Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Hukuman


__ADS_3

"Benar apanya?" bentak Solihin dengan kesal bertanya.


"Yang kubilang itu lah," pekik Tania semakin kesal. Melihat Solihin dengan ketus.


"Solihin, kau yang suka berbohong," tandas Ecy. "Kau bilang pula Tania," sambung Ecy membela Tania.


"Ecy, jangan sembarangan menuduh, ya!" sungut Solihin dengan amarah. Melihat Ecy dengan wajah yang masam.


Bisikkan suara mereka yang bertengkar di belakang memang terdengar pelan. Bukan berarti suara itu tidak sampai ke depan kelas dan terdengar oleh telingaku dan Bu Rosita. Suara mereka yang bertengkar itu pun terdengar memenuhi ruangan. Sekali pun bercampur dengan ruangan kelas yang tertutup.


Suara itu seakan mengaum bersama udara kosong yang bergerak. Untaian bunyi angin yang berembus terdengar bercampur dengan suara mereka, kini melewati pandangan yang membuat kedua bola mata ini memutar ke arah mereka.


Mereka berdua terus saja bersitegang saling tampik satu sama lain. Tania dan Ecy yang terlihat satu paket semakin menyerang Solihin. Sementara Solihin yang bersikap diam, santai dan rileks sama sekali tidak menghiraukan dan tidak lagi meladeni omong kosong dari Tania dan Ecy.


Bu Rosita yang menjelaskan di depan pun langsung menghentikannya dan refleks memutar badan. Berdiri tegak lurus sambil memegang kapur tulis dan melihat Tania dan Ecy serta Solihin yang masih terus berdebat.


Bu Rosita yang terlihat olehku semakin tajam menatap mereka yang tanpa mereka sadari sama sekali. Mereka terus saja ribut seolah ingin menguji nyali. Siapa tim bertahan dan memenangkan perdebatan ini.


Mereka berdua terlihat asyik dengan kegilaan mereka sendiri. Sementara Solihin pun lagi asyik juga dengan kegilaannya sendiri yaitu, menertawai Tania dan Ecy seolah Solihin menganggap Tania dan Ecy adalah orang gila.


Aku yang melihatnya terkejut dan terperangah bercampur geli. Melihat mereka yang saling ejek mengejek sambil melempar pandangan sesekali melihat ke arah Bu Rosita karena aku ingin tahu reaksi Bu Rosita terhadap mereka yang bertengkar. Bu Rosita begitu terdiam seakan dia tidak habis pikir melihat ketiga muridnya yang bertengkar dengan begitu ngotot dari masing-masing mereka.


"Tania, Ecy!" teriak Bu Rosita. "...Solihin... !" Bu Rosita pun menatap mereka dengan tajam dan mengigit kedua gerahamnya dengan kuat.


"Iya Bu," jawab Solihin terdengar dengan pelan bercampur panik.


"Berdiri kalian di depan bertiga... !" bentak Bu Rosita. Mendelik.


Sontak Solihin, Tania dan Ecy sangat terkejut. Mereka bertiga pun saling melempar pandang satu sama lain dengan gurat wajah seakan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Aku yang melihat mereka bertiga langsung shock. Aku seakan tidak menyangka kalau Bu Rosita bisa segalak itu.


Glek!


Aku langsung menelan ludah ke panikan dan menatap ke atas mejaku langsung dan membelalak. Suara Bu Rosita semakin terdengar meninggi memenuhi ruangan kelas ini. "...cepat!" teriak Bu Rosita dengan nada suara yang keras. Mendelik.


Wajah Bu Rosita pun kini terlihat memerah, seperti api yang ingin membakar kelas ini. Dia yang tadi semangat empat lima ingin menjelaskan pelajaran kepada kami. Kini langsung kecewa dan menghentikan pelajarannya seketika.


"Ayo Tania, Ecy, Solihin. Maju!" bentak Bu Rosita semakin menyeruak.


Tania, Ecy dan Solihin yang terkejut pun langsung bangun dari duduknya berjalan ke depan kelas. Tatapanku yang mengikuti langkah mereka bertiga terlihat melotot tanpa kedipan sedikit pun.


