
"Iya, Ayah," jawab adikku. "Ana janji tidak akan melakukan hal itu lagi pada Kakak," ucapnya dengan nada suara lirih.
"Kenapa kamu berjanji?" tanya ayahku dengan lembut. "Kamu tahu apa itu janji?" Ayahku kembali bertanya pada adikku.
"Tidak Ayah," jawab adikku. "Setahu Ana, janji itu harus di tepati, Ayah," lanjut adikku.
"Iya, itulah. Makanya, Ayah bertanya padamu. Apa kamu bisa menepati janjimu? Karena setahu Ayah kamu belum bisa, seperti yang kamu katakan," tandas ayahku.
"Tapi Ana akan berusaha sebisa mungkin Ayah," kata adikku dengan penuh semangat. "Ayah tidak perlu khawatir."
"Kamu ini, Nak." Ayahku begitu bahagia terdengar dari nada suaranya. "Ayah kagum padamu, setiap kamu berbuat sesuatu yang menyebalkan, pasti kamu akan memasang wajah sedih dan manja." Kamu itu pasti bilang, Ayah maafkan Ana, Ana tidak akan melakukan seperti itu lagi," ledek ayahku dengan candaan menggoda adikku.
"Ana harus bagaimana lagi Ayah. Habis Kakak selalu di rumah. Dia tidak pernah keluar rumah, seperti ratu saja," tandas adikku sedikit menyindir ayahku. "Asal Ayah tahu, bahkan permainan saja, Kakak tidak ada yang tahu, sungguh menyedihkan Ayah." kata adikku.
"Hm! Apa Anak, Ayah ini sengaja menyindir Ayah?" tanya ayahku setelah mendengar keluhan hati adikku.
"Tidak Ayah. Ana tidak menyindir Ayah. Ana hanya sekedar mengingatnya saja," jawab adikku sedikit acuh.
"Hm! Berarti Anak Ayah sudah pintar." Ayahku memberikan pujian karena melihat adikku yang lebih peka terhadap diriku.
"Kenapa kamu bilang? Kalau Ayah tidak memberi izin Kakak mu untuk keluar? Apa Kakak mu mengadukannya padamu?" tanya ayahku semakin menyelidik.
"Tidak Ayah," jawab adikku singkat. "Kakak tidak berani berkata apa-apa. Ayah tahu, Kakak itu cuman bisa diam, seperti patung." Seketika adikku mengatakan dengan suaranya yang manja agar dia tidak mendapat kemarahan ayahku.
"Jadi, seperti itu," kata ayahku dengan nada suara datar. "Apa Kakak mu bersedih?" tanya ayahku.
"Sedikit Ayah." Adikku langsung menjawab pertanyaan ayahku.
"Tapi Ayah tahu, apa yang terbaik untuk Kakak mu, mana yang tidak." tandas ayahku mempertahankan cara pikirnya.
"Tapi Ayah kasihan Kakak. Dia tidak pernah tahu tentang mainan." sahut adikku. Sok pintar.
"Mainan itu tidak begitu penting, Nak! Yang penting adalah keselamatan Kakak mu." Ayahku tetap mempertahankan cara berpikirnya.
"Kenapa Ayah bilang tidak penting?" tanya adikku ingin tahu. "Kan kalau kita tahu tentang permainan kita 'kan di bilang pintar Ayah,"
"Iya, itu hanya untukmu. Kamu yang suka bermain. Jadi, kamu yang mengatakan seperti itu, kalau mereka yang tidak suka, mereka tidak akan berkata seperti itu, apalagi berpikir tentangnya." Lanjut ayahku. Ayahku begitu antusias sehingga dia tidak mau kalah berdebat dengan adikku.
__ADS_1
Aku yang di dalam kamar terus mendengarkan perdebatan mereka, siapa yang akan menjadi pemenang dan menjadi pemegang kunci untuk mendapat gelar orang yang paling berpengaruh, akan tetapi bukan ayahku namanya jika, dia harus kalah debat dengan adikku.
Tawa geli pun, seketika terukir di wajahku yang pucat, seakan aku tidak pernah merasakan hal yang memilukan.
Ayahku dan adikku masih saja berdebat membahas tentang diriku, antara bermain dan tidak. Mereka terus beradu argument. Adikku yang masih kecil, polos dan manja mengeluarkan pendapat, bak seorang pembicara yang hebat. Hahaha! Tawa semakin menggelitik hatiku.
"Tidak,Nak! Pintar itu di lihat dari kita berprestasi, banyak belajar dan mendengar," kata ayahku.
"Tapi Ayah, kalau kita banyak belajar dan mendengar, bosan Ayah!" gerutu adikku menentang ayahku.
"Bosan dari mana, Nak? 'Kan belajarnya bukan di situ-situ saja," lanjut ayahku menjelaskan dengan lembut.
"Jadi?" tanya adikku menyelidik dengan nada suara kesal.
"Misalnya, hari ini belajar di sekolah dan malam belajar mengaji." Ayahku begitu semangat memberitahu pada adikku. "Hari ini mendengar nasihat guru nanti mendengar 'kan nasihat Ayah." Nada suara yang bahagia.
