
Adikku masih tetap bertahan. Semakin lama aku semakin tersesat di hadapan adikku sendiri. Dia tetap tidak mau membuka mulutnya. Dia terus menatap lantai seakan berpikir memberitahu atau tidak, gurat wajah itu terus terlihat ketika aku melihatnya.
Aku semakin mencemaskan diri ini meremas jemari dengan kuat. Menatap nanar dinding kamar ayahku dan memutar kepala melihat adikku yang duduk diam di belakangku.
Ke khawatiran semakin bergelut dengan diri sendiri dan pikiranku. Suara ayahku yang terdengar mengisi ruangan ini semakin memperkeruh keadaanku sendiri. Dalam diam aku masih berdiri bertengkar dengan diriku sendiri. Penjelasan begitu ringkas yang kudapatkan dari adikku. Dia tidak mau memberi penuturan yang lengkap.
"Ana, kalau Ayah nanti bertanya, apa Kakak harus menjawab dengan jujur?" Aku bertanya meminta pendapat adikku.
Adikku melihatku. "Kak, aku rasa Kakak harus jujur. Kalau tidak bagaimana nasib kita nanti, Kak?" Adikku segera memberi jawaban yang tepat. Dia pun bertanya kembali padaku. Menajamkan tatapannya.
Jemari yang membeku semakin kuremas kuat menahan debaran rasa takut yang menganak. Aku masih tetap berdiri di tengah kecemasan yang mendebarkan. Adikku semakin memaksa agar aku mau berkata jujur. Dia melanjutkan bola matanya melihat ke luar. "Kak, pohon jambunya banyak buahnya," kata adikku mengalihkan kecemasan.
"Ana, jangan membicarakan pohon jambu," kataku berjalan bergegas mendekatinya. "Kakak lagi bingung," lanjutku melihat lantai lirih yang tepat di bawah tirai
"Kak, Ayah sangat galak. Kalau Kakak tidak berkata jujur, bisa-bisa kita berdua kena marah," ucap adikku memberitahu.
Aku terdiam setelah mendengarnya. Aku tidak lagi bisa berkata apapun. Nama ayah yang terdengar semakin membungkam mulut. Jendela yang terbuka seakan memperlihatkan wajah ayahku sedang melihatku.
Aku semakin panik, ayah adalah senjata kami untuk mencari akal yang cerdik agar bisa bermain keluar. Namun, ini semakin membuat aku membeku seperti es. Kata-kata yang di lontarkan adikku terhadapku membuat hasrat untuk berpikir jernih mengatakan yang sebenarnya.
"Iya, Kakak tahu. Kalau Kakak tidak jujur... ," kataku berpasrah mengatakannya seakan aku tidak punya apa-apa untuk menguatkan diri ini.
Ekor mata terus saja melihat ujung kaki yang berdiri melangkah menyeret tubuh ini duduk di samping adikku. Aku pun menaikan tubuh mungil yang kedinginan ini ke atas tempat tidur. Aku mengikuti adikku menatap halaman yang jorok akibat daun yang gugur karena hujan dan angin.
"Kak, temannya Kakak itu kenapa?" tanya adikku memecah kebisuan. Melihat ke arahku.
"Apa Septiani tidak mengatakannya?" tanyaku mencaritahu.
"Tidak," jawab adikku menggeleng. "Kak Septiani cuma bilang, kalau kalian pergi berlima, itu saja!" jawab adikku menerangkan. Mengangkat kedua bahunya.
Aku menarik napas dalam. "Kakak melihat teman yang sakit," ungkapku.
"Teman Kakak yang mana?" tanya adikku.
"Pudan," jawabku singkat.
"Pudan?" tanya adikku penuh tanda tanya. Memutar kepalanya kembali melihat ke luar. "Aku tidak pernah melihatnya. Aku cuma tahu, bang Fikri, bang Rasyd dan juga bang Solihin, itu 'kan yang sering Kakak temani," ucap adikku. "Kalau tidak palingan temannya Kakak, Kak Widia, Kak Septiani." Adikku semakin menajamkan tatapannya.
"Iya," kataku menatap adikku yang mengatakan dengan benar.
"Pudan itu teman Kakak yang lain. Dia itu Anaknya pendiam," terangku pada adikku yang suka ikut campur.
Adikku mengangguk pelan. "jadi, Kak, kalau nanti Ayah bertanya, Kakak harus jujur," kata adikku memberi saran. "Kakak, 'kan tahu, kalau Kakak sudah berbohong...?" Adikku seakan menekanku memberi pilihan agar berkata jujur. Dia semakin menatapku dengan sorot mata yang tajam.
