
Setelah Fikri selesai. Bu Dona kembali memanggil murid yang lain. Ia melihat dari seluruh murid yang ada satu per satu dengan lekat.
Widia yang duduk bersebelahan denganku begitu gemetar terlihat dari wajahnya. Ia terlihat takut kalau Bu Dona akan memanggilnya.
Sementara Bu Dona yang duduk di kursinya, memanggil murid berikutnya.
"Rasyd! Silahkan tampil ke depan!" seru Bu Dona. Menatap Rasyd dengan sorot mata penuh harap. Seakan Bu Dona mengingat, apa yang telah di lakukan Rasyd tadi terhadap Fikri.
Rasyd terlihat gugup mendengar panggilan dari Bu Dona. Ia sedikit mengatur pandangan ke arah Bu Dona dengan berpura-pura menggaruk belakang kepala.
Wajah jenakanya terlihat seperti kepiting rebus. Gemetar, cemas dan takut, itulah yang sedang menyelimutinya saat ini. Ke khawatiran akan kemampuan pun terlihat dari wajahnya yang ragu.
Ia semakin berlama -lama di bangkunya, seperti orang yang kehilangan sesuatu. Bergerak ke sana kemari dengan tidak jelas.
"Rasyd! Cepat !" seru Bu Dona. "Apa yang kamu kerjakan di situ?" tanya Bu Dona. Memiringkan sedikit kepala menatap Rasyd yang tidak kunjung hadir untuk memenuhi panggilannya.
"Ia Bu! Sebentar, ada yang kurang," ucap Rasyd dengan rileks. Membuka lembaran buku dan memegang pensil, kemudian ia menulis di atas lembaran kertas yang ia buka.
"Apa kamu, yang lagi ke tinggalan?" tanya Bu Dona dengan penasaran. Masih memasang pandangan ke arah Rasyd yang terlihat aneh. "Rasyd! Jangan buat saya kesal, ya!" pekik Bu Dona dengan tegas. Bu Dona memberi peringatan yang memaksa Rasyd untuk segera tampil ke depan.
"Ia Bu." Jawab Rasyd. Berdiri dan melangkah bersama buku yang ia bawa.
Raut wajahnya begitu kacau, seakan ia mengalami masalah yang tidak ada jalan keluar. Terlihat kusut sambil menghela napas dengan tatapan kosong, seperti orang yang tidak bersemangat.
Ia pun, menghampiri meja Bu Dona yang terletak di depan kelas. Ia serahkan buku yang ia bawa dengan berpura-pura senang. Senyum pun tertarik dari wajahnya dengan spontan, meskipun dalam keadaan sedikit terpaksa.
"Kenapa kamu?" tanya Bu Dona. Menatap Rasyd ingin tahu.
"Tidak ada apa-apa, Bu." Jawab Rasyd menutupi segala keresahan hatinya. Tatapan mata yang menatap terlihat, seperti tak bernyawa. Guratan di wajahnya kini terlihat, seperti orang yang malas untuk melakukan apa pun.
Ia langsung berdiri di depan, bersama puisi yang telah siap untuk di bacakan. Hening yang lama, membuat Bu Dona memutar kepala ke samping menatap Rasyd yang belum bereaksi sedikit pun.
Mata yang di tutupi oleh kacamata yang menggantung di hidung menatap Rasyd dengan lekat.
"Rasyd! Ada apa lagi, mulai!" perintah Bu Dona. Memegang buku Rasyd.
"Baik Bu." Jawab Rasyd dengan sedikit malas.
Rasyd pun mulai membaca puisi dengan baik dan benar. Ia melakukan gerakan ekspresi yang membuat Bu Dona kagum.
Kami tidak menyangka, kalau seorang Rasyd yang jenaka, suka jahil juga bisa membaca puisi yang membuat semua tertegun melihatnya, terkhusus aku.
Widia yang menatap Rasyd terlihat sendu. Ia merasa, kalau Rasyd jauh lebih baik darinya.
