
"Wajar saja, dia itu lupa. Dia ' kan, baru belajar," sambut ibu sambung kami membela adikku.
"Lupa sih boleh, tapi jangan sering lah lupanya," cibir ayahku.
"Ya sudah, jangan di teruskan lagi. Sekarang mari kita makan dulu, baru kita pikirkan apa yang akan di lakukan selanjutnya. Liyan, Ana kemari!" Ibu sambungku mempersilahkan kami duduk.
Aku dan adikku pun mengambil posisi persis, seperti yang di suruh oleh ibu sambung kami. Hari ini aku tidak banyak bicara, apalagi adikku. Setelah kejadian tadi adikku hanya diam saja sambil mengikuti arahan dari ibu sambung kami.
Malam ini adikku memang terlihat aneh. Aku pun sangat terkejut melihatnya tidak biasannya dia bersikap baik pada ibu sambung kami. Selama ini dia begitu memusuhi istri baru ayahku itu sedikit pun, adikku tidak pernah menghiraukan apapun yang di pintanya dari adikku. Tapi ini begitu berbeda pemandangan malam ini sangat mencengangkan diriku yang memandang.
Kenapa tidak ? Adikku yang keras kepala kini tiba-tiba melunak sehingga membuatku menjadi tanda tanya. Piring yang kupegang kini telah kuisi dengan nasi. Aku yang lemah yang mengambil sayur dan lauk masih mendengar omelan ayahku yang berbisik mengenai adikku.
Sementara adikku yang berdiri di sampingku terlihat gugup ingin mengambil nasi. Dia seakan merasa malu karena dirinya tadi.
"Ana, apalagi ambil nasimu!" seru ayahku. "Sudah! Jangan merajuk, kalau salah, ya harus di marahi," celetuk ayahku tanpa melihat wajah adikku. Mana ada orang yang salah di sayang-sayang. Iya, 'kan Liyan?" lanjut ayahku tanpa memikirkan perasaan adikku.
"Iya Ayah," jawabku dengan spontan.
Aku tidak menyadari kalau jawabanku malah membuat adikku semakin membenciku dan kesal sehingga dia memilih mengurungkan keinginannya tadi untuk makan. Spontan tangannya yang mau mengambil piring kini dia lepaskan dan memutar badan pergi.
Inilah aku. Aku selalu membuat adikku yang kesal malah semakin kesal. Aku begitu suka membuatnya yang sensitif semakin sedih. Hentakkan kaki yang menghentak lantai terdengar, seperti hentakkan kekesalan. Sepertinya adikku sangat kecewa dengan ku.
Seorang Kakak yang seharusnya membela adiknya ini malah terkesan mengejek adiknya. Wajah pias adikku pun, terlihat memanas di sudut dinding yang lapuk.
"Ana! Kenapa tidak jadi makan?" tanya ayahku sedikit merasa bersalah.
"Iya Ana. Ayo kemari makan!" ajak ibu sambung kami dengan lemah lembut.
"Tidak mau! Aku tidak lapar," ucap adikku melawan.
"Ana!" Ayahku langsung melihat adikku dan berteriak.
Makan malam yang seharusnya, seperti biasanya di penuhi dengan kehangatan kini malah diliputi oleh panasnya api yang membakar. Kerasnya suara yang keluar dari mulut ayahku menghentikan aku yang ingin duduk sambil membawa nasi.
"Ana, kenapa kau bicara seperti itu, ha?" tanya ayahku dengan kesal. "Yang bicara padamu itu orang tua,bukan Anak kecil," pekik ayahku.
"Tidak baik ribut. Ini sudah malam. Ana mungkin lagi kesal gara-gara tadi." Ibu sambungku menenangkan ayahku.
"Iya, tapi dia masih kecil. kalau di biarin, dia akan semakin menjadi-jadi nanti," kata ayahku menjauhkan piring dari hadapannya.
" Liyan, kau lagi. Kenapa tidak makan?" tanya ayahku menoleh ke arahku.
"Sebentar lagi Ayah." Aku langsung meninggalkan nasiku di atas meja.
"Kau itu harus makan. Jangan buat Ayah semakin marah. Apa kau mau dimarahi juga, seperti Adikmu?" Ayahku menatapku dengan sorot mata yang tajam.
"Engga Ayah," jawabku menggelengkan kepala sambil melihat lantai.
