Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Tersenyum kembali


__ADS_3

"Sesudah aku menangis, baru Kakak minta maaf," cetus adikku kesal.


Adikku terlihat kesal karena aku. Dia seakan berberat hati menerima permintaan maafku. Permintaan maaf yang seakan terlambat dan tidak lagi berguna baginya. Gubrisan kecil pun tidak ada dia torehkan. Dia hanya membisu mengabaikan aku yang berdiri menunggu jawaban maaf darinya. Aku yang dulu mengetahui bagaimana adikku, masih saja suka bercanda dan bertengkar dengannya. Namun, ini tidak membuat persaudaraan kami renggang. Sampai saat ini persaudaraan kami masih terjalin dengan akur meskipun kami sesekali bertengkar. Lalu kami berteman kembali. Seperti itu lah kisah kami setiap hari bergulir. Aku lebih banyak menjadi anak yang diminta ayahku. Anak yang bersikap dewasa, banyak mengalah, bersikap bijaksana dan tidak membesar- besarkan masalah. Aku juga harus bisa menyelesaikan masalah, baik itu masalah besar maupun masalah kecil. Terkadang tidak jarang ayahku mengingatkanku, kalau aku pergi keluar rumah harus meminta izin terlebih dahulu dan kalau sudah di luar, apabila aku bertengkar dengan temanku jangan suka mengadukan pada siapapun, apalagi itu masalah yang kecil yaitu, hanya masalah anak-anak.


Tapi bukan ayahku namanya, kalau dia tidak mencari terlebih dahulu masalah kami anak-anaknya di luar sana. Aku sempat juga berpikir, kalau ayahku adalah ayah yang egois. Ayah yang sayang pada salah satu anaknya. Tapi itu salah besar ketika aku mengetahui ayahku kalau dia juga begitu sangat menyayangiku dan lebih memperhatikan kesehatanku. Kepeduliannya terhadapku sungguh luar biasa tidak ada yang bisa membalasnya. Tapi ayahku cuman diam dan tidak menunjukkannya padaku agar aku tidak menjadi anak yang manja.


Berkali -kali terbersit di hatiku kalau ayahku tidak sayang padaku. Dia hanya suka memarahiku, menghukumku kalau aku berbuat salah. Sekecil apapun kesalahanku ayahku langsung memberiku ultimatum yang membuatku tidak bisa bersuara, jangankan membela diri untuk menceritakannya pun aku tidak sanggup.


Aku anak yang cengeng. Namun, aku tidak pernah mengeluh. Maka dari itu ayahku lah yang harus bekerja keras untuk mengubahku menjadi anak yang kuat dalam hal apapun, menjadi anak yang bermental baja. Baik itu ketika aku mendapatkan masalah kecil maupun masalah besar.


Aku masih mengingat kata-kata ayahku ketika aku kembali dari bermain dan menangis mengadukan perlakuan temanku pada ayahku. 'Nak, kalau kita pergi keluar dan bertemu dengan orang banyak itu akan sering kita alami. Karena kita dengan dia berbeda, Nak. Berbeda Ibu, berbeda Ayah dan berbeda cara pandang. Terlebih lagi cara didikan di rumah. Kalau anak Ayah tidak kuat dengan celaan di luar sana jangan keluar rumah. Kalau memang ingin bermain, ya bermain lah tapi jangan menangis dan kalau tidak mau menangis, ya bermain la di rumah. Tapi kalau masih ingin keluar jangan menangis dan mengadu ketika kembali ke rumah. Coba lah selesaikan masalahmu sendiri di luar sana. Kalau kau tidak bisa baru beritahu, kita akan mencari jalan keluarnya.'


Kata-kata itulah yang terekam di memoriku sampai saat ini. Pada saat aku mendapatkan masalah yang berhubungan dengan celaan terhadap diriku sendiri aku bergerak untuk menyelesaikannya sendiri. Kalau aku gagal aku baru menceritakannya pada ayahku.


Akan tetapi itu tidak pernah terjadi. Setiap aku mendapatkan celaan aku tidak pernah mengadukannya pada ayahku. Satu yang kulakukan untuk itu yaitu, aku harus bisa diam menerimanya karena setiap yang kita hadapi tidak seharusnya di balas. Selagi aku kuat aku tidak akan menceritakannya pada siapapun terkecuali itu mempengaruhi mentalku.


Seperti itu lah yang kulakukan saat ini pada adikku. Aku mengalah dan meminta maaf terlebih dahulu karena sebagai anak perempuan pertama tidak lah mudah. Banyak terjangan ombak, kerikil yang tajam dan duri-duri yang memenuhi setiap langkah. Di balik duri yang menusuk dan ombak yang menghempas dengan kuat aku harus tersenyum manis menerimanya. Contohnya, aku tidak boleh menangis. Namun, itu tidak bisa aku genggam dengan kuat. Sebagai manusia biasa yang mempunyai hati nurani aku sering juga menangis walau hanya sesekali.


Lalu aku menghapus air mataku dan melihat langit kembali. Merasakan kalau bulan purnama lagi melihat sedihku dan mengadukannya pada ibuku.


Di balik itu semua aku kembali melihat wajah adikku yang masih kesal. Aku yang berhadapan dengannya masih berdiri meminta maaf sampai adikku jenuh mendengarnya dan mau memaafkan aku. Bagiku perjuangan keras yang di sertai do'a dan harapan itu tidak akan sia-sia. Usaha apapun jika dibarengi dengan ikhtiar akan membuahkan hasil yang manis.


