
"Kami bermainnya nanti," ucap adikku.
"Kapan?" tanya mereka mengejek.
"Mungkin nanti?! Kalau kita masuk sekolah," sambut mereka.
"Hahaha!" Jawab salah seorang dari mereka tertawa gembira.
Ejekan itu membuat aku dan adikku sangat dilema. Air mata ingin segera terjatuh membasahi pipi. Sontak suara ejekan yang saling sahut-sahutan itu terdengar memasuki ruangan kamar kami.
"Kak, kita memang gak ada uang jajan," bisik adikku.
Kepala yang menatap lurus tegak menoleh kembali ke arah adikku. "Ana, Kakak punya uang jajan, kok," kataku, melirik adikku yang malu.
"Banyak, Kak?" tanya adikku berbisik pelan.
"Kakak, gak tau, Dik," balasku.
Mereka yang tadi senang mengejek pun diam dan tidak lagi berucap. Mereka tetap berdiri di depan jendela menatapku.
"Kenapa Kakak gak tau?" tanya adikku. Berdiri.
"Karena belum Kakak hitung," jawabku langsung.
"Hahaha!" Tawa mereka pun terbahak lucu mendengarnya dan melihat kami berdiri yang terkunci di dalam rumah.
"Hei, kami ada uang jajan, kok," ucap adikku, meledek mereka yang berdiri sejak tadi melihat kami.
"Pasti uang jajan kalian gak banyak ?!" sahut mereka dari luar.
Tawa ejekan dari mereka sungguh miris. Telingaku masih tajam mendengarnya raut muka mereka yang menatap kami berdua dengan jijik sangat lekat melihat ke dalam ruangan kamar.
"Kak, uang jajan kita banyak, 'kan?" tanya adikku. Berjalan mendekati jendela yang terbuka.
Raut wajahku sangat panik melihat adikku yang sangat antusias ingin menghitung jumlah uang jajan yang kusimpan.
"Iya," jawabku langsung.
Mereka semua begitu tercengang mendengar uang jajan yang kami bicarakan. "Kak, kalau uang jajan kita dikit. Kayak mana kita menunjukkan pada orang itu," ucap adikku pelan. Berdiri sambil melihat mereka yang tidak mau beranjak dari jendela.
"Hahaha! Hei, uang jajan mereka pasti gak ada?!" ledek mereka senang.
Teman yang berdiri di depan jendela terus saja melihat kami yang dari tadi belum mengambil uang yang kusebut.
"Uangnya mana mungkin ada?!" bantah mereka.
"Kak, coba ambil uangnya!" pinta adikku lemah lembut.
Tungkai kakiku sangat berat untuk melangkah. "Dik, uangnya di dalam tas," terangku, memiringkan setengah badan menoleh ke arahku.
__ADS_1
"Ana, Kakak... ," kataku, melirik mereka yang serius mengejek dari tadi.
"Kenapa Kakak diam? Berarti Kakak gak punya uang, ya?" tanya adikku berbisik sambil menutupi malu.
Diam, itulah yang bisa aku lakukan dan adikku. Jendela yang terbuka lebar mengibas rambut yang terbawa angin terbang menutupi sebelah pipi mungil ini.
"Ana, uangnya ini!" panggilku, berjalan mendekati tas yang tergantung.
Tas yang sudah lama tergantung di paku. Seketika aku ambil untuk melihat uang jajan yang sudah lama aku simpan.
"Mana, Kak?" tanya adikku. Berlari menghampiriku.
Kreeek!
Tas segera aku buka untuk melihatnya dan menghitungnya. "Ini, Dik. Uangnya," kataku, menunjukkan uang dihadapan adikku.
"Waaah, Kak. Uang Kakak banyak sekali," teriak adikku berbinar, melihat uang yang dia pegang. "Uang jajan kami ini," ejek adikku, memancing iri hati mereka.
"Hahaha! Uangnya pasti dikit?!" sambung mereka yang merapatkan tubuh mereka di depan jendela.
"Uang kami banyak, kok," ejek mereka juga, menunjukkan uang jajan yang mereka pegang.
Sepintas aku melirik ke depan jendela. Mereka semua sungguh antusias ingin mencari tahu uang jajan yang kusimpan.
"Kalau kita. Mana pernah gak bejajan, kan?" lanjut salah satu dari mereka bertanya menaikkan alis.
