Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Penyesalan


__ADS_3

"Aku tidak percaya," jawab adikku terpaku. Wajahnya kini semakin di tekuk dengan ketat.


"Kalau Ayah punya uang 'kan, pasti kita di kasih uang jajan," kataku murung mengingat kesedihan ayahku.


Sedikit pun tak terdengar suara sahutan dari belakang. Dia masih diam membisu meratapi seakan dia sedang meratapi penyesalannya yang tersimpan rapat di dalam benaknya. Adikku sama sekali tidak mau tahu dan tidak mau mendengar apapun. Dia tetap bersikukuh dengan keegoannya. Dia tidak ingin sedikit pun memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk membuka ruang kesempatan untuk mengerti melihat keadaan ayahku walau itu hanya sedikit dan sekali pun itu hanya berpura. Tapi dia sama sekali tidak mau melakukannya. Dia hanya ingin dialah yang harus di dahulukan karena dia menganggap tidak ada yang lebih penting dari dirinya.


Kamar yang sepi dan tidak terdengar suara tawa, teriakan bermain anak-anak hari ini terdengar sepi mencengangkan diriku menatap ruangan ini penuh.


Aku semakin menggeleng melihat adikku yang belum juga mereda. "Ana, 'kan, kata Ayah, kalau Ayah ada uang. Ayah pasti akan mengasihnya," kataku memberi tahu adikku yang memutar bola mata melihatku ketika aku mengatakan itu.


"Itu tidak akan!" kata adikku menyangkalnya. Adikku menajamkan lirikannya melihatku seakan dia mengatakan kalau aku sok tahu. Tatapan yang pedas itu seakan membuat aku ingin menangis. Namun, aku berusaha tegar sekuat mungkin menahannya.


Tatapan pedas yang bercampur kebencian terpampang jelas di pelupuk matanya. Tatapan sinis itu seakan memberitahu mata ini untuk tidak melihatnya lagi dan mengingatkan bibir ini juga untuk tidak terbuka lebar lagi. Takut bercampur sedih pun semakin meluap jelas di sudut bola mata yang sayu ini.


Begitu bencinya dia terhadapku, pikirku yang menunduk melihat lantai sehingga dia pun menatapku seperti itu. Andai saja aku tahu ini akan terjadi. Aku tidak akan mau mendapatkan uluran tangan kasih sayang ayahku. Aku pun menaikan pandangan meliriknya yang sedang berkutat keras dengan penyesalannya. Aku pun perlahan menyeret kaki duduk di atas tempat tidur, tepat di pinggir berdekatan dengan jendela yang terbuka.


Bola mata yang sayu dan bening ini menatap nanar ke luar jendela menikmati embusan angin yang bercampur gerimis. Hujan yang tadi telah mereda setelah kepulanganku kini kembali turun menimpa bumi. Halaman yang setengah luas berserakan dengan dedaunan kering dan hijau yang berguguran akibat angin berembus dan hujan yang menimpa terlihat berserakan kesana kemari terbawa angin.


Suara burung yang tadi bernyanyi dengan merdu kini tidak terdengar lagi. Mereka telah pergi bersembunyi mencari tempat yang aman di mana jauh dari usikan air hujan. Aku begitu tersimpul ketika memikirkannya. Bola mataku pun menatap ke atas pohon jambu yang berbuah. Buah yang sudah matang dan berwarna merah sangat menggiurkan selera ingin memakannya begitu melengangkan hati yang memandangnya.


Udara dingin seakan memeluk dalam kedamaiannya hingga membayangkannya pun aku tidak bisa, apalagi melupakannya. Terutama semua masalah yang terjadi yang menimpa aku bersama adikku barusan. Masalah bersama sahabat pun sekarang sangat enggan pergi. Ia selalu hadir di pelupuk mata sehingga aku setiap detik mengingatnya seakan ia datang untuk meremajakan hati dan pikiran ini.


Ditengah perselisihan antara aku dan adikku. Aku berusaha menguatkan diri ini dan berdamai dengan diriku sendiri hingga aku berhasil merasakannya. Ketenangan dan kedamaian meski aku terpaksa mencobanya. Sesulit apa pun aku akan tetap melakukannya meski aku mengalami rintangan. Namun, aku tidak mau larut dalam itu. Perjalanan hidup dan penantianku sangat berharga bagiku.


