Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Perdebatan dengan adikku


__ADS_3

"Ya sudah. Jaga adikmu! Jangan ada yang bermain keluar!" harap ayahku memohon. Bangun dan berdiri di depan pintu sedikit lama.


Aku langsung melayangkan tatapan melirik tirai kamar yang sedikit terbuka dan terlihat kedua bola mata yang mengintip keluar dari balik tirai.


"Liyan, Ayah pergi dulu," panggil ayahku.


"Iya Ayah," balasku langsung memutar kepala melihat ke arah suara yang memanggil namaku.


Ayahku pun selangkah maju dan menarik pintu. "Pintunya tidak Ayah kunci," kata ayahku. "Kunci dari dalam yang kuat ya Nak!" seru ayahku memohon.


Aku langsung maju menghampiri pintu. "Iya Ayah," jawabku.


"Jangan ada yang keluar!" larang ayahku dengan tegas, melihat dari celah pintu yang akan tertutup rapat.


"Iya Ayah," sahutku memegang kunci pintu dan menguncinya dengan kuat.


Cetek!


Pintu pun sudah terkunci dengan rapat. Saatnya aku memutar kembali langkah menghampiri meja tepat di mana obat di simpan oleh ayahku.


"Ana, Kakak minum obat dulu ya !" kataku pada adikku.


"Kak, jangan lupa minum!" ledek adikku dari balik tirai.


Aku yang menoleh tepat ke arah sumber suara adikku. "Kakak juga tau," balasku sambil mengambil gelas.


Tungkai kaki yang lemah pun aku seret tertatih-tatih ke dapur mengisi minum. Obat yang sudah disediakan oleh ayahku di atas meja kini kupegang sambil mengisi air minum.


"Kak, obatnya pait tidak?" tanya adikku dari pintu kamar.


"Pait," jawabku sambil meneguk air minum.


"Jangan di muntahkan, ya!" harap adikku dengan suara memohon.


Plak !


Gelas pun aku letakkan di atas meja yang bersatu dengan meja kompor. "Ana, air minumnya tinggal dikit lagi," kataku, melihat adikku.


"Ayah berarti buru-buru, Kak. Atau mungkin Ayah lupa," balas adikku seakan dia tahu kalau ayahku lagi cemas.


Aku langsung menatap adikku. "Iya, Ayah 'kan lagi mikirin Ibu," sambungku, menatap jalan lurus dengan sendu.


Plak!

__ADS_1


Adikku langsung melepas tirai begitu saja. Aku langsung melihatnya dengan merasa bersalah. "Ana!" panggilku membuka tirai. "Kenapa kau marah lagi ?" tanyaku pura-pura tidak tahu. Berdiri menghampiri adikku yang duduk melihat mainanku.


"Kakak selalu menyebut nama itu di depanku," ucap adikku termangu.


Aku diam dan menarik napas. "Ana, tapi 'kan itu Ibu kita juga," balasku pelan dan penuh hati-hati agar adikku tidak langsung marah dan menyerangku.


Adikku pun langsung menaikkan tatapannya melihatku yang berdiri dihadapannya. "Kak, tapi dia bukan Ibuku," bantah adikku lagi.


"Tapi Ibu 'kan sudah lama tinggal sama kita," terangku langsung, melihat adikku sedikit cemas.


Adikku langsung menurunkan kepalanya. "Tapi aku gak suka, Kak," bantah adikku lagi dengan keras. "Karena dia bukan Ibuku!" katanya.


Aku terdiam langsung mendengarnya. Jendela yang terbuka pun kembali kutatap dengan penuh harap. "Ana, tapi Ibu kasihan. Dia udah makan atau belum," kataku terus melihat pohon jambu yang berdaun rimbun.


"Pasti udah la Kak. Di luar 'kan banyak jualan," balas adikku.


"Kalau Ibu gak punya uang?" tanyaku, memutar badan melihat adikku yang duduk bersila.


Adikku mengerutkan keningnya menatapku dengan pias. "Mana aku tau Kak," ucap adikku acuh. "Lagian dia 'kan udah besar. Pasti dia udah kerja?!" sungut adikku, menatapku tajam bercampur sebal.


Aku memutar badan kembali menunduk takut melihatnya. "Tapi Ibu tidur di mana?" tanyaku mengkhawatirkannya. Berdiri menatap buah jambu air yang masih hijau.


