
"Kau 'kan suka juga berteman dengannya," timpal Tania yang membuat Ecy merasa tidak enak hati.
Dari jarak yang cukup jauh aku mendengar ocehan Tania dengan jelas meskipun, pelan. Gubrisan tidak terdengar sedikit pun keluar dari mulut Ecy untuk membela dirinya sendiri, bahwa apa yang di nilai oleh Tania itu adalah salah.
Wajah pucatku yang polos memutar ke belakang, seketika aku melihat gurat wajah mereka berdua setelah mengatakan yang ada hubungannya dengan diriku sambil berjalan perlahan aku yang membisu seakan merenungi ucapan Tania barusan.
Betapa mengena ke dalam hatiku. Perkataan Tania yang menusuk relung jiwaku dan menatap diriku yang malang ini dari bayangan yang berjalan terkena paparan sinar matahari.
"Liyan, kau tidak mesti mengikuti perkataan Tania yang bodoh itu," kata Septiani yang tiba-tiba ada di sampingku.
Dengan refleks aku melihatnya dengan terharu aku menatapnya yang telah memberikan perhatian padaku. "Kamu tenang saja Septiani, sesuatu tidak akan terjadi padaku." Aku berusaha meyakinkan kalau aku baik-baik saja.
Tatapannya yang berempati padaku semakin dalam terlihat. "Aku takut kalau mereka melakukan sesuatu yang buruk padamu. Mereka itu licik dan jahat, Liyan. Apalagi Tania, dia begitu membencimu. Aku tidak tahu kamu itu salah apa padanya? Tapi yang aku lihat keadaanmu hari ini benar-benar tidak baik. Kami selaku temanmu yang sangat menyayangimu berusaha untuk menjagamu dan membelamu dari mereka. Jangan pernah termakan hasutan dari mereka yang akhirnya akan menyengsarakanmu."
"Percayalah, aku tidak apa-apa temanku." Menatap Septiani dengan uraian senyum yang manis. Suara lembutku begitu menenangkan jiwanya itu yang terlihat dari wajahnya meskipun, aku tidak tahu itu benar atau tidak? Tapi yang jelas aku sedikit tenang karena melihat kekhawatirannya telah menghilang.
"Kalau kau yakin dengan kondisimu lakukan saja Liyan, tunggu apa lagi," cetus Solihin yang berdiri bagaikan hantu yang tiba-tiba saja bersuara, entah sejak kapan dia mendengar perbincangan kami.
"Kau mengagetkan saja." Septiani menghapus dadanya menenangkan hatinya yang terkejut.
"Hahaha! Apa kau tidak melihatku. Serius sekali kalian. Emang kalian lagi membahas apa sih? Boleh aku tahu engga?!" ledek Solihin menggoda Septiani.
"Engga! Kami lagi membahas yang kami tidak mengerti," kata Septiani dengan kesal sambil mendengus.
"Ya, sudah! Lanjutkan saja apapun yang ingin kalian bahas. Aku tidak mau tahu. Tapi awas saja, kalau sampai kalian terjebak tidak akan ada yang menolong kalian, apalagi Fikri." Solihin pun beranjak meninggalkan kami.
Ucapan yang disampaikan Solihin rasanya bagaikan petir yang menyambar. Aku tidak begitu kuasa membuka mulut untuk mengatakan sepatah kata pun.
"Solihin, kau banyak tahu!" teriak Septiani kesal. "Asal kau tahu saja! Fikri tidak akan membiarkan kami terjebak masalah."
"Kau tahu dari mana?" tanya Ecy. "Kau dan Fikri 'kan sering bertengkar."
"Kalian itu seperti kucing dan tikus tidak pernah akur... ya, walaupun kalian akur itu hanya ketika kalian dihukum beramai-ramai," ejek Tania menjijikkan.
__ADS_1
Hahaha ! Tawa mereka berdua pun begitu senang.
"Jangan buat aku marah, ya! Kau belum tahu aku marah bagaimana,ha?" pekik Septiani sedikit meninggi sambil melirik ke arah pak Duan yang berdiri jauh dari kami.
"Septiani, sudah! Berhenti!" Aku menarik Septiani yang ingin melayangkan tangannya ke arah Tania. "Jangan lakukan itu, nanti kita dihukum, aku takut!" kataku dengan nada suara lirih yang terlihat gemetar.
"Jangan berani-berani mencari masalah denganku ya, Tania! Aku tidak akan takut denganmu!" kata Septiani menantang.
"Oh,ya! Kau tidak takut denganku! Baiklah, aku akan beritahu Bu Dona, kalau kau itu mau memukulku," kata Tania dengan nada suara kesal.
