
Aku langsung terkejut dan menahan nasi yang ingin masuk ke dalam mulut. Melihat wajah adikku yang terlihat senang menggambarkan isi hatinya. Nasi yang berhenti di ujung bibir lekas kembali terjatuh ke dalam piring.
"Ana, jadi kau anggap Ibu galak?" tanyaku menyelidiki. Duduk di samping adikku dan meliriknya.
Adikku terlihat cuek dengan pertanyaan yang kulontarkan. Melihat ekspresinya sepertinya, dia tidak senang dengan pertanyaan yang mendarat di pendengarannya. "Kak, Ibu kesayangan Kakak itu suka marah," jawabnya dengan nada suara tidak senang.
Perlahan aku kembali memasukkan nasi dan mengigit ayam goreng berikutnya ke dalam mulut. "Karena kita 'kan salah," lanjutku, mengunyah nasi, di ikuti oleh kedua mata melihat tangan kananku mengaduk -aduk nasi yang tinggal sedikit.
"Kak, habis 'kan nasinya. Nanti Ibu kesayangan Kakak itu marah-marah, iiiss seram!" sentil adikku dengan nada suara jelas, seakan adikku sengaja mendekatkan kedua bibirnya di telingaku.
"Ibu 'kan belum pulang," bantahku. Duduk di samping adikku dan meliriknya yang nakal.
Adikku terlihat senang dengan yang dikatakannya barusan kepadaku. Seakan dia juga senang mendengar ucapanku yang barusan juga mengatakan kalau ibu belum pulang, terlihat dari ekspresi wajahnya.
"Hihihi!" Tawa geli adikkulangsung keluar begitu saja.
Aku yang menyuap suapan nasi yang terakhir seketika memutar kepala melihatnya dengan pias. "Ana kenapa ketawa?" tanyaku ingin tahu. Mencubit daging ayam goreng lalu mengaduknya bersama nasi.
"Kita bebas hari ini Kak," jawab adikku enteng.
"Kalau ibu kesayangan Kakak itu di sini. Kita gak bisa puas-puas bermain," cetusnya senang.
"Tapi kasihan Ibu, Dik," sambungku, menyuap nasi hingga habis. "Ibu pasti belum makan siang," paparku dengan sendu, mengunyah nasi.
"Kak, di luar 'kan banyak jualan," balas adikku sambil mengulum nasi di dalam mulutnya.
Aku semakin resah mendengar sahutan dari adikku yang sedikit pun belum menaruh rasa simpati. Gelas yang aku pegang dan ingin kuminum perlahan masih menggantung di udara sambil tercengang melihat reaksi adikku yang terlalu apatis.
Huh!
Helaan napas yang keluar dengan kasar pun terdengar sambil membuang kecemasan yang menganak di dalam diri ini dan melayangkan pandangan lurus ke depan tepat ke arah gelas yang kupegang.
Perlahan aku juga memutar kembali tatapan ini melihat adikku yang sedang sibuk menghabiskan nasinya. "Kak, gak usah suruh Ibu cepat pulang," bujuk adikku mengiba bercampur panik.
Aku kini semakin terkejut sambil menahan air minum di dalam mulut. Memutar kepala lalu menatapnya dengan gurat wajah tidak suka dan bercampur dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
Refleks aku langsung menelan minum. "Dik gak boleh bilang kayak gitu," larangku dengan tegas sambil menatap adikku dengan nanar.
"Kenapa gak boleh?" tanya adikku sebal. " 'Kan aku cuma bilang jangan pulang cepat!" bantah adikku protes, melirikku dengan tatapannya yang tajam sambil menghentikan tangannya menyuap nasi. "Kenapa Kakak marah padaku?" tanyanya protes, membuang muka langsung dariku.
Aku semakin resah dan gelisah melihat tingkah adikku dan melihat ibu sambung yang belum juga pulang. Halaman rumah hingga saat ini pun masih bersih tanpa jejak kakinya. Pintu rumah yang masih tertutup setengah rapat pun belum terbuka lebar seperti biasa.
"Ayah lagi! Gak mau menutup pintu," keluh adikku sebal, memutar kepala melihat pintu yang sedikit terbuka.
" 'Kan Ibu belum pulang," kataku kembali dengan tegas, menaikkan sedikit kepala melihat adikku.