"...Ayah tidak akan percaya lagi pada Kakak," sambungku menelan ludah pasrah.
Kami berdua pun diam duduk di dalam kamar. Aku dan adikku seakan sedang mencari jalan keluar dari masalah yang terjadi. Ibu sambungku yang tadi ribut sendiri tidak lagi terdengar, apalagi terlihat. Bayangan yang dari tadi berdiri dan berjalan lalu lalang pun tidak lagi mengusik kami.
Semua sepi sunyi tidak lagi ada suara-suara hanya jam dinding yang berputar terdengar mengusik pendengaran ini. Suara ayah yang tadi memperkeruh ketenangan sudah tidak lagi terdengar.
Hanya siang dan matahari yang terlihat mengeluarkan sinarnya sedikit demi sedikit. Matahari yang tadi tertutupi oleh awan tebal yang mendung kini telah mengeluarkan sinarnya yang terang.
Adik yang berada di sampingku, menyeret tubuhnya mundur kebelakang untuk tidur siang. "Kak, aku ngantuk. Aku tidur, ya," kata adikku meminta izin.
"Iya, tidurlah!" ucapku. Duduk dan melirik adikku yang merebahkan tubuhnya. "Kak, kalau nanti Ayah bangun, bangunin aku ya," katak adikku.
Kepalaku langsung kuputar kembali melihat adikku. "Kenapa?" tanyaku terkejut.
"Aku ingin meminta uang jajan. Ayah sudah lama tidak memberi aku jajan sore," cetus adikku. "Sekolah saja, jajan kita sekarang, kadang ada kadang tidak," lanjut adikku lirih. Melihat selimutnya.
Aku tidak sanggup mendengarnya rasanya. Sepintas aku memutar bola mata menatap lurus ke depan mendengar yang dikatakan adikku yang berbaring di belakangku.
Kesedihan semakin terjalin. Aku semakin meratapi sepatuku yang sobek sedikit ujungnya. Sampai sekarang sepatu itu tidak pernah diketahui oleh adik dan ayahku. Bahkan aku sama sekali tidak memberitahunya. Aku masih merahasiakannya sampai saat ini. Di tambah lagi adik dan ayahku tidak bertanya dan memperhatikannya.
Sepatu yang tersandar tegak di dinding kamar tepat di sudut lemari yang memang sengaja aku taruh, menyembunyikannya dari ayahku. Sepatu itu dengan lirih kutatap melihat ujungnya.
Sepatu yang malang sudah sobek masih saja tetap dipakai meski temanku telah menghinanya. Suara adikku masih terdengar dalam lamunan. "Kak, sore ini aku pengen membeli jajan. Aku juga kepengen bermain. Aku sudah lama tidak bermain semenjak Ayah menghukumku karena aku tidak sekolah," rintihnya mengingat kejadian masa lalu.
"Bukannya selama ini kau bermain ke luar?" tanyaku membelakangi adikku.
Adikku tidak lagi berkata di belakangku. Dia diam antara tidur atau tidak. Perlahan aku memiringkan sedikit tubuh yang duduk melihatnya. Seketika kami berdua bertemu pandang. Adikku yang sepertinya malu langsung mengalihkan pandangannya melihat selimut yang dipegangnya.
Bola mataku bergerak mengikuti jemarinya yang bergerak meremas selimut. "Kak, tapi itu 'kan, kita bermainnya mencuri-curi waktu," tandas adikku. "Kita perginya diam-diam, tanpa di ketahui oleh Ayah," terangnya menatap selimut dan meremasnya semakin kuat.
"Tapi 'kan, Ayah tahu kalau kita bermain," balasku.
"Iya, tapi Kak, kalau kita terlalu sering bermain diam-diam. Ayah pasti marah?! Bukannya kita terlalu sering bermain dan Ayah lebih banyak tidak tahu dari pada tahu." Adikku dengan lantang menaikan tatapannya padaku.
Sebentar saja aku langsung menurunkan pandangan ke bawah melihat tikar yang aku duduki. Segaris ingatan pun membenarkan apa yang dikatakan oleh adikku. Mulutku semakin berat untuk terbuka. "Ana, bukannya selama ini, Ibu juga tahu," kataku.
"Apa hubungannya dengan Ibu tersayang Kakak itu?" tanyanya dengan nada tidak suka.