"Tania, jangan bilangkan pada Bu Dona!" rengek Ecy yang ketakutan. "Aku tidak mau dihukum, aku takut!" Meremas jemarinya sambil melihat kakinya yang gemetar.
"Liyan, Septiani maafkan kami, ya." Ecy memohon dengan suara yang pelan. "Aku tidak akan mengganggumu lagi. Mulai sekarang aku takut denganmu."
"Ecy, apa yang kau katakan?" tanya Tania dengan heran. " Kenapa kau berkata seperti itu? Kau tahu ' kan aku tidak menyukainya?!" Wajah pias Tania yang memerah dengan tajam menatap Ecy.
Aku hanya terdiam membisu melihat pertengkaran mereka. Sedikit ketakutan menyelimuti relung hatiku yang dalam.
"Tapi, aku sudah mengatakan padanya kalau aku akan ikut," sambungku dengan penyesalan.
"Kau tidak perlu terbebani. Lagi pula kondisimu tidak baik, kau masih sakit 'kan?" Wajah polos Septiani terlihat bersedih menatapku.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa Septiani. Sudah terlalu lama aku tidak ikut olahraga. Mungkin mereka cemburu melihatku, aku di istimewakan tidak boleh ikut berolahraga. Rasanya, aku dan mereka begitu lain dibuat oleh semua guru."
Kedua bola mataku menatap sendu bola mata Septiani yang menaruh perhatian. Hari ini aku begitu bertanya didalam hati melihat diri Septiani yang tidak seperti biasanya. Sedikit aku merasa ada keganjilan yang menyelimuti benakku.
"Itu hanya pemikiranmu saja karena kau merasa tidak enak hati terhadap kami." ungkap Septiani.
Lagi-lagi aku diam. Mulutku yang terasa keluh ini tidak bisa berucap. Kebisuan kembali menyerangku tanpa permisi mereka memasuki relung hatiku yang polos hingga aku merasa anak yang jahat. Aku yang terbelenggu oleh sakitku begitu terlihat lemah dan tidak berguna.
"Anak-anak! Segera kemari, kita akan memulai olahraga." Pak Duan berteriak.
"Baik Pak," jawab kami sambil berjalan menuju pak Duan.
__ADS_1
"Apa kita akan segera memulai olahraganya?" tanyaku di telinga Septiani melihat ke depan sambil berjalan.
"Aku rasa iya karena pak Duan 'kan guru olahraga kita, Liyan," jawab Septiani tersimpul manis.
Langkahku pun terdengar menghampiri pak Duan begitu juga dengan murid yang lain. Selain kaki mereka yang terdengar menghentak, suara tawa mereka pun terdengar dengan riang.
"Urungkan saja niatmu itu. Aku takut kalau kau nanti jatuh pingsan, Liyan!" Terdengar suara dari belakangku yang menegur dengan lembut.
Aku hanya diam membisu setelah mendengarnya. Kedua kakiku masih saja melangkah agar segera tiba di dekat pak Duan.
"Kau perhatikan keadaanmu, kau tidak baik- baik saja hari ini. Aku takut, kalau kau nanti jatuh sakit lagi dan kau tidak akan bisa masuk sekolah, sementara sebentar lagi kita akan ujian." Suara itu masih saja terdengar. Dia begitu antusias mengingatkanku. "Kau tahu kalau kau sakit dan libur. Mereka berdua pasti akan tertawa puas, apalagi Tania, dia akan semakin senang dan mengolok-olokmu, kau mau?!" Rasanya dia tidak menyerah sedikit pun.
"Tidak perlu mencemaskan aku, kalau aku tidak sanggup aku akan keluar dari barisan olahraga," jawabku dengan datar.
"Kau ini keras kepala. Apa kau pikir pak Duan akan mengizinkanmu keluar dari barisan setelah kau bergabung, ha?" Suaranya semakin kesal dan sedikit meninggi.
Setelah dia mendengus, aku memutar kepala ke belakang tanpa terkejut sedikit pun. "Fikri, kau tidak perlu mencemaskanku. Lagi pula 'kan, kita belum tahu olahraga apa yang akan kita lakukan."
"Sebelum semuanya terlambat kau harus keluar dari barisan ini. Jangan sampai setengah perjalanan kau ingin keluar. Kau tahu 'kan Pak Duan seperti apa?" Fikri terus menjelaskan tiada henti.
"Eem!" Aku hanya menunduk sambil menganggukkan kepalaku pelan. "Tapi...," Aku diam sejenak. "... tidak bisa berbuat apa-apa," menatap lurus ke bawah dengan nanar. "Aku sudah terlalu lama tidak ikut pelajaran olahraga," Berjalan menapaki panasnya lapangan yang luas.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🤗🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
__ADS_1