
"Mana?" tanyaku penasaran.
"Itu Liyan!" kata Rasyd menunjuk sebuah rumah yang terlihat di depan kami.
Aku sangat terharu bercampur sedih rumah yang sederhana berdindingkan papan itu sama seperti rumah kami. Aku pun berjalan menajamkan penglihatan menatap rumah itu terus, mengikuti teman-temanku melangkahkan kaki dengan sedikit ragu bahwa rumah ini adalah rumah Pudan. Pudan yang terlihat pendiam di sekolah ternyata kehidupannya seperti ini. Aku sangat bersimpati melihatnya karena kehidupannya ternyata tidak jauh berbeda dariku. Aku pikir dia adalah anak orang kaya terlihat dari penampilannya. Meskipun dia pendiam dia selalu diingat oleh teman-temannya.
Fikri yang memandu jalan melihat kami ke belakang. " Kalian nanti jangan berisik, ya!" pinta Fikri kembali berputar ke depan.
"Tenang saja Fikri. Kami tidak akan ribut," jawab Solihin yang terus berjalan meminggir.
"Mana mungkin kami ribut. Itu 'kan tidak sopan," ucap Widia.
"Lagi pula kita 'kan tamu," sambungku memegang kedua tali tasku.
Fikri, Widia dan yang lainnya pun mengangguk membenarkan. Kami terus berjalan di tengah jalan yang setengah becek akibat hujan. Rumah Pudan memang sangat sederhana tapi begitu menenangkan hati ketika terlihat dari luar. Suasana lingkungan yang adem dan cukup jauh dari keramaian pasar sangat meremajakan telinga. Tidak ada terdengar kebisingan. Hanya ada terdengar suara kicauan burung di pagi dan sore hari kemungkinan, seperti itu ketika aku melihat banyak pohon yang rimbun dan burung yang hinggap dan terbang.
"Assalamualaikum," ucap Fikri, di ikuti oleh kami bergantian karena pintu rumah belum juga terbuka.
"Wa'alaikumussalam," Pintu pun terbuka. Wajah yang lembut nan sumringah itu pun menyambut kami dengan hangat. "Dari mana, Nak?" tanyanya. Berdiri melontarkan senyuman.
Aku dan Fikri yang berdiri di depan. "Kami temannya Pudan, Bu," jawabku langsung. Memberi senyuman.
"Temannya Pudan?" tanyanya dengan senang sedikit terheran.
"Iya, Bu. Kami teman sekelasnya," jawab Widia, di ikuti anggukanku.
"Ooh, mari, Nak silakan masuk!" Ibu Pudan pun mempersilahkan kami masuk membuka pintu dengan lebar.
Aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika kami memasuki rumah Pudan. Rumah yang ilegan, sederhana dan rapi. Rumah yang simple ini tidak ubahnya seperti rumah yang ada di cerita dongeng di mana setiap jalan ada bunga-bunga yang mekar dan indah. Tidak jauh berbanding dari rumah kami. Di mana terdapat pohon bunga dan pohon jambu air yang rimbun. Di dalam rumah Pudan juga ada dua kamar sama seperti rumah kami dan juga ada ruang tamu serta terdapat sebuah kursi. Kursi yang panjang beralaskan busa empuk pun sangat nyaman di duduki tidak seperti rumah kami yang hanya terdapat sebuah bangku kayu.
Aku yang masuk melangkahkan kaki merasakan sesuatu yang berbeda. Segaris senyum pun kini tergores dan membuat wajah berseri sedikit tertahan. Kursi ini mengingatkan aku tentang bangku kami. Segaris kesedihan pun terpampang jelas yang berusaha kututupi seketika.
Orang tua Pudan yang baik dan bersahaja menyambut kami dengan bahagia. Senyum pun langsung tertoreh di wajahnya yang teduh.
Aku dan yang lain pun duduk. Aku, Widia, Solihin, Rasyd dan Fikri pun duduk bersila dengan sopan saling menatap satu sama lain. Aku yang duduk di sebelah Widia menatap sekeliling ruangan rumah Pudan. Bola mata dengan lebar pun terbuka melihat isi rumahnya yang sedikit ada persamaan dengan rumahku.
