
"Hari ini Ibuku tiba-tiba baik," balas Widia dengan gurat wajah yang penuh dengan tanda tanya.
Septiani yang menoleh ke arahku memutar kepala langsung sambil tersimpul manis padaku. "Widia, berarti Ibumu udah baik," kata Septiani berpendapat.
"Kak, mereka berdua enak kali bisa menggambar di situ," kata adikku dengan nada suara sedikit tidak rela.
"Kenapa?" tanyaku. "Bukannya kau sering juga di situ menggambar," lanjutku sambil menatap mereka berdua.
Sekilas angan kembali terkuak mengingat masa lalu kami yang dulu, seperti itu. Aku begitu terhanyut dalam rasa haru yang mendalam kalau saja aku bisa keluar pasti aku akan ikut bergabung dengan mereka untuk mengenang masa lalu kami yang belakangan ini retak.
"Liyan, Ayahmu masih lama pulang, ya?" tanya Widia yang memang selalu ramah padaku.
"Aku gak tau," jawabku keras.
"Kau gak nanya tadi, Liyan? Ayahmu pulang lama atau tidak?" lanjut Septiani bertanya kembali sambil mencoret tanah dengan lebar.
"Widia lihat gambarku cantik!" seru Septiani dengan bahagia, menatap Widia sekilas. "Liyan, kalau kau bisa keluar pasti kau bilang, kalau gambarku adalah gambar yang paling cantik?!" ucap Septiani memuji dirinya sendiri serta sekaligus ingin menunjukkan rasa kebahagiaannya yang mendalam.
"Kak, gak usah tanya Kak Liyan. Kak Liyan 'kan gak pande menggambar," ejek adikku dengan gamblang, menatapku sambil menurunkan nada suaranya sedikit.
"Hahaha!" Septiani pun menyambut dengan penuh tawa dari luar. Seolah celotehan adikku adalah guyonan yang lucu terdengar.
"Kalau mau nanya samaku saja, Kak," lanjut adikku merasa senang memuji dirinya sendiri.
Diriku tiada henti menatapnya dengan kesal. Adikku sadar membuat kesalahan padaku refleks memiringkan badannya melihat ke depan membelakangiku.
"Ana, kau gak menepati janjimu," sentilku sebal.
"Aku 'kan betul, Kak," sambung adikku. Berdiri membelakangiku.
Sesak bercampur sebal melihat adikku yang selalu mencari gara-gara dengan ku. Diam dan mengalah untuk tidak membalas itu kembali yang kutanamkan di dalam diri ini.
"Kau, yang berjanji kau yang gak menepatinya," sentilku mengerang sebal.
__ADS_1
Sementara Widia dan Septiani di depanku masih bahagia sambil berteriak girang dengan gambar yang mereka coret di atas tanah. Seketika kekesalan yang terjadi akibat adikku hilang kembali.
"Widia, kau jangan lupa kalau kau gak boleh bermain lama-lama!" tegur Septiani mengingatkan. "Iya 'kan, Liyan?" lanjutnya, menatapku sambil bertanya.
"Iya, nanti Ibuku marah," jawabku tidak bersemangat, melirik adikku yang bisa bersikap dengan tenang.
"Ibuku hari ini sedikit baik. Dia mengasihku untuk keluar. Aku juga gak percaya," tutur Widia berterus terang, Mencoret terus tanah, di ikuti kedua belah matanya melihat aku dan Septiani.
"Itu mungkin karena Septiani datang?!" kataku membantu menguatkan kepercayaan Widia.
"Entahlah, Liyan. Aku gak tau. Kau 'kan tau sendiri Ibuku kayak mana," kata Widia yang masih dilanda kebingungan.
Septiani ternyata dia tidak mendengarkan pembicaraan kami. Dia ternyata lagi seru dengan gambar yang belum jua usai. Kami yang bercerita panjang lebar sama sekali tidak membuatnya terpengaruh.
Sementara aku merasa gelisah karena ayahku belum juga kembali. Dari tadi ayahku telah pergi meninggalkan kami tapi hingga detik ini belum terlihat jejak kakinya yang memasuki kawasan rumah yang menjadi kediaman kami.
"Widia, kau gak bisa lama-lama. Nanti Ayah dan Ibuku marah," tutur Septiani khawatir.