"Kakak selalu mengingatnya! Dan Kakak setiap hari bertanya tentangnya. Kalau dia mau pulang pasti dia datang, Kak?!" lanjut adikku kembali. "Lagian ' kan dia bukan sayang sama kita. Dia selalu memarahi kita. Menghukum kita," gerutu adikku.


"Alah. Memang dia bukan Ibu kita juga. Dan dia juga jahat. Buktinya kawanku punya Ibu gak pernah menghukum mereka. Apalagi kalau Ayahnya mengasih hukuman. Pasti Ibunya membela mereka," kata adikku.


Aku pun terdiam mendengarnya. "Ana, mungkin kita sangat nakal. Makanya Ibu gak mau membela kita," kataku sedikit membela ibu sambung kami.


"Namanya kita masih kecil. Nakalan mana sama kawanku Kak. Yang suka mukulin anak orang dan suka ngerampas uang jajan," lanjut adikku.


Aku kembali menutup bibir dengan rapat mendengar ocehan adikku yang bertubi-tubi membenarkan dirinya.


"Ana, berarti Ibu kawanmu gak sayang samanya," ucapku. Memutar sedikit kepala melihat adikku.


Adikku yang duduk dan memegang Lofya milikku. "Dari mana Kakak tau? Kakak gak satu rumah dengannya?" tanya adikku. Mengambil Lofya dan mendirikannya di depan pintu.


"Kau juga dari mana tau. Kalau Ibunya membelanya?" tanyaku ingin tahu.


"Dia!" jawab adikku langsung.


"Pasti dia bohong?!" kataku. Memutar kembali kepala melihat keluar.


"Pokoknya aku gak mau Kakak nanya itu lagi samaku, huh!" kata adikku mendengus kesal.

__ADS_1


Puk ! Sambil melemparkan benda kecil mengenaiku.


"Augh!" jeritku terkejut. "Ana!" teriakku kesal, memutar sedikit badan yang lemah ini ke arahnya. " 'Kan sakit tau !" kataku kesal.


Adikku langsung menyeringai. "Kak, makanya jangan suruh aku untuk dekat dengannya. Apalagi mengingatnya!" ucap adikku.


"Tapi kalau Ayah sampai mendengarnya. Kau pasti di hukum Ana?!" ucapku, melihat adikku yang geram mendengarnya.


"Itu makanya, aku makin gak suka samanya. Gara-gara dia Ayah sekarang sudah gak sayang lagi samaku!" tandasnya, menatap lurus ke depan tirai dengan wajah ingin menangis. "Padahal dulu Ayah gak pernah memarahiku," ungkapnya.


Aku jadi ikut sedih dan murung. "Dik, Ayah juga sayang kok samamu. Ayah gak pernah memarahimu," Kataku menenangkan adikku.


Adikku begitu pias setelah mendengarnya. "Kak, aku tau Kakak itu bohong. Supaya aku gak nangis, 'kan?" sungut adikku bertanya.


"Ana, memang Ayah gak pernah marah samamu. Ayah itu mungkin lupa kalau yang di hukum itu bukan kau," jawabku ngawur, melihat adikku yang cukup menakutkan hari ini.


"Alah. Kakak selalu membela," singgung adikku.


Aku langsung menjatuhkan tubuh mungil lemahku duduk di atas tempat tidur. "Membela siapa?" tanyaku terheran.


"Membela Ibu kesayangan Kakak itu, lah!" jawab adikku ketus.


Aku jadi bingung mendengarnya. "Kakak gak pernah membela Ibu," kataku menunduk lesu.


"Kakak sering kok membelanya sama seperti Ayah yang selalu mengikuti perintahnya," cetus adikku. "Ayah juga kalau udah Ibu kesayangan Kakak itu menghukum kita. Ayah cuma diam aja," lanjutnya.


"Dik, Mungkin itu benar menurut Ayah. Makanya Ayah diam aja," kataku dengan lembut dan penuh hati-hati.


Adikku diam dan menunduk. "Memang Ayah sekarang udah gak sayang samaku lagi, Kak," katanya lesu.


"Ayah itu sayang kok samamu," kataku.


"Buktinya, sekarang aja Ayah masih mikirin Ibu kesayangan Kakak itu," cetus adikku, menunduk lesu.


"Ana, Ayah mungkin kasihan sama Ibu. Entah mana tau Ibu belum makan," kataku.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2