Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Tagihan rumah kontrakan


__ADS_3

Hatiku begitu senang mendengar ucapan bu Damanik barusan. Betapa riang dan gembira hatiku ini. Ingin sekali rasanya aku meloncat tinggi. Terbang keluar angkasa yang indah melihat bumi yang terbentang luas. Bersama bintang-bintang di angkasa menunjukkan pada mereka kalau aku bisa.


"Nanti, kalau kita pulang. Tunggu aku ya," pintaku pada Widia.


Wajah Widia refleks melihatku sambil menarik bibir seolah dia menertawakan ketakutanku di siang hari. "Kau takut juga , ya? Percuma badanmu gedek tapi masih takut. Siang hari pula lagi," ledek Widia dengan nada suara menggemaskan.


Setelah mendengar itu, aku langsung malu dan sedih. Menunduk dan langsung melihat kakiku yang masih mengenakan sepatu hitam yang sedikit kusam.


Kami yang telah selesai mengantarkan buku gambar kini telah sampai di meja lalu kami masing-masing menyusun peralatan sekolah ke dalam tas. "Bukan aku takut. Tapi aku tidak berani jalan sendiri," jawabku sambil memasukkan buku ke dalam tas.


"Jalan sendiri ?!" Widia terperanjat mendengarnya. "Apa bedanya Liyan. Takut sama jalan sendiri?" tanya Widia semakin membuatku mencari alasan. "Hahaha !" Tertawa dengan menahan lucu. "Kau ini lucu sekali."


Aku hanya diam dan melihat Widia. "Pulangnya," jawabku.


"Pulangnya?" Widia bertanya sambil berpikir. "Aku tidak mengerti. Emang kamu pulangnya kenapa?" Widia bertanya sambil menyimpan peralatan ke dalam tas.


"Widia, kau 'kan tahu, kalau aku takut pulang sendiri dari jalan itu," rengekku pada Widia.


"Di dekat rumah orang India yang aneh itu?!" Widia melirikku.


"Iya," jawabku.


"Setiap hari aku lewat, dia tidak pernah menggangguku. Emang kau pernah buat dia marah?!" Widia semakin penasaran.


"Aku aja tidak kenal. Aku cuman lewat saja," balasku sambil mengunci tas ranselku.


Teng! Teng ! Teng! Bel pulang pun terdengar berbunyi.


"Sudah siap semua Anak-anak?" tanya bu Damanik pada seluruh murid sambil melanjutkan pengisian nilai.


"Bu, saya tinggal sedikit lagi mengecatnya. Tinggal gentengnya aja -nya, Bu," teriak Ecy dengan tergesa.


"Buuu, kalau saya tinggal rumahnya sama jendelanya, Bu," sambung murid yang lain berteriak.


"Ibu tidak mau tahu. Jam pulang telah tiba. Cepat kalian kumpulkan, siap tidak siap kumpulkan sekarang, ayo cepat!" seru bu Damanik berteriak dengan logat bataknya. "Mau sampai jam berapa lagi kita di sekolah ini. Saya sudah lapar," lanjut bu Damanik dengan keras.


"Alah Buuu, engga ada la nanti nilai kami," jerit murid yang lain.


"Siapa suruh kau lama. Dari tadi saya suruh kau menggambar baru ini kau kerjakan. Macemananya kau." Bu Damanik sedikit kesal mendengar suara muridnya yang manja. "Jangan manja kali kau."


Aku yang duduk di bangkuku melongo mendengarkannya. Kelas yang sekarang aku duduki terdengar sudah seperti, pasar di akibatkan teriakan murid yang bersahut- sahutan untuk menunda jam pulang karena gambaran mereka belum selesai.


"Bu, tunggulah sebentar lagi," rengek temanku.

__ADS_1


"Tugas saya masih banyak lagi. Sampai di mana pun kalian kerjakan akan tetap saya masukkan ke nilai," ujar bu Damanik dengan sorot mata melebar.


"Nilainya pasti jelek Bu," lanjut yang lain.


"Ya, iyalah. Mau mu, kau berapa dapat nilai?" tanya bu Damanik.


"Delapan dan sembilan la, Bu," jawab Pudan.


"Gambar yang kau buat bagus kali rupanya? tanya bu Damanik masih dengan logat bataknya.


"Bu, ini Bu." Ecy langsung menyerahkan gambar yang dia lukis.


"Letakkan sini," kata bu Damanik sambil menjentikkan telunjuk di atas meja memberi isyarat.


"Bu, Bu, Bu! Ini lagi Bu." Beberapa anak-anak yang lain menyerahkan tugasnya.


Bu Damanik yang telah bersiap ingin pulang terpaksa menunggu sejenak mereka yang masih ingin mengantarkan tugasnya ke depan. "Cepat, Nak! Cepat! Ibu mau memasak lagi di rumah," ungkap bu Damanik.


"Iya Bu, iya!" Mereka pun akhirnya berlari menyerahkan gambar mereka yang telah selesai.


"Ketua kelas, siapkan teman-temanmu dan berdo'a." Bu Damanik berteriak.


