
" Tidak usah." Ayahku tetap bersi keras menolak pertolongan ibu sambung kami.
" Kau pikir kan, baik-baik sebelum semuanya berantakan." Penuh penegasan.
Melihat ayahku yang tadi begitu lesu. Akibat penekanan dari lelaki itu sampai kini ayahku masih teringat akan kejadian tadi. Wajahnya kini masih terlihat di tekuk.
" Ayah, Ayah mau kemana?" Tanya adikku yang terus menempel kepada ayahku.
Ayahku berdiri mengambil celananya dari gantungan. "Ayah mau pergi kerja dulu, nak." Jawab ayahku dengan datar tanpa melihat adikku.
Adikku yang masih memegang tangan ayahku. " Tapi kan, Ayah baru pulang." Dengan suara pelannya menatap ayahku.
" Ia, nak tapi Ayah tidak ada uang lagi. Kamu mau jajan, kan ?" Ayahku menatap adikku lekat.
" Ia, Ayah, tapi nanti Ayah cepat pulang, kan?!" Adikku begitu khawatir terlihat dari wajahnya.
" Ia, nak! Jaga kakak mu, ya! Jangan berantam kalian, ya!" Ayahku dengan penuh penegasan.
Aku melihat ayahku berjalan dengan perlahan. Wajahnya yang begitu ketat menatap lurus dengan sorot mata seakan menantang seorang musuh.
Langkahnya yang terseok- seok melangkah mendekati sepatu dan memakainya. Napasnya dengan terengah kini terdengar berhembus dari hidungnya dengan keras. Tubuhnya yang dibalut dengan pakaian yang terlihat apa adanya menutupi kulit menuanya.
" Ana, jaga adik kamu. Jangan dia pergi jauh-jauh!" Ayahku menghilang berlalu.
Harapan ayahku begitu kuat bahwasanya, ia akan mendapatkan uang sebanyak itu dalam satu minggu. Tatapan yang tadi kosong kini berubah seketika. Menjadi tatapan yang penuh harap.
Semangatnya begitu kuat dengan tekat yang bulat ia akan bisa melalui semuanya. Seakan, ia hari ini yakin, akan bisa memenuhi permintaan sang pemilik rumah kontrakan dengan janji yang mereka sepakati bersama.
Ayahku pun segera menghilang dari baik pintu tanpa menoleh melihat kami sekalipun. Langkahnya yang tadi terlihat gagap seketika fasih terlihat. Diriku yang tadi was-was melihat ayahku kini sudah kembali rileks.
" Kak," adikku menghampiri aku yang berdiri di sudut lemari pakaian kami. " Aku takut! Sama uwa tadi kak." Nada suaranya yang pelan dengan wajah datarnya menatap ku dengan lekat. Seakan adikku ingin mengatakan kalau dia tidak mau lagi melihat uwa itu datang.
Tatapannya yang begitu lirih dengan gurat wajah ketakutan. Adikku merapatkan tubuhnya pada aku.
__ADS_1
" Kak, uwa itu engga datang lagi,kan?" Tanya adikku ingin tahu dengan penuh keyakinan.
" Tenang aja dek, kan ada Ayah," kataku sambil menenangkan adikku.
" Ayah aja tadi takut, kak," adikku kembali menimpali perkataan ku dengan memprotes apa yang aku ucapakan.
Aku pun memeluk adikku dengan tubuh lemahku. Tungkai kakiku yang ingin jatuh kelantai sebisa mungkin aku menahannya dengan kuat.
Adikku masih saja memeluk ku erat. Dia begitu tidak mau melepaskan pelukannya meskipun, telah aku tepis dengan pelan.
" Dek," melepaskan pelukan adikku. " Engga perlu takut. Emangnya kau dimarahinya, engga kan." Menatap adikku lekat.
Aku mendengar ibu sambung kami lagi ngedumel sendiri di dapur dengan geram. Sorot matanya yang tajam dengan wajah yang di penuhi dengan kekesalan yang begitu lekat. Ia menatap kami begitu menakutkan bagiku.
" Dek, kita masuk kamar , ayo!" Ajak ku dengan senyum manis.
" Engga, dikamar panas kak," kata adikku dengan menolak. " Ana, masih mau diluar." Dengan penegasan yang seakan tidak bisa di tawar lagi.
