
Tikar yang tadi di bawa ayahku dari rumah yang dia gelar di atas tanah dengan rapi tepat di bawah pohon yang berdaun lebat sangat meremajakan diri apabila duduk beristirahat sejenak meregangkan otot -otot yang lelah.
"Ingat jangan lama-lama!" cetus ibu sambungku kembali duduk diatas tikar yang terbentang dengan rapi.
"Iya, kami tidak akan lama," jawab ayahku menyahut seruan istrinya. Dan kembali bermain di dalam sungai dengan ceria. "Ayah, airnya dingin sekali dan banyak batu," kata adikku yang bermain batu di tepi sungai.
"Ana jangan jauh-jauh, ya Nak," pinta ayahku dengan keras. Mencuci mukanya dengan air yang gerah akibat terkena terik matahari.
"Iya Ayah," teriak adikku dari jauh menjawabnya sambil bermain batu dan pasir.
Adikku memang suka sekali bermain batu dan pasir. Makanya dia sangat betah sekali bermain di luar.
"Ayah, aku ingin bermain ke sana!" pintaku menunjuk ke tempat yang banyak anak- anak berenang.
"Jangan ke sana, nak. Disitu sangat dalam. Ayah takut kau nanti tenggelam," tandasnya melirik ke tepi sungai yang banyak diisi oleh akar -akar pohon yang besar terlihat sampai ke atas tanah.
"Liyan, kau kenapa ingin bermain ke sana?" tanya ayahku. Menatap lekat akar pohon yang aku tunjuk.
"Aku pengen aja, Yah. Di sana daunnya banyak ," kataku menahan bibir yang membeku kedinginan. "Ayah tapi mereka sangat banyak bermain di sana," kataku dengan nada suara pelan. Berdiri di atas ban sambil di pegang oleh ayahku.
"Ayah tidak mau. Bagaimana kalau bermain sama Adikmu saja?" ucapnya bertanya.
Glek!
Seketika aku langsung menelan ludah dan menahan suhu dingin yang menyerang tubuh mungil ini. Aku terdiam bercampur sedih berpura melihat kakiku yang pucat.
"Ayah, kakiku sudah pucat," kataku berbisik pelan di telinganya.
"Oh, iya Nak. Kau sudah kedinginan," balas ayahku panik. Menggeser ban ke pinggir dan menggendongku langsung ke tepi.
"Ayah, tunggu aku!" teriak adikku yang juga mau digendong oleh ayahku. Berdiri dan bertahan di atas air yang dingin. Melambaikan kedua tangannya sebagai isyarat minta di gendong juga.
Ayahku pun menjatuhkan setengah tubuhnya di udara menghampiri adikku dan mengendongnya juga. Adikku sangat senang begitu juga diriku. Aku yang di gendong di sebelah kanannya sementara adikku di gendong di sebelah kirinya.
"Liyan, ganti bajumu dan ambil ini! Simpan topimu. Jangan sampai hilang," kata ayahku dengan terburu-buru.
"Iya Ayah," jawabku. Mengambil handuk yang ada di dalam tas.
"Liyan, ambil bajumu pelan-pelan. Jangan berserakan . Ibu tidak suka melihatnya," seru ibu sambung yang duduk sambil memegang tasnya dengan erat.
"Iya Bu," jawabku. Membuka tas sambil menyelimutkan handuk ke punggungku.
Waaah!
Aku terperangah dan terkejut melihat baju yang di bawakan oleh ayahku begitu banyak. Ada juga baju hoodie yang paling aku sukai. Tangan kecilku pun langsung mengambil baju hoodie yang jarang sekali aku pakai.
__ADS_1
"Kenapa lama kali Liyan?" tanya ibu sambungku. Menggeser duduknya sedikit miring melihatku.
Aku sontak terkejut mendengar tegurannya dari belakang. Aku lekas mengancing tas dengan buru-buru.
Aku memutar badan dan memegang baju hoodie yang paling aku sukai ketika aku kedinginan.
"Kau mengambil baju itu lagi," ucap ibu sambungku melihat baju yang aku peluk.
"Iya Bu," jawabku mengangguk. Melirik baju yang di tunjuk ibu sambung kami yang tepat berada di dalam pelukan.
"Pakai bajumu di tempat ganti. Cepat bangun! Biar Ibu temani," katanya. Bangun dan berdiri menunggu.
"Bajumu basah semua, ya?" tanyanya dengan tajam menatapku.
"Gak Bu," jawabku.
"Lalu, kenapa kau harus mengganti baju?" tanyanya. Berjalan beriringan dengan ku.
