
"Kak, makannya jangan buru-buru," kata adikku.
"Nasinya susah di telan," kataku. Menatap nasi goreng bercampur dengan rasa cemas.
"Makanya, sebelum makan. Kakak minum dulu," kata adikku mengajari.
"Iya," jawabku. Menatap lirih nasi dan bercampur dengan hati yang cemas karena tubuh ini kembali terserang penyakit.
Air minum yang aku teguk membasahi tenggorokan yang kering terlihat bening dan menyegarkan pikiranku yang kacau. Perlahan aku merenungi diri ini yang kembali melemah sama seperti dulu.
Aku semakin pilu, kepanikan pun semakin menyerang pikiran sehingga membuatku semakin gelisah. Nasi goreng dan telur dadar yang aku kunyah pun, semakin lama semakin tidak berasa dengan sangat pelan aku terus mengunyahnya dan aku pun sama sekali tidak begitu bersemangat ingin menatap kembali dengan tagak. Pikiran terus melayang tanpa arah. Dapur yang hening yang tanpa cahaya seakan menjamaku dengan senyuman yang bercampur sedih karena kasihan melihat aku yang kembali terpuruk.
Tangan yang memegang nasi pun semakin lama aku tatap semkin melemah. Kini aku akan kembali seperti yang dulu, bibir kecilku pun seketika bergetar dengan kuat di sudut dinding dapur yang sunyi mengingat semua akan menjadi hari yang terburuk bagiku lagi.
Segenap rasa di hati ini pun terasa hancur. Mata yang sayu dan bening telah menjadi redup dengan genangan air mata yang menganak di pelupuk mata.Getaran bibir yang ingin mengeluarkan isak tangis pun terdengar keluar menemani kesedihan dengan pelan.
"Kak, kenapa Kakak lama kali makannya ?" tanya adikku terheran. Duduk di bangku di mana tempat ayahku sering duduk dengan suaranya yang pelan bercampur air minum yang memenuhi mulutnya.
"Nasi, Kakak masih banyak," jawabku. Memutar kepala ke samping kiri sebagai isyarat aku melirik adikku.
"Kak, jangan lama-lama makan. Ini udah jam 11 : 15 WIB, Kak. Sebentar lagi Ayah akan pulang," ucap adikku dengan nada suara yang sedikit menjauh seakan dia sedang memiringkan kepalanya melihat jam dinding yang berputar.
"Iya," jawabku dengan nada suara yang seakan mau menghilang. Duduk melihat nasi yang setengah belum habis. Aku tidak begitu semangat mau menyantap nasi goreng dan telur dadar yang terletak di atas lantai tepat di hadapanku yang menjadi saksi sedih yang berusaha untuk aku tahan di dalam hati karena penyakit yang datang kembali hadir tanpa permisi terlebih dahulu.
"Aku heran melihat Kakak hari ini. Kenapa Kakak diam dan duduk di sudut dinding itu?" singgung adikku bertanya dengan nada suara yang penuh tanda tanya. Dia seakan kembali mengingat diriku yang sering melakukan seperti ini. "Kakak gak sakit, 'kan?" tanyanya dengan nada suara yang rendah.
"Kakak lagi membersihkan lutut Kakak yang luka," jawabku menutup mulut langsung. Mendekatkan kedua bibir ke sudut dinding sambil memutar kepala melirik adikku yang jauh dariku. "Kakak takut, nanti lukanya makin parah dan infeksi," balasku. Melihat luka yang mulai memerah dan berair.
"Kak, makanya di obati . Dari kemarin Ayah 'kan udah bilang di obati," terang adikku. Mendekatkan suaranya seakan tepat ke arahku.
"Kakak lupa," balasku. Duduk dan melirik ke luar dari selah dinding yang renggang.
__ADS_1
"Kalau Kakak udah kenyang. Kemarilah Kak. Ngapain Kakak duduk di situ?" kata adikku melayangkan pertanyaan terhadap aku.
Aku yang panik bergulat dengan batin setelah aku menyadari kalau penyakitku kambuh lagi. Aku semakin gelisah rasanya tidak ada lagi yang tampak olehku dengan jelas.
"Ana, kalau kau udah kenyang. Kenapa piring dan gelas gak kau taruh di sini?" tanyaku dengan nada suara pelan bercampur parau. Menatap ke arah ember yang teronggok di bawah kolong meja kompor.