Mendengar nada suara adikku. Aku semakin menunduk memutar kepala perlahan tepat lurus ke depan karena lagi-lagi aku menyebut nama itu di depannya.
"Kak, Aku mau kita bermain tidak diam-diam dan aku juga mau setiap sore aku mendapat uang jajan lagi," ucap adikku menggerutu. Sebal dan melempar selimutnya kuat hingga terletak tepat disampingku.
Baug!
Ekor mataku langsung meliriknya. Suaranya yang menggerutu terdengar dari belakang memekakan telinga meski dia pelan. Namun, rengekannya membaut jengah. "Ana, tapi uang Ayah tidak ada untuk memberi kita jajan sore," kataku menerangkan.
Setelahnya adikku tidak lagi bersuara. Aku yang duduk membelakanginya pun semakin penasaran karena suaranya tidak lagi terdengar. Aku semakin bertanya-tanya, lalu melihat kembali ke belakang. Ternyata dia sudah tertidur dengan pulas. Selimut yang tadi menjadi tempat pengaduannya kini telah terlempar jauh darinya.
Saat ini hanya tinggal aku sendiri menikmati embusan angin yang masuk menembus jendela kamar. Angin sepoi-sepoi itu membawaku terbang jauh meninggalkan kejadian yang melilit.
__ADS_1
Suara ibu sambungku pun sama sekali tidak lagi terdengar, begitu juga dengan suara ayahku. Mereka berdua yang setiap hari selalu berselisih paham hanya gara-gara kami. Entah kenapa belakangan ini membaik?
Cit! Cit! Cit!
Suara burung pun terdengar di atas pohon jambu yang rimbun. Burung-burung itu begitu senang terlihat. Aku turun dari tempat tidur dan menghampiri jendela. Berdiri melihat burung yang bernyanyi di atas pohon.
Aku sangat sumringah melihat dan mendengar suaranya yang saling bersahut-sahutan. Bola mata melebar bahagia.
"Liyan!" Tiba- tiba aku mendengar suara ayahku memanggil. Sontak kedua bibir pun langsung tertutup rapat.
"Iya, Ayah," jawabku bergegas menghampiri ayahku. Menarik tirai dengan lekas.
Spontan sebelah kaki kanan yang mengayun ke depan terhenti dengan kaki kiri menahan di belakang. "Ayah." Aku langsung menunduk menarik kaki kanan lekas mundur sejajar dengan kaki kiri.
Tubuh ayahku yang berdiri tegak seakan ingin memarahi karena aku pulang sekolah terlambat.
"Liyan, kenapa tadi Ayah pulang, Ayah tidak melihatmu?" tanya ayahku.
Aku semakin berat bersuara. Bola mata yang melihat lantai, sekilas melihat ibu sambung yang berdiri melihatku. "A-Ayah, kami tadi melihat teman yang sakit," jawabku terbata dengan nada suara berat.
"Melihat temanmu?" tanya ibu sambungku yang berdiri di dapur.
Jemariku semakin kuat kuremas . Ibu sambungku pun semakin kencang berjalan mendekat.
"Liyan, kenapa kau pergi tidak memberi tahu Ayah?" tanya Ayahku kembali.
"Ayah kami perginya dari sekolah ramai-ramai," jawabku masih menunduk.
"Jadi, yang hujan deras tadi, kau masih di sana!" kata ibu sambungku.
"Mmm!" Aku mengangguk mengiyakan.
"Kenapa tidak mengatakannya pada Adikmu, ha?" tanya ayahku dengan penuh penekanan.
Bibirku tidak bisa lagi berucap. Jemari semakin kuat aku remas menahan diri ini dari amukan ayah dan ibu sambungku.
"Ka-kami perginya buru-buru, Yah," jawabku terbata pelan.
"Iya, tapi 'kan, kau dan Adikmu satu sekolahan. Itu makanya, Ayah buat kalian itu satu sekolahan. Biar nanti, Ayah tahu kalian kemana dan pergi kemana," kata ayahku sedikit meninggi. Menahan amarahnya.
"Jadi, kalau kau sakit di luar sana! Siapa yang akan tahu? Apa ada yang akan mengantarkanmu pulang ke sini, hm!" serang ibu sambungku mencekam .
Aku semakin membeku, menunduk dan menutup mulut. Menatap nanar kedua kaki yang berdiri.
Ayahku yang masih berdiri berhadapan dengan aku. Mengeluarkan suara-suara kekecewaan yang dipenuhi dengan kekesalan.
