
Muka adikku seketika tertekuk. "Kakak betul," balas adikku melihat ayahku. "Ayah udah memarahiku, Kak," kata adikku lagi mengadu.
Sangat sedih terdengar ketika suara adikku begitu lirih. Mungkin selama ini dia sangat berharap lagi kalau ayahku tidak akan marahinya.
"Kak, pasti si Dottie-ku gak dikasih, Ayah?!" kata adikku pelan, melayangkan pandangan keluar pintu dapur.
"Pasti dikasih. Mana mungkin gak?! Itukan mainan jelek," ledekku garing, melihat rambut adikku yang membelakangiku.
Dia langsung spontan memutar badan. "Kakak bilang mainanku jelek," ucap adikku, menatap lirih dengan geram.
Glek!
Wajah yang tadi senang mengatakannya langsung mendadak diam membisu. Melirik adikku yang berubah masam menatapku.
"Kak, Kakak selalu mengejek bonekaku kayak gitu!"
Rasanya seketika aku malu bercampur aduk. Kedua sorot mata perlahan aku tatap melihat tumit kaki ayahku yang masih berdiri memotong bahan-bahan masakan.
"Kak, itu mainan kesayangnku dan yang membelinya cuma Ayah," kata adikku dengan lirih, melihat wajahku yang jahil.
"Liyan, Ana, itu mainan akan terus Ayah simpan sampai kalian bisa membuangnya," kata ayahku dari depan. Berdiri sambil melihat langsung masakannya.
Deg!
Adikku langsung berdiri menghampiri ayahku dan menarik bajunya.
"Ayah, kenapa mainanku di tahan?" kata adikku, melihat baju ayahku yang ditariknya.
"Itu karena kalian sering bertengkar," jawab ayahku sambil memasak makanan.
Kepala adikku langsung berputar melihat ke arahku. "Tapi Ayah... ." Adikku langsung diam. "Kakak gak ditahan ," ucapnya.
"Apanya Nak?" tanya ayahku langsung menghentikan sebentar gorengannya, terkejut dan menoleh ke arahku.
Tatapan adikku begitu lekat melihat ke arahku yang sudah bercampur panik. "Kakak emang Anak baik ya, Yah?" tanya adikku, menatap ayahku dengan lembut.
"Kalian itu dua-duanya Anak baik, kok," sambung ayahku, memutar badan kembali melihat gorengan yang di dalam kuali.
"Kalau kami Anak baik, Yah. Terus kenapa bonekaku aja yang di tahan Ayah?" tanya adikku ingin tahu. Berjalan kesamping sambil berjinjit ingin melihat yang di goreng di dalam kuali.
__ADS_1
"Ana, menjauh dari Ayah, nanti kau kena percikannya, Nak! Ini panas," lanjut ayahku, berjalan selangkah menarik lengan adikku mundur ke belakang. "Dan duduk di sini! Dekat Kakakmu!" suruh ayahku, menunjuk bangkunya. "Jangan ganggu Ayah. Bair Ayah cepat siap, Nak!" ujarnya, memutar badan memasak kembali.
Wajah imut adikku langsung cemberut duduk di sampingku. Melihat punggung ayahku yang berdiri melanjutkan masakannya.
"Kak," panggil adikku pelan menatapku dengan sendu. Duduk di sampingku.
"Iya," sahutku, menoleh ke arah adikku yang bersedih duduk bersebalahan dengan ku.
"Kalau Ayah lagi sibuk jangan ganggu Ayah! Ayah nanti bingung mau mengerjakan yang mana," tandas ayahku, memutar kepala melirik ke belakang.
Kami berdua langsung diam melihat nanar. Bertemu tatap sambil menorehkan wajah manyun melihat adikku yang terduduk dan melihat aku yang terduduk juga.
"Ayah tidak suka lama-lama di sini! Jadi, pergilah ke sana! Biar kalian tidak membuat Ayah lama," tutur ayahku berterus terang. Berjalan sambil menaruh masakannya di dalam piring dan mangkuk.
"Kakak, Ayah dari tadi merepet terus," kata adikku pelan merapatkan kedua bibirnya di telingaku.
Rasa takutku pun seketika keluar mendengar omongan adikku yang sangat mengagetkan. "Ssttt! Ana, jangan bilang begitu," kataku menempelkan telunjuk di bibirku yang pucat. Di ikuti oleh bola mata melihat ke arah ayahku dengan isyarat sambil berjaga. "Nanti Ayah mendengarnya dan kita dihukum lagi," paparku pelan, menatap punggung ayahku dengan diam-diam sambil melihat ayahku yang berjalan ke sana ke mari membawa mangkuk yang berisi maupun yang kosong.