Widia dan Fikri serta Rasyd langsung melongo melihat dan mendengar suara yang tiba- tiba meninggi. Sontak mereka bertiga pun kaget.


"Kasihan Solihin," ucap Widia dengan pelan dan bengong menatapnya.


Aku langsung memutar kepala melihat Widia ketika mendengar yang di katakannya. Aku juga refleks ikut merasakan kasihan. Solihin yang merasa tidak bersalah duluan terlihat merasa kesal dan tidak terima dengan yang dihadapinya hari ini. Wajahnya yang selama ini terlihat dengan penuh canda tawa kini terlihat masam dan kusut. Dia sesekali melemparkan pandangan kesal yang penuh dengan kebencian dan dendam yang mendalam ke udara kosong.


"Berdiri di situ!" suruh Bu Rosita dengan keras dan meninggi. Berdiri dan memutar badan melihat ke arah Solihin, Tania dan Ecy.


Tania dan Ecy yang berdiri di depan terlihat biasa saja. Mereka berdua seakan tidak merasa melakukan kesalahan. Terlihat dari gurat wajah mereka yang tenang, bahkan mereka berdua sesekali terlihat berbisik dan tertawa kecil.


Bu Rosita yang telah menyuruh mereka berdiri sekarang duduk di bangkunya. "Kalian tidak melihat di depan ada guru, ha?" kata Bu Rosita langsung dengan nada suara keras bertanya.


Mereka bertiga hanya diam saja. Sedikit pun tidak ada yang mengeluarkan suara untuk membela diri mereka sendiri. Apalagi Solihin, dia hanya menunduk sambil memangku penyesalan. Wajahnya yang sendu hanya melihat lantai yang diinjaknya.


Sementara aku sangat kasihan melihatnya karena Tania. Dia harus mengalami hal buruk hari ini. Sambungan dari pelajaran yang semalam tertunda, kini tertunda kembali.


Bu Rosita pun terlihat semakin memanas dan sangat kesal sebab Tania, Ecy dan Solihin tidak menghargainya. Dia pun mengurungkan niatnya untuk menjelaskan pelajaran hari ini. Bu Rosita malah menyuruh kami untuk mengerjakan latihan yang belum kami ketahui dengan sepenuhnya.


"Sekarang, buka buku kalian !" perintah Bu Rosita dengan nada suara yang di penuhi kekesalan. Bu Rosita pun lebih dulu membuka buku dan melihat halaman. "...ingat, jangan ada yang ribut!" Bu Rosita memberi peringatan kepada kami. Peringatan itu adalah peringatan yang keras bagi kami untuk pertama kalinya.


"Iya Bu," jawab kami serempak.


"Iya Bu," jawabku juga dengan pelan, sambil melihat Solihin yang kecewa. Aku melihat Solihin masih saja menunduk menarik bibirnya dengan cemberut dan wajah yang masam.


"Kalian bertiga. Jangan terlalu rapat," kata Bu Rosita. "...menjauh...! Cepat ke sana!" bentak Bu Rosita. "Solihin geser ke sana, cepat !!!" lanjut Bu Rosita menunjuk sudut dinding yang berdekatan dengan lemari dengan nada suara yang kurang bersahabat. "Tania!" panggil Bu Rosita dengan tegas. ...kamu ke sana!" Tunjuk Bu Rosita tepatnya ke arah sudut di dekat pintu. "...dan kamu Ecy! Berdiri di tengah itu!" pekik Bu Rosita semakin keras. Menunjuk papan tulis tepat di bagian tengah. Bu Rosita terus menatap sambil menahan amarahnya. "Naikkan kaki kalian satu dan pegangan kedua telinga kalian!" suruh Bu Rosita dengan tegas dan penuh penekanan.


Aku yang duduk di bangku kemudian menaikkan pandangan melihat mereka bertiga. Solihin yang sudah lelah semakin terlihat pias karena mendapat hukuman dengan terpaksa dia pun menaikkan kaki dan menarik telinganya.


