
"Kau ini," sungut ayahku sebal.
"Mulai sekarang aku bukan lagi istrimu. Kau tidak ada hak lagi terhadap diriku," tandas ibu sambung kami. Pergi membawa tasnya pergi.
Aku sangat sedih. Ibu sambung yang selama ini menjadi teman bagi kami kini sudah pergi untuk selama-lamanya.
"Kak, aku senang. Akhirnya, Ibu kesayangannya Kakak itu pergi," kata adikku pelan, mengikutiku melihat pintu.
"Ana, kita gak punya teman lagi," bisikku pelan pada adikku.
"Kita 'kan ada Ayah. Di luar kita masih punya teman yang banyak, Kak. Baik lagi," tandas adikku.
Berdebat dengan adikku tidak akan ada habisnya. Dia lebih pintar dari ku sekarang. Manalah mungkin aku bisa mengalahkan adikku yang cerewet.
"Liyan!" panggil ayahku dari dapur.
"Iya Ayah," sahutku.
"Mulai sekarang kau harus bisa menjaga dirimu sendiri, Nak!" ucap ayahku, melihat lembaran kertas yang tadi diserahkan ibu sambung kami.
"Ayah tenang saja. Kami pasti bisa menjaga diri kami sendiri," balas adikku dengan gamblang. "Lagian 'kan kami sudah besar, Yah," lanjutnya.
Melihat adikku yang sok dewasa membuat ayahku tersenyum lucu melihatnya. Sontak aku juga ikut menarik bibirku tipis.
"Nak, Ayah tau kalian sudah besar. Tapi, meski kalian sudah besar kalian harus saling menjaga satu sama lain, ya Nak!" pinta ayahku memohon.
"Ayah, kami akan saling menjaga kok," ucapku.
Kertas yang dipegang oleh ayahku terus ditatapnya hingga bosan. "Liyan, mulai sekarang kalian berdua yang akan di sini," ucap ayahku.
"Ayah mau ke mana?" tanya adikku langsung.
"Ayah tidak ke mana-mana, Nak," jawab ayahku, melihat kami berdua.
Selepas kepergian ibu sambung kami. Rumah ini tidak lagi terdengar ramai. Ayahku pun demikian, dia tidak lagi susah memikirkannya. Kini yang dilakukan oleh ayahku hanyalah mengurus kami hingga kami tidak pernah merasa sendiri.
"Ana, Ayah minta mulai dari sekarang jangan lagi bertengkar, ya!" pinta ayahku memohon.
"Baik Ayah," jawabku, melihat adikku yang belum mengerti sepenuhnya.
"Kalian cuma berdua, Nak! Apalagi kalau Ayah sampai tidak ada di rumah. Tolong Liyan, jaga Adikmu!" harap ayahku dengan lemah lembut.
"Iya Ayah," jawabku, melihat adikku yang manja.
"Ayah, kami 'kan Anak Ayah yang paling baik. Jadi, mana mungkin kami bertengkar," balas adikku dengan bijaknya.
Akhirnya, aku dan adikku saling bertemu pandang. Pintu rumah yang tertutup pun kami buka sedikit melihat keluar.
__ADS_1
"Kak, sunyi," kata adikku, melihat sampah daun yang berserakan.
"Gak ada Anak-anak yang bermain," ucapku. Berdiri di depan pintu.
"Kak, ini belum sore 'kan?" tanya adikku, melihatku.
"Belum, Nak!" jawab ayahku langsung memotong pembicaraan.
Wajah sumringah adikku pun menatapku dengan tatapan penuh harap. "Kak, Ayah ngasih kita keluar gak ya?" tanya adikku.
Aku seketika menoleh ke arah ayahku. "Ana, itu gak mungkin. Ayah 'kan gak semudah itu mengasih kita bermain," jawabku.
"Tapi, aku pengen bermain, Kak," rengek adikku.
Seketika aku diam sejenak melihat sampah daun yang berterbangan terbawa angin. "Dik, tapi kalau kita bermain. Harinya sangat panas," keluhku, menatap ke atas langit sambil mengerjitkan kedua bola mata.
"Kakak juga kepingin, Dik," sesalku, melihat pohon bunga yang rimbun.
Senyum nakal adikku mulai tertoreh ingin melangkah keluar. Dengan cara diam-diam dia melangkah sedikit maju keluar pintu.
"Liyan!" panggil ayahku.
"Iya, Ayah," sahutku. Berdiri di depan pintu.
