Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Makan Malam


__ADS_3

"Ayah Liyan lapar!" Aku yang menyusun rapi peralatan mengajiku ke tempatnya masing-masing.


"Iya nak,sebentar ya, Ayah siapkan dulu ?"


Ayahku pun, mulai bergegas dengan cepat untuk mempersiapkan segala kebutuhan kami untuk makan malam.


Sementara, ibu sambungku yang dari tadi tak terlihat. Ntah, di mana sewaktu aku mengaji. Kini tiba-tiba saja terlihat ada di depan kami.


Lain lagi dengan adikku yang selalu ingin bermain meskipun, itu di malam hari.Dia tidak pernah betah di rumah. Cuman, sesekali dia betah di rumah. Tapi, jika setiap hari dia di rumah. Dia tidak pernah mau. Adikku sering berkata,"gerah kalau di rumah aja setiap hari."


Itulah adikku yang hobinya bermain,dia memang berbeda dariku.


Diluar rumah dia begitu banyak teman, sementara aku tidak seperti dia.


Terkadang, tak ayal kalau dia sering mengejek ku dengan sebutan "kuper"alias kurang pergaulan.


"Liyan."


Ayahku yang keluar dari dapur menuju ruang tamu. Membawa piring di sebelah kanan dan membawa nasi di sebelah kiri.Dia pun, menyusun piring dan nasi di meja makan yang kecil yang berada di ruang tamu yang tak lain, adalah meja yang sering digunakannya untuk makan.


Setelah, dia meletakkannya diatas meja. Dia pun kembali pergi ke dapur untuk mengambil ikan,sayur dan cuci tangan. Setelah itu, dia pun meletakkannya kembali ke meja.


Begitulah seterusnya. Sampai ayahku mengambil gelas dan teko yang berisi air minum yang di bawanya satu di tangan kanan dan yang satu di tangan kiri.


Setelah selesai,dia menatanya di atas meja.


"Ia, Ayah."


Aku pun, datang kehadapan Ayahku dengan memakai pakaian rumahan yang paling aku suka. Baju terusan yang lengannya lima jari.


"Mari kesini kita makan!"


Ayahku pun, mengambil piring dihadapannya dan memberikannya padaku. Aku yang berdiri di samping meja. Mengambil piring dari tangan Ayahku dan memegangnya. Kemudian, ayahku mengambil nasi dari bakul dan menaruhnya ke piring ku.


"Kamu mau ikannya saja atau pakai sayur?" Tanya Ayahku sambil menatapku.


Setelah, ayahku mengatakan itu. Aku pun, melihat ikan yang ada di piring dan melihat sayur yang ada di mangkok.


"Ikan saja Ayah."Jawabku,melihat ikan yang ada di piring.


Sementara,adikku yang manja dan jutek. Dia tidak datang ke meja makan. Menghampiri hidangan.Dia hanya duduk bersandar didinding kamar Ayahku.


Seperti biasa, adikku selalu makan disuap oleh Ayahku.


Jika, Ayahku melihat adikku tidak mau mendekat. Berarti, adikku tidak mau makan sendiri.Ayahku pun, langsung mengerti dengan sikap adikku yang menjauh darinya.


"Kamu kenapa tidak makan?" Tanya ayahku pada ibu sambungku yang diam.

__ADS_1


Ayahku kalau sama ibu sambungku tidak pernah memanggil dengan panggilan yang romantis. Aku tidak tahu,apakah? Ayahku belum siap dengan pernikahannya ataukah memang dia terlalu kaku?


Tapi, yang terpenting dia terlihat di mataku adalah laki-laki yang baik.


Sementara, Ibu sambungku terlihat memasang wajah yang cemberut dan masam kepada Ayahku. Dia tidak menggubris pertanyaan dari Ayahku.


Dia tetap diam dan duduk di dekat pintu utama.


Lain halnya dengan Ayahku yang terbilang dingin dan masa ogah. Seakan, Ayahku mengatakan, kalau mau makan ya, makan saja. Kalau tidak ya, tidak usah. Begitulah, seolah ayahku mengatakannya dengan sikapnya.


Jangankan terhadap Ibu sambungku. Terhadap aku saja ayahku demikian. Melakukan hal yang sama.


Lain halnya, sama adikku. Ayahku tidak bisa kalau melihat adikku yang manja itu murung sedikit, apalagi sampai bersedih.


Jika, itu sampai terjadi dia pasti gelisah. Makan tak tenang tidurpun tak nyenyak.