Sementara Tania dan Ecy juga tidak senang dengan hukuman yang di berikan oleh bu Rosita. Mereka juga mau tidak mau harus menaikkan sebelah kaki dan menarik kedua telinganya, seperti mana yang di lakukan oleh Solihin.


Sebenarnya Bu Rosita juga tidak sampai hati melakukan itu. Terlihat dari gurat wajahnya yang mendadak di tekuk. Akan tetapi demi ketertiban di dalam ruang kelas, dalam belajar mengajar dia harus melakukan itu. Aku yang memutar kedua bola mata melihatnya sambil memegang pensil sangat mengetahui, apa yang dirasakan oleh Bu Rosita.


Perlahan aku mengetahui isi hati Bu Rosita terlihat dari ekspresi wajahnya dengan jelas. Setelah itu aku kembali lagi memutar kepala melihat Widia yang merasa kasihan juga terhadap Solihin. Widia rasanya ingin sekali menolong Solihin. Akan tetapi, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya bisa bercerita kepadaku menuangkan isi hatinya ketika melihat Solihin.


"Liyan, kasihan Solihin," kata Widia dengan pelan. Melindungi dirinya dari tatapan Bu Rosita. "...dia berdiri sendiri," sambung Widia dengan nada suara lirih. Menulis.


Aku yang duduk di sampingnya. "Iya," jawabku dengan singkat. Melirik Widia yang sedang menulis.


"Kalau Fikri yang berdiri, pasti kita sudah ikut," tandas Widia. Melirik Fikri yang duduk tepat di belakang bangkunya.

__ADS_1


"Ptff!" Aku langsung terkejut menahan tawa. "Hihihi !" Aku pun tertawa geli di dalam hati mengingat kejadian yang telah lalu.


Fikri yang suka berbuat jahil kepada kami menemani dia berdiri di depan tiang bendera karena dia adalah ketua kelas . "Hahaha !" Aku pun langsung menarik bibir tersimpul manis dan tertawa di dalam hati. Melirik Fiktif yang menulis sambil gelisah karena sahabatnya Solihin berdiri di depan kelas seorang diri.


"Rasyd, kasihan sekali Solihin," ucap Fikri membuka mulutnya. Menulis dan melihat ke arah Solihin.


"Kita tidak bisa berbuat apa-apa," ungkap Rasyd. Melihat Fikri dan Solihin.


Fikri pun semakin gelisah setelah mendengar perkataan Rasyd. Dia pun kembali menulis dengan hati yang tidak tenang. Membolak balik buku dengan tujuan yang tidak jelas.


Aku yang melihat dari ekor mataku pun ikut diam bersama perasaan yang bercampur aduk. Sementara Rasyd terlihat buru-buru menulis seakan dia ingin mencari jalan keluar untuk menolong Solihin.


Bersama wajah yang murung bercampur hati yang gelisah aku memutar kepala kembali melihat lurus ke depan dan melihat buku yang kutulis. Persahabatan kami begitu kuat sampai kami begitu sedih melihat Solihin berdiri. Aku tidak menyangka kalau kami sampai, seperti ini merasakan kesedihan atas hukuman yang diterima oleh Solihin.


Fikri yang selaku 9ketua kelas dia pasti akan mencari cara untuk menyelamatkan Solihin dari hukuman Bu Rosita. Begitu juga dengan Rasyd yang selaku wakil ketua kelas. Dia juga pasti akan membantu Solihin.


Jam mata pelajaran yang masih panjang ini tidak boleh membuat Solihin berdiri sampai akhir. Aku yang sebangku dengan Widia berulang kali melirik ke belakang tepat mengarah ke arah Fikri dan Rasyd dan berkali- kali pula aku serta Widia memutar kepala melihat ke depan tepatnya ke arah Solihin.


Kami berdua yang bertemu pandang pun tidak ingin melihat Solihin berdiri seorang diri. Widia yang terlihat seakan mengingat sesuatu berkata padaku. "Liyan, coba kalau Fikri yang berdiri, pasti dia akan mengajak kita semua," sindir Widia dengan sedikit terdengar oleh Fikri. Widia mengatakan untuk yang kedua kalinya.


