Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Tubuhku mendadak aneh


__ADS_3

"Kak, jangan nasihati aku. Aku lebih tau mengurus bonekaku. Aku 'kan Ibunya," ujar adikku dengan gurat wajah yang menggelitik hati.


"Apa? Hahaha !" Aku sontak terkejut mendengarnya dan bercampur tawa. "Kau ada-ada saja, Dik," sambungku dengan nada suara parau. Melihat lututku yang nyeri.


Tungkai kaki yang tidak bisa aku tekuk dengan leluasa menimbulkan pertanyaan besar pada diriku sendiri. Tiba -tiba kenapa aku merasakan tubuhku kembali mendadak panas dingin. Sepanjang aku bersama adikku duduk di ruang tamu. Aku hanya memperhatikan suhu tubuh yang mendadak aneh. Udara pagi yang biasanya menenangkan dan menyejukkan kini tiba-tiba membautku ingin mengambil selimut dan menggulung tubu ini secepat mungkin.


"Ana, anginnya dingin, ya?" tanyaku pada adikku yang sedang menyisir rambut bonekanya.


"Engga Kak," jawab adikku dengan santai. Terus menerus merapikan boneka kesayangannya itu. "Kenapa Kakak bilang kayak gitu?" tanyanya dengan gurat wajah penuh tanda tanya. Melirikku yang duduk dengan sebelah kaki menjulur lurus ke depan.


"Tidak ada apa-apa," jawabku langsung menutupi sedikit kegugupanku.


"Mmm." Adikku langsung menggeleng dan memalingkan kembali tatapannya melihat boneka yang dia rapikan.


Aku refleks sedikit gugup memalingkan pandangan darinya juga dan melihat ke arah pintu yang tertutup rapat. Aku duduk dengan sebelah kaki terlipat dan sebelahnya lagi terbujur kaku lurus ke depan dan merasa tidak enak badan.


"Kak, aku lapar. Sekarang kita makan bair nanti gak sakit," kata adikku dengan lirikan matanya yang mengajak aku untuk makan bersamanya.


"Ana, kau duluan saja. Kakak gak lapar," ucapku dengan anda suara getir.


Adikku yang tiga langkah maju ke depan tiba- tiba memutar sebelah kakinya kembali ke arah belakang tepat mengarah ke hadapanku setelah adikku mendengar perubahan dari suaraku.


"Kak, Kakak gak sakit 'kan?" tanyanya dengan nada suara pelan bercampur gurat wajah curiga.


Tubuhku yang kembali melemah dan mendadak keringat dingin serta menggigil seketika gemetar setelah mendengar pertanyaan adikku yang seperti detektif itu.


"Gak," jawabku singkat. Tanpa menoleh ke arahnya sedikit pun.


"Mmm." balas adikku dengan nada suara yang terdengar bercampur kecurigaan itu. Menyeret kembali kakinya untuk mengambil nasi untuk mengisi perutnya yang kosong. "Kalau Kakak mau makan bilang saja, Kak. Biar aku ambilkan, mumpung Ayah gak ada di rumah," kata adikku dengan nada suara datar. Menawarkan sedikit pertolongan untuk aku.


"Gak," jawabku juga dengan singkat. Perlahan aku kembali mengingat adikku yang dulu dan yang sekarang. Dia sudah banyak berubah, pikirku.


Aku dengan lekat menatap adikku yang mengambil nasi di dapur dengan santai. Dia sangat sulit di tebak sekarang dan semakin menguras pikiranku untuk mencari tahu kembali siapa dirinya.


Aku yang semakin menggigil menatap adikku terus menerus tanpa mempedulikan kondisi tubuh yang tiba-tiba berubah derastis.

__ADS_1


"Ana, kau makan pakai apa?" tanyaku pelan. Menatap adikku yang mengambil gelas dan mengisinya.


"Pakai nasi goreng dan telur dadar, Kak," jawab adikku. Memegang piring di tangan sebelah kanan dan gelas di sebelah kiri.


Aku kembali diam. Menatap sekeliling ruangan yang gelap akibat pintu di kunci dari luar.


"Kak, Kalau Kakak mau makan. Makan sekarang sebelum nasinya basi," ucap adikku dengan nada suara yang manja.


"Tapi, Kakak gak lapar," ucapku kembali melihat adikku yang makan dengan lahap di dalam ruangan yang sedikit terlihat cahaya.