"Liyan! Rasyd bagus sekali, aku takut kalau aku tidak bisa seperti dia," keluh Widia. Merintih kecil di wajah.
"Widia! Jangan menyerah, aku yakin, kau pasti bisa, kok," sambungku menatap Widia. Memberi semangat agar Widia jadi pemberani.
Hatiku jadi, ikut sedih melihat teman seperjuanganku. Aku tak kuasa melihat rintihannya yang mengatakan, kalau, 'ia takut'.
Sementara Rasyd masih berkonsentrasi dengan puisi yang ia baca, meskipun ia terkadang sedikit lupa. Bagi seorang Rasyd, membaca puisi bukanlah bakat yang ia gemari. Ia lebih gemar bermain sepak bola, seperti anak lelaki kebanyakan.
Murid-murid yang lain pun, terlihat sibuk menghapal puisi yang telah selesai mereka tulis. Satu per satu dari mereka terlihat begitu antusias menghapal dengan pelan, meskipun di dalam hati.
Wajah mereka terlihat mengingat yang tidak mereka ketahui. Septiani, teman kami yang galak seantero ruangan kelas, terlihat menikmati hapalan yang membuat sesekali ia menunjukan kekesalan di wajah polosnya.
"Widia! Coba lihat Septiani! Dia seperti lelah kebanyakan menghapal," ucapku pelan. Menatap Septiani dari bangku.
"Septiani mana pernah suka dengan yang namanya, 'hapalan', Liyan," lanjut Widia. "Dia itu lebih suka bermain orang-orangan dengan pensilnya," lanjutnya. Menatap Rasyd dan sesekali melempar pandangan melihat bukunya. "Aku rasanya tidak sanggup dengan puisi ini, Liyan," cetus Widia kembali. Mendengus kesal. Memainkan pensil dengan jemari. "Belum lagi, harus pakai gerakan," keluhnya. "Liyan!" Menatapku. "Tapi, aku kagum juga dengan Rasyd, dia bisa membaca tanpa membawa buku, luar biasa!" puji Widia dengan menaruh sejuta ke takjuban terhadap Rasyd. Widia seakan tidak percaya, kalau yang berdiri tampil di depan adalah Rasyd. Sampai saat ini ia masih menganggap itu orang lain.
"Ia, aku juga terheran Widia melihatnya," jawabku.
Rasyd pun, semakin lama semakin cepat membaca puisi, sehingga Bu Dona mengerutkan kening menatapnya.
"Rasyd! Kenapa semakin lama, semakin berantakan?" tanya Bu Dona dengan kesal. Menatap Rasyd dengan wajah pias.
Bu Dona terlihat geram sekali mendengarnya. "Semua berantakan! Ulangi lagi yang benar! Kamu masih belum benar, cara penyampaian, mimik wajah dan gerakannya, semua masih salah. "kamu di situ saja berdiri sampai pulang!" keluh Bu Dona yang di selimuti amarah.
Rasyd terdiam, membeku dan menghentikan puisi selanjutnya. Ia pun memijat kening sambil menghela napas.
"Bu, saya belum sepenuhnya hapal," ucap Rasyd, melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Menunduk dan sesekali menatap Bu Dona.
"Apa? Kamu belum hapal?" tanya Bu Dona. Mendelik dengan sebelah tangan memegang buku Rasyd. Ia pun refleks memutar badan menghadap Rasyd. Bu Dona seolah tersentak, bagaikan di sambar petir. "Saya pikir, kamu itu hapal semua," sambung Bu Dona. "Lalu, kenapa kamu beri bukumu kepada saya?" tanya Bu Dona dengan penuh keheranan.
"Saya pikir, saya sudah hapal, Bu," jawab Rasyd. Berdiri melihat lantai. Menggoyang ujung kaki dengan kecil.
"Ya, sudah! Kamu hapal kembali atau kamu membacanya memakai buku?" tanya Bu Dona ingin tahu. Menatap Rasyd.
Mendengar pilihan yang di berikan oleh Bu Dona, Rasyd hanya diam, menunduk dengan guratan wajah berpikir. Ia terlihat berkali-kali mengangkat sedikit kepala.
