Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Aku terharu melihat sikap Ayah dan Ibu sambungku


__ADS_3

"Nah! Akhirnya wajah Kakak sudah bersih." Adikku tersenyum seraya menatap kedua pipi dan hidungku.


"Liyan! Jangan terlalu lama bermain air. Nanti panas badanmu tinggi lagi," teriak ibu sambung kami yang merasa khawatir.


"Iya, Bu. Ini kami sudah selesai," sahutku dengan berteriak agar dia mendengar suaraku dari jauh.


Sementara adikku lagi mencuci tangannya. "Kak. Ibu kesayangan Kakak benar. Sebaiknya kita masuk saja." Mengibaskan tangannya agar cepat kering.


Aku dan adikku telah bersiap-siap membersihkan diri kami. Tiba-tiba kami tersentak dan menatap dengan kedua bola mata kami.


"Ayah," gumam kami dengan pelan.


Ayahku mendekat sambil meletakan timba yang dia bawa berisi air. "Hari sudah mau Maghrib. Mengapa kalian masih di sini?" tanya ayahku. Memutar kepalanya melihat ke sana kemari. "Itu Ibumu sedang apa di situ?" tanya ayahku melihat kami seakan ayahku menginginkan jawaban dari kami.


"Kami tidak tahu Ayah," jawab adikku dengan acuh melemparkan pandangan sebagai isyarat kalau dia tidak ingin menjawab yang berhubungan dengan ibu sambung.


Ayahku melihat sikap adikku yang aneh seakan dia sedikit tahu kalau adikku tidak begitu senang dengan pertanyaannya. "Tidak tahu, kenapa kalian tidak tahu? Padahal jarak kalian itu tidak terlalu jauh." Ayahku melebarkan pupil matanya melihatku dan menoleh ke arah ibu sambung kami.


Aku yang menarik lengan adikku untuk berjalan memutar kepala ke arah ibu sambung kami. Tungkai kaki yang lemah pun aku langkahkan sambil melirik ibu sambung kami dari celah kecil yang ditutupi oleh tubuh ayahku yang besar sedang berjalan.


"Ayah. Kenapa Ayah tidak bertanya saja langsung?" seru adikku yang menyerang ayahku dengan pertanyaannya.


Ayahku seketika terdiam, berjalan sambil memikirkan yang di bilang oleh adikku barusan. Dia pun refleks memutar kepala ke arah ibu sambung kami dan berjalan menatapnya dengan tertegun.


Ibu sambung kami yang tidak melihatnya. Dia terus bekerja. Dia masih senang beberes membuang sampah yang berserakan akibat terbawa hembusan angin yang kencang.


Jalan yang kulewati dengan pelan kini melihat ayahku yang masih menatap ibu sambung kami dengan lekat.


"Kak, ayo cepat jalannya." Adikku mengayunkan tangannya menempel di tanganku. "Nanti, kalau kita belakangan masuk. Pertanyaan Ayah akan banyak," bisik adikku melihat wajahku yang melihatnya.


"Kan sudah sewajarnya Ayah bertanya pada kita." Menatap adikku yang saling bertemu pandang denganku. "Ayah, kalau dia ingin bertanya, tidak harus di luar ini saja," tandasku. Di dalam pun, Ayah pasti akan bertanya. Apa bedanya kita berjalan lebih dulu dan belakangan?" keluhku.


"Kaka ini, terlalu banyak bicara ," gerutu adikku dengan kesal. Memutar wajahnya dengan cemberut.

__ADS_1


Ayahku yang berjalan bersama kami sama sekali tidak bersuara seakan dia mendengarkan ocehan adikku.


Sabun mandi dan handuk yang dia bawa kini telah di letakannya dan handuk pun telah terjemur dengan rapi, akan tetapi sorot matanya masih saja melirik ibu sambung kami yang belum mengetahui perhatian ayahku.


Aku yang terus berjalan bersama adikku memutar kepala kebelakang dengan pelan melihat ibu sambung kami yang hari ini mendapat perhatian dari ayahku.


Hatiku begitu senang sedikit sentuhan kehangatan, perlahan akan menggenggam keluarga kami yang sederhana. Keluarga yang jauh dari kebahagiaan dan ekonomi yang mapan.


Lengan adikku masih terasa hangat menggenggamku dengan erat. Sorot matanya masih terus saja melihat jalan lurus ke depan. Lain halnya denganku yang masih saja terpukau dengan sikap ayah dan ibu sambungku. Akhir-akhir ini yang tiba-tiba berubah secara derastis hingga menimbulkan pertanyaan yang mendalam bagiku dan adikku.


"Ana. Kau lihat sikap Ayah dan Ibu, akhir- akhir ini." Berjalan sambil memutar kepalaku melihat mereka.


