Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Tampil di depan


__ADS_3

" Ini Liyan!" Jawab Fikri. Mengayunkan buku ke udara.


Seketika kami lagi asyik dengan puisi, tiba-tiba suara sedikit lantang dan keras terdengar dari balik pintu. Suara itu membuat kami terperanjat dan terdiam serta menunduk sambil menatap satu sama lain. Aku rasanya bagaikan tersambar oleh sesuatu yang membuat aku sampai tak bisa bersuara dengan bebas.


Seketika kami memutar kepala melihat suara langkah kaki yang tegap. Memutar kepala untuk memastikan siapa yang telah masuk. Lalu kami bertemu pandang kembali dengan jiwa yang merintih.


"Anak-anak! Ngapain kalian di situ?" Tanya Bu Dona. Melangkah masuk. "Di mana Anak-anak yang lain?" Tanyanya dengan suara lantang ingin tahu. Berdiri menatap kami.


Seketika Septiani, Rasyd dan Solihin spontan bangun dari bangku dan berdiri menatap diam seribu bahasa. Mereka pun mengangkat bangku dan mengembalikan ke tempat masing-masing.


Aku dan Widia pun memutar badan menghadap lurus ke depan sambil membenarkan bangku. Kemudian aku duduk dengan tegak. Diam membeku dan menunduk menatap buku yang tadi aku coret.


"Fikri! Kemana murid yang lain?" Tanya Bu Dona ingin tahu. Menarik kursi dan duduk. "Pergi cari mereka dan suruh masuk!" Perintah Bu Dona dengan tegas. Menatap Fikri dengan tajam. "Saya sudah mengatakan tadi, masuk ke dalam kelas, jangan ada yang di luar lagi. Kenapa mereka masih di luar?" Tanya Bu Dona. Menatap Fikri kembali. "Kenapa kamu tidak menyuruh mereka masuk? Tadi kan, sudah saya beritahu!" Menunjuk Fikri dengan sorot matanya. "Sebelum kamu masuk kelas, cari temanmu yang lain dan suruh masuk!" Lanjutnya menatap Fikri. Duduk.


"Tolong kamu maju ke depan!" Perintah Bu Dona. Menunjuk Fikri dengan kedua mata.


"Baik Bu!" Jawab Fikri. Berjalan.


Wajah Bu Dona begitu tajam menatap Fikri yang diam mematung berdiri di hadapannya.


Fikri hanya diam menutup suaranya dengan rapat. Menunduk sambil menyilang kedua tangan di depan dengan wajah resah.


"Cepat cari mereka!" Perintah Bu Dona dengan suara Sedikit keras. Kecewa.


"Baik Bu!" Jawab Fikri. Berjalan.


Sementara kami hanya bisa diam dan mendengarkan apa yang di kecewakan oleh Bu Dona. Wajah pucatku begitu terlihat panik dan cemas. Hatiku begitu resah dan aku sangat gemetar.


Mendengar suara Bu Dona saja sudah membuat aku membeku seperti es. Apalagi harus melihat ia yang seperti ini di penuhi oleh sedikit kekesalan.


Aku kemudian menunduk dengan antusias menghapal puisi yang telah selesai aku tulis. Tubuh lemahku yang di selimuti ke gemetaran memaksa bibir pucat ini untuk membaca puisi sekalipun dalam ke adaan terbata.


"Liyan! Setelah ini kamu yang tampil lebih dulu! Membaca puisi yang telah saya suruh!" Pinta Bu Dona dengan tegas. Memutar pandangannya ke arah mejaku.


Deg!


Jantungku spontan ingin lepas dan berhenti. Detaknya begitu kencang terasa, hingga membuat tubuh mungilku rasanya begitu dingin. Sesekali aku menghembuskan napas dengan berat. Menatap buku dengan kedua bola mata yang di balut dengan sedikit rasa sedih.


