Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Mengikuti kemauan Ayah


__ADS_3

"Kakak juga gak mau, Dik," balasku langsung.


"Ayah, kenapa jadi suka, Kak, menitipkan kita di rumah kerabatnya? Kerabatnya yang tadi aja jahat," sesal adikku bercampur kesal. "Kalau Kakak mau Kakak saja. Kakak 'kan Anaknya baik dan nurut sama siapa aja," tolak adikku mentah.


"Ah, Kakak gak mau biar Ayah aja yang jumpa sama kerabatnya. Kita gak usah ya, 'kan, Dik?" ajakku sekalian menanya adikku mau atau tidak.


Wajahnya yang penuh penolakan itu semakin berkerut kencang dan segera ingin menelanku bulat-bulat. "Kakak ada-ada aja," sentak adikku marah. "Kakak aja sendiri ke sana!" serangnya sambil mengerutkan keningnya dengan kencang.


"Ana, pelan-pelan, jangan berisik! Nanti Ayah dengar. Kita jadi, di antar ke sana kau mau?" tanyaku penuh penekanan.


Seketika mengunci mulut dengan rapat. Suara yang tadi berkoar-koar kini hening seketika. Mengingat kerabat yang membuat benci, Jadi, kami tidak mau lagi menerima tinggal di kerabat yang mana pun.


"Habisnya, Kakak selalu menyuruhku untuk yang ditaruh di sana," ucap adikku tidak bisa menerimanya. "Kalau aku ditaruh di sana. Aku nanti kelaparan, Kak," ujar adikku yang manjanya kelewatan.


"Iya 'kan Dik. Kalau begitu kita ikuti saja kemauan Ayah," usulku cemerlang.


Sejenak adikku diam dan tidak mau mengiyakan. Duduk memelas memangku wajahnya itulah yang terlihat setelah mendengar usulanku.


"Bagaimana? Kita ikuti aja kemauan Ayah !" tanyaku sambil membujuk adikku agar dia mau sekali ini saja mengalah.


Diam dan bertekuk muka itulah yang dia berikan padaku. Pikirannya yang selalu ada ide menekuk di atas kedua lututnya. Memelas dan bergeming tidak lepas darinya saat ini. Setelah mengetahuinya aku jadi, menyesal mengajaknya untuk berdamai dengan tuntutan ayah kami.


"Aku masih malas, Kak," jawab adikku yang sangat sulit untuk bekerja sama. "Ayah 'kan udah gak sayang samaku. Jadi, aku gak tau," lanjutnya dengan gamblang.


Glek !


Aku melongo sambil menelan ludah mendengarnya. Lemas terasa sekujur tubuh mungilku yang sering manjadi serangan empuk adikku.


"Ana, bicara pelan. Ayah lagi sholat. Jangan sampai Ayah dengar, uuuh!" celetukku kesal. Duduk sambil menunggu hati adikku terbuka.


"Kak, ini 'kan ada palangnya!" ucap adikku seenaknya.


Aku semakin sebal mendengarnya yang rileks mengatakan bahwa kalau dia tidak akan ikutan dengan permintaanku. Memohon kepada adikku tidaklah mudah. Menaklukkan musuh yang sulit lebih sulit lagi menaklukkan adikku yang cerewet dan egois.


"Telinga Ayah sangat tajam. Beda dengan telinga kita," kataku, mengeram kesal dan jenuh melihat adikku yang lagi-lagi beralasan dengan enteng menanggapi hal yang selalu datang menyerang.


"Kak, aku gak suka," keluh adikku.


Bingung sampai melongo setiap saat adikku lagi-lagi berulah aneh yang membuat ubun-ubunku ingin lepas. "Gak suka apa, Dik ?" tanyaku tegas.

__ADS_1


Dengan wajah yang rileks dan nyaman dia dengan enaknya mengatakan. "Makan malam, hihihi!" jawab adikku, tertawa meledekku senang.


"Huh!" Aku langsung menghembuskan napas panjang demi menetralkan diri yang sudah mulai ingin menyerah menghadapi adikku yang semakin menaikkan ubun-ubun ini hingga terbakar.


Melipat kaki dengan kasar itu adalah obat diri yang paling ampuh untuk meluapkan emosi jiwa yang sudah mengguncang. Jendela yang belum tertutup langsung kutatap tanpa henti.


"Kakak lihat apa?" tanya adikku terheran bercampur enteng.


"Itu!" jawabku singkat menunjuk ke arah depan dengan memonyongkan bibir.