Karena kata ayahku, 'tidak boleh menyerah sebelum berperang .' Teruslah berusaha sampai kau mendapatkan apa yang kau inginkan.'


Hingga saat ini aku masih terlihat berusaha keras hanya untuk kata -kata maaf dari adikku. "Dik, Kakak minta maaf, ya!" Kembali aku mengucapkannya pada adikku.


Suara lirihku yang serak terus menerus mengejar maaf dari adikku. "Dik," kataku sambil menggoda adikku yang marah.


"Isss! Apa sih?!" Adikku menjauh menepis tanganku menghindar membawa bonekanya.


Wajah cemberutnya masih saja berkutat. Suaranya masih saja diam seribu bahasa. Aku juga masih mengejar adikku kemana dia pergi. Dia duduk, aku pun duduk. Dia berdiri, aku pun berdiri. Dia menunduk, aku pun menunduk duduk di hadapannya sambil melihat wajahnya yang cemberut itu.


"Iiihhh! Adik Kakak. Sok, sok merajuk. Cemberut pula wajahnya itu kayak kepiting yang terjepit. Ptfff." Aku menahan tawa.

__ADS_1


"Ptfff. Sana! Siapa yang tertawa?" celetuk adikku. Sok jual mahal. Sedikit menahan tawa.


"Jangan nangis la. Iiiih! Cantik sekali wajahnya," godaku pada adikku agar tersenyum. "Bonekanya ini, ha? Cantik kaliii, seperti princess," ungkapku dengan menggelitik hati.


Sedikit lagi adikku terlihat akan tersenyum. Aku yang mengetahui berusaha terus sampai dia tertawa dan mau berteman lagi dengan ku. Segelintir senyum kini masih menjadi misteri. Aku terus berusaha mencari tahu. Apakah adikku sudah menerima maafku atau masih memendam kekesalan?


Suara serakku kembali menggoda adikku. "Ana. Maukah dirimu memaafkan aku. Aku sudah lama menanti maaf darimu dan sudah lelah melihat wajahmu." Bergaya seperti seorang putri malu. "kertek, kertek,kertek." Aku bertingkah, seperti kodok yang melompat.


Hahaha ! Adikku pun tertawa hingga menampakkan gerahamnya. "Kakak cocok sekali, seperti itu!" kata adikku sambil menunjuk. "Hahaha !" Dia tertawa lagi.


Tubuhnya yang kecil itu pun terpingkal menertawakan aku. Boneka yang masih di pangkuannya ikut terangkat ke atas melompat -lompat.


Aku langsung tersenyum melihatnya. Akhirnya, senyum sumringah pun tertoreh di wajahku yang pucat. Aku begitu bahagia tidak terkira usaha kerja kerasku demi senyuman adikku membuahkan hasil yang manis. Usaha yang maksimal memang tidak pernah mengecewakan. Hasilnya pasti akan terlihat baik.


Kini hatiku lega seketika. Hati adikku yang tadi mengeras kini telah melunak. Aku langsung menghampirinya dan mencari celah agar bisa berbicara kembali.


Hatinya masih terasa bahagia. Dia pun telah mau berbicara dengan ku lagi. "Kak. Kakak cocok kalau ikut lomba meniru hewan. Hahaha!" Dia pun berkata sambil tertawa. "Bagaimana kalau Kakak seperti itu di depan orang? Hihihi!" tanya adikku tertawa geli.


Aku begitu senang. "Hihihi!" Aku mengikuti adikku. "Kalau kau mau Kakak seperti ini. Kau harus merajuk lagi la," cibirku.


Aku yang menatap lekat. "Masa engga mau. sekali -kali mau la, ya! Biar lucu, seperti badut. Hahaha !" celetukku mengingat adikku.


"Aaagh! Engga, engga, engga. Aku engga mau. Masih kecil, kok di suruh jadi badut pula." Adikku menolaknya langsung.


"Badut 'kan lucu," kataku.


"Lucu?!" Adikku mengatakannya dengan penuh penekanan.


"Iya," sahutku.


"Lucu dari mana?" tanya adikku seakan dia tidak tahu.


"Ialah, rambutnya keriting kribo, hidungnya merah, seperti tomat, perutnya buncit. Bedaknya tebal, seperti tepung. Bajunya aneh," ungkap adikku.

__ADS_1


"Dan juga... ," sambungku.


"... dan juga matanya hitam," ungkap kami berdua. Hahaha !" Kami pun tertawa.


"Lalu... ," kataku.


"... lalu berjalan di depan Anak-anak... ." Adikku terdiam dan melanjutkannya.


"... sambil bermain bola." Aku menyambungnya segera.


"Pasti seru, Kak," ujar adikku.


"Seru ... !" Dengan licik aku mengatakan pada adikku ketika dia begitu serius ingin mendengarnya.


Daaaar!


Suara balon yang tadi aku temukan pun kupecahkan langsung.


Kkkrrrrzzzzz!


Adikku pun terkejut, Seperti terkena setruman listrik yang tinggi. "Hahaha !" Aku tertawa garing melihatnya.


"Uuuhhh! Ayaaah!" teriak adikku mengadu.


.


.


.


Terima kasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏


❤️❤️❤️

__ADS_1


Bersambung...



__ADS_2