"Emang kata Ibumu, kau pulang jam berapa?" tanya Widia yang masih jelas terdengar oleh telingaku.
Di tengah keseruan mereka yang cukup lama bermain. Aku masih senang menemani kedua sahabatku. Sesekali aku tersenyum bahagia di dalam hati melihat mereka berdua yang berada di tengah diriku yang terkurung di dalam rumah. Alangkah bahagianya jika ini tidak pernah putus. Persahabatan yang terus terjalin sepanjang masa akan menjadi hal yang terindah. Aku terus menatap mereka tanpa berpaling sedikit pun.
"Liyan, nanti kalau kita udah masuk sekolah. Kita bermain lagi, ya!" pinta Septiani seolah dia lupa hal yang terjadi antara kami berdua.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Menjawab ringkas dan tepat itu adalah hal yang terbaik hari ini. "Iya, nanti aku akan ikut bermain dengan kalian," balasku langsung dengan senang. Diriku pun, seolah lupa dan tidak mau mengingat perselisihan kami lagi.
"Kak, Kakak mana boleh bermain keluar," tegur adikku langsung, menyentil dengan refleks.
" 'Kan cuma sebentar. Kau aja boleh bermain keluar. Masa Kakak engga," bantahku dengan berat hati.
"Kak, Kakak 'kan Anak paling besar yang harus menjagaku dan menjaga rumah," lanjut adikku dengan lantangnya kembali menjebakku.
"Kakak 'kan bisa pergi diam-diam, kalau Ayah gak ngasih," sindirku secara langsung yang dengan sengaja ingin menghentikan sikapnya .
__ADS_1
Sontak dia langsung memutar badan tidak senang menatapku. "Kak, kakak 'kan bilang kalau Kakak sayang samaku. Kenapa Kakak kayak gitu?" tanya adikku cemberut manja seakan dia menyesal mempunyaiku. "Sekarang Kakak jahat lagi samaku," bisiknya sebal menggerutu.
"Ana, sssttt! Jangan keras-keras. Nanti melihat dan mendengarnya!" bisikku pelan melarang adikku sembari melirik ke arah Widia dan Septiani yang masih terlihat senang menggambar. "Kakak gak mungkin bermain keluar tanpa izin Ayah," kataku pelan membujuk adikku agar dia tidak menangis di muka kedua temanku.
"Liyan, kau betul. Ayahmu lama pulang," teriak Widia yang sudah lama menunggu.
Sekelabat aku langsung memutar kepala. "Iya, 'kan aku udah bilang Ayahku lama pulang," balasku membenarkan.
"Kalau Ibumu gak belum pulang juga?" tanya Septiani yang membuka kenangan masa lalu.
Pertanyaan yang dilayangkan Septiani dengan ringan itu membuat kau semakin membisu. Menatap nanar lurus melihat yang lain aku melamun diam, seperti patung.
"Namanya juga Ibu-ibu 'kan banyak urusannya. Sama kayak Ibuku. Kaki udah keluar aja lama pulang," timpal Widia yang tanpa sengaja menyelamatkanku.
"Ooh, iya. Ibuku juga kayak gitu," sela Septiani langsung melirik ke arahku yang hanya diam saja.
Jantung yang berdebar kencang dan membuat wajah ini seketika pucat sebisa mungkin berusaha kunetralkan demi menjaga rumor yang terjadi nanti di luar rumah.
"Liyan, kalau begitu kami pulang dulu, ya!" kata Widia dengan lemah lembut meminta izin.
"Besok kami datang lagi, Liyan," sambung Septiani sumringah.
"Iya, Septiani betul. Besok kalau gak ada kerja kami di rumah. Kami datang lagi ke mari," terang Widia menjelaskan dengan enteng terlihat dari mukanya yang mengatakannya tanpa beban.
"Iya, kalian pulang saja. Nanti orang tua kalian marah!" seruku mendesak mereka agar meninggalkan kami.
"Kak, sebelum matahari makin panas, Kakak pulang saja!" suruh adikku yang selalu suka memotong pembicaraan.
"Hahaha!" Mereka berdua pun tertawa, di ikuti oleh diriku juga yang tertawa atas tingkah adikku yang nyeleneh.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...