"Aku masih malas Kak. Aku kekenyangan," terangnya. "Kakak juga, kenapa masih duduk di situ !" katanya dengan nada suara terheran.
"Kakak rindu duduk di sini. Udah lama sekali Kakak gak pernah makan di sini," sambungku. Menekuk sebelah kaki dan menatap ke pintu dapur yang tertutup rapat. Di mana terdapat celah kecil yang bisa menembus langsung melihat keluar.
"Hahaha ! Duduk di situ kok di rindukan," celetuk adikku dengan tawa garing. "Memang Kakak aneh, ya! merindukan sudut dinding, hahaha!" lanjutnya kembali mengulangi tawanya yang garing.
Aku hanya diam menatap lirih lurus ke depan dengan pandangan kosong. Celetukkan adikku yang bercampur tawa garing sama sekali tidak merubah anganku seketika. Aku masih saja menatap dengan kosong mengingat diri yang kembali terpuruk.
Tawa adikku seketika menari-nari di hadapanku dengan wajah jahilnya kalau dia sudah merubah dirinya menjadi sebuah badut. Itu sangat menceritakan diriku yang sedang bersedih.
Aku langsung tersimpul manis ketika wajah badutnya yang lucu itu terbayang di pelupuk mataku. "Ana, habis ini. Kau mau kemana?" tanyaku dengan pelan. Mengalihkan kekalutan yang menggulung perasaan ini.
"Ana, nanti kalau Ayah sudah pulang kita bermain, ya," ajakku dengan nada suara datar. Membayangkan bermain di luar rumah yang seru.
"Kakak, gak akan di kasih lagi keluar," ucap adikku dengan terus terang. "Karena Kakak sudah terluka," lanjutnya.
Aku langsung menatap lutut setelah mendengar ucapan adikku yang terus terang mengatakannya. Hal ini pun langsung terlintas di ingatanku tentang Septiani yang dengan sengaja mendorongku dan melihatku tersungkur sambil tertawa dengan puas. Dia begitu kejam ingin membuat diriku sebagai bahan permainannya.
"Mungkin kalau Kakak, membujuk Ayah. Ayah pasti akan mengizinkan Kakak keluar," kataku kembali dengan segala keyakinan yang penuh.
"Coba saja, Kak. Tapi aku tidak percaya kalau Ayah sebaik itu," ucap adikku kembali menyadarkan aku.
Aku kembali diam menyimak yang di utarakan oleh adikku. Itu memang benar sangat sulit untuk aku mendapatkan belas kasihan dari ayahku, pikirku.
"Kalau Kakak di ijinkan Ayah untuk keluar bermain. Kakak harusnya bisa menjaga diri Kakak agar gak jatuh," tuturnya menjelaskan.
__ADS_1
"Kalau gak di kasih juga gak apa-apa," balasku dengan acuh.
"Di rumah gak enak. Gak ada teman, terus menerus harus mendengar ocehan Ibu kesayangan Kakak itu," timpal adikku. "Bosan," lanjutnya.
"Tapi di luar juga gak enak. Banyak orang jahat," cetusku.
"Hahahaha ! Kalau aku gak pernah ketemu orang jahat," kata adikku bercampur dengan tawa geli ketika mendengar alasanku.
"Memang iya," kataku dengan penuh penekanan.
"Hihihi, Kak di rumah juga ada orang jahat," balas adikku langsung dengan gamblang.
Aku langsung menutup bibir dengan kuat. Tubuh yang sudah lama kedinginan kembali terkejut mendengar kejujuran yang keluar dari mulutnya. Aku memutar kepala dan semakin serius menatap adikku dengan menaikkan sebelah tubuh duduk di atas udara.
"Jangan 'kan di luar. Di dalam rumah juga ada orang jahat," lanjutnya kembali.
"Orang jahat kayak mana , Ana ?" tanyaku ingin tahu.
"Yang suka membuat Ayah tidak sayang lagi samaku," jawabnya dengan singkat.
Deg!
Aku langsung lemas dan menjatuhkan tubuh ini duduk tersandar kembali ke dinding.
"Dia suka kali dekat-dekat dengan Ayah. Sampai Ayah gak pernah lagi menanyai aku, apalagi memberi uang jajan," tandasnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...