Wajahnya langsung memelas pasrah. Pintu dapur yang terbuka pun ditutup oleh ayahku. "Jangan biasakan selalu bertengkar. Itu tidak baik, Nak! Nanti kalau kalian selalu seperti itu. Kalian akan terbiasa," papar ayahku, menatap ke arah kami berdua. "Jadi, mau sampai kapan lagi kalian kayak gini?" tanyanya. "Tiada hari terus bertengkar. Ada Ayah pun kalian berani. Apalagi kalau gak ada Ayah. Pasti Ayah rasa kalian bertengkar?!" lanjutnya.
Kami yang sedang duduk diam dan mendengarkan semuanya sampai selesai.
Adikku lama-lama menyeret bangkunya yang duduk berdekatan dengan ku lebih rapat lagi.
Sebentar melihatnya aku langsung melihat ayahku yang masih bersibuk dengan makan malam.
"Semuanya sudah siap," kata ayahku dengan senang. "Semua makanan kesukaan kalian telah Ayah masak," lanjutnya, menggantung lampu.
Wajah sendu adikku langsung merona bahagia ketika mendengarnya. "Kak, sudah siap," katanya, menggeser posisi tubuhnya miring.
"Berarti kita udah bisa makan, Dik," balasku dengan sumringah.
"Iya, sekarang kalian sudah bisa makan," sambung ayahku dari depan.
Sontak aku dan adikku saling sumringah bertemu tatap. "Iya Ayah," jawabku langsung senang, melihat ke arah pintu tengah.
"Iya," balas ayahku. Berjalan menghampiri pintu. "Sekarang ajak Adikmu makan!" serunya.
"Iya Ayah," balasku, bangun dan menarik lengan adikku yang sudah menunggu lama.
__ADS_1
Akhirnya, kami berdua pun menghampiri meja. "Waaah, Eem, lezat!" kata adikku sambil mengambil telur dadar dan menciumnya.
"Kakak mau yang mana?" tanya adikku belagu seakan makanan yang di masak oleh ayahku begitu banyak.
Aku langsung menatap adikku dengan jengah. "Ana, masakan Ayah cuma itu saja!" kataku, melihat piring yang dipegang adikku dan mengambil piring yang sudah tersedia.
"Liyan, Ana! Jangan bertengkar! Karena itu banyak makanan, Nak! kata ayahku memberi peringatan.
"Iya Ayah," sahutku langsung, melihat ayahku yang masuk kamar.
Telur dadar masih saja di cium oleh adikku. "Mm, yummy," lanjutnya, meletakkan telur dadar dan langsung mengambil piring.
"Liyan, Ibumu tadi pergi sama siapa?" tanya ayahku kembali dari dalam kamar.
Sendok nasi langsung terhenti. Nasi yang ingin kuambil pun langsung kuurungkan dan menjawab pertanyaan ayahku. Sendiri Ayah," jawabku.
"Ibumu tidak bilang pergi dengan siapa ?" tanya ayahku kembali kurang percaya.
"Engga Ayah," jawabku langsung mengambil nasi.
Suara ayahku tidak lagi terdengar dari kamar. Kini aku dan adikku sedang sibuk mengisi piring.
"Kak, minumku mana?" tanya adikku, memegang piring.
"Gelas di dapur," jawabku, menunjuk ke arah pintu tengah.
"Kenapa Ayah lupa?" tanya adikku. Berjalan ke dapur mengambil gelas . "Tapi, air minumnya di mana?" tanya adikku bingung.
"Air minumnya ini, Dik! Di atas meja," sahutku penuh penekanan menunjuk teko di atas meja.
Meletakkan nasi di atas meja dan dan berjalan ke dapur mengambil gelas. "Ayah kok bisa lupa, Kak," kata adikku heran, mengambil bangku dan memanjat mengambil gelas. "Ana, jatuh nanti Ayah marah! Ptfff,".kataku menahan tawa.
"Kak, kalau aku jatuh Ayah tidak akan marah. Karena aku 'kan kesayangan Ayah.
Mendengar ocehan adikku telingaku rasanya ingi tertutup rapat. Begitu juga denganku yang langsung mendadak terkejut.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...