"Bu! Tapi saya belum bisa," ucap Rasyd. Memohon berharap kalau Bu Dona akan memahami deritanya.
"Saya tidak bertanya, kau itu bisa atau tidak!" cetus Bu Dona dengan tegas. "Yang saya sampaikan kalau mau, baca dengan membawa buku," lanjut Bu Dona. Mengayunkan buku ke udara mengarah kepada Rasyd. Melihat buku itu, Rasyd sudah mengetahui, kalau ia harus membawa buku.
Wajah Rasyd begitu kusut. Memikirkan yang ia belum bisa mengatasinya.
__ADS_1
"Bu! Akan saya coba sekali lagi tanpa buku," ucap Rasyd. Menunduk dan menatap Fikri.
"Ya sudah! Tapi jangan lama-lama, masih banyak yang lain yang ingin tampil," kata Bu Dona. Memutar duduknya. "Anak-anak perhatikan teman kalian! Jangan ada yang ribut!" seru Bu Dona. "Ayo Rasyd mulai!" perintah Bu Dona.
Rasyd pun mulai mengatur napas dan suara. Posisi tubuh yang tadi tidak tegak kini ia atur dengan baik.
Berdiri sigap bak seorang murid yang lagi melaksanakan tugas memimpin barisan. Ia pun mulai membaca puisi, kata demi kata dan bait demi bait dengan penghayatan yang baik. Seolah Rasyd tidak mau kalah dengan ku dan Fikri.
**Senang
Hatiku begitu bergejolak
Seketika suasana gelap menjadi terang
Senyum indah terpancar bersama melodi
Wajah sendu di warnai beribu gemilang
Jalan terjal terjamak dengan damai
Kristal hitam terkikis menjadi kebeningan
Ranum tawa menjadi penyegar dahaga
Debu hitam kini terseret dengan indah
Deburan ombak menatap dengan puitis
Sembilu terhenyak dan menepi
Kau menyingkirkan musuh yang menggantung
Kau adalah sebutir kebahagiaan yang nyata*
Seketika ia terlihat seperti yang sedang berkompetisi, tak ada satu kesalahan yang fatal terdengar dan terlihat. Hanya kelupaan sesaat yang ia buat dengan tidak kesengajaan.
Solihin yang duduk termangu di bangkunya, merasa terhipnotis dengan teman yang sejiwa dengannya. Ia begitu tak percaya, kalau yang tampil di depan yang ia lihat adalah Rasyd. Wakil ketua kelas yang jahil.
"Sudah Bu," ucap Rasyd. Diam menatap Bu Dona, seperti seorang yang menunggu sebuah kata, baik itu pujian atau pun tidak.
Rasyd menatap dirinya sendiri, bahwa puisi yang ia baca, pasti ada kesalahan yang tidak ingin ia dengar.
"Sudah! Hanya itu saja...?" tanya Bu Dona. Diam memegang buku Rasyd. Menarik kursi ke depan, sedikit rapat dengan meja.
Rasyid menghela napas dengan lemas, seakan ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya berpasrah dan berserah diri, itulah yang ia lakukan sekarang. Keningnya yang tadi datar kini terlihat berliku, bersama teguran dari Bu Dona.
Ia sedikit pun, tidak menjawab apa yang di bilang Bu Dona, hanya tatapan mata yang ia berikan sebagai jawaban untuk Bu Dona. Tatapan mata berpasrah.
"Sekarang, silahkan duduk!" perintah Bu Dona dengan acuh.
"Baik Bu," jawab Rasyd, sedikit menunduk sebagai pemberian rasa hormat kepada Bu Dona.
Rasyd pun, berjalan dengan perlahan sambil menatap bangku yang telah lama ia tinggalkan. Sesekali ia melempar pandang ke arah Fikri yang cukup berjarak darinya. Aku pun, menatap
Rasyid yang terlihat lesu, setelah lama berjuang dengan puisinya. Kami pun, bertemu pandang dengan kegundahan masing-masing.
