Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Meninggalkan bawah pohon


__ADS_3

"Ayah tau Nak. Kalian itu bosan di dalam rumah. Tapi kalau kalian di kasih keluar. Kalian tidak tau jalan pulang," tandas ayahku yang telah lelah melihat kami selalu merengek minta bermain keluar.


Aku dan adikku pun merasa tersindir dan bertemu tatap dan menunjukkan muka yang sedih. Kekesalan dan rasa kecewa kembali menyelimuti diri ayah yang selama ini telah melarang kami untuk tidak ribut lagi.


Dengan rasa bersalah aku tidak berani menatap wajah ayahku yang berdiri tegak di depan pintu. Sementara lain halnya dengan adikku yang selalu menganggap semua baisa-biasa aja. Merasa anak paling kecil yang tidak pernah mendapatkan tuntutan dari ayah kami. Dia tidak pernah mau tahu kalau ayahku benar-benar telah serius dengan tegurannya.


"Lain kali kalau kalian selalu ribut. Bertengkarnya jangan di depan Ayah. Ayah pusing mendengar teriakan dan tangisanmu itu, Ana!" kata ayahku dengan nada suara yang terdengar tidak suka.


Glek !


Adikku terkejut dan menganga sambil melayangkan sorot mata melihat ke arah ayah yang berdiri di depan kami. Mata yang menatap tanpa kedipan sekali pun seolah tercengang sebab ayah yang selama ini memanjakan dia ternyata tidak menyukai sikapnya yang semakin keterlaluan.


"Ada apa-apa menangis. Jangan 'kan untuk diam di dalam rumah. Bermain di dalam rumah pun ujung-ujungnya selalu bertengkar!" sesal ayahku yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. "Tolonglah, Nak. Jangan selalu ribut. Ini hari sudah mau malam. Jangan 'kan untuk masuk ke dalam rumah. Ini malah ribut di luar!" lanjut ayahku dengan lembut memohon harapan agar ke depannya aku dan adikku tidak lagi mengulangi hal yang sama.


Baju yang kupakai terusan setengah lutut kuremas sebagai menahan rasa bersalah terhadap sang ayah yang sudah lelah. Sedangkan untuk adikku sendiri dia juga menunduk karena hari ini yang paling menyayanginya sudah menyalahkan dirinya.


Ranting kayu yang dia ambil sebagai alat untuk melukis di atas tanah sekarang malah menjadi alat untuk menenangkan dirinya dari kekesalan sang ayah. "Ayah sekarang sudah mau memarahiku," gumamnya dengan penuh sesal sambil melihat ranting yang diayunkannya di atas udara.


Tatapan mata yang menatap melihat ke bawah seketika kuputar melirik adikku yang kecewa mendengar ayah yang paling kami sayangi tidak lagi membelanya.


"Apa Kakak bilang? Kita masuk! Nanti Ayah marah," sindirku, mengucap pertanyaan padanya. Berdiri melirik kayu yang tergantung di atas udara.


Seketika tatapannya yang tidak menyenangkan bercampur sebal mendelik. Gugup melihatnya, aku langsung menjatuhkan pandangan ke bawah melihat daun yang menempel di atas rambut ibu yang terpampang di atas tanah.


"Kau yang gak mau masuk. 'Kan jadi, kita berdua kena marahi," sesalku kecewa melihat adikku yang masih juga egois.


Sementara ayah yang selama ini mengurus kami sudah sedikit berubah seperti perempuan yang cerewet. Suara repetannya semakin sering belakangan ini terdengar mengisi langit-langit rumah.

__ADS_1


"Liyan, kau juga semakin lama kau sudah semakin terikut dengan Adikmu. Tidak mau mendengar dan selalu mendengarkan Adikmu!" ungkap ayahku yang sudah menyerah.


Aku tidak menyangka kalau aku ternyata sudah mirip dengan adikku. Tidak mau mendengar dan suka keluyuran.


"Mulai sekarang kalian berdua di luar saja! Tidak usah masuk lagi ke rumah. Bair kalian puas bermain di luar. Gak ada yang melarang!" tutur ayahku, memutar badan meninggalkan kami yang belum juga usai berselisih.