"Ooh!" Adikku manggut-manggut. "Jendela," katanya pelan. Beranjak dari duduknya kemudian menutup jendela yang belum terkunci. "Kenapa Kakak diam saja? 'Kan jadi, masuk nyamuk," lanjutnya dengan gurat wajah tidak pernah merasa bersalah.


Diriku lagi-lagi diremas oleh sikap adikku yang cuek dan over akting. "Kakak lupa," jawabku acuh, melihat baju yang masih kupakai dengan elegan.


"Kak, kalau kita ikuti kemauan Ayah. Emangnya kita dapat apa?" tanya adikku, melepaskan jendela yang sudah terkunci.


"Kita mungkin bebas, Dik," jawabku, Duduk menekuk kedua lutut.


Sontak adikku memutar badannya terkejut. "Memang kita dihukum, Kak?" tanyanya membelalak. Sok dewasa.


"Iya, biar kita tidak dihukum lagi kalau kita salah," jawabku menatap nanar dengan pandangan kosong.


Tawa dari adikku seakan ejekan keras memukul mundur diri ini hingga ingin bersembunyi di dalam dinding yang terpasang kuat.


"Ana, ikuti saja. Bair kita aman," pintaku memohon dengan wajah lelah menghadapi situasi yang tiba-tiba hadir dengan seizin-Nya.


Bawah jendela pun ditinggalkan oleh adikku lekas. "Kak, kalau kita ikuti kemauannya Ayah sampai besar kita akan di rumah saja," tutur adikku mengiba bercampur sedih.


"Dik, tapi ini demi kita," sahutku memohon penuh harap.


Adikku semakin bingung. "Demi kita apanya, Kak?" tanya adikku merintih sebal.


"Demi kita gak dihukum lagi, Dik," jawabku, melihat adikku yang belum juga mau mengingat sebaliknya.


"Kak, kalau kita ikutin kemauan Ayah. Aku bakalan rugi, Kak," kata adikku sebagai isyarat menolak.


"Rugi kenapa?" tanyaku ingin tahu.


Adikku menatapku. "Ayah gak akan ngasih kita jajan lagi, Kak," jawabnya berterus terang.

__ADS_1


Mendengar alasan adikku ada benarnya juga, pikirku. Uang jajan bakalan terhenti. Di tambah lagi sekolah masih lama. Liburan panjang membuat aku dan adikku semakin uring-uringan. Kami jadi, semakin sering dikurung di dalam rumah. Uang jajan juga terhenti mengalir sama kami.


Wajah murung adikku tertoreh menutupi wajah cerianya yang bercampur cerewet. Duduk memangku sesal dan harap dia tunjukkan dengan penuh iba.


"Tapi Dik. Ayah pasti bawa kue dari pasar?!" ucapku menyemangatinya.


"Kue dari pasar kalau Ayah ingat. Kalau tidak?" tanya adikku mendelik tidak setuju.


Kebisuan kembali menghantam diri yang setengah sudah yakin dengan ide cemerlangku.


"Liyan, kau tidak minum obat lagi?" tanya ayahku yang sudah selesai sholat.


"Ayah, aku sudah sembuh," jawabku.


"Kau sudah sembuh, Nak? Mulai kapan?" tanya ayahku menyikap tirai kamar.


"Dari semalam, Yah," jawabku agak malas.


"Adikmu? Apa kalian berdua sudah makan?" tanya ayahku. Berdiri di depan pintu kamar.


Tatapan langsung bertemu antara aku dan adikku sambil menyembunyikan sesuatu di dalam hati.


"Ayah, kami sudah kenyang," jawabku menutupi yang tersirat di dalam hati.


"Kapan kalian makan, Nak?" tanya ayahku sambil memeriksa jendela kami.


Aku dan adikku serasa terkepung di dalam kamar . Bahan cerita mengenai ayah kami yang ingin menjalani semua peraturannya terhenti ketika sang ayah bertanya.


"Nak, kalau belum makan. Sebaiknya makan sekarang nanti kalau sampai kalian berdua sakit. Ayah suruh kalian makan banyak, mau?" tegur ayahku, memberi kami pertanyaan. "Kalian berdua kalau tidak bertengkar pasti sudah makan ?!" sambungnya yang sudah mengetahui kemalasan kedua putrinya.


Kami berdua hanya diam. Menunduk melihat ujung kaki yang membeku diam seperti patung. Melayangkan tatapan satu sama lain itulah yang terjadi sebagai bukti menjawab pertanyaan dari ayah yang terlalu mengkhawatirkan kami.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2