Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Mainan dari kertas


__ADS_3

"Pak beli yang ini," kata ayahku. Menunjuk mainan yang tergantung.


"Ayah, aku mau. Hahaha!" kata adikku tertawa senang melihat ayahku membelikan Anak BP untukku. "Aku yang itu Ayah," tunjuk adikku. Meloncat-loncat dengan girang.


"Yang ini!" kata ayahku menunjuk mainan kertas yang tergantung itu. Memutar kepala melirik adikku yang berdiri tepat di samping kirinya.


"Iya Ayah," balas adikku.


Ayahku pun mengeluarkan dompet dari dalam sakunya dan membayar mainan tersebut.


"Terimakasih Pak," ucap penjual dengan ramah.


"Terimakasih kembali," jawab ayahku membalasnya dengan ramah kembali. Ayahku pun memutar badannya langsung berdiri tegak lurus tepat di hadapan kami sambil menyerahkan mainan yang dia beli.


"Ini untuk mu, Liyan dan yang ini untuk Anak Ayah," ucap ayahku. Melirik adikku dan memberikannya masing-masing ke tangan kami.


"Waaah Ayah! Anak BPnya cantik sekaliiii," kataku dengan sumringah. Melihat mainan anak BP yang terbuat dari kertas ini tiba di telapak tangan.


"Iya Ayah. Cantik, apalagi baju-bajunya. Cantik- cantik semua," sambung adikku. Menatapnya dengan cahaya mata yang berbinar.


"Kalau kalian senang. Jaga mainan itu! Jangan sampai hilang. Dan tidak ada lagi alasan untuk membeli mainan baru," tampik ibu sambungku langsung memotong dari belakang.


"Namanya juga Anak-anak. Kalau hilang, ya mau diapain lagi," sambut ayahku secara tidak langsung membela kami berdua.


"Kau itulah. Selalu membela kedua Anakmu itu! Gak pernah kau menyalahkan mereka," tampiknya. Berjalan meninggalkan penjual mainan.


"Loh, selama ini aku tidak pernah terlalu membela mereka. Kalau mereka salah, ya salah. Mana mungkin ada Anakku yang salah aku bela," tandas ayahku menjelaskan. Berjalan.


"Kapan kau pernah menyalahkan Anakmu?" tanya ibu sambung kami dengan nada suara sedikit keras.


"Bukannya selama ini aku tidak pernah menyalahkan mereka ? Pernah 'kan?" tanya ayahku kepada istrinya. "Coba ingat ! Jika kedua Anakku salah. Aku yang lebih dulu menghukum mereka," terangnya.


"Halah. Buktinya selama ini setiap Anakmu meminta apa pun, kau selalu memenuhinya. Kau selalu menurutinya. Bahkan sampai-sampai aku tidak bisa membeli baju," tandasnya.


"Kalau untuk itu. Aku akui memang iya. Aku menuruti semua permintaan Anakku. Tapi, itu tidak untuk tiap hari", terang ayahku menjelaskan. "Itu untuk hari ini. Karena aku sudah lama tidak pernah membawa mereka bermain. Bahkan aku terlalu sering mengurung Liyan di rumah," balasnya.


"Heh, itu cuma alasanmu saja!" cecar istrinya. Menyeringai.


Suara pertengkaran mereka berdua pun terdengar olehku dari depan.

__ADS_1


"Alasan bagaimana?" tanya ayahku ingin tahu.


"Iya. Itu alasanmu, supaya Anakmu itu terlihat baik di mataku," ucap ibu sambungku dengan meninggi.


Aku terus saja mendengar suara -suara itu.


"Membela apanya?" tanya ayahku dengan penuh penekanan menanya kepada ibu sambungku.


Sontak ibu sambungku diam dan aku pun terus menerus berjalan ditengah suara -suara pengunjung pasar malam. Suara bising dari mesin-mesin permainan itu terdengar memekakkan kedua telinga ini.


"Liyan, belok ke sini, Nak," pinta ayahku berteriak ditengah suara-suara mesin yang keras berputar dan juga suara anak-anak yang berteriak gembira dan menangis yang menggema di udara.


"Dengar tidak kalian? Jalan ke sini. Bukan ke sana," pekik ibu sambung kami dengan keras. Menempelkan wajahnya ke arah wajahku dan seakan dia ingin menutup kedua telinganya dari suara yang terdengar bising.


"Iya Bu," kami mendengarnya," jawabku dengan nada suara bercampur segala kebisingan yang terdengar dengan keras. "Lihat jalanmu Ana!" kataku sambil memegangi adikku dengan tangan sebelah kanan sementara tangan sebelah kiriku memegang mainan dari kertas tadi.