"Kepada Ibu guru. Hormat gerak, tegak gerak," teriak Fikri menundukkan kepala dan mengangkat kepala. Tangan yang dilipat rapi di meja pun masih terlipat. Kami pun mengikuti apa yang di contohkan oleh Fikri. "Do,a di mulai." Fikri dan kami semua kemudian berdo'a.


Setelah bersalaman aku pun berjalan meninggalkan ruangan kelas dan telah tiba di rumah. Sesampainya di depan rumah, aku melihat sosok seorang pria tegap tinggi berdiri tepat di depan rumah kami. Pria itu terlihat sedang berbicara dengan nada suara yang tidak sopan.


Aku pun melangkah dengan pelan menghampiri rumah kami yang tidak lain terdapat dia berdiri di situ. Lama kelamaan aku mulai mendengar sedikit dari pembicaraan mereka.


"Tidak bisa begitu. Ini rumah sudah lama ingin saya tarik dari kamu," kata sosok pria itu dengan keras dan menakutkan.


"Iya Pak. Saya baru bisa bayar sekarang karena uangnya tidak ada pada istri saya," ucap pria yang berdiri tepat di hadapan orang asing itu. Setelah aku sedikit mendekat dan melihat dari samping sontak aku terkejut dan gemetar melihat ayahku begitu kaku menjelaskan dengan nada suara getir.


"Seharusnya, kau tadi menyerahkannya. Sudah dua kali aku datang ke rumah ini!" serangnya semakin tajam.


"Maaf 'kan saya karena keterlambatan menyerahkan uangnya pada Bapak. Karena saya baru saja pulang siang ini. Dan juga sebagian uangnya kemaren saya pakai untuk biaya sekolah Anak saya." Ayahku kembali memberikan penjelasan agar dia mengerti.


"Seharusnya kau bisa mengatakannya lebih dulu. Atau kau suruh istrimu membilangnya ke rumah," pekiknya semakin keras.


"Istriku tidak tahu menahu tentang ini Pak," sambung ayahku terbata.


Wajah Ayahku yang lelah terlihat begitu gemetar. Dia pun tidak bisa lagi menegakkan kepalanya untuk menatap lurus ke depan. Sekarang yang bisa dia lakukan adalah menunduk sebagai orang yang tidak berdaya.


Dari jarak yang sedikit jauh di belakang, aku melihat ayahku begitu tertunduk sebagai orang lemah yang tidak berdaya sama sekali. Seketika suara keras itu membuatku lemas dan sedih yang mendalam sebab melihat ayahku yang sangat menyedihkan tertunduk menahan malu.

__ADS_1


Sebagai orang lemah aku begitu perihatin melihat yang telah terjadi. Ketakutan pun seketika mengelilingi dengan penuh. Suara keras yang keluar membuatku ingin bersembunyi dan berlari ke tempat yang jauh.


Orang itu masih saja memarahi ayahku hingga bertubi-tubi. Dia seakan tidak memberi ruang untuk ayahku.


"Untuk ke depannya, aku mau kau menyerahkan uangnya jangan lama seperti ini lagi," harapnya dengan wajah masam.


"Baik, Pak," jawab ayahku yang berdiri mematung.


"Selalu banyak alasanmu." Pria itu langsung menghitung uangnya. "Dengar, besok-besok tidak boleh terlambat. Biasanya, uangnya kau serahkan pagi. Ini malah siang." Pria pemilik rumah itu langsung pergi.


Di bawah pohon yang terselip, aku masih berdiri menatap ayahku yang terpaku seakan menjerit. Wajah senjanya yang lelah tertunduk dengan pilu. Langkahnya pun terseok-seok lemah terkulai. Tidak ada semangat yang terlihat dalam dirinya saat ini. Hanya kebisuan yang dia rasakan.


Aku pun segera memberanikan diri keluar dari persembunyianku, memasuki rumah yang telah sepi dari keributan. Perlahan aku membuka sepatu dan melepas kaus kaki. Tas yang aku sandang pun kulepas dan kuletakkan di atas lantai dekat pintu.


Setelah kejadian itu, rumah yang aku masuki begitu tidak nyaman lagi dan semangat pun telah hilang bersama duka yang datang menghampiri.


Walaupun demikian, aku sebisa mungkin menyembunyikan ketakutan yang kurasakan dari ayahku agar dia tidak semakin khawatir dan agar kecemasannya berkurang.


Aku yang masih berdiri di depan pintu meskipun, aku telah membuka sepatu dan meletakkan tasku. Seyogyanya aku tidak ingin melihat kesedihan ayahku.


Ayahku yang terlihat sendiri di rumah tanpa istri yang mendampinginya. Dia terlihat begitu tegar menahan pukulan itu seorang diri tidak ada tempat untuk dia bersandar layaknya seorang manusia biasa.


"Assalamualaikum." Aku berjalan masuk ke kamarku.


"Wa'alaikumussalam." Ayahku menjawab salamku.


"Liyan, kau sudah pulang?" tanya ayahku dari jauh.


"Sudah Ayah," jawabku.


"Adikmu bagaimana? Apa dia sudah pulang juga?" Ayahku melanjutkan pertanyaannya.


Aku langsung bingung setelah mendengar pertanyaan ayahku. Pikiranku kembali lagi bekerja mengingat adikku.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏


❤️❤️❤️

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2