"Jangan pergi keluar! Ini harinya panas, Nak," kata ayahku. Berdiri di balik pintu.
"Ayah, kami hanya bermain di sini saja," bujuk adikku lembut.
"Nak, ini harinya panas. Jangan bermain dulu, ya!" pinta ayahku memohon.
"Ayah, kami bermainnya gak di panasan kok," ujar adikku mengiba.
"Tetap tidak, Nak!" terang ayahku. Berjalan meninggalkan kami.
"Kenapa, Yah?" tanyaku ingin tahu.
Ayahku sejenak menghentikan langkahnya. "Liyan, Ayah tidak mau kalau kalian sakit," tutur ayahku mengutarakan alasannya. "Apalagi kau lagi sakit. Kalau kau sakit. Mdna mungkin Adikmu bermain dan kau sendiri di dalam rumah," lanjutnya.
Ayah ada benarnya juga, pikirku. Mana mungkin aku terus-menerus harus seperti ini. Setidaknya aku harus bisa sembuh agar adikku tidak berlarut-larut dikurung di dalam rumah menemaniku.
"Ayah, biar aja aku yang keluar," rengek adikku, mengeluh. "Kalau Kakak sakit, biar aja Kakak sendiri yang di dalam rumah," usulnya dengan cerdas.
Aku langsung terperangah. "Ana, kenapa kau jahat kali, Dik?" tanyaku sebal.
Sungguh adikku telah membuatku semakin terpojok di tengah hempasan gelombang ombak.
"Aku jahat apa Kak?" tanya adikku terheran bercampur melongo melihatku.
__ADS_1
"Jahatlah! Masa kau bilang, kau bermain keluar sementara Kakak sendiri di rumah," sungutku kesal.
Wajah adikku begitu cuek dan tenang setelah melihat kekesalanku. " Kak, aku udah bosan dikurung di dalam rumah aja," cetusnya. "Sudah berapa lama kita libur sekolah. Sampai sekarang kita masih bermain di dalam rumah," sesal adikku.
"Ana, jangan pernah bermain keluar!" tegur ayahku keras. "Kalian itu kalau sudah bermain tidak tau jalan pulang," sahut ayahku dari dapur.
Wajah cemberut adikku langsung menutupi wajah imutnya yang manja. Setiap detik wajah imutnya selalu menjadi senjata ampuhnya untuk menarik simpati dari ayah yang selama ini menjadi sosok pengganti seorang ibu.
"Kalau kalian bermain di dalam rumah emangnya, kenapa Nak?" tanya ayahku, melihat kami berdua.
Aku dan adikku langsung menunduk sambil saling tuding satu sama lain. "Kakak itu yang buat aku dikurung," sesal adikku.
"Engga ya! Mana pula Kakak. 'Kan Ayah yang melarang kita untuk gak bermain keluar," cetusku, melirik adikku yang mengerang kesal.
"Dengar! Kalian berdua tidak boleh keluar rumah diam-diam!" ucap ayahku tegas.
Sontak aku langsung terdiam menutup bibir dan kedua mata ini dengan rapat. Lain halnya dengan adikku yang tidak mau bersikap baik menerima hasil keputusan ayah kami.
"Ayah, ini kami bermainnya gak lama kok, Yah," bujuk adikku, menghampiri ayahku.
"Ana, Ayah tau Nak! Tapi, Ayah gak ada di rumah. Pagi sampai siang Ayah sudah kerja, Nak!" ucap ayahku.
Dapur yang sedari tadi dipegang ayahku kini sudah hampir selesai. Aku yang masih berdiri di depan pintu.
"Ayah," panggilku pelan.
"Iya Nak," jawab ayahku.
Tatapanku sangat sedih melihat ayahku. "Ayah mau pergi lagi, ya?" tanyaku, melihat bayangan ayahku yang sedang sibuk.
"Iya Nak," jawab ayahku sendu.
Semua yang telah terjadi membuat ayahku sangat murung. Semangatnya entah sudah pergi ke mana. Kini dia hanya sibuk menyiapkan pekerjaan dapurnya.
"Ayah, apa Ayah sudah sholat?" tanyaku, melihat ayahku yang berdiri di depan pintu dapur.
"Sudah Nak," jawab ayahku. Berdiri menatap nanar keluar pintu.
Air muka adikku langsung menatap ke arahku dengan sendu. Semenjak kepergian ibu sambung kami membawa baju membuat semangat ayahku hilang.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1