Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Bermain di malam hari


__ADS_3

"Ayah, suapin aku, ya," pinta adikku dengan wajah mengiba.


"Iya, Nak. Ayah malam ini akan menyuapimu dan Kakakmu," balas ayahku. Menyiapkan makan malam.


"Ayah, aku biar makan sendiri aja," kataku dengan nada suara pelan. Melirik adikku yang duduk di sampingku.


"Iya, Ayah. Aku saja yang di suap. Jangan Kakak. Ya 'kan Kak?" kata adikku. Melirik dan bertanya kepada ku.


"Iya, Ayah," jawabku singkat dengan gurat wajah seakan tersipu malu. Menatap adikku yang terlihat sinis melirikku.


"Liyan, lagi pula kau 'kan sudah besar jadi, sudah sewajarnya kau tidak di suap lagi," balas ibu sambungku langsung. Meletakkan gelas ke hadapan kami masing-masing.


"Iya Bu," jawabku dengan gurat wajah penuh kebingungan melihatnya yang semudah itu berubah -ubah.


"Lagi pula Adikmu itu tidak seperti dirimu Liyan. Kau 'kan Anaknya tidak manja dan lebih lama mendapatkan kasih sayang dari Ibumu sebelum dia meninggalkan kalian," sambung ayahku .


Aku hanya diam seperti orang yang tersipu malu. Menunduk melihat piring yang terletak.


"Adikmu itu sangat menyedihkan di saat kepergian Ibumu," lanjut ayahku. Menatap adikku yang duduk di sebelahnya. "Itulah kenapa Ayah tidak bisa melihat dia menangis," tandasnya.


Aku yang memegang sendok pun, perlahan mengambil nasi dengan pelan aku menaruhnya di atas piring.


"Adikmu itu sangat jauh darimu .Pada saat itu kau sudah bisa berjalan sementara adikmu belum dan dia pun juga harus minum ASI ," lanjut ayahku menceritakannya dengan penuh kesedihan. Menatap nanar lurus ke depan dengan pandangan kosong. Namun, di dalam tatapan matanya tersimpan kenangan pedih itu yang seakan dia lihat dengan jelas.


Aku pun menaikkan kepala sedikit melihat kesedihan ayahku yang diungkapkannya sebegitu lirih. Sendok nasi pun seketika tergantung di udara mendengarkan isi hati ayahku terhadap adikku. Dengan tatapan lurus yang nanar aku melihat lurus ke arah nasi yang terhidang di tengah-tengah kami tepat di hadapanku. Aku pun dengan pandangan kosong menajamkan pendengaran mendengarkan gulatan batin ayahku setelah kepergian ibu kami.


"Itu sudah berlalu jadi, tidak seharusnya kau ingat lagi," kata ibu sambungku dengan gamblang. "Kalau kau terus mengingatnya. Kau pasti akan menjadi Ayah yang terlihat pilih kasih. Karena kau lebih mementingkan Anakmu itu dari pada yang ini," ucap ibu sambungku melihat ke arahku. Mau sampai kapan dia harus kau manjakan?" lanjutnya. Melirik adikku dengan sinis.


Aku yang duduk sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut dengan tangan ini mendadak berhenti setelah melihat lirikan adikku yang penuh kebencian itu melirikku dan juga ibu sambung kami.


"Aku tidak memanjakannya," balas ayahku. "Tapi aku belum bisa melihat air matanya menetes. Karena jika aku melihat dia menangis aku merasa melihat Ibunya menangis," terangnya.

__ADS_1


Plak!


Sontak ayahku tersentak begitu juga dengan aku dan adikku pun tidak jadi menyuap nasi yang berada di genggaman ayahku. Aku sangat panik melihatnya, sementara adikku menganga dengan mulut yang terbuka sedikit lebar sedangkan ayahku melebarkan kedua bola matanya langsung pucat sambil menatap istrinya itu dengan cemas, di ikuti oleh tangan sebelah kanannya menggantung di udara dengan nasi yang ada di tangannya . Sementara tangan sebelah kirinya memegang piring dengan kuat yang menggantung setengah di udara juga.


"Kau selalu membahas-bahas masalah istrimu yang sudah meninggal itu!" pekik ibu sambungku dengan gurat wajah mengetat bercampur cemburu. "Cih, aku jadi muak mendengarnya," cetusnya. Bangun dan berdiri.


