
"Liyan Ayah pergi dulu, ya Nak. Baik - baik di rumah," kata ayahku menatap wajahku yang pucat.
"Kau tenang saja. Anakmu pasti akan baik-baik saja. Pergilah! Aku 'kan masih ada di sini untuk menjaga kedua Anakmu," sahut ibu sambung kami ketika mendengar ayahku berbicara.
"Iya Ayah. Lagian kami ' kan sudah sedikit besar." Merangkul pundakku dengan tersenyum.
"Jangan nakal sama Ibumu, ya!" Memutar badan berdiri dan berdo'a menatap keluar.
"Kak, siapa yang nakal padanya, ya 'kan?" bisik adikku.
Seketika aku langsung melirik adikku yang berdiri tepat di sebelahku. "Jangan bicara lagi, Dek! Nanti dia mendengarnya." Menasihati adikku yang berbicara tanpa memikirkan akibatnya.
"Hati-hati, ya!" Berjalan menghampiri ayahku yang sudah melangkah dari depan pintu.
"Ayah hati-hati!" jawab kami serentak. Melihat ayahku yang sudah menghilang.
"Ayo Kak. Kita lanjutkan kembali bermainnya!" ajak adikku. Memutar badan sambil menarik lenganku berjalan memasuki kamar.
"Kalian mau bermain apa?" tanya ibu sambung kami.
"Bermain yang tidak membahayakan," jawab adikku dengan pelan.
Wajah ibu sambungku langsung berubah masam dan meninggalkan kami tanpa sepatah kata pun.
Adikku begitu tenang memutar kedua bola mata melihat kaki ibu sambung kami yang menginjak lantai. Kaki yang di lihatnya sedang berjalan yang sudah menanggung emosi, menghilang dari hadapan kami.
Kami selanjutnya masuk ke dalam kamar untuk bermain bola kasti kembali. Aku masih mengikuti langkah kakinya sambil berjalan di belakang adikku untuk bermain bola kasti.
"Kak ini." Menyerahkan bola kasti di tanganku yang gemetar. Dia kemudian menggeser badannya menjauh dariku.
Tangan kecilku yang gemetar melihat bola yang ada di atas telapak tangan. Lirih begitu rasanya, ingin menolak tetapi tidak bisa.
Bola dan batu yang telah tersusun sedikit menjulang ke atas kini telah teronggok di atas lantai dengan rapi seakan berpasrah menunggu lemparan dariku.
Puk!
Tanpa berpikir panjang aku langsung melempar bola hingga membuat seluruh batu terjatuh ke lantai dan berserakan.
Tepuk tangan sebagai rasa bahagia terdengar dari adikku yang melihatku dari tadi. Senyum sumringahnya begitu berseri dengan loncatan kecil bersama teriakannya yang lepas memenuhi ruangan kamar yang bisu.
"Horeee! Kakak bisa." Teriakan yang terdengar bersama alunan tepuk tangan.
"Liyan! Suara apa itu?" teriak ibu sambung kami bertanya dengan penasaran dari balik kamar. Suaranya masih terdengar dengan jelas meskipun, cukup jauh dari kami.
Aku menghentikan tanganku yang mengayun setengah di udara, menahan bola yang ingin kulempar.
"Ibu pasti marah, Dek?!" Menurunkan tanganku yang mengayun di udara melihat adikku.
"Sepertinya, Iya Kak," balas adikku dengan suara cemas.
__ADS_1
"Kakak berhenti saja bermainnya." Memberi bola ke tangan adikku, kemudian aku bergegas menjauh dari adikku untuk menyelamatkan diri.
"Kak tunggu aku!" Sedikit berlari ketakutan menghampiriku. "Bagaimana kalau dia sampai memarahi Kakak?" Adikku segera merapatkan tubuhnya yang ketakutan terpancar dari sinar matanya.
"Kita dengar 'kan saja," jawabku dengan suara datar. Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap lurus ke depan tirai yang tergantung.
"Kami bermain sebentar, Bu," Aku langsung keluar menemui ibu sambungku.
"Bermain apa kalian ?" Ibu sambungku berdiri menungguku di luar kamar.
"Bermain bola kasti Bu. Maaf, kami 'kan tidak bisa bermain di luar," jawabku.
"Ibu takut nanti, bakalan banyak yang pecah di dalam rumah ini," tandasnya.
"Kami akan bermain dengan pelan-pelan, Bu," kataku memohon agar ibu sambungku mau mengerti.
"Ibu tahu, kalian ingin bermain di rumah. Tapi tolong, jangan bermain bola itu!"
Kedua bola mataku menunduk membaca lantai dengan benar, memutar otak untuk mencerna permainan kami.
Kamar tidak lagi terdengar suara. Selangkah kaki pun tidak terdengar membantuku. Aku masih berdiri mendengar ocehan ibu sambungku yang menekan hingga membuka jalan untukku pergi.