"Jadi, di mana rumah temanmu itu?" tanya ayahku semakin mengurut dada.
"Itu pintunya memang sengaja terbuka karena bair kau masuk tidak berteriak dengan keras memanggil-manggil," lanjut ayahku membelaku.
"Alaah! Mana mungkin pintu kau izinkan terbuka," pekik ibu sambungku dengan nada suara meninggi.
Telingaku semakin menjerit mendengar suara pekikan yang keras bersahut -sahutan itu. Tubuh mungil ini semakin gemetar dan lemas. Ingin sekali tubuh yang malang ini terjerembab kelantai.
"Seharusnya pintu yang terbuka tidak usah kau permasalahkan," bentak ayahku.
"Heh! " Ibu sambungku langsung menarik bibirnya sedikit ke samping dengan penuh kebencian. Bola mata yang takut ingin menatapnya, melihat bayangan yang terpental ke arahku karena biasan matahari yang telah keluar.
"... karena aku pasti tahu, jika ada orang yang masuk," balas ayahku setelah mendengar tawa seringainya.
"Tahu, tahu, tahu! Sejak kapan kau tahu semuanya! Anakmu saja yang sering keluar rumah diam-diam saja kau tidak tahu, heh!" katanya menyeringai seakan dia menertawai ayahku menyerang sepuasnya. "Iya, 'kan? Apa kau tahu?" tanya ibu sambung kami meninggi.
Deg!
Jantungku langsung berhenti dan napasku kini dengan kasar kuhembuskan. Bola mata semakin mencekam menatap lantai dan ujung kaki yang masih dingin.
"Engga pernah kau tahu, kalau kedua Anakmu ini sudah mulai keluyuran keluar rumah. Bahkan, mereka sering bermain hujan tanpa sepengetahuanmu!" hardik ibu sambungku. Suaranya semakin tinggi mengaung di langit- langit rumah kami. "Terutama ini!" katanya menujukku. "Putri kesayanganmu ini. Dia sudah mulai berani mengikuti adiknya yang nakal itu," lanjutnya semakin meninggi. "Coba tanya Putrimu ini. Dia bermain hujan atau tidak," katanya menyuruh ayahku yang membisu menunjukku dengan kata-katanya.
Deg!
Jantungku semakin sesak, jemari semakin dingin. Lidah yang ringan untuk berkata sekarang keluh. Bibir semakin rapat terkunci. Kepala masih saja melihat ke bawah menatap lantai yang tertawa. Lantai yang kuinjak dan kulihat seakan tertawa lebar melihatnya.
"Liyan!" panggil ayahku menahan nada suaranya sekalian amarahnya juga.
Aku semakin berat bersuara, apalagi harus menaikan kepala melihat ayahku. Siraman es seakan tercurah menyiram dari atas.
"Lihat Ayah Liyan!" pinta ayahku. " Apa benar yang dikatakan Ibumu?" tanya ayahku. Berdiri diam di hadapanku.
"Mana mungkin Putrimu mau menjawabnya. Karena dia itu takut!" kata ibu sambungku meledak-ledak. "Putrimu itu engga ada yang benar," katanya menghina. " Dua-du... ." Dia langsung menutup mulutnya.
"Sudah! Cukup ! Hentikan!" bentak ayahku dengan keras. "Jangan pernah berkata itu lagi pada Anak-anakku!" kata ayahku meninggi dengan penuh penekanan. "Kau tidak berhak berkata, seperti itu pada Anakku. Lagi pula, hanya aku yang tahu persis tentang kedua Putriku. Bukan kau!" katanya menekankan mengayunkan telunjuk ke udara menunjuknya.
Suara keras yang mendenting itu membuatku berjalan mundur refleks ke belakang. Tangan yang tadi terletak di samping dengan lurus sekarang telah menempel di kedua telinga dengan kuat aku menutupnya, agar suara itu tidak merusak mentalku yang masih kecil.
Dinding rumah yang setengah lapuk menopang diri ini dengan kuat. Kepala yang tadi menunduk melihat lantai kini menatap lurus ke depan dengan tegak seakan menantang suara-suara keras yang memecah telinga. Samar-samar terlihat dengan jelas dari kedua bola mata yang berkaca-kaca. Ayah dan ibu sambungku bersitegang.
