
Adikku akhirnya selesai menyusun boneka mainannya dengan rapi.
" Kak, sudah !" Kata adikku dengan ketus meletakkan mainannya dengan sedikit keras.
" Dek, nyusun nya di sana buat rapi, nanti Ibu itu marah lagi." Kataku dengan datar.
Wajah adikku berubah sedikit kesal karena ia dilarang bermain boneka.
" Kak, aku bermain, ya!" Pinta adikku dengan memohon.
Jika, aku mengizinkan adikku bermain maka, ayahku akan memarahiku. Akan tetapi, adikku akan semakin kesal sepanjang hari. Wajahnya yang ditekuk terlihat semakin ketat. Melihatnya kini aku semakin depresi. Wajah bingungku pun kini terlihat menghiasi wajah polosku yang pucat. Gerutuan adikku semakin membuatku jengah.
" Kak, padahal kan, aku ingin bermain." Sebut adikku dengan sedikit kecewa seakan ia tidak rela kalau ia dilarang untuk bermain.
" Dek," Tatapanku dengan sorot mata yang terlihat sedikit tajam.
Seketika wajah adikku merah merona berapi- api. Sorot mata yang tajam dengan wajah kekesalan menatap ku tiada henti. Aku pun begitu takut melihat sorot matanya yang menakutkan.
Seakan adikku ingin menghempaskan isi rumah ini sampai porak-poranda. Dia tak bergeming dengan menunjukkan hatinya yang mengeras.
" Liyan, sudah beres!" Teriak ibu sambung kami dengan memastikan. Sepertinya, dia tidak ingin kalau adikku terlihat senang hari ini. Dia begitu antusias untuk menghentikan adikku bermain. Dia terlihat tidak begitu senang kalau adikku, ia lihat tersenyum.
Aku yang berada diantara mereka begitu terlihat seperti orang yang terjepit. Di satu sisi aku harus menyayangi adikku, di satu sisi lagi aku harus menghormati ibu sambung kami. Sebagaimana aku menghormati ayahku.
Kebingungan menghampiri diriku saat ini. Rasa tak kuasa untuk membela diantara salah satu dari mereka berdua membuat aku seperti orang bodoh. Hanya bisa melihat, mendengar tanpa bertindak.
" Ia Bu, sudah!" Sahutku dengan datar.
Keadaan hari ini begitu buruk terlihat. " Dek, ayo kita tidur saja!" Ajak aku dengan lembut. Menatap adikku di sebelahku yang masih memasang wajah kesal.
" Tidur apa kak?!" Tanya adikku dengan sedikit penasaran.
" Tidur siang!" Kataku dengan tandas.
Hahaha! Adikku tertawa kecil melihatku. " Kak, aku itu, engga pernah mau tidur siang." Dengan tegas adikku menolak. "Dari pada aku tidur, mendingan aku bermain." Protes adikku spontan.
" Tapi, dek! Kamu mau kemana? Ini sudah hampir sore." Dengan memprotes adikku kembali.
" Terserah, kakak lah!" Sambil mendesis.
Adikku pun pergi meninggalkan aku sendiri. Dia pergi dengan amarah yang menyala. Sementara, ibu sambung kami, aku lihat begitu sibuk dengan beberes di dapur.
__ADS_1
Wajah ketatnya yang terlihat, dia begitu tidak senang. Seakan, dia begitu membenci sesuatu terlihat jelas dari gurat wajahnya.
" Assalamualaikum."
Tersentak aku mengalihkan pandanganku kearah sumber suara yang datang. Sontak aku memutar kepalaku dengan kencang.
Ayah!
Seketika, aku terpana melihat ayahku telah pulang. Wajah dan pikiran kusut aku tadi yang bersemayam di dalam tubuhku yang masih terlihat lemah. Aku tepis dengan seketika. Melihat ayahku aku menarik sedikit bibirku dengan senyum tipis.
Ayah! Teriak adikku tiba-tiba menghampiri ayahku.
Sontak ayahku terperanjat ingin jatuh. Adikku hanya tersenyum manis dengan wajah ceria.
"Ayah, kalau Ayah besok pergi, Ana ikut ya, Ayah!" Pinta adikku dengan suaranya yang manja. " Ana, engga mau tinggal di rumah." Kata adikku dengan tegas.
Sontak ibu sambung kami yang tiba-tiba berdiri diam menatap adikku dengan gurat wajah yang sedikit mendelik. Aku yang tanpa sengaja melihatnya begitu tidak suka. Dia begitu, sesuka hatinya memarahi kami, yang kami masih seukuran anak-anak masih suka berekspresi dan selalu aktif.
