Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Mengenang yang telah tiada


__ADS_3

"Apa ada yang salah, Kak dengan yang kukatakan?" tanya adikku kembali.


"Tidak. Tapi kamu seperti baru pertama kali mendengar sebutan orang tua," kataku.


Adikku bergeming. "Aku belum bisa mengakuinya sebagai Ibu untuk diriku sendiri. Jika, Kakak bisa , ya Kakak saja yang melakukannya." Memutar badan menghadap ke pintu tepat di mana ibu sambung kami tadi berdiri seakan adikku memberi isyarat penolakan yang jelas.


"Berilah ruang sedikit saja di hatimu. Kakak rasa dia sangat mengharapkan itu darimu. Makanya, selama ini, dia marah-marah." Aku sedikit meminta pada adikku yang mustahil akan dia lakukan.


"Ruang itu belum ada, Kak... ." Memutar badan menghadapku. "... karena ruang itu sudah penuh. Kakak tahu, siapa yang ada di ruang hatiku?" kata adikku bertanya padaku seakan aku tidak mengetahuinya.


"Siapa ?" tanyaku berpura tidak mengetahuinya.


"Ayah, Kakak dan Ibu... ." Meletakkan sebelah tangannya di atas dada sambil menghayatinya dengan dalam menatapku tajam dan diam sejenak . "... Ibuku... yang sudah tiada," katanya dengan tegas dan penuh penekanan. "Tidak ada yang lain di hatiku Kak, cuman Ibu seorang. Kalau dia ingin ada tempat di hati, 'kan masih ada hati yang lain," tandasnya.


"Hati yang lain?" Menatap nanar dengan bingung. "Hati siapa?" tanyaku ingin tahu.


"Hati Kakak," cetus adikku. "Ya, 'kan! Aku benar 'kan, Kak." Melempar pandangan dan mendengus.


Hatiku begitu sedih bak terkena pukulan yang keras menyerang secara tiba-tiba. Bibir pucatku bergetar melihat adikku yang masih mengenang ibuku yang sudah tiada.


Bertahun sudah berlalu rasanya. Kepergian ibuku masih menyisakan duka yang mendalam bagi adikku hingga membuat dia begitu dingin dan acuh tak acuh kepada sosok seorang ibu yang mau menjadi pengganti untuk ibu kami yang telah tiada.


Tubuh lemahku semakin dingin, bagaikan terkena siraman air es yang membuatku tak bisa menopang lagi dengan kuat. Ingin rasanya aku menghempaskannya ke tanah.


Bibir pucatku perlahan bersuara dengan berat pada adikku. "Ibu kita sudah tiada. Apa kau ingin bersedih dalam waktu yang lama?" Memegang pundak adikku dengan kedua tanganku sambil berdiri dan menatapnya dengan dalam.


"Itu terserah aku, Kak." Memutar badan dan menepis tanganku. "Kakak tidak punya hak, apalagi mengatur diriku untuk siapa hatiku dan siapa yang aku tempatkan di dalamnya. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Ibu di hatiku, siapa pun itu, sekali pun Ayah menikah dengan wanita lain sekali lagi."


Kedua tanganku lemas tak berdaya terulur jatuh ke bawah. Tungkai kakiku yang lemah rasanya akan terhempas. Air mata spontan jatuh teringat akan ibuku juga.


Perih di hati semakin menyayat dengan tajam. Tangan lembut ibuku yang dulu memebelaiku dengan pelukan kasih sayang seakan terlihat jelas hadir di hadapanku.


"Kak!" Panggil adikku memutar kepala ke arahku.

__ADS_1


"Iya." Aku langsung menunduk dan menghapus air mataku dengan cepat tidak boleh sedikit pun adikku mengetahui, kalau aku menangis, bisa jadi dia akan semakin sedih dan lebih terpukul lagi.


"Kalau Kakak ingin masuk, masuklah! Biarkan aku berdiri di sini. Aku masih ingin di sini." Mengangkat kepala melihat awan.


Jeritan yang berteriak di dalam hati masih bertahan mendampingiku. "Apa kau tidak kedinginan?" tanyaku kembali membuka suara sedikit berat.


"Tidak. Aku 'kan tidak sakit!" kata adikku sambil melirikku. "Kalau Kakak merasa kedinginan, masuk saja! Tidak perlu menemaniku di sini. Ada, tidak adanya Kakak, aku tidak akan hilang. Kakak 'kan tahu sendiri, siapa yang mau samaku?! Anaknya jutek, cerewet, keras kepala, kemauannya banyak, manja, dan satu lagi pandai berakting."


"Ptff! Oh ya! Aku sedikit menahan tawa, tapi ada satu yang ketinggalan," kataku mengingatkan kelupaan adikku.


"Ketinggalan? Yang mana Kak?" Sambil mengingat.