"Sudah berapa kali kuperingatkan. Jangan pernah campuri urusanku dengan Anak-anakku. Kau boleh menegur mereka, kau juga boleh menasihatinya, tapi jangan sekali-kali menghina kedua Putriku," tandas ayahku dengan penuh penekanan. "Mereka itu Anak-anakku. Mereka itu juga adalah masa depanku. Kau tidak lihat dia..., dia itu sangat ketakutan mendengarkan suaramu yang keras dan meninggi itu!" kata ayahku. Mengayunkan telunjuk ke udara menunjukku.
Huhuhu!
Air mata semakin berjatuhan membasahi kedua pipiku yang kedinginan. Aku begitu ketakutan bersandar di dinding yang setengah lapuk. Teriakan, pekikan dan hinaan mewarnai diri ini yang bertahan sendiri di tengah dentuman yang keras.
"Aku hanya mengatakannya saja. Aku sama sekali tidak bersuara keras. Memang Anakmu saja yang penakut," timpal ibu sambungku berdalih dari yang sebenarnya.
__ADS_1
"Liyan, jawab Ayah. Apa kau tadi bermain hujan?" tanya ayahku semakin ketat ingin tahu.
Bola mata yang berkaca-kaca menatap ayahku yang berjalan mendekat ke arahku semakin melebar. Deraian air mata yang mengalir deras membasahi pipi terus mengalir. Anggukan pelan pun kuberikan sebagai isyarat mengiyakannya dan lekas melihat lantai.
"Itu 'kan, Anak kesayanganmu. Anak yang paling kau bangga-banggakan, heh!" kata ibu sambungku miris melihatnya.
"Kau tahu, Nak. Kalau kau bermain hujan?" tanya ayahku berjongkok di hadapanku.
Mulutku hanya diam terkunci. Kedua bola mata rasanya tidak berani menatap ayahku yang kecewa. Aku mengangguk mengiyakan dengan air mata yang masih mengalir.
"Kau bisa sakit lagi, Nak!" kata ayahku dengan sendu.
Wajah ayahku yang senja menatapku. Semakin membunuh ketegaranku. Aku semakin diselimuti rasa bersalah yang besar. Segugukan semakin terlihat berat terdengar di telinga.
"Ayah, maafkan Liyan," kataku berbisik pada ayahku yang masih menjatuhkan tubuhnya tepat di hadapanku.
"Kalau kau sakit lagi. Besok kau pasti tidak bisa ikut ujian," kata ibu sambungku memancing emosi.
Setelah mendengarnya ayahku memutar sedikit kepala melihat ke belakangnya tepat ke arah ibu sambungku berdiri. Di ikuti oleh aku yang melihatnya sambil mengatur napas.
"Sudah diam. Jangan coba-coba bicara lagi!" kata ayahku dengan nada suara datar. Memuat kepalanya kembali memelukku. "Ayah itu takut kehilanganmu, Nak!" bisik ayahku di telinga sambil mengelus pelan kepalaku.
"Ayah, maafkan Liyan," kataku di pelukan ayahku.
"Iya, Nak," jawab ayahku melepaskan pelukannya mengusap air mataku. "Sudah jangan menangis lagi, Nak," pinta ayahku.
Aku mengangguk dan berhenti menangis. Aku begitu terkejut melihat kejadian hari ini. Hari dimana aku mendapatkan kejutan yang mencengangkan. Seakan aku tidak percaya kalau ini benar-benar terjadi. Aku pikir ini cuma mimpi buruk yang menjadi bunga tidur. Akan tetapi semua nyata, semua memang terjadi.
Pekikan dan suara-suara keras menyerang tanpa permisi terlebih dahulu. Aku hampir saja depresi berat ketika itu dilemparkan di hadapanku. Aku semakin goyah berdiri diantara dua keinginan yaitu, keinginanku dan keinginan ayahku.
Bahkan tidak jarang aku ingin sekali lari dan menjauh agar aku tidak mendengarnya lagi. Aku tidak ingin hari-hariku dihantui dengan kemurungan.
Ayahku pun bangun. "Nak, pergilah masuk kamar dan tidur siang, ya!" kata ayahku lembut.
"Baik, Yah," jawabku.
Aku pun memutar badan meninggalkan Ayahmu sendiri. Selepas aku membuka tirai. "Ana, kau sudah bangun?" tanyaku terkejut.
"Iya," jawab adikku datar.
