Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ke rumah Nisa


__ADS_3

Di kantin, kami bertiga pun tertawa dan terlihat senang, senyum tulus yang terukir dengan kebahagiaan membuat wajah polos kami terlihat berbinar begitu juga dengan wajahku. Wajah pucatku yang selalu terlihat sendu kini sekarang terlihat merekah.


'"Liyan bagaimana ?" Tanya Widia. Melihatku. "Kamu sudah senang kan akhirnya, bisa berkenalan dengan Nisa dan aku juga senang karena telah menepati janjiku." Lanjut Widia. Di kantin.


"Ia, terimakasih Widia. Aku jadinya, bisa berteman dengan Nisa." Kataku. Duduk.


Nisa yang duduk bersama, tersenyum melihatku dan Widia.


"Widia, nanti kamu pulang sekolah ke mana?" Tanya Nisa ingin tahu. Duduk.


"Emang kenapa ?" Tanyaku dengan penasaran. Menatap Nisa.


Widia yang duduk disamping kami diam dengan pandangan penuh tanda tanya dia menatap lurus ke bawah.


"Ia, Liyan! Aku sudah lama pindah ke kelas kalian. Jadi, aku ke pingin membawa kalian ke rumahku bermain, biar kalian tahu nanti rumahku." Ucap Nisa dengan datar. Melihatku dan Widia. "Dan Ibuku pun pengen kenal sama kalian." Lanjut Nisa.


"Aku mau, mau, main ke rumahmu." Sahut Widia spontan. Menganggukkan kepalanya melihat Nisa dan aku.


Seketika Nisa tersenyum merekah memecah kebisuannya. Dia begitu bahagia seakan ia ingin bersorak gembira dengan keras.


"Benar Widia, kamu mau datang ke rumahku." Ucap Nisa dengan wajah bahagia. Melihat Widia. "Liyan, kamu juga ikut, ya." Pinta Nisa. Memutarkan kepalanya ke arahku.


Sontak aku langsung menegakkan sedikit kepalaku melihat Nisa dengan wajah sedikit terkejut. "Aku ikut?!" Sambungku dengan suara pelan. Melihat Nisa.


"Ia kau ikut, ia kan Widia?!" Ucap Nisa dengan penuh penekanan. Memutarkan kepalanya melihat Widia dan melihatku kembali.


Seketika aku terdiam, aku tidak bisa mengatakan apapun untuk menolak ajakan Nisa maupun menerimanya. Diriku yang lemah kini berperang di dalam hatiku.


"Nisa, aku tidak usah ikut." Jawabku dengan singkat. Melihat Nisa.


"Emang kenapa Liyan?" Tanya Widia ingin tahu. Melihatku dengan wajah sedikit kecewa.


"Aku takut nanti ayahku marah." Kataku dengan datar. Melihat ke bawah.


Widia dan Nisa pun kini tidak memberikan reaksi apapun. Mereka masih bergeming seperti patung, melihat lekat ke sepatu hitam yang mereka pakai. Sementara, aku yang duduk di antara mereka, melihat mereka dari ekor mataku begitu kecewa terutama, Nisa yang begitu senang ingin memperkenalkan kami kepada Ibunya.


Keheningan di antara kami bertiga sedang berlanjut di tengah -tengah keramaian Anak-anak yang bersilewaran di kantin sambil tertawa keras dan kecil.


Aku yang masih bergulat dengan penolakanku, melihat Nisa dan Widia masing-masing memasang wajah cemberut dan kecewa.


"Liyan, kamu ikut kenapa?" Pinta Widia melihatku dengan wajah memohon. "Lagian kita engga lama kok." Lanjut Widia.


"Ia Liyan, sekali ini saja." Pinta Nisa. Melihatku.


Tatapan Widia dan Nisa membuatku kini semakin depresi sehingga tak bisa melakukan apapun. Hanya tatapan yang sendu yang bisa aku pasang untuk mereka saat ini. Hatiku yang lemah kini terbelenggu, akan keinginan teman baruku yang dengan senang hati, telah mau berkenalan dan berteman lebih dekat dengan ku.


"Tapi Nisa..." Sambungku dengan mengehentikan ucapanku. Menatap lirih dengan pandangan kosong.


Seketika wajah ayahku menari-nari dengan jelas di mataku bersama wajah ketatnya. Suaranya yang menggelegar apabila memarahi ku dan kebekuan ku di saat aku menghadapi ayahku.