Hati yang tadi merasakan kedamaian dan tawa, kini bagaikan tertimpa reruntuhan yang berat. Ke gusaran yang aku rasakan, aku takut akan menjadi penghambat buatku untuk lulus tampil ke depan.


Aku yang menunduk menatap Bu Dona dari ekor mata dengan harapan kalau bel pulang akan segera berbunyi.


"Widia!" Panggilku pelan dengan wajah gemilang yang di selimuti rasa takut. Seakan aku tidak percaya kalau setelah ini aku akan tampil. Memutar kepala menatap Widia.


Widia hanya tersenyum getir seakan ia mengatakan kalau ia begitu gemetar. Dari wajah polos Widia terlihat sedikit takut.


"Liyan! Hapal puisimu jangan sampai ada yang terlewat." Ucap Widia pelan. Menunduk sambil membuka lembaran buku.


"Widia! Aku begitu gemetar! Aku takut kalau aku salah!" Ucapku dengan lirih. Menatap Widia sambil mengingat beberapa kata puisi di otakku.


Perbincangan pelan kami ternyata membuat Bu Dona memutar kepala menatap ke meja kami. Bu Dona begitu dalam menatapku dan Widia.


Seakan ia menyuruh kami untuk diam terlihat dari sorot matanya.


Seketika aku menutup mulut dengan rapat dan meluruskan dudukku kembali.


"Rasyd pergi cari Fikri!" Perintah Bu Dona. Mengangkat kepala dan melemparkan kedua sorot mata menatap Rasyd.


"Baik Bu!" Sahut Rasyd. Berdiri menggeser bangku sedikit dan berjalan menghilang dari balik pintu.


"Ingat! Jangan sampai saya melihat kalian singgah di kantin!" Pekik Bu Dona. Rasyid pun menghentikan langkah kaki yang ia ayun.


Rasyd pun memutar badan. "Ia Bu!" Jawabnya. Lalu ia kembali melangkah mencari Fikri.


Tidak berapa lama keheningan tercipta dan murid pun satu persatu masuk ke dalam kelas dengan tertib dan tak bersuara.


Salah seorang dari sepuluh temanku yang masuk begitu terperanjat karena melihat Bu Dona telah terduduk di kursi.


"Dari mana saja kalian? Kenapa lama sekali baru masuk?" Tanya Bu Dona. Memutar kepala menatap mereka dengan sedikit tajam.


"Dari luar Bu!" Jawab mereka. Berhenti dan menunduk dengan wajah merasa bersalah.


"Apa kalian tidak tahu?! Kalau saya menyuruh kalian semuanya masuk ke dalam kelas dan jangan ada lagi di luar berkeliaran!" Ucap Bu Dona dengan tegas. Seakan Bu Dona sedang mengeluarkan ultimatum yang keras terhadap mereka karena telah berani mengabaikan perintah darinya.


"Kami tidak tahu Bu!" Jawab salah seorang dari mereka kembali dengan nada suara sedikit terbata.


"Apa Rasyd tidak memberitahu kalian?" Tanya Bu Dona. Ingin mendengar penjelasan dari mereka.


"Tidak Bu!" Jawab mereka mengangguk pelan sambil menunduk melihat lantai.


Bu Dona pun menghembus napas dengan kasar. Kekesalan dan kecewa kini menghiasi wajahnya. Ia pun menatap lurus ke depan sambil mengayunkan tangan. "Sudah duduklah!" Perintah Bu Dona. Membelakangi mereka.


"Anak-anak! Bagi yang belum menyelesaikan puisinya! Saya harap selesaikan sekarang, saya kasih waktu 25 menit. Jangan ada yang tidak selesai! Setelah itu tampil ke depan dan bacakan puisi yang kalian tulis.


"Bu membacanya boleh membawa buku atau tidak, Bu?" Tanya Ecy ingin tahu. Mengangakat tangan ke udara.


