
"Ana, Anak BPnya sudah hilang sebagian," kataku pelan menatap dengan sendu.
"Namanya sudah lama di simpan, Kak. Bajunya pun 'kan sudah hilang sedikit," sambung adikku.
Aku yang bermain dengan asyik. "Tapi 'kan, di taruh di dalam ini saja. Bagaimana mungkin bisa hilang?" ucapku menunjuk kotak.
"Iya, tapi mungkin Kakak ada yang kelupaan di saat menyimpannya ke dalam kotak," tutur adikku. Bergeser duduk di dekatku menemani bermain.
Mendengar penuturan adikku seakan benar bahwa aku mungkin kelupaan menyimpannya. Setelah melihat mainanku tinggal sedikit membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Itulah Kakak. Setelah Kakak lihat sekarang baru Kakak sadar. Kalau mainan Kakak banyak yang hilang," ucap adikku.
"Ya," sahutku dengan acuh.
Adikku mungkin tahu kalau aku tidak memasukkannya semua ke dalam kotak. Aku yang terbilang ceroboh melupakannya begitu saja.
Kecerobohanku inilah terkadang menjadikan aku anak yang sering mendapat teguran keras dari ayahku. Aku tidak tahu kecerobohan ini bisa hilang atau tidak. Tapi yang pasti aku sangat terusik dengan sifatku ini yang terlalu menganggap semua, seperti main-main.
Mainan yang aku mainkan saat ini sangatlah sedikit orang -orangannya yang tadi ada lima sekarang cuman ada dua. Itupun cuman dua anak perempuan yaitu, seorang kakak dan seorang adik.
Dengan sedikit kecewa melihatnya. Aku memutar pandangan melihat adikku yang diam saja.
Kreeekkkk !
Adikku menarik kertas dan menyobek kotak bekas yang banyak. Dia pun tanpa sadar menggunting semuanya dengan asyik. Serpihan-serpihan kertas pun berjatuhan banyak di lantai.
Anak BP yang aku jalankan setengah berhenti di atas lantai. Jemariku yang memegangnya pun terlepas seketika. "Ana, itu sampahnya, kenapa banyak sekali?" tanyaku dengan bola mata melebar.
"Yang mana, Kak?" jawab adikku memberi pertanyaan.
"Ituuu! Di dekat kakimu," tukasku dengan nada suara seakan menunjuk.
"Mana, Kak?!" Adikku langsung melihat ke bawah kakinya. "Mana banyak, Kak. Itu 'kan kecil-kecil," dalih adikku dengan santai.
Anak BP yang terhenti kini terjatuh terlepas dari tanganku. "Dik, itu susun sampahnya!" seruku. "Nanti Ayah tahu, kalau sampai Ibu masuk kemari memeriksa kamar ini." Aku menatap adikku yang tidak mau mendengar.
Adikku masih terus melanjutkan guntingannya hingga seperti yang diinginkannya. "Naaahh! Kak sudah selesai." Adikku menunjukkan hasil guntingannya yang berupa gambar orang. "Bagaimana Kak?" tanya adikku semakin menunjukkan padaku.
Aku yang bercampur aduk kesal dan senang melihatnya sambil mengerjitkan kedua netra. "Biasa saja," jawabku cuek. Lalu aku memutar kembali kepala melihat Anak BP yang terjatuh. "... tapi kok, bisa banyak gitu." Aku kembali menatap adikku yang dingin.
"Iya Kak. Aku mengguntingnya dengan melipat-lipat kertasnya dulu," ungkap adikku dengan nada suara datar.
Aku langsung menoleh ke arah adikku setelah mendengar suaranya. Adikku seakan bersedih pikirku kemudian aku kembali memutar bola mata melihat anak BP yang kupegang.
Aku kembali bermain dengan anak BPku yang tinggal sedikit. "Dik, jangan gunting lagi! Nanti sampahnya makin banyak. Payah di bersihkan," kataku melarang adikku.
"Ini sudah aku kumpul, Kak," sahut adikku bergegas mengumpulkannya tepat ke dekat kakinya.
Aku lalu menunduk lagi melanjutkan permainanku. Kamar yang kami huni kini pun hening tidak terdengar lagi suaraku dan adikku. Kami pun masing-masing asyik dengan permainan kami sendiri.
Aku yang asyik dan seru dengan anak BPku sementara adikku asyik dengan menggunting kertas.
"Liyan, Ana mari ke sini!" teriak ibu sambung kami yang mengagetkan tiba-tiba.
"Kak, Ibu kesayangan Kakak memanggil." Adikku melihatku dari samping.
"Iya," jawabku melihat adikku yang menarik penglihatannya dari ku seketika.