"Liyan,...tapi apa?" Tanya Nisa ingin tahu. Melihatku.


"Liyan,....tapi apa?" Tanya Widia ingin tahu kembali. Melihat dengan penuh tanda tanya. "Oh! Aku tahu." Cetus Widia. Melihatku dengan wajah seakan membenarkan perkataannya. "Kau takut Ayahmu kan?!" Lanjut Widia. Melihatku dengan sorot mata yang tajam.


Sontak aku terkejut dan terperangah seakan tidak percaya melihat Widia, apa yang di sampaikan olehnya sama dengan yang aku pikirkan.


"Ia kan Liyan." Kata Widia meyakinkan. Melihatku dengan sorot mata tajam.


Dengan wajah terperangah aku sontak diam seperti orang bodoh. Seketika sakit yang masih bersarang di tubuhku seakan memudar.


Nisa pun yang duduk di dekat kami diam terperangah dengan gurat wajah terkejut dan memutarkan kepalanya, seketika melihat Widia dan melihatku begitu serius.


"Benar! Berarti Ayah kamu galak Liyan?!" Tanya Nisa. Melihatku dengan sorot mata sedikit takut.


Mendengar apa yang di tanyakan Nisa membuatku malu dan menunduk.


"Bukan Nisa!" Sanggah Widia. Melihatku dan melihat Nisa. "Ayahnya Liyan tidak galak tapi tidak pernah mengasih Liyan keluar rumah." Lanjut Widia dengan pelan. "Ayahnya lebih suka Liyan bermain di rumah." Cetus Widia dengan wajah datar.


Seketika, Nisa diam menarik wajah kecewanya berlalu. Ia pun memutarkan kepalanya melihat ke arah ku.


"Liyan, Ayah mu seperti itu!" Ucap Widia dengan lirih melihatku. "Jadi, kau tidak pernah di kasih bermain oleh ayahmu, kasihan sekali kau Liyan." Ledek Nisa. Memutarkan kepalanya kembali.

__ADS_1


Tidak berapa lama kami teronggok di kantin, bel masuk pun berbunyi. Aku,Widia dan Nisa pun segera beranjak meninggalkan kantin dan melangkah masuk ke dalam kelas.


Aku yang masih dalam kondisi lemah. Terbata-bata mengangkat tubuhku dari bangku. Tungkai kakiku yang lemah sebisa mungkin aku paksa berdiri dan menopang tubuhku yang lemah.


"Liyan kamu sanggup?" Tanya Widia menghampiriku. Memegang bahuku.


"Ia, aku masih sanggup." Jawabku dengan suara parau. Berdiri.


"Widia, emang Liyan kenapa?" Tanya Nisa ingin tahu. Menghampiri Widia.


"Liyan sakit, Nisa." Jawab Widia lugas. Melihat Nisa.


Wajah Nisa seketika sedih melihatku. Tatapan kedua bola matanya yang lekat begitu dalam melihatku.


"Ayo Liyan!" Ajak Widia. Berjalan di sampingku.


"Ia, ayo!" Sambut Widia. Berjalan di sampingku juga.


Kami bertiga pun kini melangkah, pergi beranjak dari kantin yang di penuhi oleh seluruh murid yang ada di dalam sekolah.


Nisa dan Widia pun terlihat begitu simpati terhadap diriku sehingga mereka berdua menjagaku dengan berjalan di sampingku. Mereka terlihat seperti berjaga-jaga dan mengawasi diriku agar aku tidak jatuh.


Dengan penuh pengorbanan, aku menyeret kakiku yang lemah sampai ke dalam kelas tiba-tiba harus terhenti.


"Widia kenapa?" Tanya Nisa. Berhenti.


"Sebentar ya!" Kata Nisa. Berjalan memutarkan badannya ke belakang.


Aku yang berada di samping Widia pun sontak terkejut dan melihat Widia dengan penuh tanda tanya dan memutarkan kepalaku seketika, ke belakang mengikuti langkah Widia. Seketika, aku melihat pintu yang di tuju oleh Widia dan berhenti, aku melihat ternyata Septiani berdiri tegak di depan pintu. Mereka terlihat membahas sesuatu yang penting sambil melangkah sedikit kencang.


Sesekali Widia melihatku di tengah perbincangannya dengan Septiani. Melihat mereka berbicara seakan mereka membicarakan tentang diriku terlihat dari wajah Septiani yang mencurigakan.