"Kenapa Kakak baru bertanya sekarang?" tanya adikku seakan aku tidak mengetahui sebelumnya. "Padahal 'kan dari tadi, semenjak Kakak pulang sekolah. Ibu tersayang Kakak tiba-tiba berubah. Rasaku tidak wajar, kalau Kakak baru mempertanyakannya sekarang."


Aku langsung memutar kepala. "Kakak masih tidak percaya melihat Ayah dan Ibu." Sedikit terkejut. "Kakak pikir Ibu hanya berubah baik, hanya pada Kakak saja," cetusku.


Suara kami terus menemani langkah kami yang kini menghilang meninggalkan ayahku. Pakaian yang aku pakai kembali terasa dingin menempel di tubuhku yang panas.


"Liyan! Kenapa kalian bermain air tadi?" tanya ayahku tiba-tiba mengagetkan kami dari belakang.


"Katakan saja yang sejujurnya." Aku langsung membalas bisikan adikku.


"Apa?!" Sontak Adikku pun mengangkat kepalanya terperanjat lalu melebarkan kedua bola matanya menatapku, seolah mendelik. "Apa Kakak tidak waras ingin berkata jujur pada Ayah," lanjut adikku.


"Liyan!" panggil ayahku mengusik ketenanganku yang lagi berpikir.


Aku lalu memutar badan ke belakang, melihat ayahku dan melepaskan lengan adikku. "Iya Ayah," sahutku dengan pelan.


"Kalian belum menjawab pertanyaan Ayah." Ayahku tetap berdiri di depan pintu kamarnya dengan separuh badannya menghadap kami.


Bibirku sulit sekali terbuka, namun adikku yang cerdik dan berani, menjawab pertanyaan ayahku. "Kami mencuci tangan Ayah," kata adikku menutupi kesalahannya.


"Mencuci tangan?!" Ayahku menatap wajah kami berdua silih bergantian dengan sedikit kecurigaan setelah mendengar jawaban adikku. Kedua bola matanya yang besar pun berputar melihat kami dengan jeli. "Ayah tidak percaya." Menatap kami semakin lekat. "Sepertinya ada yang kalian sembunyikan dari Ayah." Mengalihkan pandangannya melihat rambut adikku. "Apa Liyan yang kalian sembunyikan?" tanya ayahku ingin tahu.

__ADS_1


Ibu sambung kami yang tiba-tiba masuk sontak terperanjat melihat kami berdiri dengan tegak menghadap ayahku.


"Kenapa kalian berdua diam saja? Dengar Ayah, ya! Kalau sampai Ayah tahu kalian berdua berbohong, kalian tanggung sendiri akibatnya," kata ayahku dengan tegas memutar badan masuk kamar.


Aku langsung menelan ludah. Kedua bola mataku langsung terbelalak setelah mendengar ancaman dari ayahku. Tubuhku yang lemah dan panas dingin terasa gemetar, rasanya aku tidak bisa menginjak bumi dengan sempurna.


Sementara adikku yang berada di sampingku dia begitu terlihat gugup. Wajahnya langsung seperti ketakutan. Bibirnya terkatup rapat terlihat dengan cemas. Tubuhnya begitu terguncang setelah mendengar yang di katakan oleh ayahku.


Setelah ayahku menghilang aku mengangkat kepala melihat adikku dan menenangkannya.


"Sudah Ana. Jangan panik! Ayah tidak akan serius dengan ucapannya." Merangkul adikku sambil mengelus pundaknya, melihat ibu sambung kami yang berdiri tepat di sudut dapur, melihat aku dan adikku. Dia ingin sekali membantu kami, namun dia tidak melakukannya karena ultimatum dari ayahku yang melarangnya untuk membela kami.


"Kakak jangan terlalu polos. Selama ini Ayah belum pernah mengingkari ucapannya sendiri, Kak," tandas adikku. Menunduk.


"Kali ini siapa tahu, kita mendapatkan kebaikan dari Ayah sedikit saja," ujarku dengan harapan yang besar.


"Lagi - lagi Kakak berkhayal. Huh! Mau sampai kapan Kakak hidup di bawah khayalan yang besar seperti, ini," gerutu adikku sambil memijat keningnya.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...



Cinta memang tidak pernah salah menjatuhkan pilihannya, tapi bagaimana jika cinta menjatuhkan pilihan pada seseorang yang sudah menemukan pelabuhan hatinya?

__ADS_1


Niki seorang mahasiswi yang terobsesi dengan dosen di kampusnya, nekat melakukan hal apapun termasuk membiarkan gosip berkembang jika ia sudah melakukan hubungan terlarang dengan dosennya itu. Akibat perbuatannya itu, ia terjebak dalam pernikahan sebagai istri kedua, namun tidak diinginkan oleh dosennya.


Bagaimana Niki menjalani kehidupannya sebagai istri kedua yang dibenci oleh suaminya sendiri sementara ia juga harus menghadapi hujatan dari teman serta dosen di kampusnya, sebagai mahasiswi penggoda dan penghancur rumah tangga orang?


__ADS_2