__ADS_1
"Kak, semoga saja Ibu kesayangan Kakak itu tidak masuk ke kamar ini," harap adikku. "Kalau Ibu kesayangan Kakak itu sudah masuk ke sini, pasti dia akan menghardik kita berdua," imbuh adikku.
Aku yang mendengarnya pun. "Kakak harap begitu juga. Semoga Ibu tidak masuk," kataku.
Aku diam berpikir sambil menceritakan anak BP yang masih terlihat di genggamanku. Apa yang dikatakan adikku ada benarnya juga. Jika ibu sambung kami masuk ke dalam kamar ini dan melihat serpihan kertas yang berserakan, dia pasti akan marah.
Kemurkaan ibu sambung kami terhadap kami sangat besar, apabila dia melihat ini. Aku pun segera bangun dan beranjak keluar kamar menghampirinya yang berteriak memanggil.
"Ana, ayo!" ajakku berdiri di hadapan adikku.
Adikku yang mendongak menatapku. "Aku malas Kak." Adikku mengatakannya dengan nada suara pelan. "Kakak saja lah yang datang menemuinya. Aku tidak mau," tolak adikku dengan lembut.
"Ana, ini 'kan nama kita berdua yang di panggil," kataku mendesak adikku. "Ayo cepat! Tinggalkan dulu mainanmu." Aku semakin mendesak adikku untuk berhenti bermain sebentar.
"Liyan, Ana kalian dengar engga di panggil?!" Ibu sambungku berdiri di pintu kamar kami menyikap tirai.
Deg!
Aku pun langsung membeku. Kakiku tidak lagi bisa aku gerakkan melihat ke belakang. Sepertinya perekat yang keras telah menempel di kaki ini dengan kuat. Bola mata yang berputar dengan kencang kini hanya bisa berputar perlahan melihat adikku dari ekor mata.
Wajah adikku yang membeku pun tidak lagi bisa memutar pandangan dengan bebas. Dia kini hanya duduk diam mematung.
"Jadi, kalian di sini membuat sampah!" pekik ibu sambungku dengan keras. "Anak macam apa ? Kalian ini membuat sampah sebanyak ini di kamar!" hardiknya semakin meninggi. "Kamar ini tadi 'kan, sudah bersih. Sekarang malah seperti ini!" serangnya berlanjut. "Sudah hampir mau Maghrib. Kalian masih di sini!" Ibu sambungku berjalan masuk.
Aku dan adikku semakin panik. Kami berdua tidak lagi bisa berucap. Aku yang membungkukkan setengah badanku tadi di udara mengajak adikku bangun. Kini terpaksa kuangkat dengan tegak berdiri. Sementara adikku yang duduk dengan guntingan kertasnya membuang pandangan spontan melihat lantai dan meletakan kertas dan gunting di atas lantai.
"Ini rupanya kerja kalian, ya! Makanya kalian diam dan tidak terlihat di luar," kelakarnya dengan wajah memerah.
Aku yang menatapnya pun menunduk seakan merasa bersalah. Ibu sambungku yang terus berjalan mendekati mainan kami. Membuat adikku harus berdiri menjauh.
Bentakkan yang keras pun membuat aku dan adikku serta seisi ruangan ini mematung. Hardikan yang keluar dari mulut ibu sambung kami dengan bebas melempar kami ke sudut dinding sehingga tidak bisa bergerak membela diri.
Sore yang tenteram kini telah menjadi dentuman keras yang menghempas kami dengan ombak besar yang datang tiba-tiba menghanyutkan segala ketenteraman.
"Kalau sampai Ayahmu tahu ini! Dia pasti akan marah besar terhadap kalian berdua?!" cecar ibu sambung kami sambil mengayunkan telunjuknya ke udara menunjuk aku dan adikku. "Coba lihat ini! Di mana-mana mainan! Di mana-mana sampah!" katanya dengan meninggi sambil mendelik . " Bisa-bisanya, kalian bermain diam-diam di sini!" Ibu sambungku semakin marah. Dia pun berjalan mengelilingi kami dengan tatapan yang tajam.
Aku dan adikku semakin membeku dan diam. Kami tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibir ini. Hanya remasan tangan kekhawatiran yang kini menjadi penguat diri yang tidak berdaya ini.
"Liyan, tadi Ayahmu bilang apa?" tanya ibu sambungku berhenti di sampingku.
Aku yang gemetar menjawab. "Ti-tidak boleh bermain," jawabku terbata menahan rasa takut.
"Lalu... kenapa kau dan adikmu berani bermain diam-diam di kamar ini, ha?" pekiknya di telingaku bertanya.
Pekikan yang keras terdengar dekat sekali di telingaku membuat kedua mata ini menutup dengan kuat untuk menahan kerasnya suara yang memekik di telinga.
