Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Pagi Hari


__ADS_3

Aku bersiap-siap mau berangkat sekolah. Semua telah aku persiapkan mulai dari pakaian,sepatu,buku-buku yang sudah aku susun didalam tas dengan rapi.


Kebiasaan ku sebelum berangkat sekolah. Aku sarapan terlebih dahulu.


Ayahku telah selesai menghidangkan semua makanan di atas meja. Sebelum dia pergi menarik becak.


Sementara,Ibu sambungku juga, sudah bersiap untuk kerja.


Ayahku,meskipun dia menarik becak dia sebenarnya, tidak mau kalau Ibu sambungku bekerja. Tapi, karena dia terlalu keras kepala. Dengan berat hati Ayahku mengizinkannya.


Ibu sambungku juga, sudah lama bekerja dan hidup mandiri. Semenjak dia di tinggal suaminya yang dulu pernah hidup dengannya.


Dia yang bekerja keras membanting tulang demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya.


Semenjak dia menikah dengan Ayahku. Hidupnya sedikit terangkat.Tidak ada lagi yang memandang dia sebelah mata.


Lain lagi dengan adikku yang manja dan jutek. Setelah dia bangun dan sarapan dia pergi bermain.


Ibu sambungku sering melarang dia. Supaya tidak bermain di pagi hari. Namun, adikku tidak mendengarkan dia.


Setiap hari mereka bertengkar.Adikku,wataknya keras kepala.


"Liyan, ini uang jajan kamu! Sudah sarapan nak?" Tanya Ayahku sambil mengambil uang dari dalam dompet.


"Ia Ayah, sudah!"Aku menerima uang jajan dan memasukkannya ke dalam saku rok sekolahku.


.


.


.


Setelah itu aku berpamitan.


"Liyan!"Panggil temanku dari belakang.


Mendengar panggilan itu,sontak aku berhenti dan menoleh ke belakang.


"Ia."Berdiri sambil memegang tali tas yang aku pikul.


"Tunggu aku! Kita pergi bersama!"


Dia berlari mengejarku terseok-seok.


Setelah, dia sampai kepadaku. Kami berdua pun, berjalan beriringan sambil berbicara.


"Liyan,kamu ngambil buku paket, tidak?"


Mendengar pertanyaan temanku. Aku hanya diam dan menarik sedikit bibirku.

__ADS_1


"Enggak."


"Kenapa? Padahal kan semua anak-anak di kelas ngambil? Apa kamu tidak kebagian bukunya?"Tanya dengan wajah yang polos.


"Aku takut,Ayahku tidak punya uang!"Aku menjawab dengan menunduk.


"Takut? Kan bisa dicicil?"Emangnya takut kenapa?"


"Ia,takut tidak terbayar Ayahku?!"Suara ku begitu pelan dengan wajah yang sedih.


Temanku langsung diam dan tidak banyak pertanyaan lagi.


Kami melanjutkan perjalanan kesekolah menelusuri ruas jalan yang panjang.Setiap hari kami pergi dan pulang sekolah berjalan kaki.


Tapi itu tidak untuk temanku. Temanku sesekali terkadang diantar oleh ayahnya dengan becak bermotor.


Kalau aku sama sekali tidak pernah diantar Ayahku karena becak dayung Ayahku di parkirkan di rumah temannya yang jaraknya jauh dari rumah kami.


Di dalam perjalanan aku dan temanku melihat di sekeliling jalan yang kami lalui.


"Liyan,uang jajan kamu berapa?"Tanya dia setelah melihat pedagang jual makanan di pinggir jalan.


"Aku tidak tahu!"


"Kenapa kamu tidak tahu? Coba kamu lihat,berapa Ayah mu memberi mu uang jajan?"


Sambil merogoh kantong rok sekolahku.


"Cuman segini!"Aku menunjukkan uang logam kepada temanku.


"Satu,dua!"Aku pun menghitung uang logam yang di atas telapak tanganku.


"Uang jajan kamu cuman dua ratus perak ,ya?!"


"Kalau kamu emangnya berapa di kasih Ayahmu?"Tanya ku kembali.


"Sebentar ya,aku lihat."


Kami bersama menghitung uang jajan yang di terima temanku dari Ayahnya.


"Empat ratus rupiah."


"Banyak ya?"


Temanku yang tidak lain adalah Widia. Dia pun, menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Ayahku tidak bisa memberi uang jajan yang banyak kepadaku karena dia harus membagi keuangannya.


