kalian di situ?" tanyanya berdiri dengan tatapan yang menyelidik. Kekhawatirannya begitu memenuhi wajah setengah senjanya.
Aku pun yang menatapnya jadi tertegun karena perubahan sikapnya yang begitu mengejutkan diriku spontan.
"Kami bosan,Bu di dalam rumah terus." Menatap ibu sambung kami yang berdiri dengan cemas sambil melepaskan rasa leganya telah menemukan kami.
"Ya, duduklah di situ! Jangan kemana-mana, kalau ada yang mengajak bermain, jangan mau, ya," serunya memberi peringatan.
"Kalau ada yang mengajak bermain di sini, boleh ,Bu?!" tanyaku ingin tahu jawaban dari ibu sambung kami yang masih berdiri di depan pintu.
"Kalau teman kalian datang kemari untuk bermain dengan kalian tidak apa-apa, Ibu kasih. Tapi, kalau mereka mengajak bermain keluar tidak boleh!" Menatapku dan menatap adikku yang menoleh ke arahku.
Lirikan mataku yang melihat adikku yang diam tanpa menghiraukan kejadian setelahnya.
"Iya, Bu. Kami akan tidak akan pergi kemana- mana," balasku dengan nada suara yang sopan.
"Kalau begitu Ibu akan melanjutkan pekerjaan Ibu kembali." Memutar badan berjalan.
"Kerjaan apa, Bu?" tanyaku menghentikan setengah langkah kakinya dan kembali memutar badan ke belakang melihatku.
Spontan adikku memukul tanganku pelan sebagai isyarat adikku melarangku. "Kak jangan!" teriak adikku spontan sambil berbisik .
Refleks aku memutar kepala melihat adikku dan ibu sambungku yang telah berdiri tepat di depan pintu sedikit maju ke luar. Adikku mengerutkan bibirnya dengan gurat wajah ketat yang melarangku. "Kak, jangan."
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala sebagai isyarat tanda tidak suka atas larangan adikku. Aku menatap adikku dengan sorot mata kesal, lalu aku memutar kembali kepala ke arah ibu sambung kami.
"Kalau kerjaan Ibu masih banyak dan belum selesai kami akan membantu," kataku dengan nada suara menawarkan bantuan agar aku ada kegiatan sedikit sibuk supaya kedua mataku yang redup ini tidak mengantuk.
"Tidak usah, kamu 'kan lagi sakit. Lagi pula kerjaan Ibu sudah hampir mau selesai, kok. Kalian berdua duduk saja di situ. Mungkin sebentar lagi Ayah kalian akan segera kembali." Melemparkan tatapan sedikit melihat adikku yang tidak senang.
"Tapi Bu, 'kan kerjanya di rumah dan kalau Ayah pulang dia pasti tidak marah." kataku.
"Iya, Ibu tahu...". Ibu sambung kami langsung berhenti.
"Iya Kak, Ayah memang tidak marah, tapi 'kan Kakak lagi sakit," kata adikku memotong pembicaraan ibu sambung kami yang menghalangiku untuk membantu sambil memutar wajahnya sedikit melirik ibu sambung kami.
"Iya Liyan, adikmu benar. Kamu itu masih sakit," tandasnya. "Jadi, tidak usah membantu, nanti kalau kamu sudah sembuh baru kamu membantu."
"Baiklah Bu." Aku lalu menunduk dan diam.
Memutar kepala melihat adikku yang duduk tepat di sampingku.
"Kak, itu memang betul, Kakak itu lagi sakit jadi, jangan menambah masalah. Apa Kakak tidak bosan sakit terus," gerutu adikku sambil mendesis. "Lagi pula ini sudah sore, seharusnya, Kakak itu jaga kesehatan untuk nanti malam, siapa tahu Ayah nanti menyuruh Kakak mengaji."