Mendengar pertanyaan dari Ecy membaut kami seluruh murid menjadi tanda tanya. Kami diam menunggu jawaban dari Bu Dona selaku guru kami. Terlihat kami seperti menunggu pemecahan dari sebuah teka teki.

__ADS_1


"Menurut kalian! Kalian maunya seperti apa?" Tanya Bu Dona kembali. Memberikan pertanyaan kepada kami seakan harus kamilah yang berhak untuk menjawab.


Seluruh murid yang telah duduk di dalam kelas saling menatap dengan pertanyaan yang mendalam sambil mencari jawaban dari diri sendiri untuk menjawab.


Meskipun kami sudah sepenuhnya masuk ke dalam kelas tapi kami belum begitu mahir tentang puisi.


"Bu! Kalau bisa bawa buku saja, Bu!" Cetus seorang dari temanku.


"Ia Bu, bawa buku saja!" Sambut mereka.


"Ya sudah! Siapa yang mau membawa buku, silahkan! Siapa yang tidak membawa buku jauh lebih bagus!" Sambung Bu Dona. "Karena nilai yang membawa buku, sama tidak nilainya berbeda!" Lanjut Bu Dona.


Bu Dona begitu tegas dalam memberi keputusan. Ia sangat menghargai murid yang lebih baik.


"Liyan! Kau mau bawa buku atau tidak?" Tanya Widia. Menatapku sambil mengayunkan buku ke udara menutupi wajahnya sedikit agar tidak terlihat oleh Bu Dona ia lagi berbicara.


"Aku belum tahu! Tapi kalau bisa, aku engga mau bawa buku." Sambutku. Menatap Widia.


Seketika Widia mengangguk dan menurunkan buku perlahan dengan hati-hati.


"Liyan! Apa kau sudah selesai?" Tanya Bu Dona. "Kalau sudah silahkan tampil ke depan sambil bawa bukunya!" Lanjut Bu Dona."


"Bu! Tapi Fikri dan Rasyd belum kembali." Ucap salah seorang murid dari meja yang tepat satu barisan dengan meja Bu Dona.


"Kita tidak usah menunggu mereka!" Balas Bu Dona. Menatap pintu kelas yang terbuka.


Aku begitu takut dan gemetar setelah mendengar Bu Dona menyuruhku dengan tegas tampil lebih dulu.


Tok! Tok! Tok!


Kami pun sontak tersentak dan mengangakat kepala. Begitu juga dengan Bu Dona refleks ia memutar kepala sambil menggeser sedikit tubuh melihat ke arah pintu.


Aku yang tadi sedang bertengkar dengan rasa takut. Refleks mengangkat kepala melihat ke arah pintu dengan terdiam melihat Fikri dan Rasyd, masuk.


"Mana mereka?" Tanya Bu Dona. Menatap mereka berdua dengan sorot mata yang tajam. Menurunkan sedikit kaca mata menggantung di pertengahan tulang hidung.


"Itu Bu!" Jawab Fikri. Menunjuk pintu dengan mengarahkan kedua bola mata menatap pintu.


Seketika Bu Dona pun mengikuti arah tatapan kedua bola mata Fikri. Melihat ke pintu yang terbuka.


"Dari mana saja kalian?" Tanya Bu Dona. Menatap mereka dengan tajam dan wajah yang di penuhi sedikit kekesalan. "Saya kan sudah menyuruh kalian masuk!" Lanjutnya dengan memajukan sedikit badannya ke depan sehingga Bun Dona terlihat seperti orang yang ingin bangun dari duduknya.


Sontak mereka pun menarik badan dengan refleks mundur ke belakang dengan wajah yang di selimuti rasa takut.


"Kenapa kalian diam saja?" Ucap Bu Dona dengan wajah yang tajam.


"Bu maaf! Kami tidak mendengar bel berbunyi!" Sambung mereka dengan sedikit nada suara berat dan takut. Meremas jemari dan menunduk.