Rasyd duduk di bangku dengan kelemahannya. Rasa lelah yang mengisi tubuhnya tadi, kini ia lepaskan dengan menyandar di bangku, seakan ia seperti menghembuskan napas.
Setelah Rasyd duduk, yang lain pun terlihat begitu cemas. Mereka saling tatap pandang satu sama lain dan berbicara melalui sorot mata.
Reaksi yang mereka tunjukan begitu mudah terbaca, kalau mereka begitu takut, siapa ? Dari mereka yang akan di panggil oleh Bu Dona. Kecemasan pun terjadi, hingga memenuhi ruangan kelas.
"Selanjutnya, Tania!" panggil Bu Dona. Mengangkat kepala dengan tegak menatap Tania.
Sorot mata Bu Dona memberi isyarat, kalau Tania harus segera maju.
Tania pun terperanjat, seperti terkena pukulan keras yang menimpanya. Ia pun dengan tergagap berdiri. Berjalan dengan gontai bersama kehampaan hidup. Kaki yang kecil pun, melangkah dengan menyeret tubuh yang lemas.
Buku pun, ia ayun ke bawah dengan wajah memelas, seakan tidak menerima dengan lapang dada.
"Ayo cepat, Tania! Jangan berlama-lama," seru Bu Dona dengan tegas.
"Ia Bu," jawab Tania pelan. Berjalan menghampiri meja Bu Dona yang berdiri dengan rapi di depan kelas.
Tania pun menatap Ecy sesekali. Memasang bibir dengan cemberut sedikit kecil.
Rasa keresahan kini memuncak setinggi gunung di dalam dirinya. Begitu sulit baginya untuk mencerna puisi yang telah ia tulis.
Dengan diam, yang tidak mengeluarkan reaksi apa pun, Bu Dona masih setia menunggu Tania.
"Ini, Bu," ucap Tania. Menyerahkan buku di hadapan Bu Dona. Berjalan sedikit maju ke depan dan berdiri, layaknya seorang yang akan memberi sebuah penampilan terbaik.
Bu Dona pun, memutar badan, refleks mengikuti arah Tania berdiri. "Ayo mulai!" perintah Bu Dona. Menatap Tania yang tadi mencela penampilan diriku di depan.
Tania pun, mulai mengatur gerak tubuh dan suara yang akan ia keluarkan beserta mimik dari wajahnya.
__ADS_1
**Hujan
Hujan kau mengirimkan nada lewat rintikan
Kau sirami bumi dengan nadamu
Kau basahi kami dengan curahanmu
kau bawa kami dalam bersama aliranmu
Kau tutup pelangi dengan tinta hitammu
Kau tutupi senja hingga tak menjadi indah*
Kau bagaikan shimphoni nada
Kau mengalirkan melodi dalam nadi
Kau meliputi rasa sedih, keindahan dan bencana alam
Kedatanganmu memecahkan segala perkiraan yang merisaukan
Kau rasa syukur deraan yang menyeka panas
Kau penjaga rahasia di balik tangisku*
Tidak berapa lama, ia pun berhenti di setengah puisi yang ia baca.
"Sudah?" tanya Bu Dona dengan meyakinkan dirinya sendiri, terhadap puisi yang di baca oleh Tania.
"Be-belum, Bu," jawab Tania dengan sedikit terbata. Menatap Bu Dona dan menunduk. Ia bergeming dan menutup suara, seperti orang bisu.
"Lalu, kenapa berhenti?" tanya Bu Dona kembali ingin tahu dengan wajah penuh tanda tanya yang besar.
Tania hanya diam, menunduk melihat jemari tangan yang ia mainkan, seakan ia berdiskusi dengan jemarinya. Wajah resah pun terlihat mewarnai dengan penuh.
Sesekali ia merasa terbelenggu, seorang diri di depan. Menatap nanar ke bawah sambil mendengarkan omelan dari Bu Dona.
Sepatah kata pun tidak ada ia keluarkan untuk membela dirinya sendiri. Kini ia bagaikan terasing di tengah ke gelagapan yang melanda.