Setelah lama berjalan. Tidak terasa kami sudah sampai di gerbang sekolah.Dari gerbang aku menatap lurus kedepan yang tidak lain terlihat adalah ruang kelas ku.

__ADS_1


Tiba saatnya aku memasuki kelas dan belajar.


Sementara, Widia berjalan jauh di depan ku dengan tergesa-gesa.Dia memang selalu seperti itu karena dia takut ketinggalan masuk kelas.


Lain lagi dengan Ibu sambungku!


Kalau aku sekolah di pagi hari. Ibu sambungku bekerja di rumah orang sebagai tukang bersih-bersih.


Sebelum dia pergi kerja. Dia menyempatkan diri juga untuk bicara sepatah,dua patah kata kepadaku. Walaupun, hanya sekedar mengatakan,nanti pulang sekolah jam berapa?


Selain itu dia juga menanyakan. Sudah sarapan atau belum? Kalau dia tahu aku belum sarapan dia mau juga membuatkan sarapan untukku.


Terkadang dia juga, mengatakan!


"Liyan,sebelum pergi sekolah jangan lupa sarapan dulu! Nanti kamu sakit."


Sementara,adikku yang manja. Di pagi hari kegiatannya tidak ada karena dia belum sekolah.Ya,terkadang kegiatannya ikut sama Ayahku mencari nafkah.Ayahku suka membawa dia karena kalau dia di bawa tidak pernah rewel.


Kalau adikku tidak ikut dengan Ayahku. Lalu siapa teman adikku di rumah? Sementara, kami semua punya aktivitas.


Pernah suatu hari. Adikku tidak ikut bersama Ayahku.Kata Ayahku,"dia tidak tenang,kepikiran terus sama adikku."Jika, Ayahku tidak bisa membawa adikku. Dia pasti menitipkannya kerumah Bibiku.


Di pagi hari semuanya melakukan aktivitas masing-masing.Ayahku selalu mempersiapkan bekal untuk kami. Mulai dari mengisi ember mandian kami,memasak sarapan kami dan juga mencuci piring.


Teruntuk Ibu sambungku. Setiap pagi dia tidak pernah di repotkan oleh Ayahku dalam urusan dapur. Ayahku dengan senang hati menghandle semuanya sendiri.


Setiap jam tiga pagi. Ayahku bangun,untuk melakukan semuanya sendiri termasuk dalam mencuci pakaian.


Terkadang, Ibu sambungku juga kasihan melihatnya dan ingin menawarkan diri untuk membantunya. Namun, di tolak oleh Ayahku karena Ayahku takut nanti dia sakit. Ayahku juga, tidak mau memberatkan dia karena yang paling banyak adalah pakaian anaknya bukan pakaian dia. Ayahku juga sadar diri tidak bisa membahagiakan dia dengan materi bak seorang ratu.


Setelah selesai mencuci pakaian. Ayahku melanjutkan yang lain. Sebelum itu, dia terlebih dahulu sholat tahajjud. Dia tidak pernah meninggalkan sholat malamnya.


Yang paling senang menemani Ayahku mencuci adalah Ibu sambungku.


Dia juga terkadang membantu Ayahku dengan paksa.Kalau Ayahku menolak dia pasti marah-marah. Tidak sering juga imbasnya kepada kami. Tapi dia tidak pernah memukul kami yang dilakukannya cuman satu memasang wajah masam kepada kami.


Ayahku yang mengetahui itu marah kepadanya.


"Aku tidak suka kalau kau lakukan itu kepada anakku! Yang melarang mu kan aku,tidak ada hubungannya dengan mereka."


Mendengar perkataan Ayahku itu. Dia langsung merubah wajah dia terhadap kami.


"Siapa yang melakukan seperti itu kepada anak-anakmu?"Dia dengan ketus mengatakan itu kepada ayahku sambil menatap Ayahku.


"Baru saja ku lihat kau menatap anakku dengan ***!"


Ayahku tidak lagi melanjutkan kata-katanya. Dia langsung diam dan menarik napas panjang.


Setiap pagi rumah kami selalu ramai kedatangan tam. Ada yang ribut ada yang tertawa.

__ADS_1


Yang ribut terkadang Ayah dan Ibu sambungku dan yang tertawa aku dan adikku.


Bersambung....


__ADS_2