Cis!


Percikan air hujan pun membuyarkan anganku. Angan yang tadi bersemayam di dalam pikiran hilang seketika. Mata yang tadi menatap lekat seketika mengerjit. Air hujan ini seakan tidak ingin melihat aku larut dalam lamunan sehingga ia pun langsung menegur dengan rintikan yang terbang terbawa angin tepat ke arahku.


"Aaaghh!" Aku langsung mengilapnya dengan tangan sebelah kanan. Aku yang masih duduk seketika memalingkan pandangan menunduk menutup mata.


Mendadak aku teringat adikku. Aku pun memutar kepala ke samping kanan meliriknya dengan diam-diam. Dia masih saja tetap sama menekuk wajahnya yang polos.


"Ana," panggilku dengan perasaan tidak enak karena melihat adikku yang seperti itu. Mengembalikan lirikan kembali melihat lurus ke lantai dengan pandangan kosong. Sejenak aku diam menunggunya menjawab.


Akan tetapi, hingga saat ini adikku belum juga menjawabnya. Dia masih tetap mengetat dengan kebisuannya. Masalah sepele telah membuatnya, seperti orang yang menyimpan dendam yang mendalam.


Perasaan ini semakin panik melihatnya. Rasa khawatir pun semakin menggulung diri ini hingga kusut. Sesekali aku ingin membuka bibir ingin mendinginkan suasana hatinya. Namun, aku kembali mengurungkannya ketika aku melihat wajahnya yang seakan tidak mau lagi mendengarkan siapa pun termasuk aku.


Sorot mata yang tadi meliriknya dengan berat hati kembali melihat ke depan kembali. Semuanya begitu memilukan hari ini. Perut yang lapar belum terisi hingga sekarang. Nafsu makan yang tadi menyala-nyala kini hilang begitu saja. Lapar pun tidak lagi terasa.


Ayah yang tadi bersemangat menyuruh kami makan mendadak diam membisu berkubang dengan yang baru di dengarnya.


Suaranya yang lantang dan tegas sekarang meredup malu. Langkah kaki yang melangkah dengan bersemangat sekarang begitu sungkan untuk berjalan.


"Liyan, kau tidak makan?" tanya ibu sambungku yang sulit di tebak. "Sekarang kau makan dulu! Jangan ikuti adikmu itu!" katanya dari balik kamar seakan dia begitu menyanyangiku. "Nanti, kalau kau sakit lagi. Siapa yang akan susah? Coba!" lanjutnya. Masuk sambil membawa dua buah piring yang berisi nasi dan meletakkannya di atas tempat tidur tepat di sampingku. Menatapku dan bertanya dengan penuh penekanan dan menyuruhku untuk berhenti mengikuti adikku yang tidak mau makan.


Aku masih saja diam merenunginya dengan pandangan kosong yang sikapnya selalu berubah-ubah.


"Ana, kau tidak makan?" tanyaku pada adikku memutar kepala ke samping melirik adikku dari ekor mata, di tengah ibu sambung kami yang masih berbicara mengarah padaku.


"Ana, kalau tidak makan nanti kau sakit," kataku.


"Aku bukan kayak orang..., yang sering sakit," balas adikku seakan menyindirku.

__ADS_1


Glek!


Aku langsung menelan ludah pahit setelah mendengarnya dan menatap ke lantai dengan sendu sedangkan ibu sambungku yang mendengarnya melebarkan bola mata bercampur terkejut. "Ana, kau berani berkata di tengah orang tua yang berdiri di dekatmu!" tegurnya melengking.


Namun, adikku tak sedikit pun menghiraukannya. "Aku itu sakit jarang," lanjutnya seakan dia mengejekku. Sama sekali tidak menghiraukan ibu sambungku yang telah menegurnya.


Perkataan itu terasa pedas bagiku sehingga membuatku tidak sanggup membuka mulut.