Dingin tubuh ini semakin menusuk ke tulang. Rasanya aku kembali mengidap penyakit malaria itu kembali. Aku semakin shock ketika itu terlintas di pikiranku. Jemariku pun semakin gemetar rasanya. Tungkai kaki yang sakit tidak lagi dapat aku rasakan akibat pikiran yang kacau.


Suara decakan adikku yang mengunyah nasi goreng itu pun terdengar dengan sedikit menggema di dalam ruangan yang tertutup rapat ini.


Kriuk ! Kriuk! Kriuk!


Suara perut pun berbunyi kelaparan. Namun, sayang aku tidak mampu untuk berdiri. Mukaku semakin pucat dan tungkai kaki semakin nyeri. Tubuh mungil ini pun kini tidak bisa lagi bersahabat.


"Ana, boleh Kakak minta nasimu sedikit," pintaku dengan mengiba.


Aku sekarang hanya bisa menenangkan diri ini sejenak agar aku bisa berdiri dengan tegak mengambil nasiku sendiri.


"Kakak membuat aku jadi lelah. Berjalan ke dapur dua kali," cetus adikku. Meneguk air minumnya.


"Nanti Kakak ngambil sendiri aja," kataku dengan nada suara lembut. Melirik adikku dan melirik ke arah tungkai kakiku juga.


Air mata sebenarnya ingin sekali jatuh. Hati begitu sedih melihat diriku yang malang ini. Di saat tungkai kaki sedang sakit dan belum jua kunjung sembuh. Ini malah aku di dera oleh penyakit lagi. Di mana penyakit ini membuat semangat hidupku hilang dan membuat sekolahku jadi terbengkalai.


"Kalau Kakak mau makan. Makan sekarang Kak. Sebelum Ayah pulang," saran adikku. Meneguk air minumnya hingga habis. " Kalau Ayah pulang, bisa jadi kita berdua kena hukuman. Aku tidak mau di hukum lagi. Gak enak. Di rumah terus bersama Kakak," tolak adikku dengan berterus terang.


"Iya Ana. Kakak akan makan," sahutku. Perlahan bangun dari duduk dan meletakkan anak Bp yang sudah putus kepala dan badannya itu. Sebelum aku berdiri dengan tegak aku terlebih dahulu menaruh anka Bp yang putus itu di pinggiran dinding rumah.


"Kak," panggil adikku. "Kalau kaki Kakak masih sakit. Biar aku ambilkan nasinya," pinta adikku dengan lembut.


"Ana gak usah. Biar Kakak sendiri aja," balasku dengan nada suara rendah. Melihat adikku dengan sedikit ketakutan yang bersemayam di hati.

__ADS_1


"Aku serius, Kak," kata adikku dengan lugas.


Aku seketika ingin berubah pikiran setelah mendengar katanya. Namun, aku langsung menepisnya. "Gak usah Ana, biar Kakak saja," ucapku. Menolak penawaran dari adikku supaya aku bisa menyembunyikan tubuh yang sudah mulai dingin seperti dulu.


Adikku langsung mendadak memperhatikan sekujur tubuhku. Mulai atas hingga kaki dan begitu seterusnya sampai dia melekatkan pandangannya di wajahku tepat di kedua bola mataku.


"Kak, kenapa mata Kakak sedikit agak merah ?" tanya adikku yang selalu menyelidikiku. Sok detektif.


"Mata Kakak gatal," jawabku. Memutar badan seketika dari adikku. "Ana, semoga saja Ayah dan Ibu belum pulang," harapku membelakanginya.


"Makanya Kakak makannya cepat!" saran adikku.


"Iya," jawabku singkat.


Aku pun perlahan berjalan menyeret tungkai kaki ini dengan pelan. Tungkai kaki yang nyeri kini berjuang kembali melawan penyakit malaria yang kembali kambuh.


Klenteng !


Suara sendok dan piring pun terdengar nyaring memasuki gendang telinga. Aku selekas mungkin mengambil nasi dan minum sebelum Ayah dan ibu sambungku datang.


"Kak makannya di sini saja," teriak adikku. Memanggilku dari dapur.


"Kakak makan di sini saja," balasku. Menjatuhkan tubuh mungil ini sambil menahan tungkai kaki yang terluka. Duduk bersandar dengan sebelah kaki terbujur lurus ke depan dan sebelahnya lagi aku lipat seperti duduk bersila. Bersandar di sudut dinding dapur. Sambil menikmati sarapan pagi yang lezat dan mengunyahnya dengan sedikit terburu-buru.


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Aku pun tersedak dan batuk dan langsung meneguk air minum yang tersedia tepat di sampingku.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2