Ibu sambungku yang masih betah berdiri mengintai kami. Semakin mendelik melihat adikku dan aku juga dan melihat lantai yang di penuhi sampah dan mainanku.
"Awas saja kalian!" katanya dengan wajah memerah dan mengigit gerahamnya dengan kesal. "Ayahmu pasti akan menghukum kalian berdua?!" cibirannya dengan pedas.
"Menghukum kenapa?" tanya suara ayahku dari luar kamar.
Deg!
Glek!
Sontak aku langsung mengangkat kepala mendelik melihat tirai kamar. Bayangan yang bergerak dari luar pun berjalan mendekati tirai kamar yang tergerai rapi.
__ADS_1
"Lihat itu! Ayahmu sudah datang!" kata ibu sambungku berjalan.
"Kak, tolong bilang pada Ibu kesayangan Kakak itu untuk diam." Adikku berbisik di telingaku dengan tegas. "Jangan sampai Ayah melihat kita menyeraki di kamar ini!" gumam adikku pelan.
"Ana, bagaimana caranya?" tanyaku kebingungan. "Suaranya jauh lebih keras dari pada Kakak," ucapku.
"Kak, sebelum Ayah masuk ke kamar ini dan melihat ini semua," rintih adikku lesu.
Aku langsung dilema dengan yang kuhadapi. Seribu wajah kepanikan pun tertoreh menyelimuti segenap jiwa raga ini. Ocehan dari adikku terus saja berbisik di telinga menyuruhku untuk menghentikan keinginan ibu sambungku yang egois.
Mata yang melihat lantai pun bergerak mengikuti langkahnya yang sedikit lagi mendekati tirai kamar.
"Bu," panggilku mendesak menahan gugup.
Sontak ibu sambungku yang berjalan pun berhenti seketika. Dia pun memutar badan setelah mendengar suara yang menghentikan langkahnya. "Ada apa?" tanyanya dengan ketus sambil melihatku.
"Bu, mainan ini akan kami susun dan sampahnya akan kami buang." Aku menatap ibu sambungku yang berdiri mendelik menatap kami. "Tapi tolong, Bu. Jangan beritahu Ayah." Aku mengatakan kedua tangan ke udara memohon.
"Enak saja!" Ibu sambungku langsung pergi meninggalkan kami.
Aku pun sontak terkejut mendengar penolakan yang di lontarkannya terhadapku. Seketika aku langsung menatap nanar lurus ke bawah dengan kedua tangan yang masih mengatup di udara.
Penolakan itu begitu menghempaskan harapanku dan adikku. Kepiluan pun semakin menyeruak menyelubungi kalbuku. Air mata pun langsung menganak di pelupuk mata. Perlahan aku memutar kepala menatap adikku dengan pilu yang tidak jauh berdiri di sampingku.
"Kak, memang benar kata orang -orang, kalau Ibu tiri itu jahat," kata adikku menatap dengan penuh kebencian. "Aku jadi, ingin mengadukan ini pada Ibu," lanjut adikku menatap langit-langit rumah.
Aku menatap adikku dengan sedih. Curahan hati yang menganak kini tidak ada tempat untuk mencurahkannya. Agar semua kepedihan yang mengendap di dalam benaknya keluar dengan leluasa. Semakin di pendam rasa itu semakin memendam.
Ini jugalah yang dirasakan oleh adikku sekarang. Dia ingin sekali menceritakannya. Namun, keinginan itu terhenti karena tidak ada satu pun tempat yang bisa menjadi teman yang setia.
Perlahan tanpa di sadari ayahku pun membuat tirai itu. "Liyan, Ana!" teriak ayahku mendadak terkejut. "Kalian membuat sampah di sini!" Ayahku mendelik. "Apa tadi Ayah bilang?" tanya ayahku menatapku.
Aku semakin diam dan memeras jemariku dengan keras. Wajah terperanjat ayahku begitu membuatku shock melihat kelakuan kami ini.
"Ayah tadi sudah melarang jangan bermain," bentak ayahku. "Karena kalian sebentar lagi akan mengaji." Ayahku semakin pias.
"Maaf Ayah," jawabku getir.
"Iya Ayah maafkan kami," sambung adikku.
Huh ! Ayahku pun menghembuskan napas kasar. "Sekarang kumpul sampah-sampah itu lalu buang !" perintah ayahku dengan tegas.
"Ba-baik, Yah," jawab aku dan adikku mengambil pelastik dan memasukkan sampah.
"Susun semua mainanmu itu!" Ayahku dengan tegas menyuruh dan berbalik memutar badannya.
"Iya Ayah," jawabku.
"Kau Anak yang paling besar. Malah kau pula yang ikut-ikutan dengan adikmu," kata ayahku dengan pedas mendelik melihatku.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1