Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ibu sambungku Menghilang


__ADS_3

Tidak berapa lama aku berpaling. Ruangan kamar kosong ayahku yang terlihat hening. Begitu terasa sedikit menyeramkan bagi diriku yang penakut. Udara pagi yang terasa dingin oleh embun yang berhembus di pagi buta menyapa tubuh ku yang sakit. Kakiku yang lemah aku ayun sehingga terlihat baik dimata orang yang memandang. Sebisa mungkin aku memacu semangat ku agar segera bisa pulih seperti semula.


Sudah tak sabar rasanya aku ingin masuk sekolah bergabung dengan teman-temanku yang telah lama aku tinggalkan. Pelajaran yang terakhir aku ikuti. Kini aku tak mengetahuinya lagi ketika aku meninggalkan nya. Jemari kecilku yang telah lama beristirahat kini terasa begitu kaku untuk memegang pensil. Seperti terlihat baru pertama kali aku belajar memegang pensil. Sepatu hitam yang sering aku pakai disaat sekolah kini terduduk dengan rapi. Rasanya aku ingin kembali untuk bersekolah. Namun, keinginanku sirna seketika. Hempasan badai yang menerpa diriku saat ini menghancurkan semuanya.


Dalam lamunanku yang terduduk sendiri. Melupakan sedikit tentang kepahitan hidupku. Angan -angan kebahagiaan tanpa sadar hadir menari-nari di sanubari ku. Dentingan jam dinding yang berbunyi menyadarkan diriku dari lamunan panjang ku. Tak terasa hari semakin berganti. Meninggalkan semua kenangan yang membuatku sedih jika mengingatnya. Namun, aku harus tetap bertahan.


Untuk yang kesekian kalinya aku mau tidak mau dengan berat hati meninggalkan sekolah ku dengan kesadaran. Butiran kristal yang menganak di pelupuk mataku membendung memenuhi bola mataku yang hitam. Getaran bibir kecilku kini bergerak dengan pelan menahan tangis yang akan membuat ku semakin sakit. Tak ada yang bisa menjadi teman untuk diriku saat ini. Hanya suara angin yang berhembus yang bisa menjadi pelipur laraku.


Hari ini aku seperti seorang pengemis yang mengharapkan belas kasih dari ke ajaiban yang mau datang dengan suka rela memberikan sentuhan tangan lembut untuk kesembuhan ku. Diriku yang terpuruk dalam sakit membuat mimpi buruk dalam hidupku. Setiap kali aku membuka mata aku serasa dihantui dengan keputusasaan.


Ingin rasanya aku berteriak dengan lepas. Membuang semua ketakutan yang membenamkan diriku dalam lembah penantian.


Setiap menit aku berusaha meraba akan diriku. Melihat setiap sudut dari diriku yang terkulai lemah. Rasa tak berdaya untuk melakukan apapun membuat aku semakin frustasi.


Sakit yang membuat ku depresi memakan hari-hari ceria masa kanak-kanak ku. Lelah kakiku berjalan demi meraih sebutir obat kini tak mau lagi untuk itu.


Tapi berkat dari semangat ayah dan adikku yang kuat membuatku tetap optimis. Adikku yang begitu menyebalkan diam-diam dia menaruh perhatian terhadapku. Tak ayal kalau adikku terkadang menaruh belas kasihan padaku dan mengingatkan diriku untuk meminum obat agar aku sembuh dan bisa bersekolah Kemabli,katanya.

__ADS_1


Begitu juga dengan ayahku yang selalu berusaha keras untuk kesembuhan ku. Dia tak pernah mengeluh tentang apapun karena bagi ayahku aku adalah obat yang bisa menghilangkan lelahnya.


Tanpa ku sadari ayah dan adikku adalah support yang terbesar untuk ku saat ini tetap bertahan.


Ibu sambungku yang tak pernah melahirkan aku juga begitu peduli akan diriku. Perhatiannya yang di berikan nya juga tak berbeda dari yang diberikan ayahku. Meskipun,sesekali dia menghardikku dengan kata-katanya yang tajam.


Melihat diriku yang menjadi beban dari sakit ku terhadap ayahku membuat ku merasa bersalah sehingga membuat diriku terbebani oleh perasaanku sendiri.