Lemari pakaian yang besar terletak di ruang tamu pun sama, seperti lemari kami. Berdiri kokoh di ruangan yang setengah luasnya lebih besar dari rumah kami. Segores bayangan lemari kami pun terlintas kini di pelupuk mata.
Lemari yang kecil yang hanya cukup menyimpan beberapa baju saja yaitu, bajuku dan baju adikku masih terlintas di anganku. Aku masih tetap terjaga dari mata sayuku yang bening menatap sekitaran rumah. Mulai dari pintu yang kami masuki hingga dapur dan kembali lagi ke pintu kamar yang tidak lain aku rasa itu adalah kamar Pudan. Bola mata yang sayu nan bening pun terhenti tiba-tiba di satu titik. Di mana Ibu Pudan membawa minuman.
"Nak, minumlah, minuman ini dulu!" ucap wanita separuh baya itu. Mengambil gelas yang berisi air dan meletakannya di hadapan kami satu per satu. "Ibu akan membangunkan Pudan sebentar," katanya dengan lembut.
"Bu, terima kasih banyak," ucap Fikri mengangguk pelan dengan sopan, di ikuti oleh aku dan yang lain juga. Melihat Ibu Pudan menyuguhkan minuman di hadapannya.
Ibu Pudan hanya melemparkan senyuman hangat membalasnya. Setelah minuman itu di suguhkan semua dia lalu bangun dari setengah duduknya dan berjalan ke dapur menaruh talam dan masuk ke kamar Pudan.
Kami menikmati minuman yang telah disediakannya dan bercerita pelan sambil tertawa kecil bahagia satu sama lain.
Sayang sekali hari ini kami kurang lengkap karena Septiani tidak ikut bersama kami menjenguk Pudan. Aku menghentikan setengah air yang ingin kuteguk menatap nanar ke samping Widia teringat dengan Septiani sebab melihat mereka bahagia sambil membenamkan bibirku ke dalam mulut gelas melihat Fikri dan yang lain bercanda gurau dan tertawa, menunggu Pudan dan ibunya.
Widia yang tertawa meletakkan gelasnya dan melihatku. "Tapi..., waktu Liyan sakit. Satu pun dari kita tidak ada yang datang menjenguknya," kata Widia teringat kembali meneguk air minum.
__ADS_1
"Bukannya kita tidak mahu," kata Solihin.
"Tapi, Liyan sudah ke buru masuk sekolah," ucap Fikri langsung. Melihatku sekilas dan melihat Widia.
Aku langsung teringat melihat mereka. Teringat masa di mana aku berada di sebuah titik. Masa yang kelam sambil melihat air minum dari dalam gelas yang membenamkan bibirku dengan haru bercampur sendu. Masa di mana aku terbujur kaku karena penyakit dan tidak masuk sekolah hingga berbulan-bulan. Sampai aku bingung harus berbuat apa. Sangking lamanya aku terbujur di dalam penderitaan aku sempat memutuskan pada diriku sendiri untuk berhenti sekolah tanpa sepengetahuan ayahku.
Omongan Widia hari ini mengingatkan aku tentang kejadian masa lalu yang membuatku semakin diam membisu mengingatnya. Obrolan itu pun semakin garing terdengar. Memekakkan sebelah telingaku yang mendengarnya.
Aku tetap berpura minum sampai air minumnya habis agar seolah mereka yakin kalau aku tidak menyimaknya. "Hahaha, Liyan," ucap Solihin menggeleng. "Aku belum percaya kalau kau sembuh dan sekolah," sambung Fikri. Meneguk minumannya.
Singgung Fikri jika melihat dari kondisi Pudan yang terbaring sakit hari ini. "Kalau Liyan belum masuk sekolah. Kita pasti sudah menjenguknya," ucap Rasyd. Duduk memeluk tasnya, di ikuti sebelah tangannya menarik kerah bajunya menutupi leher.
"Mungkin kita akan membawa jeruk jika kita bisa membelinya, hahaha" celoteh Fikri tertawa melihat amplop yang terletak dia atas meja.