"Asal Kakak tahu, selama aku sekolah. Aku belum pernah sakit," katanya kembali membanggakan dirinya. "Sudah hampir sekian tahun aku sekolah. Aku belum pernah sakit... ," paparnya dengan penuh penekan memberitahu dan menatapku tajam. "...terkena hujan saja aku tidak sakit." Adikku kembali menyindirku. "...apalagi tidak makan. Mana mungkin aku sakit! Sedangkan terkena hujan saja aku tidak sakit," katanya memekik mengulanginya. "Untung saja aku di sekolah punya teman yang baik. Mau memberiku jajan ," tandasnya. Seakan menyesali uang jajan yang sedikit.


Aku semakin terpojok bercampur sedih. Ibu sambung kami yang mendengarnya pun terdiam membodoh. Erangan kuat pun terdengar menjerit di hati. Sekian lama aku bersamanya di kamar hanya ejekan, sindiran yang aku dengarkan. Air mata kembali menganak di pelupuk mata. Hatiku kembali menangis. Bibir yang bergetir semakin kuat menahan isak tangis yang ingin keluar. Mata pun terlihat berkaca-kaca menahan air mata yang ingin mengalir.


Kepalan jemari yang kuat menahan isak tangis yang membendung semakin kuat kutekan. Sindiran dengan jelas terdengar dan terpampang di ruang kamar ini untuk ku.


"Liyan, Ana. Ini nasi kalian," kata ibu sambung kami mengulanginya kembali agar adikku berhenti berbicara. Ibu sambung yang sekarang ini yang berdiri di hadapan kami telah menjadi pengganti kasih sayang ibu kami yang telah tiada.


Deg!


Jantungku langsung berhenti. Mata yang tadi berkaca-kaca menahan tangis pun terpaksa aku tutupi darinya. Aku tetap menatap lurus melihat kedua kaki yang menggantung setengah di udara. Napas yang keluar tidak beraturan akibat sedih yang kutahan selihai mungkin kuatur dengan normal.


"Kalian harus makan. Jangan tidak makan. Nanti kalian berdua itu sakit!" katanya. "Ya, jangan buat penyakit lagi. Cukup yang kemarin. Ini tidak usah lagi!" ucap ibu sambungku menegaskan seakan menyindirku.


Aku mengangguk, masih di ikuti oleh kedua mata melihat lantai sedangkan adikku sama sekali tidak meresponnya sedikit pun. Suaranya tidak ada terdengar sama sekali menjawab meski hanya sekedar deheman.


Ibu sambungku yang masih berdiri. "Liyan, kau jangan pernah minta-minta uang pada Ayahmu... ," tegurnya seolah memberi nasihat. "... karena Ayahmu uangnya tidak ada," katanya dengan penuh penegasan menyindir adikku sedikit. "Kalau pun Ayahmu banyak uangnya, kau juga tidak boleh minta uang," terangnya. "...nanti kau bodoh, kalau banyak ajan," sambungnya berdiri tegak lurus di hadapanku.


Aku semakin sedih bercampur murung mendengar lontaran kata-kata itu. Aku tidak mencemaskan diriku tapi aku sangat mencemaskan adikku. Adikku yang tidak begitu menyukainya bisa-bisa dia semakin membencinya. Pendengaranku semakin kutajamkan, khusus ke adikku. Aku ingin tahu apakah adikku mendesis menunjukan kebenciannya atau dia hanya diam saja.


Ibu sambungku semakin seru rasanya mengatakan itu. Dia semakin senang dan bersemangat terus berucap dengan seenaknya. "Kalian setiap hari jajan. Baru lagi jajan... ini jajan lagi!" katanya terdengar memekik.


"Mulai hari ini, kalian tidak boleh lagi meminta jajan," katanya langsung melarang kami. "Kau juga...," katanya menunjuk adikku. "...dikit... dikit...jajan... dikit...dikit... jajan. Engga pernah, engga bejajan," lanjutnya mencecar adikku.


Sedikit pun suara adikku tidak terdengar seolah dia masih mengingat nasihat ayahku. Di balik diri adikku yang keras bercampur dendam sedikit. Ternyata dia masih punya nilai menghargai orang tua yang tersimpan dalam di dalam dirinya.


Aku begitu terharu dan terkesima melihatnya. Rasa kagum pun timbul di dalam hati melihat adikku yang manja dan keras kepala itu.