"Bajuku basah sedikit," jawabku. Menatap baju yang kupakai. Berjalan dan memegang baju hoodie dengan kedua tangan.
Pintu kamar mandi pun di buka oleh ibu sambungku. "Gantilah bajumu!" katanya. Memegang knof pintu.
Baju yang basah pun segera aku lepas dan menggantinya dengan pakaian baru yaitu, sepasang hoodie.
🌵🌵🌵
Pintu pun aku buka dengan kasar. Melangkah keluar dan membawa baju yang tadi kupakai
"Liyan, kau jalannya pelan-pelan. Jangan terlalu buru-buru. Nanti jatuh," ungkap ibu sambung yang senantiasa masih mau menemaniku mengganti pakaian.
Dengan hati yang senang aku pun berjalan mengikutinya dari belakang sedikit lengah.
"Liyan!" teriak ayahku langsung menarik lenganku kuat.
Refleks aku pucat dan terkejut karena hampir saja aku ingin terjatuh ke bawah.
"Ayah 'kan sudah bilang dari tadi. Jangan berjalan ke sini!" sentak ayahku dengan wajah yang pucat.
Ibu sambungku pun refleks juga memutar badan ke belakang.
"Liyan, 'kan Ibu bilang hati-hati ! Jangan berjalan ke situ!" tandasnya dengan terkejut.
"Ayah, aku sudah kedinginan," kata adikku dari belakang menarik lengan ayahku.
"Sebentar, Nak. Ayah mengantar Kakakmu dulu ke sana," ucap ayahku. Menggendongku dan menciumku dengan wajahnya yang pucat bercampur khawatir. "Kalau kau sampai terjatuh, bagaimana Nak?" kata ayahku dengan lirih bertanya.
__ADS_1
"Kau itu ada-ada saja. Anakmu 'kan masih selamat," ucap istrinya.
Ayahku terlihat sangat gemetar dan pucat . Dia langsung tidak bersemangat untuk melanjutkan acara piknik.
"Sebaiknya kita pulang saja," pinta ayahku. Meletakan aku duduk di atas tikar yang terbentang.
"Ayah jangan pulang dulu. Aku belum puas di sini bermain," rengek adikku. Berdiri di sampingnya.
"Tapi Nak, Ayah takut kalau kalian kenapa-kenapa," ucap ayahku panik.
"Itu 'kan tadi. Tapi sekarang Anakmu 'kan sudah di sini," sambung istrinya dengan acuh.
Ayahku sejenak diam sambil memelukku. Tangan lembutnya pun dia ayunkan ke udara ingin membelaiku.
Krek!
Tiba-tiba adikku menarik lengan ayahku yang ingin mengusap kepalaku.
"Ayah, ayo kita bermain lagi," pinta adikku mengajaknya.
Aku yang bertemu pandang dengan adikku hanya bisa menjatuhkan pandangan ke bawah. Aku diam memeluk baju kotorku setelah melihat sorot mata adikku yang pias itu membenciku.
Sementara ibu yang menjadi ibu pengganti bagi kami sedikit pun tidak menaruh rasa iba terhadapku. Dia tetap bersikap biasa -biasa saja.
"Lain kali, kalau kau berjalan jangan terlalu ke pinggir," saran ibu sambung kami yang duduk menemaniku.
Ayahku yang telah pergi jauh menemani adikku untuk bermain kembali. Terus aku lihat sampai menghilang. Adikku yang tidak suka terhadapku dengan liciknya mencoba menjauhkan aku dari ayah yang selama ini telah membesar dan mengurus kami semenjak ibu kami telah tiada.
"Liyan, kau dengar tidak Ibu bicara?" tanyanya sedikit keras bercampur sebal. Memasuki gendang telinga.
"Dengar Bu," jawabku. Memutar pandangan kembali ke arah ibu yang selama ini menjadi teman kami.
"Kalau ada orang tua bicara, dilihat. jangan melirik ke arah yang lain," lanjutnya. Sedikit melirik ayah dan adikku seperti yang kulakukan tadi.
"Iya Bu," jawabku. Menaikan sedikit pandangan menatapnya dari ekor mata.
"Adikmu masih bermain pasir," kata ibu sambung yang duduk bersamaku. Menatap adikku yang seru dengan permainannya.
Aku tidak lagi seceria tadi semenjak ayahku berteriak menarikku karena aku ingin terjatuh ke dalam sungai. Aku masih termangu menatap kosong lurus ke depan.
"Liyan kalau kau lapar kau makan saja," seru ibu sambungku. Mengambil rantang stainles yang terletak di atas tikar tepat di samping tas.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...