Mereka pun terus bercerita di ikuti oleh bola mataku yang berputar melihat bibir mereka yang bercerita sambil tertawa sesekali di tengahku yang masih terbelenggu dalam ingatan sakitku di iringi oleh mata yang melihat ke arah pintu kamar Pudan. Ibu Pudan sampai sekarang belum juga keluar. Aku semakin penasaran dan terus menajamkan pandanganku. Lalu mengembalikannya kembali arah Fikri dan yang lain.
"Kenapa Ibu Pudan lama sekali?" tanyaku berbisik melirik pintu kamar. Memegang gelas bagianku.
Mereka pun langsung diam dan melihat pintu kamar yang tadi kulihat. "Iya," jawab Widia terheran melebarkan mata seakan bertanya.
Kami yang merasa cemas, menunduk karena gelisah. Terutama diriku yang telah gelisah memikirkan ayahku. Bagaimana kalau dia tiba sampai rumah lebih dulu. Mata sayu yang bening pun melebar dan mengecil mengikuti irama detak jantung yang deg-degan.
Kreeek!
Aku langsung tersentak mendengarnya yang lain pun demikian juga. Ibunya Pudan terlihat keluar dari kamar bersama Pudan. Hatiku jadi, lega ketika rasa cemas terbayarkan. Sumringah yang tulus pun terlihat langsung di wajahku.
Kini Ibunya Pudan pun berjalan hampir mendekati kami bersama Pudan yang terlihat baru bangun. "Maaf, Nak! Pudan baru bangun," ucap Ibunya tersenyum malu. "Pudan susah sekali bangun." Ibunya duduk di samping Pudan bersama kami .
Fikri yang selaku ketua kelas pun berbicara. "Bu, kami menjenguk Pudan karena sudah lama dia tidak masuk sekolah," katanya.
Di ikuti oleh Rasyd juga. "Iya, Bu. 'Kan sebentar lagi ujian." Rasyd langsung menatap Pudan dan Ibunya.
Pudan yang terlihat lemas langsung berkata. "Aku belum sanggup masuk sekolah," katanya.
Fikri pun mengangguk. Di ikuti oleh kami yang melihat Pudan dan Ibunya. Mereka berdua terharu karena melihat perhatian kami. Meski sedikit terlambat. Pudan dan Ibunya pun terlihat saling menyayangi yang membuatku sedikit iri ketika melihatnya. Ibunya begitu sangat menyayanginya seakan hidupnya begitu sempurna. Seketika anganku pun membayangkan ibuku.
"Kalau begitu kami pamit dulu, Bu," ucap Fikri bergegas menyerahkan amplop.
"Hati-hati, ya Nak!" Ibu Pudan bangun dari duduknya, di ikuti oleh Pudan juga.
Puk!
Sontak aku terkejut dan bangun dari lamunan. Bergegas aku langsung berdiri setelah melihat Widia berdiri di samping menepuk dan menarik lenganku tiba-tiba.
"Pudan, kalau begitu aku pun pamit dulu, ya," ucapku menundukkan kepala. Mengambil tas yang terletak di sampingku.
"Iya, hati-hati, ya Liyan!" ucap Pudan mengantar kami sampai ke depan pintu.
Kami pun berpamitan dan mencium punggung tangan ibunya Pudan. "Assalamualaikum, Bu," jawab Fikri yang memang selalu sopan ketika bersama dan bertemu siapapun termasuk orang yang lebih tua darinya.
Terkadang aku heran juga melihat Fikri yang selalu berubah-ubah. Kadang sopan dan menyenangkan, terkadang menjengkelkan dan membuat aku kesal termasuk juga yang lain.
__ADS_1
Aku yang berjalan di belakang Fikri mengikutinya menatap punggungnya yang menyandang tas hitam yang cukup berat.
"Fikri, kau bawa buku berapa?" tanyaku melihat tas yang di sandangnya sedikit membengkak.
Fikri langsung berhenti seakan dia terkejut mendengar pertanyaanku. Bola matanya yang lebar itu pun menatapku sampai membuatku tertunduk merasa bersalah.
"Aku cuman bawa buku pelajaran," jawabnya kembali melihat lurus ke depan di ikuti Rasyd berjalan di sampingnya.