"Mau sampai kapanpun kalian menunggu! Bel tidak akan berbunyi, paham kalian! Karena guru lagi ada meeting di kantor!" Tandas Bu Dona dengan tegas. Menatap mereka dengan kesal. "Saya tadi sudah menyuruh Rasyd untuk memanggil kalian masuk! Hm, jadi, kenapa kalian masih di luar semua?" Tanya Bu Dona dengan nada suara penuh penekanan sambil mengayunkan pena ke udara sebagai isyarat menunjuk mereka satu persatu dan juga menunjuk Rasyd.


"Rasyd! Apa tadi amanah yang saya berikan kepada mu? Ha!" Ucap Bu Dona. Mendelik.


Rasyd begitu terhenyak melihat Bu Dona yang menatap dengan tajam dan kesal. Rasyd begitu diam membeku seribu bahasa. Wajah polosnya kini terlihat begitu panik dengan beribu masalah yang berkecamuk.


Masalah yang terjadi akibat kesalahannya sendiri kini membuat ia terkepung dengan beribu pertanyaan dari Bu Dona yang begitu sulit untuk ia menjawabnya.


Kedua bola mata berputar melihat ke sana kemari, seolah-olah ia mencari sebuah jawaban dari lantai yang bisu. Tubuh gagahnya kini sebagai wakil ketua kelas membuat ia ingin terjerembab ke lantai.


Tawanya tadi yang menggelar mengisi langit-langit kelas sontak menghilang tanpa jejak. Lidah keluhnya pun seakan tidak berarti apa-apa saat ini.


Sementara aku yang melihat dan mendengar dari bangkuku begitu khawatir terhadap diri Rasyd yang lagi terkepung dengan ultimatum dari Bu Dona.


"Ia Bu! Saya lupa!" Cetus Rasyd dengan rileksnya. Seakan ia tidak merasa bersalah.


"Apa?! Kau bisa lupa!" Sambung Bu Dona dengan menggeleng. Seketika Bu Dona pun memutar kepala dan menghembuskan napas panjang. Bu Dona kini terlihat seperti orang yang sedang menghapus dada.


Jawaban ampuh dari seorang Rasyd memang seperti itu. Jika, ia sudah terjebak, ia pasti akan menjawab kalau dia itu, lupa!


Itulah yang membuat Bu Dona tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sehingga menyuruh Rasyd dan Fikri untuk duduk beserta murid yang lain.


"Ya sudah duduklah! Silahkan!" Seru Bu Dona dengan nada suara datar. Melihat kembali buku.


"Baik Bu!" Jawab mereka. Berjalan menghampiri bangku masing-masing. Tersenyum.


"Untuk kamu Liyan! Jangan lupa, kamu tampil lebih dulu untuk membaca puisi kemari! Saya tidak memaksa, mau kalian membawa buku ataupun tidak! Tapi yang jelas nilai yang akan saya berikan dari murid yang tampil membawa buku tidak sama dengan murid yang tampil tanpa buku, jelas!" Ucap Bu Dona dengan penuh penegasan. Menatap kami dengan wajah serius."Untuk yang belum mengerjakan, silahkan kerjakan dan harus selesai hari ini juga!" Perintah Bu Dona. Menatap seluruh murid.


Betapa gemetar tubuh saat ini mendengar namaku di sebut. Panggilan yang begitu memaksaku untuk tampil lebih baik. Puisi yang telah selesai aku hapal telah siap menggiringku tampil ke depan.


"Ibu kasih kalian beberapa menit lagi! Terkhusus untuk mu Liyan." Ucap Bu Dona. Menatap kami sambil menulis di atas kertas.


Serasa diri ini sedang berperang dengan batin yang berkecamuk. Sebisa mungkin aku harus bisa menguasai puisi yang aku tulis dengan hasil karyaku sendiri. Meskipun aku tidak tahu, apakah puisi ini baik dimata Bu Dona atau tidak begitu juga di mata temanku? Entah, apa yang ada di dalam pikiranku saat ini. Aku terlihat begitu gelisah.


