Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Terbongkarnya Rahasia part 2


__ADS_3

"Maksudnya apa Ana? Ayah tidak mengerti sama sekali," kata Ayahku menatap adikku.


"Ayaaaah, kenapa Ayah tidak mengerti ? Padahal 'kan begitu mudah ucapan Ana untuk di mengerti," kata adikku dengan gaya sok dewasa.


"Ayah mengerti, Nak," kata ayahku agar adikku senang sambil menyeruput air mineral yang terletak di atas meja.


Bubur jagung yang tadi menjadi bagianku kini telah aku berikan pada adikku. Dia begitu senang bisa menikmati bubur jagung dua porsi sekaligus.


Sup wortel dan sup ikan yang menjadi makanan yang bisa aku makan hari ini telah tersedia di hadapanku. Dilema atas serangan ayahku yang tiba-tiba mengetahui kalau aku pernah dilempar bola kasti pun semakin menyeruak di kediaman kami.


"Liyan, apa kau mempunyai masalah sehingga dia melemparmu dengan bola kasti?" tanya ayahku semakin menyelidiki.


"Tidak Ayah," jawabku dengan singkat.


"Lantas, kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya ibu sambungku melihat ke arahku. "Sampai dia tega sekali melemparkan bola kasti yang keras itu padamu." Ibu sambungku kembali menyerangku dengan rasa penasarannya.


Itu memang benar. Apa yang dikatakan oleh ibu sambungku tidaklah salah. Mana mungkin ada orang Setega itu. Melempar seseorang dengan bola kasti begitu keras kalau buka karena sesuatu. Namun, aku yang pandai menyimpan rahasia hanya menjawab dengan singkat. "Mungkin dia salah arah,Bu."


"Salah arah bagaimana ?" Ayahku langsung menyahut tidak percaya dengan yang kukatakan. "Mana mungkin bisa salah arah. Dia 'kan, punya mata untuk melihat," celetuk ayahku dengan nada suara datar.


Adikku yang mengulum bubur jagung di mulutnya. "Ayah, tidak usah tanya Kakak lagi. Besok akan aku tanya saja langsung pada teman Kakak," ucap adikku.


Diriku semakin panik kini. Adikku seenaknya saja berkata seperti itu pada ayahku. Sementara diriku yang tertindas akan masalah ini semakin gusar membayangkan jika besok adikku benar-benar menemukan jawabannya. "Habislah aku," gumamku pelan pada diriku sendiri.


Kedua ekor mataku kini berputar melihat adikku yang merasa tenang sambil menyeruput air mineral yang ada dihadapannya.


Satu per satu dari mereka pun mulai kulihat dari ekor mata dalam keadaan masih sedikit menunduk betapa cemasnya mereka saat ini dan seketika kecemasan itu pun menghilang ketika ayah dan ibu sambungku mendengar tawaran adikku agar dia sendiri besok yang akan mencari tahunya. "Ayah jadi senang mendengarnya," lanjut ayahku. Menyuap kembali bubur jagung. "Jadi, Ayah besok setidaknya sudah merasa sedikit lega," kata ayahku kembali tanpa melihatku.


"Iya, kau benar. Jadi, jika terjadi sesuatu pada Liyan kedepannya kita bisa menuntutnya," kata ibu sambungku dengan tenang.


"Haa!" Sontak aku terperanjat menaikkan kepala tegak. Nasi yang tadi ingin aku suap kini menggantung di tengah udara . Sorot mataku langsung melebar menatap udara kosong yang lurus.


"Ayah tidak habis pikir. Kenapa kau bisa menyembunyikan sebesar itu dari kami?" kata ayahku bertanya padaku. "Seandainya, kau sakit kami pasti akan panik, Liyan," ucap ayahku dengan penuh penekanan. Menatapku dengan sorot mata yang tajam.

__ADS_1


"Iya, Kak. Ayah benar. Nanti, kalau Kakak sakit tidak ikut ujian, dong," timpal adikku semakin menyudut aku.


"Lagian juga, penyakitmu akan bertambah dan uang kita akan habis semaunya hanya untuk berobatmu," tandas ibu sambungku menyindir.


Aku pun langsung menunduk terkulai lemas setelah mendengar kata-kata yang mengiris hati. Tangis pun seraya ingin keluar. Namun, dengan kekuatanku air mata bening itu berusaha jatuh hanya di dalam hati.


Nasi beserta sup wortel dan sup ikan pun kini hanya teronggok tanpa kusentuh kembali karena hati yang bersedih. Sayatan demi sayatan kata-kata kembali terjadi lagi. Lemparan bola kasti yang telah diketahui oleh ayahku semakin mengekangku.


Segenap pikiranku pun berputar dari mana ayahku mengetahui itu. "Ayah! Liyan, baik-baik saja, kok. Ayah tidak perlu khawatir. Itu hanya salah lempar saja," dalihku menghilangkan kecurigaan dari ayahku.