Sebisa mungkin, dia harus bisa membuat adikku tersenyum lagi. Apa pun, pasti dilakukannya untuk adikku. Sekalipun, dia harus membawa adikku ikut dengannya menarik becak.


Dia tidak peduli dengan uang yang akan di dapatkannya. Seberapa pun, dapatnya uang pada hari ini. Itu tidak jadi masalah baginya, asalkan adikku tidak lagi ngambek.


"Ana mari kesini nak, biar Ayah suap." Ajak Ayahku pada adikku yang duduk dengan wajah yang sedih.


Dengan manjanya dia pun, langsung beranjak sambil menguraikan senyum.


"Ia, Ayah."


Diapun, kemudian duduk di pangkuan Ayahku.


Dari tempat dudukku sambil menyuap nasi ke mulutku. Sendok pertama terhenti seketika, melihat Ibu sambungku yang***, seketika mulutku sambil menganga melihatnya.


Bruk bruk bruk!


Ibu sambungku langsung mengambil piring yang ada di atas meja. Setelah selesai semuanya,aku melihat dia seperti mencari sesuatu.


Namun, aku tetap memasukkan nasi ke mulutku. Kemudian, mengunyahnya sampai *****. Tapi, mataku tak berhenti bereaksi melihatnya.


Sementara,Ayahku bersikap biasa saja melihatnya. Bahkan, dia tidak melihatnya sama sekali.


Ayahku yang tenang dan santai terus memakan makanannya sampai habis.


Dari kejauhan aku melihat Ibu sambungku dengan suka rela melangkah ke dapur untuk mengambil sendok.


"Ayah makanannya enak." Kata adikku pada Ayahku yang masih duduk di pangkuannya.


"Mau lagi nak?" Tanya Ayahku dengan penuh kasih sayang.


"Ia, Ayah,banyak ya, Ayah!" Kata Adikku dengan suara yang manja.

__ADS_1


Ayahku begitu senang kalau dia melihat adikku yang bermanja-manja kepadanya.Dia paling sedih jika melihat adikku bersedih.


Lain denganku yang apabila bersikap manja. Pasti Ayahku marah.Dia selalu bilang kalau anak pertama tidak boleh manja-manja.


Makanya,aku setiap makan harus makan sendiri.


Di malam ini selepas aku mengaji. Kami terlihat seperti keluarga. Makan bersama meskipun, berbeda.


"Ayah aak..."


Aku tidak jadi melanjutkan pembicaraan ku kepada Ayahku karena aku melihat Ibu sambungku makan sambil ngedumel.


Dengan duduknya yang rapi sambil menyuapkan nasi kedalam mulutnya. Suapan pertama, dia ngedumel. Aku yang melihatnya pun, ketakutan. Takut ada keributan di rumah.


Ayahku tidak suka kalau ada orang yang menghadapi suatu makanan dia berulah. Apalagi, sampai ngedumel begitu.


Namun, dari yang kulihat Ayahku tak memperhatikan Ibu sambungku. Dia hanya memperhatikan adikku saja.


"Ayah ,ini ikannya enak,besok beli ikan gini lagi ya!"


"Kamu suka nak? Tanya Ayahku dengan suara yang pelan dan penuh kasih sayang.


"Ia, Ayah." Adikku tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Suapan yang begitu hangat. Di malam ini, malam pertama kami makan malam berkumpul. Setelah Ayahku menikah dengan Ibu sambungku.


"Ayah,Liyan! Mau minum."


Berjalan sambil memegang gelas. Aku pun, datang menghampiri Ayahku dan memberi gelas yang ku pegang tadi kepada Ayahku.


Setelah, Ayahku menerimanya,dia pun, menuangkan air minum ke dalam gelasku.


"Terima kasih Ayah."


Aku pun langsung meminumnya!


Tiba-tiba, Ayahku menatapku dengan tajam. Seolah, aku mempunyai kesalahan.


Aku langsung berhenti!


Air yang ku teguk setengah tenggorokan terasa menyakitkan! Di telan tidak bisa di keluarkan juga tidak bisa.


"Liana! kamu tahu apa salah mu!"


Aku hanya menggelengkan kepalaku dengan wajah yang ketakutan.


"Ayah kan,sudah pernah bilang,kalau minum itu harus duduk.

__ADS_1


Sementara, Ibu sambungku yang duduk melihat ku dengan santai. Masih memegang piring yang berisi nasi sedikit lagi.


Bersambung....


__ADS_2