Ibu sambung kami yang masuk ke dalam kamar ini tanpa di ketahui ayahku sama sekali. Dia semakin menggebu-gebu dan dengan leluasa berkata pedas pada kami.


"Sekolah kalian saja sudah banyak menghabiskan uang... ! ...ini malah meminta jajan. Kau pikir aku tidak mendengarnya dari luar, ha?" ucap ibu sambungku sedikit meninggi menekan kami agar tidak di dengar oleh ayahku. "Kalau kalian mau jajan banyak-banyak...jangan sekolah!" lanjutnya. Kata-katanya seakan menampar wajahku langsung dengan keras.


Mana mungkin aku sanggup mendengarnya, pikirku. Aku pun menjatuhkan pandanganku melihat nasi terletak di atas tempat tidur. Nasi putih yang terhidang dua piring itu seakan berteriak bosan karena di abaikan begitu saja.


Perutku sangat lapar setelah aku melihat nasi yang terletak di atas tempat tidur tepat di samping sebelah kananku. Nasi dua piring itu dengan porsi yang sedang beserta ayam goreng dan telur dadar sangat menyelerakan sekali.


Aku pun dengan pelan mengayunkan tangan di udara mengambil nasi itu di tengah ocehan ibu sambungku yang kini tidak kuhiraukan.


"Kalau kalian tidak sekolah 'kan, enak! Bisa jajan banyak-banyak," katanya kembali mengulanginya, di ikuti oleh tanganku yang menarik piring perlahan. Di ikut oleh mataku meliriknya yang terus mengoceh.


"... dengar Liyan!" bentaknya keras mengagetkan aku. Aku refleks melepaskannya. Piring yang sedikit lagi hampir dekat dengan ku sekejap mata terlepas.


"...kalau kau mau jajan banyak. Tidak usah sekolah! Sekolah pun kalian, kalau jajan banyak tidak ada gunanya, sekalian saja berhenti !" cetusnya menyesakan dada. "...jangan mentang-mentang Ayah kalian yang mencari uang. Suka-suka kalian saja minta uang!" pekiknya dengan puas memekakan telinga. Napasku semakin tersendat rasanya.


Kata-kata itu sangat menggulung hati ini. Tidak banyak yang bisa aku dan adikku lakukan selain mendengarkannya sampai selesai. Aku sekilas berpikir dan membayangkan wajah adikku sekarang. Wajahnya pasti sangat pias memerah, matanya pasti melirik dengan tajam. Wajahnya yang polos dan manja mungkin sekarang semakin berkerut dengan ketat. Begitu sulit rasanya untuk menahan diri agar tidak menjawab semua yang di dengarnya.

__ADS_1


Aku dan adikku hari ini seperti patung yang menunggu untuk di gerakan. Diam duduk membisu tanpa berbuat apa pun. Aku sedikit menyesal karena aku pulang sekolah terlambat dan juga bersedia setelah mengingat ayahku tidak bisa lagi memberi uang jajan. Rasanya harapanku sudah putus ketika melihat rumah kami di gulung ombak. Gulungan ini semakin kusut seakan tidak ada lagi celah kecil untuk berdalih.


Aku berulang kali mengerjit mata agar ibu sambungku langsung menghilang. Aku seakan bertindak sebagai tukang sihir yang bisa mendatangkan dan menghilangkan semua dengan seketika.


"Semua uang yang di cari Ayahmu. Semuanya habis untuk kalian saja," timpalnya yang tidak mahu diam karena ini adalah hari kemenangannya untuk memarahi kami sebab ayahku tidak mengetahui kalau dia masuk ke dalam kamar ini.


Aku yang diam membeku sangat gelisah bercampur khawatir. Tidak pernah terbayangkan olehku kalau hari ini adalah hari yang sangat buruk untuk ku. Seperti biasa aku selalu pulang sekolah mendapatkan penyambutan yang baik. Tapi setelah ini aku tidak bisa lagi membayangkannya, apalagi mengharapkannya.


Ludah penyesalan akan hari ini semakin terlihat jelas kutelan. Di mana ibu sambungku sangat menyinggung hati ini. Cercaan dan cibiran begitu antusiasnya ingin menginap di dalam kamar ini hingga malam pun seakan membuatnya bertahan.