Suara tawa dari teman-teman ku yang berjalan dengan seragam sekolahnya terdengar begitu riang mewarnai pagi hari. Mereka tertawa dengan lepas dan tanpa beban yang menumpuk dalam dirinya. Sapaan mereka akan diriku membuat ku merasakan diriku yang tidak sakit. Senyum hangat mereka yang bergulir setiap pagi ketika melihatku membuat diriku seakan sehat.


Sejenak aku melupakan sakitku, melupakan derita diriku yang telah libur sekolah yang sudah berkepanjangan. Hampir satu bulan lamanya. Demam tinggi yang menyerang tubuh mungilku begitu enggan rasanya untuk meninggalkan begitu cepat.


Ibu sambungku yang terkadang tak terlihat pagi hari. Membuatku cemas dan begitu khawatir. Aku tidak tahu pasti. Apa? Yang dia lakukan di pagi hari sampai membuat aku tidak melihatnya.


Ke ingin tahuan ku membuat diriku sendiri seperti orang aneh. Ya, terkadang aku kesana kemari untuk mencarinya bahkan, tidak jarang aku menyambangi rumah tetangga hanya untuk menanyakan tentang dia. Dia begitu senang pergi keluar menghilang begitu saja. Sikapnya yang aneh membuat ayahku kadang memenuhi ruangan rumah kami.


Sedikit aku menarik napas dalam melihat dia yang tak menentu. Pagi ini aku menghampiri pintu kamar ayahku berdiri dengan lekat menatap seluruh ruangan kamar. Namun,aku masih belum melihatnya.

__ADS_1


Setelah aku tidak melihatnya di kamar. Aku memutar badanku kebelakang dengan kecewa. Apa nanti yang akan aku katakan? Ketika ayahku bertanya tentang ibu sambungku yang menghilang.


Keributan besar pasti akan terjadi. Seperti itulah yang terekam di memoriku saat ini. Semua pasti akan terlihat mencekam dengan situasi yang tak terkendali kan.


Langkah kaki kecil ku yang lemah aku ayunkan menghampiri pintu dapur kami. Aku yang berdiri melihat nanar keluar dengan lepas. Sembari menghirup udara segar yang berhembus melewati ku dengan hangatnya.


Melihat seorang wanita yang lagi sibuk di kebun yang letaknya tidak jauh dari rumah kami. Wanita itu terlihat begitu menunduk seperti mengambil sesuatu terlihat dari raut wajahnya yang begitu serius. Wanita itu begitu berusaha dengan keras tanpa henti seperti membolak balik sesuatu sambil berjalan. Aku terus menatapnya dengan lekat.


Dari belakang wanita itu yang aku lihat sepertinya aku mengenal dia. Perlahan aku melangkahkan kakiku semakin dekat ingin melihat. Dengan begitu penasaran aku menatapnya dengan tajam sampai dia memutar kan badannya mengarahkan kearah aku.


Dengan berdiri tegak tanpa beralih kemanapun. Aku masih fokus dengan rasa penasaran ku tentang dirinya.


Perlahan dengan refleks dia memutarkan badannya yang mengarah kan wajahnya ke hadapanku tanpa dia sadari. Sontak aku terkejut dengan wanita yang barusan aku lihat. Hatiku seketika menjadi tenang. Jantung yang tadi gemetar kencang di hampiri rasa takut akan ibu sambungku yang tidak terlihat. Kini sirna sudah setelah aku melihatnya. Hatiku pun menjadi tenang seketika. Raut wajah ku yang tadi ketat tak karuan kini sudah terlihat dengan membaik. Tak ada lagi ke khawatiran terlihat di wajah ku kini.


Angin pun seakan menjadi penyejuk masalah yang berkubang dalam pikiranku, tadi. Suasana yang lengah begitu membuyarkan ketenangan ku tadi, hilang seketika tanpa jejak.


Mata sayu ku yang terlihat layu akan sakit ku. Begitu dengan hangat terlihat kini. Pagi ini tak ada lagi yang terpandang kecemasan dari wajahku yang terlihat sepanjang waktu tadi yang membuat aku terus berkubang dengan kekalutan yang aku alami.

__ADS_1


Kesabaran aku untuk mencari dan melihat ibu sambungku kini terbayar sudah. Jawaban atas pertanyaan yang aku lontarkan atas diriku sendiri didalam hati. Kini sudah selesai.


Bersambung.....


__ADS_2