"Suka bermain," tandasku. "Mengingat hobimu yang suka bermain. Kamu betul tidak ada yang mau dengan mu. Siapa yang betah coba harus mencarimu setiap saat. Kalau tidak dapat, tidak boleh pulang, bisa lelah orang mencarimu kemana-mana."


Hahaha!" Tawa garingnya terdengar menutupi kesedihannya.


"Iya, Kakak benar. Siapa yang mau denganku?" ungkapnya. "Aku semakin sadar, kalau aku Anak yang terlalu cinta dunia luar. "Emang Kakak, selalu di rumah terus. Aku heran. Kenapa Kakak bisa sebetah itu? Kalau aku sih ogah!"


"Oh iya Kak! Kalau Kakak mau masuk, pergi masuk Kak, nanti Kakak semakin sakit, apalagi harinya sudah hampir senja dan anginnya juga sudah terasa dingin," kata adikku.


"Iya, Kakak akan masuk, lalu kamu, bagaimana?" tanyaku.


"Kalau aku tidak usah di pikirin. Aku 'kan sudah besar, kalau aku mau masuk, aku pasti akan masuk, pergilah Kakak selamatkan diri Kakak dulu, kalau Ayah pulang yang di marahi bukan aku, tapi Kakak karena Kakak 'kan Anak kesayangannya," ledek adikku.


"Kalau Kakak Anak kesayangan engga mungkin Kakak di buat seperti ini," ujarku.


"Ya, hitung-hitungan Kakak melatih kesabaran biar nanti kalau kakak sudah besar ke sabarannya makin luas." Adikku terus melontarkan candaan yang membuatku semakin tidak bisa mengelak. "Kan lumayan Kak untuk diri Kakak sendiri," lanjutnya.


"Liyan! Kenapa belum masuk juga, Nak. Hari sudah semakin sore, matahari juga sudah menghilang. Anginnya sudah dingin nanti kamu sakit!" panggil ibu sambung kami dengan berteriak.


"Iya, Bu," sahutku dengan sedikit berteriak.


"Pergi Kak masuk! Ibu kesayangan Kakak sudah berteriak dari dalam. Apa Kakak mau melihat dia marah -marah lagi? Jangan Kakak bilang, kalau dia marah -marah karena aku tidak memanggilnya Ibu, itu mustahil. Pergilah sana, masuk!" desak adikku mendorong tubuhku yang lemah.

__ADS_1


Ups! Aku hampir saja menabrak dinding rumah.


"Iya, Bu. Liyan sudah masuk." Mengayun kedua kaki lemahku masuk. Tubuh mungilku yang lemah kini terasa dingin sedikit.


"Ibu dari tadi menyuruhmu masuk. Tapi kamu masih betah di luar bersama adikmu. Kamu itu sakit, jangan lama-lama terkena angin luar." kata ibu sambungku sambil membenahi pakaian dengan rapi. "Kamu 'kan tahu. Penyakitmu itu tidak main-main,Nak." Menatapku sekilas sambil membuka lemari pakaian.


"Iya, Bu." Aku berdiri menemaninya yang menyusun pakaian.


"Tolong, kamu itu harus pandai-pandai menjaga kesehatanmu. Nanti kau tidak bisa ikut ujian, bukannya kata adikmu kalian sebentar lagi ujian?!" Memutar kepala menoleh ke arahku .


"Iya, Bu Liyan tahu." jawabku dengan singkat.


Setelah selesai ibu sambungku kembali beralih ke tempat lain. Dia pun merapikan sapu menaruh di balik pintu. Sesekali dia keluar masuk kamar dan terlihat begitu sibuk sekali. Aku kembali melihatnya membawa setumpukan sarung bantal dan mengambil sarung bantal yang baru dari dalam lemari. "Ibu ingin kamu itu cepat sembuh, jangan sakit lagi. Kalau kau sembuh, Ibu yakin Ayahmu pasti bahagia."


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...



Fiona Valeriest Putri Buffett gadis keturunan Indonesia Eropa yang di kenal dengan Fiona tumbuh menjadi gadis yang cantik. Memilih menjadi seorang arsitek yang sekarang namanya melambung tinggi dengan hasil yang selalu memuaskan klien. Tidak hanya sukses Fiona juga menjadi incaran pria di luar sana, tapi tidak ada satu pria pun yang mampu meluluhkan hati Fiona. Hatinya seakan terkunci oleh seseorang yang bahagia di luar sana. Pria yang sudah dia sukai sejak sekolah menengah atas dan memiliki wanita lain dari pada dirinya tanpa alasan.


Sejak saat itu sifat Fiona berbanding balik dengan Fiona masih kecil, hal itu menjadi kekhawatiran semua keluarga, apa lagi Fiona sangat cuek dan lebih menyibukkan diri untuk bekerja, terkecuali hanya dengan anggota keluarga.


Mampukah pria di luar sana membuka hati yang di tutup rapat oleh Fiona?

__ADS_1


__ADS_2