
"Iya Kak, itu sudah pasti?!" Adikku langsung mengatakannya dengan yakin setelah mendengar teriakkan ayahku memanggil.
"Liyan!" Suara langkah kaki ayahku semakin terdengar seakan semakin mendekat.
Telingaku yang mendengarnya semakin melebar dan berjaga dari pekikkan ayahku yang panjang. Aku turut menganyunkan langkahku ke sumur. "Ana... ." Aku meletakkan sabun memanggil adikku.
"Iya Kak, tadi Ayah memanggil Kakak. Iya 'kan?" Aku memutar badan melihat adikku bertanya kembali seakan memperjelas pendengaranku.
"Iya Kak," jawab adikku menaikkan kepala melihatku.
Jika sampai ayahku mengetahui yang sebenarnya maka habislah aku. Ayahku yang selalu membuat kesepakatan terhadap diriku tentang adikku semakin membuatku risau. Air yang dingin membasahi tangan ini begitu menjadi obat terapi yang ampuh untuk menghilangkan rasa khawatir yang menganak di dalam lubuk hati ini.
Air yang naik ke atas permukaan ember yang memenuhi sekeliling menarik wajahku yang terlihat di atas permukaan air. Sangat manis dengan senyuman yang membuat bola mata melebar dengan tatapan yang cerah.
Suara burung yang berterbangan di udara pun seakan bercerita tentang indahnya ruang angkasa yang telah di sirami oleh air hujan yang mengguyur hati yang sedih dan membawa segala keluh kesah yang mendiami jiwa ini.
Celana hoodie yang kotor kini membuyarkan angan yang mengusik dengan ketenangan. Aku yang telah selesai dengan wajahku yang terlihat manis di dalam air telah usai dan berdiri bangun membuka celana hoodieku yang kotor .
Tuk! Tuk! Tuk!
Suara langkah kaki dengan hentakan yang membias di kedua telinga menghenyakku langsung dan memutar kedua bola mata melihat ke dinding kamar mandi. Rasanya aku seperti melihat ayahku berdiri melihatku.
"Ana," panggilku berteriak.
"Iya Kak," sahut adikku dari luar. "... kenapa Kak?" tanya adikku dari balik dinding kamar mandi. Suaranya terdengar seakan adikku mendekat ke dinding.
"Apa Ayah melihat kita?" tanyaku sambil mengambil air dan menyiram tubuhku yang mungil.
"Tidak, jawab adikku langsung.
"Ana, tolong lihat-lihat Ayah, ya!" Aku memohon dengan penuh belas kasih agar adikku yang sulit di taklukkan mau berjaga dari amukan ayahku yang akan datang.
"Kalau aku bisa," jawab adikku. "Kalau tidak, maaf 'kan aku ya, Kakak," sambut adikku dari luar dengan tenangnya.
"Ana, jangan bercanda. Kalau Ayah sampai tahu dan melihat. Kita berdua akan kena hukuman," timpalku sambil membersihkan kedua kakiku.
__ADS_1
Aku belum juga tenang. Kepanikan masih menyelimuti seluruh naluriku setelah mendengar suara ayahku memanggil namaku.
Air yang banyak yang seharusnya digunakan untuk menyiram tubuh ini langsung kutinggalkan. Aku langsung berdiri membuka pintu kamar mandi tanpa membuka hoodieku.
Jeglek!
Suara pintu dengan kerasnya pun langsung terdengar. Tangan kanan yang memegang daun pintu dan kaki kanan yang melangkah telah menyambut halaman yang setengah ingin kering.
"Ana, ayo kita kembali sekarang!" ajakku yang telah keluar dari kamar mandi.
"Ha!" Adikku langsung terperanjat dan melebarkan kedua bola mata. "...kita kembali sekarang... ?!" Adikku bertanya dengan keheranan.
"Emm!" jawabku mengangguk.
"...tapi aku masih kotor, Kak," ungkap adikku menatapku dengan lebar dan sesekali menatap celana hoodienya.
"Tapi Ayah sudah bangun," kataku dengan penuh penekanan.
"Tapi Kak, kita sudah sampai ke sini." Adikku kecewa dengan sikapku yang mendadak ingin segera kembali.
"Ana, lagi pula hari sudah mau gelap," dalihku berjalan memegang sabun dan handuk.
"Liyan," panggil ayahku.
Suara ayahku yang menggema di udara terdengar seperti dari arah yang berbeda. Refleks aku memutar kepala mencari ke arah sumber suara yang terdengar, sepertinya bukan dari depan pintu. Suara ayahku yang terdengar tadi kini kembali terdengar lagi.