Aku yang masih berdiri jauh dari mereka terus melihat gerak mereka. Tidak berapa lama aku yang telah jenuh berdiri, aku bersama Nisa pun beranjak dan meninggalkanku Widia dan Septiani.


"Liyan, mereka berdua membicarakan apa?". Tanya Widia dengan penuh selidik. Berjalan dan melihatku.


"Aku tidak tahu." Jawabku dengan nada suara parau. Berjalan dengan wajah lesu.


Aku dan Nisa yang berjalan lebih dulu, meninggalkan Widia dan Septiani telah sampai di jalan lorong meja kami. Nisa yang mejanya terletak di depan kami yang berada dua meja dari kami kini telah masuk dan duduk. Sementara diriku yang lemah masih harus berjalan melewati satu meja lagi.


Kaki lemahku yang melangkah perlahan kini telah sampai di bangkuku. Aku pun menyeret kaki masuk dan menjatuhkan tubuhku di bangku.


Sementara Widia, ia masih terlihat santai dengan perbincangannya dengan Septiani. Mereka berjalan beriringan dengan perlahan sambil mengayunkan tangannya ke udara seakan memberikan ekspresi akan pembahasan dari yang mereka bicarakan.


"Liyan, Kenapa Widia lama sekali berjalan sama Septiani?" Tanya Fikri dengan penasaran. Menggerakkan sedikit bangkuku.


Aku yang lagi serius melihat Widia dan Septiani sontak terperanjat dan memutarkan kepalaku ke belakang melihat Fikri.


Hahaha! Melihat aku yang terperanjat Fikri pun tertawa geli dengan puas. "Heh! Liyan, kau kaget . Hahaha! Makanya jangan melamun masih pagi." Lanjut Fikri. Tertawa dengan menampakkan gerahamnya.


Melihat tawanya yang lebar membuat wajahku seketika berubah menjadi kesal. "Aku engga tahu." Jawabku dengan ketus. Memutarkan kembali kepalaku.


"Heh! Liyan, kau jangan marah. Salah sendiri pagi-pagi masih melamun." Celetuk Fikri datar.


Melihatku.


"Ini engga pagi!" Gerutuku dengan kesal. Menyandarkan tubuhku.


"Apa! Hahaha! Sambut Fikri sedikit terperanjat dan tertawa. "Ini masih pagi baru jam 10: 05 WIB, tau!" Sungutnya dengan ketus. Menarik bangkuku.


Melihat Fikri yang terus memancing emosiku. Membuatku semakin jenuh dan menarik bangkuku maju ke depan meja sehingga tubuh mungilku yang lemah terjepit bersama dengan meja.


"Liyan kau sakit, ya?!" Tanyanya seakan tidak tahu. Meledekku.


Wajah pucatku kini terlihat memerah menahan amarahku. "Ia." Jawabku dengan kesal. Melihat lurus ke depan.


Tidak berapa lama, aku diam mematung dan merapatkan bangkuku yang membuat tubuh mungilku yang lemah hampir terjepit, tiba -tiba aku melihat dari ekor mata Widia telah berdiri di dekat meja kami.


Perlahan aku memutarkan kepala melihat ke arah Widia, seakan aku menutupi wajahku dari Fikri.


"Widia, kenapa kamu lama sekali bicara dengan Septiani?" Tanyaku ingin tahu. Melihat Widia.

__ADS_1


"Tadi aku mengajak Septiani ke rumah Nisa." Jawab Widia menekankan. Duduk. "Agar ada teman kita Liyan, masa kita berdua saja." Sambung Widia. Melihatku.


"Tapi, kenapa kalian lama sekali, bicaranya?" Tanyaku ingin tahu kembali. Melihat pintu kelas.


"Tadi aku lagi menjelaskan sama Septiani tentang rumah Nisa." Ucap Widia dengan tegas. Melihat ke pintu kelas.


"Lalu, apa Septiani mau ikut?!" Sambungku. Melihat Widia.


"Katanya, mau tapi belum pasti." Sambut Widia dengan sedih. Melihat meja.


Seketika aku pun memutarkan kembali kepalaku melihat ke jendela yang tepat berada di atas kepalaku.


Sementara Widia yang duduk di sampingku kini terlihat sedih dan kecewa. Melihatnya yang tidak semangat, aku jadi tidak enak. Seketika aku memalingkan kembali wajahku dari Widia dan melemparkan pandanganku melihat teman- teman yang lain.