"Kau tahu 'kan, Nak. Kau itu harus rutin minum obat. Biar kau cepat sembuh." Sorot mata ayahku yang tajam masih terus melihatku.
"Iya Ayah." Aku menunduk dan mengambil nasiku kembali yang terletak di atas meja.
Keluarga kecil yang hangat dulu kini semakin lama semakin menghilang. Ayahku yang dulu tidak pernah memarahi kami, apalagi bersuara keras ini malah sebaliknya.
__ADS_1
Perhatian ayahku sekarang tidak seperti dulu yang selalu memperhatikan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang saat kami menangis maupun ketika makan.
Dulu ayahku selalu bertanya pada kami ketika mau makan. Aku masih mengingatnya sebelum makan ayahku bertanya dulu kepada kami mau makan apa. Akan tetapi, sekarang berbeda semuanya sudah berubah. Ayahku tidak lagi meluangkan waktunya untuk kami, termasuk dalam hal yang mudah yaitu, bertanya dahulu, kami mau makan apa?
Sudut dinding yang bisu masih disandari oleh adikku yang manja. Adikku yang sudah besar masih saja belum berubah. Sikap manjanya masih saja dia bawa kemana -mana.
Aku sudah berulang kali memberi contoh pada adikku agar dia bisa menjadi anak yang kuat dan mandiri. Namun, itu semua sia-sia, dia tidak pernah mau mengikutiku, bahkan dia selalu mengatakan kalau ayah kami tidak bisa melihat air matanya.
Itu memang benar. Tidak berapa lama aku dan adikku diam membisu. Ayahku mulai membujuk adikku yang manja.
"Nak, kamu tidak makan?" Ayahku menghampiri adikku yang berkutat dengan kekesalannya.
"Tidak usah di bujuk! Nanti, dia pasti akan makan sendiri," timpal ibu sambung kami dari belakang memotong pembicaraan ayahku.
Aku yang telah duduk dengan nasi dih adapanku mendengar ayahku membujuk adikku sambil aku menyuap nasi perlahan demi perlahan.
"Anak Ayah mau makan, apa?" tanya ayahku dengan nada suara yang lembut membujuk adikku.
"Ayah nanti marah lagi." Adikku membuka suara.
"Ayah tidak marah lagi! Makanya, kalau mengaji itu, ya mengaji," kata ayahku dengan penuh penekanan. "Jangan pikirannya kesana kemari!" Ayahku menegur adikku.
"Mau makan apa lagi, dia?" tanya ibu sambung kami tidak senang. "Ini 'kan, sudah ada. Mau masak apalagi?" Ibu sambung kami terus menentang bertanya seakan pada ayahku.
Belakangan ini suasana makan malam kami selalu terjadi keributan. "Ini lauk masih banyak. Semua di masak, nanti yang ini bisa terbuang," celetuk ibu sambungku.
"Itu tidak akan terbuang. Nanti 'kan, bisa di panasi lagi," sambung ayahku menenangkan suasana.
"Alaah! Siapa yang akan memanasinya," rancau ibu sambungku dengan sinis.
Malam ini adalah malam yang memilukan bagiku. Dimana terjadi keributan lagi setelah sekian lama tidak terdengar. Makan malam yang seharusnya penuh kehangatan canda tawa keluarga kini hancur berantakan karena masalah kecil. Aku pun sekarang tidak sanggup untuk menelan nasiku kembali.
"Ayah berhentilah berteriak," pintaku yang ketakutan.
"Ayah, kalau begitu masaknya besok saja," kata adikku mengalah. "Sekarang, aku akan makan yang sudah ada saja, Ayah," sambung adikku dengan lembut.
"Baiklah, Nak!" Ayahku pun mengikuti kemauan adikku yang menolak untuk di masakkan malam ini.
"Lantas Anak ayah ini mau makan, apa?" tanya ayahku.
"Yang ini saja, Ayah !" Adikku menunjuk ikan goreng.
"Tapi Ayah, boleh engga. Durinya Ayah yang memilihnya. Karena aku takut termakan durinya, Ayah," rayu adikku.
"Boleh Nak. Sekarang Anak kesayangan Ayah duduk di sini!" Ayahku menggendong adikku dan mendudukkannya di kursi.