"Iya, kalau kami. Jajannya pasti banyak ?!" ucap mereka, menunjukkan uang yang mereka pegang dengan raut muka penuh ejekan.
Adikku langsung menghampiri mereka dan berdiri. "Uang kami ini," cetus adikku, menunjukkan uang yang terletak di telapak tangannya.
"Mana?" tanya dari mereka antusias, melayangkan sorot mata melebar.
"Ini," kata adikku menunjukkan uang yang dia pegang.
Mereka semua entah kenapa sangat antusias ingin tahu jumlah uang jajan milik kami. "Liyan, uang jajanmu mana?" tanya mereka.
Sontak aku terkejut menunduk malu melihat uang yang terletak di atas telapak tangannya. Sepintas muka yang pucat aku palingkan dari mereka seketika.
"Ana, uang jajan kita memang dikit, Dik," bisikku pelan.
Seketika raut muka adikku memerah malu. "Kak, ini banyak, kok," bantah adikku yang terlalu ingin pamer.
"Ana, banyakan punya mereka," kataku berbisik pelan di telinga adikku.
"Hahaha! 'Kan betul kubilang. Kalau uang jajan mereka gak ada, hahaha !" Tawa salah seorang dari mereka yang jahat.
Sepintas raut muka mereka sangat senang karena telah berhasil mengejek kamu berdua yang dikunci dan tidak punya uang jajan.
"Iya, sekolah aja uang jajan mereka dikit," imbuh yang satunya dari mereka.
__ADS_1
"Apalagi gak sekolah. Mana mungkin mereka punya jajan," sambungnya menghina. "Kalau aku sering dikasih uang jajan yang banyak sama Ibuku," lanjutnya.
Hal ini membuat aku malu dan tidak bisa menatap lurus ke depan. Mereka semua sangat bangga akan uang jajan yang banyak.
"Nanti, Ayahku pulang. Pasti bawa uang jajan yang banyak?!" ucap adikku membanggakan dirinya sendiri.
"Hahaha!" Tawa mereka semakin melebar.
"Uang jajannya pasti bagi dua sama Kakaknya, cih," serang mereka semakin menjadi. Berdiri di depan pintu meninggalkan permainan lompat karet gelang yang mereka sukai.
Depan jendela yang terbuka lebar dan membawa angin yang segar berembus masuk ke dalam kamar. Sangat menenangkan jiwa ini yang sudah kusut.
"Eh, apa Ayahnya punya banyak uang?" tanya mereka.
"Ayahnya 'kan cuma membawa becak dayung. Mana mungkin punya uang yang banyak," ejek mereka menimpali.
"Sedangkan Ayahku yang kerja kantoran saja. Ngasih kami jajan cuma lima ribu," sambung salah satu dari mereka.
"Hihihi!" Tawa dari salah seorang dari mereka.
"Gak, ya!" bantah adikku langsung. "Ayahku gak pernah pulang bawa uang dikit," sambung adikku polos.
Melihat mereka dan adikku. Aku ingin sekali melerai mereka agar tidak ribut. "Ana, udah! Nanti Ayah pulang dan melihat kita bertengkar," tegurku pada adikku yang tidak mau di ejek.
"Alah, dia cuma berani di dalam rumah saja," balas salah satu dari mereka.
Jemariku semakin kaku dan ingin menarik adikku selekas mungkin. Lalu aku ingin sekali menutup jendela itu dengan kasar.
"Coba lihat ! Uang jajan kami banyak, kok," tutur adikku.
Salah satu dari mereka maju. "Ana, coba lihat! Uangmu mana?" tanya dari mereka ngotot.
"Ini!" kata adikku menunjukkan uang logam yang berjumlah seribu lima ratus itu.
"Hahaha! Uangmu cuma segitu. Mana banyak itu! Uangmu itu cuma bisa beli permen saja, hahaha !" ejek mereka tertawa.
Wajah adikku langsung menunduk malu sambil menatap uang jajan yang di telapak tangannya. "Kami gak boleh banyak jajan," balasku langsung.
"Hahaha! Ana, kau punya Kakak yang suka bohong, ya!" ejek mereka.
"Iya, mana ada orang tua bilang sama Anaknya gak boleh banyak jajan," sambung salah satu dari mereka.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1