Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Hukuman penjaga sekolah


__ADS_3

Aku terus berjalan hingga luntang lantung mengejar waktu yang menjepit langkah. Jalan yang penuh dengan pejalan kaki dan pengendara motor bersiliweran lalu lalang hingga memekik telinga dengan suaranya yang keras.


Aku semakin mengayun kaki dengan kencang. Jalan yang biasa kulalui tak terlihat lagi anak-anak melintas. Mungkin mereka sudah sampai, pikirku. Aku terus berjalan dan berlari sambil menahan tali tas yang ingin terlepas.


Huh!


Aku pun menghela napas lelah ke udara setelah kaki sampai di depan pagar sekolah.


"Liyan, kenapa terlambat?" tanya Pak Sukri penjaga gerbang. Wajah lucu yang bercampur bengis itu pun menatap tajam ke arahku dengan sebuah rotan kecil diayun-ayunkan olehnya ke udara.


Deg !


Glek!


Aku langsung menelan ludah terkejut. "Tadi di jalan padat, Pak," jawabku. Menunduk bercampur takut melirik rotan yang berputar.


"Kenapa kau bisa terlambat?" tanyanya kembali. Melihatku dengan gurat wajah belum percaya. Terlihat dari tatapanku yang menunduk meliriknya.


"Jalannya ramai, Pak," jawabku kembali dengan jantung berdebar kencang. Napasku ingin berhenti.


"Ramai?" tanya pak Sukri heran seakan jawaban dariku, seperti main-main. "Di mana ramainya, Liyan?" tanyanya membuang waktu.


"Kau tau ini jam berapa?" tanyanya melihat jam yang melingkar di tangannya.


Aku tetap diam mematung. Teriakan anak-anak yang telah berlari memasuki barisan terdengar menggema di udara terbawa embusan angin menembus lubang telingaku.


Jemariku semakin kuat kuremas bercampur kesal melihat pak Sukri. Aku terus menggantungkan harapan pada sang Khaliq agar dia mendatangkan keajaiban menutup mulut pak Sukri yang bertanya dan lekas membawaku pergi dari hadapannya.


"Liyan, ayo! Bel sudah berbunyi," sahut seorang teman dari belakangku yang tidak lain suara itu adalah suara Pudan.


"Kau pergi saja duluan! Dia terlambat!" bentak pak Sukri mengusirnya mengayunkan rotan yang di pegangnya.


"Ba-baik, Pak," jawabnya lari terbirit-birit melihat rotan yang mengayun ke udara.


Mataku semakin kututup dengan kuat melepaskan kepanikan dan bercampur pasrah.

__ADS_1


"Kau biasanya Anak yang disiplin," kata pak Sukri . Menatap dengan pandangan bertanya-tanya bercampur heran.


Aku semakin pucat. Bibirku semakin terkunci rapat. Jemari semakin kuat kuremas. Dingin bercampur cemas itulah yang kurasakan saat ini.


"Pak, tadi aku terlambat berangkat dari rumah," jawabku. Menutupi kalau ayah dan ibu sambungku bersiteru pagi ini hanya gara-gara aku.


"Hahaha!" Pak Sukri pun mendadak tertawa seakan dia merasa lucu mendengar alasanku. "Liyan, selama Bapak menjaga gerbang ini. Belum pernah ada Anak mengatakan, 'terlambat berangkat '," katanya menatapku bercampur lucu.


Aku semakin terjebak oleh diriku sendiri. Aku pun mengerjitkan mata kuat sambil menarik napas bercampur kecewa melihat diriku sendiri yang bodoh memberi alasan.


Kejadian yang terjadi di rumah sebelum aku berangkat, kini menari-nari di mataku dengan jelas. Kepala yang menunduk melihat tanah pun merasa kesal bercampur sesal melihat kejadian yang kualami pagi ini.


"Kau sudah terlambat masuk. Pasti kau berangkat terburu-buru," kata Pak Sukri. "Coba periksa bukumu! Apa ada ketinggalan," pintanya menyuruh dengan sedikit paksaan.


Aku semakin pusing bercampur aduk. Pak Sukri penjaga sekolah kami sangat sulit untuk di rayu. Dia tidak mudah termakan bujukan apa pun. Itulah sebabnya kami selalu mengelakan untuk tidak berurusan dengannya. Apalagi harus terlambat masuk sekolah.


"Ayo, Liyan, periksa tasmu!" pintanya mendesak.


Aku pun dengan berat hati mengikuti perintahnya saat ini. Aku yang terlambat seorang diri melirik ke kanan dan ke kiri.


"...mana tau ada yang ketinggalan," katanya semakin seru. Melirik tas yang aku buka.


"Ini Pak," jawabku mengeluarkan satu per satu sambil menaikan pandangan meliriknya.