"Heh! Jangan sembarangan bicara, ya!" timpal Fikri. Menolak bangku Widia ke depan.


Sontak wajah Widia ingin tersungkur ke atas meja. Aku lalu. "Fikri! Sstttt !" Aku menempelkan telunjuk ke bibirku. Menatap Fikri dengan kesal.


"Fikri, sudah...! Diam!" tegur Rasyd. Menatap Fikri.


"Widia jang... ." Aku langsung menutup bibirku dengan rapat.


"Anak-anak, sudah siap?" tanya Bu Rosita dengan hati yang masih kesal. Memutar kepala kembali melihat Solihin, Tania dan Ecy.


"Sebentar lagi, Bu," jawab kami serempak.


"Bu, tinggal tiga soal lagi," jawab Septiani yang dari tadi bergeming.


Refleks aku dan Widia bertemu pandang ketika mendengar suara Septiani. Kami seakan terlihat bengong. "Liyan, dia tinggal tiga soal lagi?" tanya Widia dengan terkejut. Melebarkan kedua bola mata melihatku.


"Mungkin Septiani tahu jawabannya," jawabku langsung. Melihat tugas yang kutulis dengan lirih. Diam dan tidak lagi menoleh ke arah mana pun.


"Liyan, kau kenapa?" tanya Widia terheran. "Kau sakit lagi ,ya?" tanyanya. Mendekatkan wajahnya ke wajahku.


"Tidak. Aku sehat, kok," jawabku.


"Aku hanya takut saja," jawabku dengan nada suara getir.


"Takut?" Widia bertanya dengan penuh keheranan. "Takut kenapa ?" tanyanya lagi.


"Takut kalau matematikaku dapat nilai, nol," jawabku dengan sedikit rasa malu. Sendu.


"Apa? Ptff." Fikri langsung terkejut dan menahan tawa. "Liyan, kau tidak pandai matematika?" tanya Fikri dari belakang.


Aku hanya memberikan anggukan kepala menjawabnya. Widia yang lebih dulu mengetahuinya tidak begitu panik setelah mendengarnya. "Fikri, Liyan bukan berarti bodoh. Dia tahu ,kok. Tapi, dia tidak pernah mendapat nilai seratus," ungkap Widia membelaku. Melirik Fikri dari samping.


"Ooh! Aku pikir, Liyan sama sekali tidak tahu," sahut Rasyd memotongnya langsung. "Makanya aku heran juga. Kenapa Liyan bisa naik kelas," canda Rasyd dengan garing. "Ya, 'kan Liyan?" ledek Rasyd tertawa garing.


"Rasyd, jangan buat Liyan nangis! Nanti dia sakit lagi. Ayahnya, pasti akan memarahimu, hihihi." sambung Fikri bercanda meledek aku kembali. Tertawa geli.


"Hahaha!" Widia tertawa dengan bahagia. "Si Liyan, kalau sudah sakit, pasti dia tidak di kasih lagi bermain," imbuh Widia. Melirik dan menggodaku.


"Tidak. Ayahku tidak akan memarahiku, kok," selaku. Menutupinya agar aku tidak ketahuan kalau sebenarnya yang dibilang oleh Widia adalah benar. Ayahku tidak akan mengizinkan aku lagi untuk bermain. Sekali pun aku sudah sembuh dan tidak sakit lagi.


"Yang benar Liyan?" tanya Rasyd semakin penasaran.


"Iya benar. Ayahku tidak akan memarahiku, kok," jawabku menegaskan. Memutar sedikit kepala. Melirik Rasyd.


Sebenarnya, apa yang di katakan Fikri dan Widia itu adalah benar. Aku pasti akan depresi jika sampai itu akan terjadi lagi padaku. Aku pasti akan lebih parah lagi mengahadapi dari yang dihadapi oleh Solihin.


"Kalian mengejekku, ya?" tanyaku dengan wajah cemberut menggemaskan. Memutar bola mata melihat kembali buku latihanku.