Buku yang ada di hadapanku kini aku tatap dengan lekat.


"Liyan! Sebentar lagi giliranmu! Setelah itu, pasti aku yang akan tampil." Sambung Widia dengan sedikit cemas. Menatap buku yang ada di hadapannya dengan sendu.


"Aku tidak tahu Widia! Kemungkinan tidak!" Timpalku. Menatap Widia.

__ADS_1


Seketika aku memutar kepala dengan rasa was-was yang menggelitik hati.


"Liyan! Cepat! Kamu sudah selesai, kan!" Perintah Bu Dona. Menatap dengan lekat.


"Baik Bu!" Jawabku dengan pelan. Berdiri membawa buku.


Seketika aku bangun dari bangku dan berjalan perlahan bersama puisi yang telah aku tulis sambil menelan ludah dengan tubuh sedikit gemetar karena membayangkan diriku yang akan berdiri di depan kelas.


Kaki lemah yang gemetar harus aku ayunkan dengan kuat agar tidak terjerembab.


"Ini Bu!" Ucapku. Menyerahkan buku kepada Bu Dona.


"Sekarang silahkan baca!" Ucap Bu Dona. Meraih buku dan menatapku dengan tatapan yang penuh memberikan izin dengan tulus.


Ibu ,


kau bagaikan mentari


di tengah awan yang mendung


yang terus bersinar menerangi bumi


Namun , engkau tak pernah terhancurkan .


Betapa besar kasih sayangmu


yang bisa mengalahkan musuh


dari sudut manapun


Dan membuat mereka tersenyum


Sampai nanti kau akan menjadi cahaya buatku


untuk tempat menampung luka dan duka


kaulah cinta yang paling murni yang pernah aku temui


kau seperti udara yang memberikan kasih sayang yang begitu sempurna .


Begitu banyak lantunan nyanyian yang engkau alunkan untukku ketika aku terlelap


kau adalah pahlawan bagiku yang tak pernah lelah dalam membimbingku


aku tak pernah melihat sesuatu sekuat dirimu


Terimakasih telah menjadi lanteraku


tanpamu aku bukanlah apa-apa


kau adalah ciptaan yang terindah di dunia yang egois ini


kau bagaikan laut yang dalam yang bisa menampung semua dengan tenang .


"Terimakasih!" Ucapku menunduk sambil membenamkan sebelah tangan kanan di dadaku.


Tepuk tangan dari teman-temanku pun begitulah gemuruh. Hari ini aku bagaikan berdiri di atas podium yang megah.


Wajah bahagia pun kini terlihat di wajah Bu Dona. Ia begitu menatapku dengan senyum, meskipun terlihat tipis karena Bu Dona guru yang paling payah senyum. Ia lebih terlihat ketat dan tegas.


.


.


Teman -teman terima kasih atas telah memberi like, favorit dan komentarnya. 🥰


Bersambung....


Sambil menunggu Author update!


Yuk! Baca novel dari teman aku Author yang lain!


Pasti engga nyesel deh bacanya!



Warning!!


Cerita ini bukan untuk anak di bawah umur, berisi adegan baper dan kebucinan yang hakiki.


***


"Lepaskan aku, Bangs*t! Aku tidak tahu apa yang kamu maksud!"


"Lepaskan? Jangan harap! Kamu harus bertanggung jawab atas kematian adikku!"


Lyla tidak mengerti dengan apa yang terjadi, dia diculik tanpa tahu sebab yang sebenarnya. Dituduh menjadi penyebab kematian adik seorang laki-laki asing yang bahkan baru saja dia lihat.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi kepada Lyla. Dapatkan dia meyakinkan penculik dan bebas? Atau ....


__ADS_2