Pertanyaan dari Bu Dona yang menyerang dirinya, membuat ia malu dan ingin menutup wajah dengan kedua tangan.
"Bu! Saya cuman hapal setengahnya, Bu," cetus Widia. Menunduk.
"Apa kamu mau melihat buku?" tanya Bu Dona dengan memberi sebuah tawaran yang menarik. Menatap Tania.
Seketika Tania terlihat berperang dengan pikirannya sendiri. Genggaman manis, kini telah menghampiri tanpa di undang. Ia hanya cukup mengatakan, 'ia' untuk menjawab. Namun, lagi-lagi ia enggan untuk mengeluarkan suara dan akhirnya, membaut ia dilema dengan segala prahara yang melanda di hadapannya.
Bu Dona yang telah memberi penawaran menarik terhadap Tania, berdiri menghampiri Tania yang begitu lama memberi keputusan.
"Tania! Sebaiknya kamu melihat buku saja! Biar yang lain dapat giliran untuk tampil," ucap Bu Dona sambil menyuguhkan buku ke hadapan Tania. "Hari ini, pembacaan puisi harus selesai, karena kita akan ada schedule lain," lanjut Bu Dona. Berdiri di samping Tania, menatap seluruh murid. "Kalau Tania tidak mau lagi melanjutkan puisinya, silahkan duduk!" perintah Bu Dona dengan tegas. Menatap Tania.
Tania bagaikan di terjang ombak yang keras yang memaksa ia untuk segera mengambil tindakan. Sepertinya, ia tidak bisa lagi menunggu kebaikan yang akan datang, menghampiri dirinya dengan mengatakan, kalau ia di tunda untuk membaca puisi.
Semuanya terjadi di luar keinginannya. Dan ia pun tidak bisa untuk menghindar dari puisi yang telah siap untuk membawanya dalam sebuah penentuan, lanjut atau tidak.
Tubuh tinggi Bu Dona yang tegap, berdiri seperti ingin menutupi dirinya yang kecil. Gerakan bibir getir pun terbuka seketika.
"Baik, Bu! Saya lanjut," balas Tania mengambil buku yang di suguhkan oleh Bu Dona.
Ia pun kembali membaca puisi sampai selesai.
"Kamu tidak perlu membaca dari awal!" ucap Bu Dona. "Lanjutkan saja dari mana kamu yang lupa!" pinta Bu Dona dengan penuh penegasan. Berjalan dan duduk di kursi kembali.
.
.
.
Teruntuk teman-teman terimakasih telah memberi like komentar dan favoritnya. 🥰🤗🙏
❤️❤️❤️
Bersambung....
Sambil nunggu Author update!
Yuk! Baca novel dari teman aku Author yang lain!
Pasti engga nyesel deh, bacanya! 🥰
"Kau adalah milikku, sebanyak apapun wanita yang berada disekitar ku. Kau adalah satu-satunya yang tak akan aku lepas sampai kapan pun," ketegasan dalam ucapan tersebut seolah menjadi bukti bahwa gadis yang kini berada dalam sangkar emas milik laki-laki yang tak lain adalah seoarang mafia tersebut adalah gadis yang begitu ia jaga. Dia, Eric Roymond. Laki-laki yang memiliki tatapan mematikan dengan aura penguasa. "Kau hanya menjadikan ku budak mu, lalu bagaimana bisa aku bertahan dengan segala rasa sakit yang aku rasakan?" wanita tersebut menatap penuh kebencian pada laki-laki yang telah dengan sengaja menjebak pamannya tersebut. Untuk mendapatkan gadis tersebut Eric sengaja menjebak paman gadis tersebut agar menjual gadis tersebut padanya. Dia,Evelyne Gregory. Gadis lembut yang penuh dengan keceriaan. Kedua orang tersebut malah terjebak dengan takdir yang membawa mereka untuk menjadi satu. Namun akankah mereka benar menjadi satu? atau justru semesta memiliki cara untuk menjadi pemisa?
__ADS_1