Pelajaran matematika yang rumit dan membuat napasku sesak kini membelalak dengan lebar menatap mata. Uring-uringan pun terasa menyelimuti diri ini hingga aku begitu gugup dan gemetar mengambil buku yang terletak di atas meja. Aku lalu memutar badan ke samping kanan dan ke samping kiri dengan arah yang tidak menentu. Itulah yang kulakukan untuk membuang rasa takutku akibat dari pelajaran matematika.


Aku sedikit melongo ketika melihat anak-anak sudah bangun dari bangkunya dan berjalan membawa buku tulis yang telah siap untuk di serahkan pada Bu Rosita.


Widia yang kini sudah memegang buku dan bangun tiba-tiba. "Liyan, ayo kita kumpulkan sekarang!" ajak Widia menoleh ke arahku sambil melangkah.


Aku yang selalu takut ketika mendengar matematika, apalagi berhadapan dengan Bu Rosita. "Kau saja duluan." Aku mengayunkan tangan menolaknya dengan lembut menyuruh Widia lebih dulu pergi.


Widia yang bingung dan bercampur keheranan terpaksa menyeret kakinya dan melupakan ajakannya terhadapku. "Baiklah." Widia pun berlalu melintasi meja.


"Liyan, kenapa kau belum mengantarnya?" tanya Fikri. Berdiri dan merapikan seragamnya.

__ADS_1


Aku hanya diam memutar kepala sedikit ke belakang melirik Fikri yang telah berdiri. "Kau duluan saja," jawabku dengan pelan melihat Fikri dan juga Rasyd yang telah berdiri melihat diriku yang aneh.


"Liyan, kalau kau malas. Biar kami saja yang mengumpulkannya," usul Rasyd menawarkan bantuan.


"Iya Liyan, mari sini!" Fikri langsung mengayunkan sebelah tangannya ke arahku dan terpaksa aku pun memberikan bukuku padanya.


"Tapi..., tidak usahlah, Fikri," kataku memutar badan dan langsung berdiri.


"Kenapa?" tanya Fikri terheran. Menatapku.


"Aku takut... ." Aku mengayunkan sebelah tangan untuk kembali meminta buku dari Fikri.


"Liyan..., itu tidak apa-apa! Jangan takut!" terang Rasyd. Mendorong tubuh Fikri sebagai isyarat menyuruh agar Fikri segera berjalan.


"Liyan, kau selalu begitu," gerutu Fikri. Berjalan terus sambil membawa bukuku.


Fikri malah membuatku semakin terjebak dengan pelajaran ini. Aku semakin gelisah dan panik jadinya. Kedua netraku terus saja mengikuti Fikri dan Rasyd yang hampir menghampiri meja Bu Rosita.


Tidak di sangka aku pun bertemu pandang dengan Septiani yang masih berada di depan bersama Widia yang mengumpulkan buku juga. Kami berdua yang bertemu pandang pun terlihat oleh Widia seketika.


Septiani yang menatapku dengan sinar mata yang penuh kebencian semakin dalam menatapku. Aku tidak sanggup melihatnya dan aku pun langsung memutar pandangan secepat mungkin dari Septiani. Septiani yang masih iri dan cemburu dengan ku karena perhatian Fikri membuat aku semakin khawatir.


Septiani seakan tidak terima karena dia dan Fikri lebih sering bertengkar dari pada terlihat akur. Keakuran mereka bisa di hitung dengan jari tangan. Septiani yang terlalu keras kepala dan cerewet membuat Fikri jengah dan bosan berbicara lebih lama dengannya.


Fikri semakin lama semakin terlihat menjaga jarak dari Septiani untuk menghindari keributan yang sebagaimana sering terjadi. Hal ini semakin membuat Septiani berpikiran kalau aku yang menghasut Fikri untuk tidak terlalu sering berbicara dengannya.


Aku yang masih duduk manis di bangku merasakan kalau Septiani sedang menceritaiku kepada Widia sebab sorot matanya terus saja lekat menatapku dan tidak berpaling sedikit pun.