Sangat menghempaskan diri. Masalah ini semakin membuatku dilema. Tidak semua hal yang di kami lakukan ternyata di sukai ayah kami. Menunduk sambil melirik adikku yang menganga melihat ayahku yang menghilang.


"Ana, apa Kakak bilang? kalau Ayah sudah marah kita berdua pasti kena?!" sambungku, melihat adikku yang berkerut dan kecewa melihat ayah yang sudah mulai berubah.


"Iya, tapi Ayah gak menghukum lagi, weee!" sahut adikku sambil mengejek mengeluarkan lidahnya.


"Ana, kau!" kataku, menggeser tubuh mungil ini tidak senang melihat adikku yang mengejek. "Kalau Ayah marah gak apa-apa. Nanti Ayah juga baik lagi samaku," katanya percaya diri sambil mengacungkan ranting pohon ke udara sebagai isyarat kalau yang dikatakannya itu akan terjadi.


Sedikit terbodoh dan tidak percaya, aku tertawa geli melihat adikku yang selalu percaya diri akan yang dipikirkannya sendiri. Setiap kali dia dimarahi dia selalu seperti itu. Percaya kalau ayah yang paling menyayanginya tidak akan marah besar terhadap sikap dan tingkahnya.


"Biar Kakak tau. Ayah gak pernah marah samaku, karena aku 'kan mirip Ibu," ucap adikku dengan bangga dan senang.


"Ayah 'kan bilang, kalau Ayah gak bisa lihat aku nangis," lanjut adikku.


Shock itulah yang hanya bisa aku beri pada diriku sendiri setelah mendengar omongan adikku. Terdiam melihat langit detik ini aku lakukan sebagai isyarat membalas jawaban adikku yang sudah menganggap bahwa aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya.


"Kakak 'kan tau kalau Ayah marah pasti dia sayang lagi samaku," sindir adikku yang mengetahui kalau aku tidak pernah mendapatkan perlakuan, sepertinya yang istimewa.


Menghenyak diri tapi aku tetap harus kuat. Adikku bukanlah sainganku untuk merebut kasih sayang ayah yang selama ini menjadi orang tua yang tiada kenal lelah dalam merawat kami.


"Kalau begitu, kita masuk sekarang!" ajakku dengan lembut dan berbesar hati.

__ADS_1


Raut mukanya agak terlihat ragu dan bimbang. Berpikir sambil menatap gambar yang di atas tanah seolah dia sedang berpikir sambil melihat baju kaos dan celana pendek yang dia pakai. "Kalau aku masuk ke dalam. Nanti gambarku rusak!" ucapnya, melihat gambar baju yang unik.


"Gambar yang mana?" tanyaku langsung bingung melihat ke atas tanah dan baju yang dia pegang.


"Gambar yang ini!" kata adikku menunjuk tanah dengan tatapan kedua bola matanya yang bening.


Menembuskan napas panjang mendengarnya . Aku sedikit lega karena telah mengetahui jawabannya. "Dik, besok masih bisa digambar lagi," kataku dengan lemah lembut.


Sorot mata yang merasa berat hati, menatap diriku yang mengatakan dengan enteng. "Kak, kalau besok kita dikasih keluar. Kalau engga kayak mana?" tanya adikku dengan penuh tanda tanya.


"Ana, berdo'a saja. Semoga Ayah besok ngasih kita keluar," saranku menanamkan sedikit kepercayaan pada diri adikku.


"Huh! Do'a kita gagal kalau sudah mengenai Ayah," sesal adikku, melipat kedua tangannya di atas dada. Di ikuti oleh tangan kanan yang masih memegang ranting.


"Ptfff!" Aku ingin tertawa. Namun, aku menahannya agar adikku tidak semakin kesal. Menatap adikku dengan hati yang tergelitik lucu.


"Mungkin besok pasti dikabulkan?!" kataku berharap yang tidak pasti.


Mulut yang cemberut dengan alis yang menyatu dan kening yang berkerut dia menatapku dengan tajam.


"Udah, Dik. Ayo kita masuk!" ajakku, menarik lengan adikku yang bersikeras mau menjaga gambar yang di bawah pohon.


"Kakak!" teriak adikku dengan berat melangkah masuk meninggalkan bawah pohon. "Gambarku, bagaimana ?" tanya adikku yang sudah menyerah.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2