Adikku tetap tidak menanggapinya. Dia terlihat masih duduk dengan tenang disampingku dengan ayam goreng yang belum habis. Dia terus mengigit dan mengunyah dengan kasar melahap ayam goreng yang masih banyak tersisa di piringnya.
Aku semakin jenuh melihat adikku yang lagi-lagi pandai berakting. Dia semakin cuek dan acuh mengenai ibu sambung kami.
"Kak, ayam gorengnya enak," kata adikku mengalihkan topik pembicaraan dan membuka mulutnya kembali lalu meneguk air minum yang terletak tepat di sampingnya. "Kakak mau?!" tawarnya dengan wajah penuh harap.
Aku langsung membuang muka kasar darinya. "Kakak gak mau! Kakak dah kenyang," tolakku, melihat ke samping kanan.
"Ya udah. Kalau gitu, aku habiskan aja!" katanya dengan acuh, melihat kembali ayam goreng yang mengayun di udara.
Jam semakin berputar. Hari pun semakin berlalu. Ayah yang tadi pergi mandi sudah terdengar suara batuk kecilnya. Aku yang kesal melihat adikku langsung menetralkan wajah seketika.
"Lalu kenapa Kak?" tanya adikku santai sambil melahap ayam gorengnya.
Adikku semakin hari semakin menjengkelkan. Dia begitu acuh dan sangat membosankan. Dia selalu saja menguji kesabaranku dan membuatku semakin pusing. Aku selalu menghela napas ketika berhadapan dengannya. Dia juga sering membuatku selalu merasa bersalah dan disalahkan oleh ayah yang menyayangi kami. Dia juga tidak ada berubahnya, dia masih tetap sama anak kecil yang cerewet dan manja .
Sepanjang hari ini dia terus saja mengoceh sehingga membuat aku kesal. Berbicara dengan semaunya dan tidak pernah mau mengalah sedikit pun.
"Gak apa-apa, Dik. Cuma ngasih tau aja," jawabku dengan nada suara rendah, mengurut dada bercampur raut muka kesal bercampur sebal.
"Ya udah," balas adikku ketus, meneguk air minum yang terisi penuh di dalam gelas.
"Liyan, Ana. Kalian sudah kenyang?" Tanya ayahku. Berdiri di depan pintu kamarnya.
Aku yang lagi melihat adikku dengan kesal tiba-tiba terkejut dan refleks memutar kepala melihat ke arah sumber suara ayah kami yang menanya kami.
__ADS_1
"Udah Ayah," jawabku lekas mengatur raut muka dengan normal. Di ikuti oleh kedua ekor mata ini melihat adikku yang cuek dan membenamkan wajah imutnya di dalam mulut gelas yang lebar.
"Kenapa piring dan gelasnya masih di situ?" tanya ayahku. Berjalan masuk kamar.
"Kami kekenyangan Ayah," jawab adikku langsung memotong pembicaraan yang ingin aku katakan. Duduk dengan sedikit miring menghadap ke arah pintu kamar ayah yang kami sayangi sambil di ikuti oleh kedua tangan kanannya juga meletakkan gelas di atas lantai sedikit kuat.
Plak !
Gelas itu pun terduduk dengan sedikit kasar. Di ikuti oleh kedua sorot matanya yang menatapku dengan tajam.
"Ana, kau marah, ya?" tanyaku langsung ketika aku melihat sorot mata itu.
"Engga," jawabnya singkat.
"Lalu, kenapa kau lihat Kakak kayak gitu?" tanyaku kembali terheran.
"Engga apa-apa," jawab adikku kembali singkat dengan gurat wajah seakan menyimpan sesuatu.
Aku semakin penasaran melihatnya dan terus menerus menatapnya sambil memeras otak untuk menebak dari wajah itu.
"Ana, kenapa?" tanyaku terheran, menatap terus wajahnya yang aneh.
Refleks dia pun memutar kepalanya dengan tatapan yang seperti tadi tajam dan menakutkan. Aku semakin penasaran dan penuh tanda tanya.
"Ana ada apa ?" tanyaku kembali terheran dan panik, melihat dia yang tersenyum-senyum sendiri.
"Hihihi, Kak gitu 'kan?! Ibu kesayangan Kakak kalau marah," jawabnya langsung memberitahu dengan senyumnya yang nakal.
Aku sontak terkejut. "Ana," teriakku sambil menjentik jemari adikku.
Aku langsung menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar melihat adikku yang semakin melelahkan.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...