"Ayah," gumamku dengan pelan sambil berjalan. Memutar kepala tiba-tiba. "Ups!" Aku tersentak seakan tubuh yang mungil ini terhempas ketanah. Aku semakin khawatir setelah melihat aku dan ayahku bertemu pandang. Ayahku yang berdiri di depan jendela dengan geram melihat. Wajahnya terlihat sangat ketat dan dia pun menutup mulutnya dan mengigit gerahamnya dengan kuat.
"...dari mana saja kalian," pekik ayahku dengan keras dari depan jendela. Berdiri mendelik dengan tajam.
Aku langsung terdiam bersama awan mendung yang masih bergerak mengikuti. Aku pun mulai menghitung setiap langkah yang aku seret. Suara ayahku yang berteriak keras memanggil semakin memacu langkah kakiku dengan kencang.
"Liyan, dari mana saja kalian!" bentak ayahku yang berdiri sudah menunggu di depan pintu dapur.
Kaki sebelah kananku yang ingin masuk sontak terhenti tepat di depan pintu dapur. Suara ayahku yang mencekam serasa membanting kepala ini untuk melihat lurus ke depan.
__ADS_1
"Ayah 'kan sudah bilang dari tadi," terang ayahku dengan nada suara yang meninggi.
"... setelah selesai... ." Ayahku diam menahan nada suaranya sebentar. "...jangan main hujan," cetus ayahku yang sudah kesal melihat kami. "... kenapa lagi dengan pakaian kalian itu, ha? Coba lihat." Ayahku berdiri sambil melipat kedua tangannya di atas dada.
Kakiku yang sebelah tadi ingin masuk terpaksa jadi, mundur kembali setelah melihat ujung kaki ayahku dan suaranya yang melengking.
"Berapa kali Ayah bilang, Liyan! Jangan bermain hujan. Kau itu baru sembuh!" Ayahku semakin mengeram mengulum kekesalan di dalam sanu barinya.
"A-aya... ." Aku begitu sulit ingin membuka mulut ini. Kedua mataku yang sendu menatap nanar tanah yang kuinjak.
"Jangan coba-coba mencari alasan, Liyan! Kau ini semakin lama, semakin pintar mencari alasan," cecar ayahku yang masih berdiri.
Aku dan adikku yang mendengarnya terasa mencekam. Sorot mata kami berdua pun saling bertemu pandang dengan kepala yang masih menunduk.
"Baru satu minggu kau sembuh, Liyan. Ini sudah beraninya kau bermain hujan dan bermain becek," hardik ayahku yang telah melepaskan lipatan tangannya . "...bisa sampai sejorok itu pakaian kalian berdua! Emang kalian bermain apa, ha?" Ayahku semakin penasaran ingin tahu bertanya dengan antusias. "Ulah siapa tadi yang mengajak bermain hujan?" cecar ayahku dengan beribu pertanyaan.
Cecaran yang keluar dari mulut ayahku semakin lama semakin mencekam suasana yang mendung sore ini. Kata-kata yang keluar tiada henti pun semakin leluasa masuk ke dalam jiwa ini.
"...Ayah sudah senang melihatmu sembuh, Nak!" kata ayahku dengan nada suara yang sedikit kecewa. "...tapi kau tidak!" tandas ayahku langsung.
Suara pun tidak ada keluar dari mulutku dan adikku. Kami di sini hanya mendengarkan untaian kata-kata yang tajam dan keras itu. Sabun dan handuk pun tidak bisa lagi kutaruh dan kugantung ke tanah dan ke jemuran sangking aku terkejut dengan yang terjadi.
"Ini sudah hampir jam 17 : 15 WIB kalian masih basah-basahan begini ! Huh!" Ayahku langsung menggeleng dengan kekesalan yang penuh. "...mau sampai kapan kalian tidak bermain hujan lagi, ha?!" tanya ayahku pada dirinya sendiri dengan nada suara datar. Pergi.
Setelah ayahku memutar badan dengan ocehannya yang tidak luput menghilang dari telinga kami. Memaksa memutar kepala ini melihat ke arah adikku hingga aku dan adikku pun bertemu pandang dengan gurat wajah yang khawatir.
"Ayah paling tidak suka melihat kalian itu tidak mau mendengar, apa yang Ayah katakan?" cibir ayahku. Berjalan terus keluar dan berdiri tepat di depan pintu melihat ke halaman.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1