Aku menjadi khawatir kalau Widia akan terpengaruh dengan yang di katakan Septiani tentangku. Tatapan yang bercampur rasa takut aku buang seketika dari mereka berdua karena aku sangat penasaran dengan buku yang di kumpulkan Fikri. Sambil mencuri pandang aku melirik Fikri yang mengumpulkan buku.


"Sudah selesai?" tanya Bu Rosita. Menatap Fikri.


"Sudah ,Bu," jawab Fikri dan Solihin.


Suara sayup-sayup dari Fikri dan Rasyd masih terdengar meski mereka berdua telah bersuara dengan pelan. Sementara Widia dan Septiani belum juga beranjak dari meja Bu Rosita.


Sesekali aku melihat Fikri menoleh ke arah Solihin. Begitu juga dengan Rasyd yang tidak jauh melakukan hal yang sama, seperti yang di lakukan oleh Fikri. Wajah yang gelisah bercampur harap ingin segera bicara pada Bu Rosita pun, terbaca jelas oleh Bu Rosita.


"Fikri, ada yang ingin kau katakan ?" tanya Bu Rosita. Menyuruh Septiani dan Widia segera duduk. "Silakan!" Bu Rosita menganyunkan tangan sebagai isyarat menunjuk bangku Widia dan Septiani.


Widia pun mengangguk. Mereka berdua pun beranjak langsung dari meja Bu Rosita. Berjalan dan berbisik dengan tatapan masih melirik ke arahku. Sepanjang perjalanan mereka berdua yang masih berbisik tanpa di sadari telah berpisah arah. Widia yang berjalan menghampiri bangkunya yang tepat sebangku dengan ku telah tiba. Sementara Septiani berjalan menghampiri bangkunya sendiri.


"Liyan, bukumu, Fikri yang mengumpulkan, ya?" tanya Widia. Selalu ingin tahu.


"Iya," jawabku pelan bercampur malu.


"Mmmm!" Widia hanya mengangguk dan memonyongkan bibirnya sedikit. Melihat ke arah Solihin.


Sementara Fikri yang masih berdiri di depan yang di temani oleh Rasyd terlihat semakin gelisah kecil. Rasyd yang berulang kali ingin beranjak. Memberikan ekspresi gerak tubuh ingin segera duduk ke bangku tampak di halangi oleh Fikri.


Rasyd langsung melemparkan sorot mata dengan lebar kepada Fikri karena sebal dan di balas oleh Fikri juga dengan hal yang serupa. Rasyd semakin kesal melihatnya karena dia yang telah setengah berjalan di tarik kembali oleh Fikri sehingga tubuhnya ingin terpental ke belakang.


"Hihihi !"Aku tertawa geli melihat tingkah laku mereka berdua.


"Kalian masih di sini dari tadi...? "... ada apa?" tanya Bu Rosita. Menatap mereka.


"Bu kami mau bilang... ." kata Fikri membuka suara sedikit takut dan mengatur dirinya agar tetap tenang.


"Hm, bilang apa?" tanya Bu Rosita berdehem memotong yang ingin di sampaikan oleh Fikri selanjutnya.


"Bu, kami di suruh untuk mencari perlengkapan ujian," celetuk Rasyd dengan...


"Perlengkapan ujian?" tanya Bu Rosita terkejut dan menoleh ke arah Rasyd dan Fikri refleks menghentikan menilai buku.


Fikri pun langsung lemas dan menempelkan tangannya di kening. Dia langsung memutar badan sedikit miring menghadap papan tulis.


"Perlengkapan ujian seperti apa, Fikri?" tanya Bu Rosita melemparkan pertanyaan pada Fikri.


Fikri langsung memutar badan dengan menarik bibir tersenyum tipis bercampur malu. Dia dan Rasyd pun kini terjebak dengan diri mereka sendiri.


Sementara Bu Rosita semakin antusias ingin tahu. "Hm!" Bu Rosita berdehem mengangguk sebagai isyarat bertanya. Seakan menantang.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2