Semua harus kami jalani dan lakukan harus sesuai dengan keinginan dia. Tanpa mau tahu bagaimana perasaan kami sebagai anak-anak.
" Kenapa anak Ayah besok mau ikut, Ayah?" Berjalan masuk menggenggam tangan adikku.
" Ia, Ana pengen ikut Ayah!" Pinta adikku dengan wajah sedihnya.
" Tapi, kan besok anak Ayah sekolah." Menggantungkan pakaian kerjanya.
Adikku berdiri didekat Ayahku menatap dengan wajah yang berusaha menyembunyikan kejadian yang memilukan tadi.
" Kenapa kamu, nak?" Tanya ayahku berjalan ke dapur mengambil ember.
" Ayah mau ngapain?!" Tanya adikku dengan penasaran. Mengalihkan pertanyaan ayahku yang dilontarkan ayahku terhadapnya.
" Ayah mau mengambil air. Air kita sudah tidak ada!" Ayahku pergi menghilang dari balik pintu dengan ember yang ada di tangannya.
Ayahku yang seketika berlalu ditatap oleh adikku dengan wajah penuh harap. Kalau ia hari ini dan selanjutnya baik-baik saja.
Sementara, ibu sambung kami yang tadi beberes beralih membersihkan kamar.
Wajahku yang pucat menatap adikku dan ibu sambung kami yang terlihat seperti musuh besar. Berdiri diam mematung di ruang depan.
" Liyan, cepat buang ini ke tempat sampah!" Berdiri di depan pintu kamar.
__ADS_1
" Baik, Bu !" Segera menghampiri sambil mengambil sampah yang ingin di buang.
Sementara, adikku hanya diam melihat ku dari dapur sambil menunggu Ayahku. Kedua bola matanya berputar melihatku dan melihat halaman dapur. Sekali pun, adikku tidak mau beranjak dari tempatnya.
Wanita itu pun kembali masuk. " Jangan berserakan, ingat!" Teriak wanita itu sedikit dari dalam kamar. Mendongak.
" Ia, Bu!" Jawabku tegas. Terus berjalan lurus kedepan.
Kaki lemahku yang tungkainya tak berdaya. Melangkah perlahan dengan teratur bersama sampah yang aku genggam ditangan kananku.
Hembusan angin yang pelan begitu terasa menerkam tubuh mungilku yang lemah. Harus aku terobos dengan memberanikan diri demi sampah yang ada di tanganku.
" Kak!" Panggil adikku yang membuat aku terkejut hingga gelagapan.
" Kakak ngapain? Memegang, apa Kakak? Tanya adikku yang pura-pura tidak tahu. Terlihat dari wajahnya ketika, aku memutarkan badanku.
Aku diam dan mengayunkan sampah yang aku pegang ke udara . Sebagai isyarat untuk menjawab pertanyaan adikku. Kalau aku membuang sampah.
Adikku pun seketika terpana melihat yang aku pegang. Hahaha! Dengan sumringah adikku tertawa.
" Kenapa ?" Sedikit mengerutkan keningku dengan wajah ku yang bingung melihat adikku.
Melihat adikku yang tidak jelas. Aku menarik bibirku dengan sedikit memelas. Wajah polosku yang pucat terlihat begitu lesu.
"Liyan!" Teriak ibu sambung kami dari dalam kamar.
Seketika, wajah adikku melirik kedalam menatapku dengan menggerakkan kepalanya pelan. Memberikan isyarat bahwa aku di panggil dan harus masuk segera dengan smrik adikku menatapku.
Aku pun menyeret kakiku yang lemah terkulai masuk. " Ia, Bu." Berdiri menghampirinya. Sesekali, aku menatap adikku yang masih diluar yang kini mengambil jambu dengan gala bambu.
" Liyan, tolong taruh ini ketempat pakaian kotor!" Memberi beberapa helai sarung bantal.
Aku pun meraihnya seketika dan menaruhnya di tempat pakaian kotor dengan langkah ku yang terkulai sedikit gontai.
Brugh! Menaruhnya dengan sedikit keras.
" Liyan!" Panggilnya kembali.
Aku yang mengkerucutkan bibirku sedikit tanpa diketahui oleh ia, menghampirinya kembali.
" Ia, Bu!" Kembali berdiri.
__ADS_1
" Ambilkan sapu, cepat! Bawa kesini!" Sambil menata bantal di atas tempat tidur yang sederhana. " Besok, kau kan mau berobat! Makanya, harus di bersihkan sekarang, takutnya besok tidak sempat."
Bersambung.....