
"Iya Ayah, bohong itu 'kan dosa. Makanya, aku gak mau bohong," timpal adikku dengan suara lembut manjanya seolah ingin membujuk ayahku.
"Iya, Nak. Bohong itu memang dosa. Allah melarang kita agar tidak berbohong. Karena bohong itu tidak baik," sambung ayahku.
Glek!
Aku semakin panik dan menelan semuanya sendiri di tengah tubuh yang di dera oleh sakit. Napas yang kuhembuskan ke udara kosong semakin lama semakin kasar akibatnya membuatku semakin terpuruk karena dikelilingi oleh kata-katanya yang dengan jelas berbentuk ancaman.
Pandangan mata yang sudah terlayangkan kepada ayahku perlahan aku palingkan melihat ke arah halaman yang sedikit telah tertutupi oleh dedaunan yang kering. Aku terus menerus menatapnya sembari menajamkan pendengaran untuk mendengar ocehan adikku yang terus menerus mengancam.
"Ayah, kalau bohong sekali boleh tidak ?" tanya adikku seolah tidak tau dengan gurat wajah seolah membujuk ayahku. Sok imut.
"Tidak Nak. Bohong sekali pun tidak boleh," jawab ayahku langsung.
"Pasti dosanya banyak ya, Yah?!" kata adikku lagi melayangkan pertanyaan pada ayahku.
"Iya Nak banyak. Kalau kita berbohong sekali saja pasti kita berdosa, apalagi bohongnya banyak. Iiisss, seram! Ayah jadi takut," tandas ayahku. Mengerjitkan kedua matanya dengan kuat bercampur lucu. Di ikuti oleh sebelah tangannya menarikku duduk kembali di pangkuannya.
"Tapi 'kan kami gak bohong," sela adikku dengan polosnya sedikit membelaku. Berarti kami gak ada dosa Ayah. Horeeee!" katanya bersorak gembira. "Kami cuma bertengkar saja kok, Yah," tandasnya dengan polos.
"Ahaha!" Ayahku kembali tertawa kecil. "Nak, kita bertengkar saja sudah dosa," ucap ayahku. Melirik aku dan adikku sebagai isyarat kalau ayahku menyindir aku dan adikku yang sering bertengkar.
Aku dan adikku langsung tersipu malu. Menjatuhkan sedikit pandangan menatap nanar ujung kakiku yang tergantung seakan menelan air minum hingga habis.
"Aku gak suka bertengkar kok, Yah," cetusku langsung. Melihat ujung kakiku yang mulai beranjak besar.
Adikku langsung bersuara. "Ayah, aku juga gak suka bertengkar," katanya. Engga mau kalah. "Kalau orang yang bertengkar itu sudah gak ada lagi kawannya. Iya 'kan Yah?" tanya adikku mengiba.
"Ahaha! Iya Nak. Kalau orang yang suka bertengkar gak akan ada lagi yang mau berteman dengannya," sambung ayahku. Memangku kami berdua.
Aku langsung menaikkan kepala perlahan melihat wajah ayahku yang sudah mulai menua. "Ayah tapi..., kenapa ayah dengan ibu sering bertengkar?" tanyaku ingin tahu. Menatap ayahku dengan sorot mata yang lembut bercampur sedih.
Ayahku langsung melebarkan kedua bola matanya dan terlihat sekan mengatur napas. "Nak, Ayah dan Ibumu tidak bertengkar," jawabnya. Melayangkan pandangan melihat keluar.
"Tapi, kenapa suara Ayah dan Ibu membuat aku takut?" tanyaku kembali dengan sendu. Melihat ayahku dan adikku yang duduk tepat di dalam pangkuannya.
__ADS_1
"Hm, Liyan, kau jangan pernah takut dengan yang kau dengar atau pun dengan yang kau lihat. Nak, itu semua tidak seperti yang kau pikirkan. Terkadang Ayah dan Ibu memang sering bersuara keras tapi bukan berarti kami bertengkar. Memang kadang Ayah dan Ibu sering berkata keras, apalagi meninggi. Mungkin itu membuatmu takut. Tapi itu hanya untuk melarang Ibumu yang keras kepala. Ayah gak mau kalau Ibumu ikut campur di saat Ayah mendidik kalian, apalagi di saat Ayah menghukum kalian," terangnya. Melirikku yang terlalu ingin tahu.
"Tapi Ayah, hukuman itu gak baik," sambung adikku.
"Siapa bilang tidak baik, Nak. Kalau kita menghukum dia karena salah itu baik. Supaya dia tidak mengulangi kesalahannya lagi," terang ayahku menjelaskan.
Aku langsung melihat ayahku. "Tapi Ayah, kalau hukumannya berat. Kami 'kan jadi sakit," ucapku dengan gamblang. Melihat ayahku, di ikuti oleh melihat adikku juga yang sedikit tersenyum dan membuatku langsung shock.