"Coba sebut satu per satu namanya!" pintanya menyuruh dengan semaunya. "Ini adalah hukuman untuk mu. Karena kau terlambat masuk," cetusnya dengan tegas.


Kesal bercampur sesal aku pun mengikuti kemauan pak Sukri yang menyebalkan.


"Baik Pak," jawabku. "...buku tulis, buku gambar, cat air, penggaris, kotak pensil, buku bacaan," terangku menjelaskan. Melihat wajah Pak Sukri sambil tersenyum bercampur sebal.


"Masih kurang!" tandasnya. "Itu buku bacaanmu ada berapa?" tanyanya dengan lirikan mata tajam dan anggukan penuh penekanan. "Buku tulismu juga ada berapa? Cat air, pensil, penggaris dan yang lainnya. Sebutkan ada berapa banyak !" kata pak Sukri semakin membuatku kesal.


Kedua bola mataku rasanya ingin bergerak kencang menelan pak Sukri. Ingin sekali aku melayangkan rotan itu di hadapannya.


Aku semakin menghela napas kasar, kesal bercampur aduk. Rasa kesal sangat mendalam hari ini. Suara pak Sukri yang nyaring itu semakin ceria rasanya keluar.

__ADS_1


"Baik Pak. Akan saya ulangi," jawabku dengan nada pelan. Melihat bukuku yang terpampang. Aku pun mulai menyebutkannya satu per satu. "Buku tulis ada 5, buku bacaan satu, penggaris ada satu, cat air ada... ." Aku terdiam membolak balik cat yang tergenggam dengan memutar otak menjawabnya harus bagaimana. Aku semakin pusing bercampur bimbang menjawab sesuai yang kuinginkan di hati atau menjawabnya sesuai kenyataan yang sebenarnya yaitu, menyebutkannya satu per satu sesuai jenis warna.


Aku semakin gerah bercampur depresi melihat semuanya. Setelah sekian lama aku diam berpikir. Aku pun kembali cerdik menyebutkannya sesuai keinginanku. "...cat air ada satu... ," kataku melirik wajah pak Sukri yang heran bercampur tanya. Dia pun mengerutkan kening. Aku yang melihatnya seakan mengetahui, tapi aku tetap teguh pada keinginanku. Aku kembali melanjutkannya. "... buku gambar ada satu..., " kataku.


"Iya," kata pak Sukri dengan nada suara lepas seakan aku menyebutnya dengan benar.


"...buku bacaan ada satu," lanjutku. Menaikan sedikit pandangan bercampur was-was melirik pak Sukri yang membuatku mengecilkan sorot mata menatapnya heran karena pak Sukri menatapku dengan wajah yang masih belum mengerti dan bertanya-tanya.


"Liyan, kenapa kau bawa buku bacaan cuma satu?" tanyanya dengan melepaskan keheranannya.


"Iya Pak. Kami baru naik kelas,"jawabku menjelaskan.


"Ooh, iya." Pak Sukri langsung mengangguk. "Bapak pikir kau lupa," katanya dengan nada suara pelan seolah menahan malu. "Tapi...itu cat airmu..., kenapa kau bilang satu?" tanyanya seakan pak Sukri ingin menyampaikan kalau cat airku itu banyak.


"Hadeeeh!" Aku langsung menarik napas panjang, lemas mendengar pak Sukri mengatakan itu kembali. Aku semakin meremas dengan keras di udara kosong. Pak Sukri semakin lama semakin menguji kesabaran.


"Pak, ini 'kan cuma satu," kataku mengungkapkan dan menunjukan di hadapannya.


"Satu apa?" tanyanya dengan santai sambil mengayun-ngayunkan rotannya terus menerus.


Melihat rotan yang berputar aku semakin panik dan khawatir kalau rotan itu akan melayang ke hadapanku.


"Baik Pak," jawabku tanpa berpikir lagi. Menunduk dan gusar melihat rotan yang terpampang jelas di mata.


Aku pun mengeluarkannya dan mengayunkannya di udara sedikit tinggi tepat di hadapannya. "Warna merah, kuning, hijau, biru, hitam, jingga, dst." Aku pun menyebutkannya satu per satu sampai selesai dan sampai Bapak itu tersenyum puas.


Aku kemudian menatap pak Sukri seakan menantangnya. Dia terlihat begitu puas karena telah berhasil menjahili dengan hukuman yang tidak sewajarnya.


Hukuman ini memang menyebalkan hati yang menjalankannya, tapi hukuman ini juga membuat hatiku tergelitik geli mengingatnya.


Rotan yang panjang setengah meter itu pun menjadi kenangan lucu ketika terpampang jelas di dalam ingatan.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2