Aku yang sedang berjaga dengan tubuh lemahku agar tidak semakin memburuk terus berkutat dengan selimut yang menutupi tubuh. Suara adikku semakin terdengar memanas karena ayahku yang terus mengoceh tidak sesuai dengan keinginannya.
"Ayah, sesekali kalau bermain 'kan boleh?!" ucap adikku kembali mengeluarkan pendapatnya.
"Iya, siapa bilang tidak boleh," jawab ayahku membernarkan adikku, seolah ayahku tidak mau kalah dari adikku.
"Anak Ayah tidak pernah mau kalah," kata ayahku dengan nada suara geli, seakan ayahku ingin sekali menertawakan adikku yang terlihat bingung.
Ruang tamu yang tadi ramai, tiba-tiba mendadak sunyi, tidak ada lagi terdengar suara debatan yang membuka kedua bibir pucatku dengan refleks. Sepertinya, adikku sudah kalah saing dengan ayahku sehingga dia diam sendiri .
Kamar yang aku tempati saat ini begitu tertegun melihat ketabahanku. Ia semakin mendekapku dengan pelukan hangatnya dan menenangkanku sejenak, agar aku bisa melupakan keluh kesah dan penyakit yang semakin lama semakin mendera.
Sementara ayah dan adikku telah lama bergeming, sedikit pun suara manja dari adikku tidak terdengar yang terdengar malah hanya suara ayahku dengan leluasa.
"Ana kenapa diam saja?" tanya ayahku mendadak heran.
"Ana tidak diam Ayah," jawab adikku menyela ayahku.
"Lalu, kamu kenapa, Nak? Ayah lihat kamu tidak semangat."
"Bagaimana, Ana mau semangat? Ayah selalu menyebut Ana salah," sindir adikku secara tidak langsung.
__ADS_1
"Menyalahkan di mana? Ayah tidak pernah menyalahkan mu," kata ayahku dengan tegas memberi penjelasan.
"Itu tadi, buktinya! Ayah sudah menyalahkan Ana." rajuk adikku sedikit kesal. "Ayah bilang, kita harus banyak belajar dan mendengar." Lalu, bagaimana dengan bermain, Ana? Apa Ana tidak boleh bermain lagi?" tanya adikku dengan penuh penekanan. Merajuk.
"Boleh. Siapa bilang tidak boleh bermain?" Ayahku kembali membangkitkan semangat adikku. "Tapi tidak boleh terlalu sering. Apalagi sepanjang hari bermain. Bahkan, sampai di rumah saja bermain, hingga mengganggu kenyamanan orang yang sedang beristirahat," Ayahku sedikit menyindir adikku yang telah merusak jam istirahatnya.
Adikku langsung terdiam malu dan dia tidak langsung menyela yang dibilang oleh ayahku. Dia sepertinya memikirkan kesalahannya yang menciptakan serangan beribu nasihat padanya.
Senyum kecil pun terukir indah dari bibir pucatku, sebagai respon pada mereka berdua.
Ayahku langsung mengisi kebisuan adikku. "Kalau begitu Ayah pergi dulu, ya Nak!" kata ayahku. "Ayah harap kamu mendengar apa yang Ayah sampaikan," Ayahku memberi adikku nasihat.
"Jadi, kami tidak boleh bermain di rumah, iya Ayah?!" tanya adikku dengan sedih.
"Ayah tidak melarang kalian bermain di rumah. Tapi Ayah lebih suka kalian itu belajar dan tidak melakukan permainan yang membuat orang lain terganggu." tandas ayahku. "Cari lah, Nak permainan yang lain yang tidak mengusik kenyamanan orang lain. Kalau permainan seperti tadi, itu tidak baik untuk kalian mainkan, apalagi di rumah. Kalau sampai mengenai isi rumah, isi rumah itu bisa hancur, Nak, bagaimana? Atau mengenai tubuh, pasti sakit 'kan?!"
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
Dikhianati oleh orang yang dicintai yaitu sang istri membuat Louis Gabriel menutup diri dari wanita, dia menjalani hari-harinya dengan begitu kesepian bahkan tinggal di rumah mewah dan besar miliknya tanpa ditemani oleh siapapun.
Dingin, kasar, dan arogan menjadi sifat Louis yang merupakan salah satu pengusaha terkaya di negaranya. Meskipun Luois menutup hatinya akan seorang wanita, namun, tidak dengan nafsu dan birahi yang ada di dalam dirinya.
Sebagai seorang laki-laki normal tentu saja dia tetap membutuhkan kaum wanita untuk memenuhi kebutuhan biologisnya itu, dan Loius selalu menggunakan jasa wanita penghibur untuk memuaskan nafsu birahinya.
Sampai akhirnya, dia bertemu dengan seorang wanita yang cuek, urakan bahkan pecicilan bernama Arista yang mampu membuka hati bahkan mencairkan jiwa yang selama ini membeku.
__ADS_1
Seperti apakah pertemuan mereka berdua? akankah Arista menerima cinta dari seorang laki-laki kaya raya, namun, memiliki sifat Arogan dan semena-mena tersebut?