Melihat mereka yang ceria dan senang, seketika aku melengkungkan bibir kecilku yang pucat dan wajah pucatku pun langsung merekah melihat kerusuhan mereka yang menggelitik hatiku.


Mereka begitu ribut dengan melemparkan banyolan bahkan, perdebatan kecil yang membuat mereka akhirnya tertawa sendiri. Kegelisahanku mengenai ajakan ke rumah Nisa hilang sesaat.


Aku pun memutarkan kedua bola mataku tepat ke arah Nisa. Spontan aku langsung kembali teringat ajakan Nisa untuk bermain ke rumahnya. Wajahku kembali kutekuk diam seribu bahasa seakan ajakan Nisa tadi bagaikan peluru yang menancap di jantungku yang membuatku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diriku.


Sementara Widia terlihat begitu ingin sekali bermain ke rumah Nisa. Dia begitu terpukul karena aku dan Septiani belum ada kejelasan untuk itu.


Sesekali Widia yang duduk di sampingku melemparkan pandangannya ke arah Septiani yang duduk di bangku yang berjarak dua lorong dari meja kami. Raut Wajah Widia terlihat kalau ia berharap aku dan Septiani jadi ikut dan pergi bermain hari ini.


Seketika aku terhipnotis akan suasana ruangan kami. Tiba-tiba, Bu Dona terlihat masuk kembali. Berjalan dengan kencang menuju kursi dan duduk. Bu Dona pun menarik kursi dan menjatuhkan tubuhnya di kursi.


Dengan wajah ketat ia melihat kami dengan penglihatan penuh. Ia pun langsung menarik pandangan dan melihat buku yang telah di letakkan di atas meja.


"Anak-anak sekarang buka halaman selanjutnya!" Perintah Bu Dona dengan tegas. Melihat buku Bahasa Indonesia.


"Ia Bu! Sudah Bu!" Teriak kami dengan bersamaan. Melihat buku.


"Sekarang, coba kalian lihat! Ada apa di situ!" Pinta Bu Dona. Melihat buku dengan tajam. "Sudah kalian lihat!" Seru Bu Dona. Melihat buku.


Sontak seluruh murid pun mulai antusias melihat yang diperintahkan oleh Bu Dona terkhusus bagiku. Aku pun mulai melihat apa yang di perintahkan oleh Bu Dona.


Seluruh murid dan aku terdiam membisu seribu bahasa dan melongo, saling melempar pandang satu sama lain dengan gurat wajah yang malas. Aku kemudian memutarkan kepala melihat Widia dan kami pun akhirnya bertemu pandang dengan wajah memelas.


Aku dan Widia memasang wajah cemberut.


"Liyan ini apa?" Tanya Widia. Berpikir sambil menunjuk.


"Aku engga tahu." Jawabku terperangah. Melihat buku.


Dengan lemah jemari kecilku membuka lembaran buku yang terlihat tersenyum menyapa dengan hangat.


"Anak-anak itu tugas kalian hari ini membuat puisi." Kata Bu Dona. Melihat seluruh murid.


Semangatku seketika turun. Widia pun begitu lesu mendengar ucapan dari Bu Dona.


"Liyan,kalau kayak begini kita pasti tidak jadi ke rumah Nisa." Gerutu Widia. Memukul buku. "Kenapa kita belum pulang?" Keluh Widia. Mengangkat kepalanya sedikit ke atas melihat langit-langit kelas.


"Widia, mungkin hari ini, kita pulangnya lama." Jawabku dengan datar. Melihat Widia.


Bu Dona terlihat begitu ketat melihat kami. Sorot matanya yang tajam terasa begitu melukai kami. Terutama untuk diriku sendiri yang begitu lempang terlihat dari mejanya membuatku semakin kikuk.


Tugas yang sudah menanti menatap kami dengan tajam sehingga tak satupun dari kami bisa untuk melarikan diri.


"Widia, apa kau pandai membuat puisi?" Tanyaku dengan sendu. Melihat Widia.


"Aku engga tahu Liyan. Aku belum pernah dengar tentang puisi." Kata Widia dengan lirih. "Apalagi harus membuatnya." Lanjut Widia dengan lesu.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah bersedia memberikan like, favorit dan komentarnya.🤗🙏


❤️❤️❤️

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2