"Banyak kali orang yang lewat. Kakiku terinjak," rintih adikku. Berusaha dengan keras menjaga jaraknya dari kerumunan orang- orang.


"Liyan, cepat sedikit jalanmu. Ini sudah jam berapa? Besok alasan kalian lagi. Supaya bangun lama," bentak ibu sambungku. Berhenti dan menunggu kami yang lama berjalan.


Aku dan adikku semakin bersikeras menahan kerumunan agar aku dan adikku tidak terjepit di tengah-tengah tubuh mereka yang besar. Aku semakin berusaha keras agar segera mungkin keluar dari kerumunan orang-orang yang lewat memadati jalan setapak ini.


"Lepas di mana?" tanyaku panik. Berhenti.


"Di situ Kak! Itu dia!" kata adikku menunjuk dengan telunjuknya ke arah sudut jalan yang di tumbuhi sedikit rumput hijau.


"Ana, sebentar, ya! Biar Kakak ambil. Tapi tunggu di sini! Jangan kemana-mana!" harapku dengan keras menuntut adikku agar dia mau mengikuti perintahku.


"Iya Kak," jawab adikku dengan nada suara pelan dan wajahnya yang pucat.


"Eh, iya! Dik, pegangkan dulu ini Kakak," kataku meminta tolong dan menyerahkan mainan yang baru di beli oleh ayahku tadi kepada adikku.


"Iya Kak," jawabnya dengan nada suara yang lirih. Adikku dia hanya menunduk malu seakan dia kalah sebelum berperang.


Aku lari menghampiri sendal jepit yang terlepas. Sendal yang terletak di sudut jalan yang di lewati para pengunjung. Aku menajamkan kedua bola mata ini untuk melihat sendal jepit yang terlepas.


"Ha, ini sendalnya," gumamku pelan. Menjatuhkan tubuh mungil ini.


"Liyan, ngambil apa?" tanya suara yang tidak asing adalah suara ayahku.

__ADS_1


Aku pun langsung menahan tubuh mungil ini setengah menggantung di udara, di ikuti tangan sebelah kananku terhenti dan tidak jadi mengambil sendal. Sementara tangan kiriku mengayun tegak lurus di samping kiri.


Kedua sorot mata pun mendadak berhenti berputar juga . Aku pun semakin menajamkan pendengaran untuk mendengarkan selanjutnya.


"Apa mu jatuh?" tanya ayahku antusias.


"Tidak ada apa-apa ," jawabku panik dengan gurat wajah berjaga dari suara itu. Perlahan aku memutar wajah melihat ke samping kiri dan melihat jenjang kaki yang panjang. Sementara tangan kananku masih mengayun tegak lurus di udara. Perlahan aku menaikkan kepala melihat ke atas. Sontak aku terkejut. "Ayah," kataku pelan.


"Dari tadi Ayah sudah menunggu kalian. Tapi belum juga datang! Mana Ibumu?" tanyanya.


Menatapku yang telah bangun dan menegakkan tubuh ini.


"Tidak tau, Yah," jawabku pelan bercampur hati yang resah. Melirik sendal yang masih teronggok di atas tanah.


"Apa yang jatuh?" tanya ayahku dengan tegas. Menatapku tajam. "Adikmu mana?" tanyanya.


"Itu, Yah!" kataku melayangkan telunjuk ke udara menunjuk adikku yang diam berdiri di pinggir badan jalan.


Cik! Cik! Cik!


Ayahku berdecak tidak habis pikir melihat kami terlalu berani. Masih berdiri di antara para pengunjung yang lewat.


"Kalian itu terlalu berani, ya! Kau tidak takut hilang Liyan, ha?" tanya ayahku dengan gurat wajah heran. "Ayah saja takut kalau kau dan adikmu hilang. Ini kau malah tenang di sini!" katanya menahan kekesalan. "Mau kemana kau nanti di cari kalau hilang, ha?" lanjutnya dengan penuh penekanan bertanya kepada ku.


Orang-orang yang bersiliweran pun dengan senang hati kadang ada yang menjaga jarak agar tidak saling bertubrukan dengan kami. Ada yang yang tersenyum memberi tegur sapa kepada ayahku dan aku.


Sementara ayahku yang masih kesal tidak terlalu menghiraukan orang-orang yang memberi senyuman tegur sapa itu.


"Ha, kenapa kau bisa lama di sini?" tanya ayahku dengan kesal.


"Ayah, aku mau mengambil sendal si Ana," kataku menjawab pertanyaan ayahku tadi. Menjatuhkan tubuh mengambil sendal.


"Cepat ambil! Ikut Ayah sekarang. Kita pulang," ucap ayahku. Memutar badan kembali menghampiri becaknya yang terparkir.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2