Spontan aku menarik sedikit bibirku dengan cemberut. Aku begitu sulit mengendalikan keinginan adikku yang menggebu-gebu.
" Liyan, ngapain adikmu itu!?!" Pekik ibu sambung kami dari dapur.
Aku yang begitu kesal dengan adikku menatapnya dengan tatapan yang tidak menyenangkan dan kemudian memalingkan nya ketempat lain. Wajah ketatnya yang begitu terlihat antusias melihat ku kembali.
" Bermain boneka," kataku dengan datar.
Lelah terasa kakiku yang menopang tubuh mungilku yang lemah. Melihat adikku yang ingin ditemani bermain. Belum lagi dengan ibu sambung kami yang selalu mengintimidasi.
" Dek, kakak itu lemas, pengen tidur!" Dengan wajah lesu.
" Kak," adikku menunjukkan wajah sedihnya. "sebentar lagi, kenapa kak?" Adikku memohon dengan wajah yang pengen dikasihani.
Sejenak aku diam mendengar keinginan adikku. Lalu duduk seperti orang yang bersemedi di sampingnya yang begitu asyik dengan permainannya.
__ADS_1
" Dek, kenapa bonekanya dibuat kayak gitu? Nanti rusak, lo!" Tanyaku sedikit kesal dengan protes.
" Engga, apa-apa kak," kata adikku yang tidak terlalu suka diprotes.
Aku pun hanya diam melihat boneka yang dimainkan oleh adikku dengan begitu asyik. Wajah sedihnya dan ketakutannya tadi kini hilang seketika.
Serasa adikku tidak pernah mengalami kejadian yang memilukan tadi. Kejadian yang membuat ia begitu trauma. Segitu sulitnya, ia tadi berusaha sebaik mungkin untuk menetralkan keadaan nya sehingga terlihat normal kembali.
Matanya yang tadi berkaca-kaca melihat ayahku di marahi oleh orang asing tadi. Sehingga membuat ia diam menahan tangis.
" Liyan, bilang sama adikmu, susun mainannya!" Dengan nada suara yang tidak suka.
Sontak aku terdiam mendengarnya. Menatap ibu sambung kami yang berjalan mengitari dapur seperti orang yang lagi sibuk. Sementara, adikku yang lagi asyik bermain dengan bonekanya terlihat seperti orang bodoh. Ia begitu terpukul mendengar perkataan ibu sambung kami yang begitu ketus berbicara.
Ia langsung terlihat tidak semangat wajah polosnya seketika terlihat ditekuk. " Kak," wajahnya yang manja menatap ku dengan sedikit sedih. Seakan, adikku mengadukan isi hatinya kepada aku. Bahwa, ia ingin lanjut bermain.
" Kak, aku masih pengen bermain," adikku merengek minta lanjut dalam bermainnya, dengan raut wajahnya yang begitu belum rela untuk melepas permainannya, terlihat dengan jelas.
" Udah dek! Besok kita main boneka lagi," menatap adikku berusaha untuk merayu agar segera memberhentikan permainannya.
" Ana, apa lagi susun mainan mu! Sudah mau malam." Teriak ibu sambung kami.
Seketika tangan adikku berhenti. Wajah polosnya kini terlihat begitu miris. Wajahnya terlihat masam dengan memajukan bibirnya monyong kedepan.
Aku tak begitu bisa untuk menenangkan adikku. Adikku sangat sulit untuk ditenangkan. Hanya, ayahku yang bisa menenangkan dia.
Jika, ayahku yang akan menenangkan adikku maka, habislah hidupku. Sementara, ayahku tadi menyuruh ku untuk menjaga adikku. Kalau ayahku tau seperti ini keadaan adikku maka, aku yang akan kena marah. Ini seperti pepatah, orang yang makan nangka awak yang kena getahnya. Seperti itulah hidupku sekarang ini.
Aku memang tidak bisa berbuat apa-apa kalau mengenai adikku. Aku menarik napas melihat adikku yang begitu kesal dengan wanita itu.
" Ana ***," seketika ia terdiam.
Adikku langsung memotong pembicaraan nya dengan kesal. "Ia, udah!" Jawab adikku dengan ketus. Wajahnya begitu tidak senang sambil ngedumel.
__ADS_1
Aku pun melihat mereka berdua begitu bingung. Aku menatap mereka bergantian satu persatu dengan bengong.
Bersambung.....