"Hehe!" Ayahku menarik bibirnya tertawa sangit kecil. "Tapi Ayah tidak pernah memberi kalian hukuman yang berat, 'kan?" balasnya dengan melayangkan pertanyaan pada kami berdua.
Aku langsung berpikir. "Mmm! Tidak Ayah," jawabku setelah mengingatnya.
"Iya Ayah tidak juga," sambung adikku mengulanginya. "Tapi Ayah, hukuman Ayah ada yang berat," katanya langsung kemudian menjatuhkan kepalanya melihat lantai dengan lesu.
Aku dan Ayahku langsung bertemu pandang setelah melihat reaksi adikku yang tiba-tiba lesu dan tidak bersemangat.
"Hukuman Ayah yang berat yang mana, Nak?" tanya ayahku panik.
Aku semakin melongo melihat adikku yang suka mengada-ada. Napas dengan panjang langsung kubuang.
"Haah!" Ayahku langsung menghembuskan napas sambil mengurut dada dan aku pun juga mendadak ingin tertawa kencang.
Ups! Aku langsung ingat, kalau adikku sedang membenciku sehingga aku langsung menutup mulut kembali rapat dengan tangan.
"Ana, uang jajan itu adalah latihan untuk mu. Supaya ke depannya kau tidak terlalu di manjakan oleh uang," papar ayahku dengan tegas.
Adikku spontan menaikkan pandangan. "Ayah tapi aku tidak bisa hidup tanpa uang jajan," balasnya. Sok dewasa.
Aku semakin tergelitik melihat adikku yang reflek lucu dan menyebalkan. Rasanya aku tidak merasakan sedikit pun sakit yang mendera hari ini. Aku semakin asyik terbawa alunan adikku yang mendadak aneh dan cerewet.
"Ahaha!" Ayahku malah semakin tertawa kecil melihat tingkah anaknya yang menyebalkan dan juga terkadang menyenangkan. "Tapi Anak Ayah sampai sekarang masih hidup," canda ayahku meledek adikku yang lucu sambil mencubit hidungnya yang setengah mancung.
"Ayaaah," rengek adikku sambil menepis tangan ayahku dengan lembut. "Nanti aku tidak bernapas Ayah," jeritnya dengan nada suara yang manja bercampur sebal.
Aku semakin hanyut melihat adikku yang tiba-tiba bisa menghilangkan segala penat yang menyiksa diri ini. Tanpa kusadari aku telah melupakan penyakitku yang beberapa hari ini sudah mendera.
__ADS_1
"Ana, coba lihat Kakakmu! Dia tidak pernah membantah apa yang Ayah bilang," kata ayahku. Mengelus kepalaku. "Kenapa kau tidak belajar dari Kakakmu?" suruhnya melayangkan pertanyaan untuk adikku.
"Ha?" kata adikku berteriak menganga bercampur heran melihatku setelah mendengar titah ayahku. "Belajar dari Kakak, Yah?!" tanyanya membelalak dan bengong. Seakan dia mengingat yang terjadi tentang kami barusan.
"Iya. Kenapa kau menatap Kakakmu seperti itu, Nak?" tanya ayahku terheran. Seolah aku merasa kalau ayahku sudah mulai menaruh kecurigaan terhadap kami. Sorot matanya tidak henti -henti berulang kali melihat aku dan adikku setelah mendengar ucapan yang dicetuskan oleh adikku dengan gamblangnya.
Deg!
Aku semakin pucat dan keringat dingin. Kedua bola mata pun berputar semakin tak terkendali. Seolah aku merasakan hidup yang telah dihantui oleh rasa ketakutan akan adikku yang tiba-tiba akan membukakan rahasiaku begitu saja.
"Ayah, kenapa harus belajar dari Kakak?" tanya adikku seolah menolak dengan lembut.
"Ana, kau itu memang harus belajar dari Kakakmu!" harap ayahku mengiba.
"Ayah, Kakak itu sudah bo... ." Adikku langsung menghentikan omongannya dan memutar pandangan melihatku.
"Ayah, Ana pasti kelaparan kalau dia tidak ada uang jajan," balasku langsung memotong dan mengalihkan pembicaraan adik dan ayahku.
Ayahku terlihat semakin bingung. Dia semakin menatap kami berdua dengan raut muka penuh tanda tanya bercampur heran.
"Bo...apa Nak?" tanya ayahku dengan penasaran bercampur khawatir.
Ayahku semakin heran menatapku dan adikku yang saling melayangkan tatapan yang aneh terlihat dari ekor mataku.
"Bosan Ayah," kataku langsung bercampur cemas. "Aku bosan kalau Adik sering merengek minta uang jajan samaku," tandasku mengelabuinya seakan mengurut dada lega.
"Ooh, itu!" sambut ayahku langsung. Mengangguk dan melihat kami berdua anak yang paling dia sayangi.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1