"Bu, aku permisi dulu, ya, kembali ke kamar." Memutar badanku karena lelah setiap saat mendengar 'kan ucapan serapah darinya.
"Pergilah! Tapi jangan pernah lanjutkan permainan itu!" Menaikan alis seraya memberi ancaman kebencian yang tiada tara.
"Ingat, tolong bilang pada adikmu! Sudah sedari tadi dia selalu bercerita membahas tentang permainan." cetus ibu sambungku.
"Iya, Bu. Aku akan segera memberitahunya." Aku lalu memutar badan menghampiri adikku yang belum keluar dari kamar.
Wajah sinisnya yang misterius itu, memandangi bibir pucatku yang bergetar dengan kebencian yang menganak di hati.
Tubuh lemahku lesu menghadapi masalah yang pelik dan kusut, seperti benang. Bersikap dewasa mencari solusi dari tumpukan kekalutan yang menggunung di hati, itulah solusi terbaik saat ini, kemudian aku berjalan menuju kamar untuk menemui adikku yang sedang menghadapi bola kasti dan batu yang kecil.
Melihat dan mendengar langkahku masuk dan membuka tirai penutup kamar dengan pelan, adikku segera melihat wajahku dengan harapan aku membawa kabar baik dan gembira.
"Kak, bagaimana?" Adikku langsung beranjak mendekatiku ingin tahu pasti pembahasan yang terjadi tadi di luar di antara ibu sambungku dan aku.
"Suram, Dek," jawabku lesu.
"Suram apanya?" tanya adikku.
"Kita di larang ketat untuk bermain." Sedikit kecewa sambil mengayunkan bola kasti di udara tepat di depan wajah adikku agar adikku mau mengambil bolanya.
Adikku langsung murung. Dia pun, menjatuhkan tubuhnya dengan lemas sambil mengambil batu yang tadi berserakan, kemudian di susunnya dengan rapi.
Batu yang di ambil dari lantai satu per satu dia pandangi dengan wajah sedih. Tangan kecilnya terlihat lemas, ketika menyusun batu itu ke tempatnya.
Kecewa yang di rasakan olehnya begitu dalam karena permainan yang dia sukai di larang keras untuk di mainkan.
__ADS_1
Wajah lirihku pun menatapnya dengan lekat. Bola yang tadi aku ayunkan di hadapannya spontan aku tarik perlahan, seakan aku meratapi adikku yang bersedih.
Adikku kemudian, langsung berdiri setelah menaruhnya dengan rapi. Dia menatap bola yang masih aku pegang.
"Tolong berikan bolanya padaku, Kak." pinta adikku dengan nada suara tidak bersemangat.
"Untuk apa mu, bolanya?" tanyaku menyerahkan bola ke tangannya.
"Aku hanya ingin menyimpannya, Kak." Tangannya langsung mengambil bola dari tanganku.
Hatiku seakan ragu kalau adikku ingin menyimpan bolanya. Wajahku yang penuh tanda tanya masih menatapnya dengan lekat. Segala pertanyaan pun bermunculan dengan tidak di sengaja sebagai memberi penilaian yang tepat.
Kaki lemahku yang lelah berdiri berjalan untuk duduk di tepi tempat tidur menghampiri sedikit adikku yang masih berdiri. Aku kemudian merapat dan mendekatkan wajahku di belakang kepala adikku.
"Jangan sedih. Mungkin belum rejekimu." Meledek adikku yang berkutat dengan akal pikirannya yang cerdik.
"Siapa bilang aku tidak bisa bermain ini di sini?!" kata adikku, menyeret kedua kakinya yang telah lama berdiri.
Sontak aku melebarkan kedua bola mata yang redup. "Jangan bercanda," balasku.
"Siapa yang bercanda? Aku serius. Aku ingin bermain di atas tempat tidur," cetusnnya.
"Caranya?" tanyaku penasaran.
"Caranya begini, Kak. Batunya di susun seperti tadi. Lalu, semua bantal dan guling ini kita susun tepat di dekat dinding agar bolanya tidak memantul terlalu kuat." Menaruh bantal dan guling dengan susunannya.
"Itu pasti memantul juga, Dek?!" kataku memberi tahu adikku.
"Aku itu Anaknya, pantang menyerah, Kak." Terus menyusun bantal dan guling dengan cara sangat pelan.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
Dara Respati, gadis cantik dan seksi. Gadis impian bagi Dicky. Dicky, yang sejak awal tahu bahwa mereka memang bukan saudara kandung, memendam cinta pada adiknya tersebut.
Dicky selalu menemani Dara disaat Dara susah maupun senang. Apalagi disaat Dara terpuruk, dikhianati oleh kekasihnya, Dicky yang selalu menemaninya.
Akankah Dara membalas cinta sang kakak, ataukah dia akan menikah dengan pria lain?
__ADS_1