Betapa senangnya hatiku ketika aku melihatnya. Wajah adikku pun, langsung ceria. Sementara ibu sambung kami begitu memanas melihatnya seakan dia tidak menyukai sikap ayahku pada adikku.
Dia pun langsung pergi dengan wajah piasnya. Nasi yang tadi terletak di atas meja kini dia bawa ke dapur dan makan di sana.
"Ayah, nanti sebelum tidur, Ayah mau tidak mendongengkan kami. Ya 'kan Kak?!" pinta adikku pada ayahku sambil bertanya menoleh ke arahku.
"Iya," jawabku yang sedang mengunyah nasi sambil mengangguk.
__ADS_1
"Nah, itu 'kan, Yah. Kakak aja senang di dongengin," ucap adikku dengan senang dan membuka mulutnya menyambut suapan ayahku.
"Iya, nanti Ayah akan mendongengkan kalian," kata ayahku melanjutkan suapannya pada adikku.
"Horeee!" teriak adikku kegirangan. "Ayah akan mendongengkan kami. Kak, cepat makannya!" seru adikku mendesakku.
"Kakak sudah kenyang." Aku langsung menunjukkan piring kosongku pada adikku.
"Kakak engga nambah lagi?" tanya adikku seakan menyuruhku untuk menambah nasi lagi.
"Engga! Kakak sudah kenyang." Aku langsung ke dapur mengantarkan piring kotor.
Rumah yang tadi terdengar suara yang memenuhi ruangan kini senyap seketika. Ayah dan adikku yang tadi berbincang masalah dongeng kini hening.
Aku yang keheranan dan penasaran memutar badan melihat ayah dan adikku. "Kak, dimana bukunya ?" tanya adikku berteriak mencari buku.
"Buku apa ?" tanyaku menghampiri adikku.
"Liyan, jangan serakkin lagi lemari itu!" Ibu sambung kami langsung berdiri melihat adikku.
"Iya Bu," jawabku.
"Aku tidak menyerakkannya, kok," ucap adikku melepaskannya.
Nada suara yang terdengar dari ibu sambungku terdengar sedikit ketus. Dia tidak suka jika adikku merasa sedikit senang. Aku yang mendengarnya di tengah langkahku merasa tidak nyaman karena ucapannya itu kepada adikku dan adikku pun langsung menjauh dari tempat buku itu.
Setelah aku tiba. Aku lalu berdiri dan mencari buku yang di maksud oleh adikku. Setelah aku mencarinya, aku pun kemudian menemukannya.
"Ini bukunya." Aku menunjukkannya pada adikku.
"Mana Kak?" Adikku berlari mendekatiku dengan riang. "Ayah ini bukunya!" Adikku menunjukkannya pada ayahku setelah mengambilnya dari tanganku.
"Mari Nak, bawa kesini." Ayahku langsung mengulurkan tangannya ke udara dengan senang.
Adikku pun langsung berjalan kencang sambil membawa buku dengan ceria. "Ini Ayah." Dengan senang adikku menyerahkannya kepada ayahku.
"Anak-anak Ayah! Mau di dongengin cerita, apa?" tanya ayahku sambil memangku adikku dan membuka buku.
"Cinderella Ayah," jawabku berdiri di samping ayahku.
"Iya Ayah, itu saja!" kata adikku juga.
"Baiklah. Sekarang Anak Ayah, tidurlah." Ayahku menurunkan ayunan yang sering digunakannya untuk menidurkan aku dan adikku jika kami berdua susah tidur.
Ayahku pun membacakan dongeng sesuai keinginan kami. Malam ini dia merelakan rasa laparnya hanya untuk membuat aku dan adikku bahagia. Aku yang sudah mengenal ayahku mulai memahami bahwa ayahku lebih menyayangi adikku yang ditinggal mati oleh ibuku sewaktu kecil. Itulah yang membuat ayahku sedikit melebihkan kasih sayangnya pada adikku. Namun, aku yang sudah mengerti tidak pernah merasa iri hati karena bagiku kebahagian adikku adalah kebahagiaanku. Jika adikku tersenyum bahagia aku pun, merasakan ikut bahagia juga. Lagi pula aku selalu mengingat apa yang dikatakan ayahku kepadaku kalau anak pertama harus kuat dan tidak boleh manja. Inilah yang menjadi penguat terhadap diriku sendiri.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Yuk! Teman-teman mampir ke novel aku, ya !🙏