Aku dan Widia yang berpisah jalan pun tertawa masing -masing. Widia yang tertawa karena leluconan Solihin dan Rasyd sesekali terlihat menimpali Solihin hingga menciptakan tawa yang sumringah di wajah Widia dan mereka berdua. Sedangkan aku yang tertinggal di belakang bersama dengan Fikri hanya berkata sedikit dan sesekali aku melihat kaki dan bayanganku yang mengikuti tanpa lelah. Aku yang tiba-tiba jahil menginjaknya sambil berlari kecil karena bayangan yang ingin aku injak menghindar. Ia seakan takut kalau aku menginjaknya mungkin ia akan sakit, pikirku tertawa geli.
Hihihi! Tawa geli pun mewarnai perjalanan sampai ke rumah. Segaris senyuman tipis pun masih tertarik dari bibirku yang tipis.
Jalan yang sudah sunyi bersama matahari yang setengah malu bersinar semakin meremajakan kaki yang melangkah. Indahnya persahabatan ini semakin mewarnai langkah menapaki jalan yang setengah becek dan berlumpur ini.
Aku yang jarang keluar rumah dengan kejahilan sekarang malah tahu melakukan itu. Tanah yang bergenang air itu pun aku kucek dengan kakiku. Aku yang asyik sendiri bermain lumpur semakin hanyut dengan kesenangan. Aku begitu senang karena setelah sekian lama aku tidak pernah keluar. Di tambah lagi ketika aku sakit aku terkekang di rumah tidak dapat keluar untuk bermain. Bukan itu saja ketika ayahku di rumah pun, aku sangat sulit untuk keluar rumah. Di tambah ayahku yang selalu menjagaku bak putri raja yang tidak boleh lelah dan tergores sedikit pun. Aku semakin terkurung dan histeris. Aku juga tidak bisa bermain dengan leluasa keluar sehingga hari ini adalah hari kebebasan bagiku. Jika ada waktu yang lengah sebisa mungkin aku memanfaatkannya.
Aku yang masih bermain dengan air yang sedikit bergenang, melihat Fikri, Widia dan yang lain dari ekor mata. Sepatu sekolah yang kupakai segera kubuka demi kenyamanan dan mencegah amarah ayahku yang apabila nanti dia melihatnya basah dia pasti akan memarahiku.
Sepatu sekolah pun aku jinjing dengan sebelah tangan di tengah senyuman yang tipis dan hati yang ceria . Air yang sedikit bergenang pun di tengah jalan tak kusadari terciprat mengenai kaki Fikri dan Solihin.
Augh!
Terdengar erangan terkejut di telingaku. Aku terkejut pun menarik bibir manis seketika tersenyum. Melihat kaki Fikri dan Solihin terhenti. Aku yang masih menunduk pun ikut terhenti dan deg-degan.
Ups !
Aku langsung menutup mata dengan kuat bercampur panik dan menarik napas kasar melebarkan bola mata ketika melihat kaki mereka berdua kotor dan basah.
"Liyan," kata Fikri terkejut melihat aku yang bermain air dan membuka sepatu, juga melihat kakinya dan kaki Solihin. Ekor mataku pun langsung mengikutinya juga.
Aku sangat terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku hanya diam mematung menahan kaki sebelah dengan kuat di tengah lumpur. Sepatu yang kujinjing pun terasa ingin lepas.
Sorot mata yang bercampur panik tidak sanggup lagi untuk melihat lurus ke depan. Sepatu yang kupegang pun, aku putar -pura sebagai penenang. Kerutan kening bercampur aduk kepanikan semakin mengerut kencang.
"Ada apa?" Terdengar suara Widia bertanya.
Aku yang masih menunduk bercampur rasa bersalah tetap diam dan mematung. Kaki yang ingin melangkah ke tepi pun tidak sanggup melangkah.
Aku yang menunduk menjinjing sepatu mendengar suara Solihin yang tertawa lebar. "Hahaha ! Liyan, kau sudah lama tidak main hujan, ya?" tanyanya terbahak.
Aku diam dan malu karena melihat kelakuanku yang tidak pantas. Fikri tetap diam melihat cipratan air yang mengenai kaos kakinya sedangkan Solihin begitu ingin bergabung bersama main lumpur.
"Liyan," panggil Solihin berjalan memutar.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1