Aku lalu menutup mulut dan tidak jadi makan. Perut yang lapar terasa sudah kenyang. Perlahan nasi yang tadi menggantung di udara terpaksa aku letakkan kembali ke dalam piring dan mencuci tangan dengan bersih.


Adikku yang lapar juga menepis tangan ayahku yang ingin menyiapkan nasi.


"Ayah, kenapa Ayah menceritakan itu?" tanyaku dengan sesal.


" 'Kan Ibu kesayangan Kakak jadi pergi," ucap adikku dengan lirih. Melirik ayahku.


Ayahku seketika terdiam membisu menatap dengan pandangan kosong yang bercampur dengan penyesalan.


"Kau selalu membangga-banggakan Anakmu itu karena mirip dengan istrimu, hiks," katanya dengan gurat wajah menyeringai. " Makanya Anakmu itu semakin lama semakin besar kepala. Karena kau selalu memanjakannya, membelanya dan menuruti semua apa maunya," tandas ibu sambungku dengan nada suara yang meninggi.


Ayahku langsung meneguk minum yang telah terisi di dalam cangkirnya.


Perlahan ayahku mengatur napas dengan pelan yang bercampur penyesalan. "Bukan begitu," kata ayahku dengan gurat wajah merasa bersalah.


Aku semakin menunduk malu. Ingin segera mungkin aku pergi dan meninggalkan mereka. Mainan anak Bp pun terlintas di pikiranku seketika.


"Lalu bagaimana?" tanya ibu sambungku dengan nada suara meninggi. Berdiri di dapur tepatnya di antar pintu tengah yang bisa terlihat oleh kami memegang gelas.


Sorot mataku sekarang tidak lagi terfokus dengan cecaran mereka. Anak Bp yang cantik yang membuatku sedikit terlena dari riuh ricuh yang mengguncang makan malam ini.


"Ayah, aku mau tidur," kataku dengan pelan bercampur takut. Melihat ayahku. Melatih hati agar aku tidak depresi mendengar yang telah terjadi.


"Pergilah, Nak," balas ayahku langsung. Menatapku dengan gurat wajahnya yang murung.

__ADS_1


"Ayah a-ak... ." Adikku langsung menutup mulut.


"Kau jangan dulu Ana. Habiskan dulu nasimu ini," harap ayahku dengan lembut. Menganyunkan tangan di udara dengan segumpal nasi di tangan kanannya. Menyuapkan sesuap demi sesuap ke dalam mulut adikku.


"Ayah," panggil adikku dengan mulut yang mengunyah nasi. "Aku mau tidur juga, Yah. Aku sudah mengantuk," katanya kembali merengek.


"Ana habiskan dulu nasimu !" pinta ayahku kembali.


"Ayah, tapi Kakak 'kan gak menghabiskan nasinya," keluh adikku.


Ayahku menarik napas terlihat olehku ketika aku memutar kepala untuk melihat adikku, di ikuti oleh tangan sebelah kananku membuka tirai.


"Kakakmu sudah mengantuk. Lagi pula dia 'kan baru sembuh jadi, selera makannya belum ada," balas ayahku dengan nada suara seakan menutupi yang dia ketahui tentang aku dari adikku.


Ayahku terus cemas ketika mengetahui kalau aku duduk bersama dengan mereka. Aku yang tidak sanggup mendengar suara -suara keributan membuat dia menarik napas dalam dan membuangnya dengan kasar.


"Ana, kalau Ayah sudah menyuapi makan. Makanan itu wajib harus habis," kata ayahku dengan tegas.


"Tapi Ayah. Aku sudah mengantuk," keluh adikku lagi.


Aku yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Berjalan mendekati mainan yang belum pernah sama sekali aku mainkan.


"Ayah, aku sudah kenyang," kata adikku.


Aku masih mendengar rengekan adikku yang mengeluh sudah kenyang dari dalam kamar. Sementara suara ibu sambungku tidak lagi terdengar sampai ke sini. Dia yang kesal sambil memegang gelas untuk minumnya tadi. Kini telah membisu membuang kekesalannya.


Mainan Anak Bp pun aku keluarkan dari dalam plastik dan membawanya naik ke atas tempat tidur.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2