Ibu sambungku yang tadi berkata pedas, keras, dan menghardik dengan sejadi-jadinya. Menampakan siapa aku sebenarnya. Aku sangat lemah ternyata ketika mendengarnya. Namun, wajah adik yang menjadi tanggung jawab untuk ku kedepannya membangkitkan kembali semangat dan ketegaran.


Ibu sambungku masih juga belum puas mengeluarkan semua kata-kata yang tersimpan di dalam hatinya. Dia juga tidak mau menyerah begitu saja seakan dia berada di medan perang menghadapi musuh.


Matanya melebar tanpa rasa bersalah pun, mendelik dengan keramahan menatap aku yang duduk membelakangi adikku.


"Liyan, kalau kau tidak di kasih jajan. Apa kau merengek?" tanya ibu sambungku menyindir adikku yang tersudut jauh di belakangku.


Aku hanya diam mendengarnya. Sehuruf pun, aku tidak sanggup untuk mengucapkannya. Apalagi harus menjawabnya dengan lengkap. Rengekan itu adalah sindiran yang sengaja dia lontarkan untuk menyinggung adikku.


"Kau 'kan, Anak paling besar. Jadi, Anak yang paling besar itu harus menerima apa pun, ya 'kan?" katanya bertanya padaku yang masih kecil. "...Ibu yakin kau tidak seperti itu. Yang suka merengek hanya gara-gara jajan," cetusnya. "Itu 'kan yang sering di bilang Ayahmu. Kalau kau itu harus terus mengalah, hm!" Nada suaranya seakan menekankan bola mata tajam menatapku.


Aku yang masih menunduk terus melihat lantai dalam dudukku yang di tekuk. Aku seakan menanya lantai, kapan ibu sambungku akan pergi dari sini? Aku sudah bosan mendengar cibirannya yang mengusik pendengaran hingga aku ingin menutup mata ini.


"Liyan, Ana. Mulai dari hari ini dan seterusnya. Kalian jangan minta jajan lagi! Kalau bisa, sekolah juga tidak usah bawa uang jajan!" tandasnya sesuka hati.


"Kalau kami tidak bawa uang jajan. Bagaimana kami di sekolahan, kalau kelaparan?" tanya adikku yang tiba-tiba membuat aku menaikan kepala meliriknya.


Deg!


Aku terkejut membelalak seakan aku tidak percaya mendengarnya. Ini bagaikan mimpi yang membuat aku semakin membuka mata dengan lebar. Setelah sekian lama aku menunggu adikku bersuara. Akhirnya, aku mendengarnya juga. Ludah kepanikan pun kutekan begitu saja. Adikku lekas membuka mulut yang tadi diam membisu.


Ibu sambungku seakan tersambar petir ditengah hujan di siang bolong ini. Wajahnya seketika memerah seperti kepiting rebus. Matanya yang bulat semakin melebar. Dia tidak menyangka kalau adikku yang diam membisu sudah berubah. Dia pun tidak tinggal diam terlihat.


"Kau ternyata tidak takut juga, ha...sama Ayahmu," kata ibu sambung mengancam adikku.


Sedetik adikku kembali diam seakan dia mengingatnya dan membayangkan jika ayah kami semakin marah. Dia seperti terlempar dengan batu besar sehingga mulut yang tadi terbuka mendadak diam.


"Haa? Kau sudah berani, hmm?" Ibu sambungku semakin pias terdengar dari nada suaranya. Sepertinya bara api kini sedang meledak-ledak membakar jiwanya.


Suasana pun menjadi pelik dengan sekejap mata saja. Tidak ada kata yang bisa untuk menghentikan ibu sambung kami selain langkah kaki ayahku.


Aku yang tidak berani menatap tegak lurus berharap besar di dalam hati kalau ayahku segera datang dan aku bisa mengisi perutku yang kosong. Aku sudah kelaparan karena terus melihat nasi yang terletak di dekatku.


"Lapar," gumamku pelan. Melihat nasi.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Teman-teman yuk mampir ke novel teman aku ya,, ceritanya menarik banget, nyesel loh kalau engga baca ! 🙏



__ADS_2