"Liyan, jika nanti Ayah mengetahui yang sebenarnya. Kau akan lihat, Ayahmu ini seperti apa ?" kata Ayahku bertanya dengan penuh penekanan padaku.


Aku hanya bisa diam mendengarnya dan sekaligus panik karena aku tahu, ayahku tidak pernah main -main dengan ucapannya.


Ini bisa jadi masalah besar antara orang tua dengan orang tua. Ayahku yang begitu sedih melihat putrinya di perlakukan seperti itu dia tidak akan tinggal diam. Kekhawatiran pun semakin menyelubungiku saat ini. Sekarang aku hanya bisa diam tanpa batas.


Berkali -kali ayahku bertanya, aku belum berani mengatakan yang sebenarnya, kalau aku memang sengaja dilempar bola kasti oleh Tania dan Ecy.


"Ayah." Aku memanggil ayahku dengan mulut yang dipenuhi oleh nasi. "Ayah tahu dari mana? Kalau aku di lempar pakai bola kasti?" tanyaku ingin tahu.


"Dari sekolahan?" Aku berpikir mengingatnya. "Siapa yang telah memberi tahu pada Ayah?" tanyaku semakin menyelidiki.


"Ayah tahu sendiri," jawab Ayahku bersikeras untuk menutupinya.


"Ayah tidak mungkin tahu sendiri," timpal adikku yang telah selesai makan.


"Ana benar," kata ibu sambungku. "Mana mungkin, kau bisa tahu sendiri, kalau tidak ada yang memberi tahumu," celetuk ibu sambung kami.


"Tapi kalian tidak perlu tahu. Aku mengetahuinya dari mana," tutur ayahku bersikeras menutupi.


"Ayah, mungkin dia salah melihat," kataku sedikit gugup.


"Liyan, kau ini masih kecil. Jangan terlalu banyak mencari alasan supaya ayah tidak memarahi temanmu, iya?" kata ayahku bertanya dengan gurat wajah kesal.

__ADS_1


Huh! Aku langsung menghela napas kepasrahan. Ini mungkin kedepannya, aku tidak akan mendapat kepercayaan lagi dari ayahku setelah dia nanti mengetahui yang sebenarnya.


Aku semakin terjebak lagi diantara ayah dan temanku. Hari ini adalah hari terakhirku untuk menyembunyikannya dari ayahku, mungkin, pikirku. Memang bagaimana pun ayahku tetap benar. Orang tua mana yang bisa diam melihat anaknya diperlakukan semena-mena oleh orang lain dan orang tua mana yang tidak mengetahui sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya.


Aku pun terus melihat wajah ayahku yang masih memikirkan tentang diriku. "Ayah takut kalau aku sakit lagi." Kedua bola mata ayahku terlihat memilukan.


Kepalaku langsung tertunduk melihat -lihat lantai dan piring yang teronggok di hadapanku. Kata-kata ayahku semakin membuat aku terpukul.


"Penyakitmu saja masih belum sembuh total... ." Ibu sambungku bangun dari duduknya menyusun piring bekas bubur jagung tadi.


"Masih sering, kambuh -kambuh, Kak," potong adikku.


"Sekarang, harus kau beritahu, Liyan. Siapa nama temanmu yang melemparmu pakai bola kasti ?" tanya ayahku dengan penuh penekanan. "Jawab Ayah, Liyan! Jangan diam saja!" desak ayahku.


Bibir pucatku semakin berat. Aku seakan tidak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata. Kini hanya jemariku yang bisa menetralkan ketakutanku. "Ayah... itu hanya salah lempar saja," kataku dengan getir sambil menunduk.


"Hanya salah lempar !" Ayahku menatapku. "Tapi mana mungkin temanmu berbohong pada Ayah," tandas ayahku. "Kau jangan berbohong, Liyan!" lanjut ayahku sambil menyeruput air minum.


"Kau masih kecil, belajarlah untuk jujur," kata ibu sambungku. Jangan mengajari yang tidak baik !" lanjutnya seakan menyindirku. "Kau tahu, siapa yang sering di sampingmu?" tukas ibu sambungku bertanya padaku melirik adikku.


Sontak aku semakin diam dan menunduk. Hatiku semakin bercampur aduk setelah aku melihat bayangan ibu sambungku melirik ke arah adikku. Ibu sambungku seakan menunjuk adikku sebagai isyarat agar aku berperilaku yang benar.


Berkata layaknya perkataan yang sewajarnya. Semakin ke sini aku rasanya semakin frustrasi terbelenggu diantara, berkata yang sebenarnya atau menutupinya demi melindungi temanku.


Tuntutan yang mendesakku ini semakin menjadikan aku lemah. Ingin rasanya aku berkata yang sebenarnya saja kepada ayahku agar semua ini menjadi lega.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Hai, teman-teman mampir ke novel aku, ya!" 🙏🥰



__ADS_2