Aku sangat aneh melihatnya hari ini. Dia tidak seperti biasanya dingin dan datar. Aku semakin dihantui dengan rasa penasaran. Aku terus menajamkan tatapanku melihatnya. Dia selama bersama dengan aku di kamar semakin aneh diam dan tidak banyak pertanyaan. Aku semakin dilanda kebingungan. Hati yang bertanya-tanya pun semakin mendalam ingin segera mengetahui tentang adikku.
"Ana, kenapa kau cepat bangun?" tanyaku dengan teliti. "Apa kau tadi mendengar keri... ?" Aku langsung menghentikan pertanyaanku.
Adikku sama sekali tidak menggubrisnya. Dia seakan memalingkan pendengarannya ke arah yang lain. Wajahnya semakin diam dan membuatku semakin merasa tidak enak.
"Ana, kenapa kau diam saja? Apa kau sakit?" tanyaku dengan pertanyaan yang di lontarkan Fikri padaku.
"Tidak," jawab adikku dengan nada suara datar dan wajah yang dingin.
Aku langsung berpikir mungkin adikku mendengar atau melihat aku dan ayah tadi. Aku lekas mendekati adikku. "Ana, apa kau mendengar yang dikatakan Ayah tadi?" tanyaku mengepal kedua tangan dan meremasnya kuat.
Adikku memutar duduknya sedikit sambil menarik bibirnya sebelah kiri seakan dia mengetahuinya namun, dia tidak ingin memberitahunya. Raut wajahnya semakin dingin terlihat.
Sikapnya yang berubah spontan membuat aku sedikit kehilangan akal. Aku seakan terkejut tiba-tiba dia bangun tidur bersikap seperti ini. Aku memperhatikannya semakin tajam. Mulai kepala hingga kaki aku memperhatikan apa ada aneh atau dia terluka.
Sikap diamnya seakan membuat aku terpukul. Berkali-kali aku membuka mulut bersuara. "Ana, lalu kau kenapa?" tanyaku. Terus melihat adikku yang ambigu. "Tolong bicara," kataku memohon agar adikku mau mengerti betapa aku sangat khawatir.
"Kak, aku tidak kenapa-kenapa. Jadi, jangan bertanya lagi," kata adikku tanpa menoleh ke arahku sedikit pun.
Aku semakin bingung. Saat ini aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menelan ludah kekecewaan atas respon adikku yang dingin terhadapku. Perlahan aku memutar badan menjauhinya. Aku berjalan di ikuti kepalaku yang menatapnya ke belakangku. Dia masih duduk termangu seakan memikirkan sesuatu yang membuat dia diam seperti ini.
Sepatu yang tersandar di dinding masih tetap berada di situ. Kakiku pun melangkah perlahan mendekatinya. Sepatu hitam yang sobek masih jelas terlihat. Ujung sepatu yang di mana tempat ujung jempol kaki melebar. Aku lalu mengambilnya dan menyentuh ujung sepatu yang sobek itu. Perlahan bola mata menatapnya nanar bercampur kesedihan yang tersimpan luput di dalam hati.
Sepatu yang menjadi bullyan terhadap diriku sekan menjadi sebuah kenangan. Kesedihan seakan terlihat berada bersamanya. Sepatu ini masih saja lembab. Hujan yang tadi menguyur jalan menyebabkan aku telat pulang dan sepatu lembab.
Mata yang masih sembab akibat menangis masih terasa. Bekas itu tidak nyaman sekali terasa. Mata yang perih akibat menangis pun masih juga belum hilang. Aku masih menatap sepatu dan adikku dengan bola mata yang bercampur tangisan tadi.
Adikku dan sepatu menjadi keresahan yang menetap di hati dalam jangka waktu yang tidak bisa di tentukan. Aku seperti bersalah pada adikku karena aku telah merebut kasih sayang ayahku yang sangat menyayanginya.
Aku semakin bergulat dengan diri ini. Berperang dengan diri ini juga. Bertempur melawan masalah yang ambigu yang aku belum mendengar darinya.
Aku yang teronggok di sudut dinding tepat di dekat sepatu yang berdiri tegak di dinding.
"Ana," panggilku pelan sedikit takut membuat adikku marah.
"Iya, kak," sahut adikku masih tetap tidak menoleh ke arahku.
"Kakak minta maaf, ya," kataku seakan merasa melakukan kesalahan.
"Untuk apa?" tanya adikku dengan nada suara dingin. Melihat lurus ke tirai kamar.
.
.
.
Bersambung...
Yuk! Teman -teman mampir ke novel teman aku author yang lain, ya ! 🙏😊
__ADS_1