"Kalau begitu kalian masuk sekarang, ayo!" seru ibu sambung kami dengan lembut. "Anginnya sudah mulai dingin, nanti malam sewaktu ingin mengaji sakitmu semakin parah." lanjutnya.
"Harinya 'kan belum terlalu dingin," ujarnya dengan wajah berat.
Aku yang menaikan tubuhku yang lemah setengah melayang di udara merasa tidak enak hati. "Tapi 'kan, kita sudah di suruh masuk." Berdiri tegak lurus sambil menatap adikku.
"Kak, sekali pun kita di larang di luar. Tapi 'kan, kita bisa masuknya nanti," rengek adikku dengan raut wajah memohon.
Aku yang telah memutar sedikit tubuhku yang lemah, kini terpaksa mengurungkannya dan kembali memutar badan tepat menghadap adikku, lalu aku kembali menjatuhkan tubuhku yang lemah untuk duduk kembali di hadapan adikku yang sedih. "Dek, 'kan masih ada hari esok. Jadi, untuk saat ini, kita masuk saja, ya," pintaku memohon dengan lembut pada adikku.
"Hari esok sama sekarang itu berbeda, Kak," rengeknya.
"Apanya yang beda, pohon yang kita duduki tetap sama." Sambil menatap pohon dengan mengayunkan kedua tangan ke udara sebagai isyarat menunjukan kepada adikku.
"Aku tahu Kak, pohonnya tetap sama, tapi suasana sore ini, suasana hatiku tidak sama lagi, Kak," kata adikku sambil mengangkat tubuhnya bangun berdiri tegak dan melihat sekeliling dengan kedua bola matanya yang terlihat berputar.
"Jangan bilang begitu. Itu akan menjadi bumerang di dalam hatimu yang akan membuatmu uring-uringan sepanjang hari." Aku mengayunkan kedua tangan ke pundak adikku untuk menguatkan dirinya, agar dia meyakini omonganku sambil menatapnya dengan sorot mata yang berusaha merayu, agar dia mau mengikuti yang di pinta oleh ibu sambung kami.
__ADS_1
Adikku yang berdiri tepat di hadapanku begitu berat untuk menjawab. Dia memutar badan dan menepis tanganku dari pundaknya. Kakinya melangkah sedikit menjauh dariku sambil memasang wajah berpikir. Dia terus diam mematung membelakangiku yang berdiri tepat di belakangnya. Dia semakin bergeming mempertahankan egonya yang kuat. Sepatah kata pun tidak terdengar darinya.
Aku begitu khawatir. "Sebaiknya kita dengar 'kan saja, sekali pun kau tidak menyukainya," pintaku merayunya kembali untuk melembutkan hati dan ego adikku yang keras. "Tidak ada salahnya, jika kau mengikutinya hari ini saja."
"Kakak selalu seperti ini, sesekali kalau di tolakan tidak apa-apa, Kak," kata adikku.
"Tapi yang bicara dengan kita, 'kan orang tua. Apa yang di katakan orang tua itu adalah baik?!" ujarku.
"Orang tua?" Adikku memutar badannya terperanjat seakan dia seperti baru mendengar sebutan itu.
Aku langsung ikut terperanjat juga karena melihatnya yang mendadak kaget. "Kenapa kau mengatakan dan melihat Kakak, seperti itu?"
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
Menelan pil pahit bukanlah suatu keinginan tapi mungkin sudah keharusan dan takdir.
harus dijalani itu yang pasti.
Rumah tangga Nadira harus kandas ditengah jalan karena perbedaan prinsip dan tersandung kasus lain yang menyebabkan mereka harus berpisah.
Dan kali kedua ini ataukah masih hidup bersama pria yang diinginkan nadira.
"Ceraikan aku" tanggis Nadira.
"Sampai kapan pun aku takkan pernah meninggalkanmu atau pun berpisah. Aku tak ingin itu terjadi"
__ADS_1
"Tapi ini. Adalah kenyataan bahwa kau" .