Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Hujan


__ADS_3

"Apa kakimu sakit, Nak?" tanya ayahku sambil mengayuh becaknya.


Aku yang masih trauma mengingat kerumunan yang menimpaku tadi. Terduduk sambil melipat tangan memegang kedua lutut.


"Ayah, emang Kakak tadi, kenapa ?" tanya adikku dengan keheranan.


Himpitan yang menimpaku tadi menyisakan trauma yang mendalam kini. Mulut yang terkunci dengan rapat semakin menggigit kedua gigiku dengan kuat.


Bacak yang dikayuh ayahku memecah jalanan sunyi melaju dengan kecepatan sedang. Ayahku yang membawa becaknya kini berpacu dengan waktu agar hujan yang akan segera turun tidak menimpa kami. Ayahku yang selama ini terbiasa mengarungi panasnya matahari dan hujan badai seakan tidak menjadikan ini sebuah masalah yang harus dia hindari. Akan tetapi, karena ayahku melihat kami, kedua putri kecilnya dia terpaksa berpacu dengan cepat di tengah kerumunan lulu lalang kendaraan yang padat.


Aku yang masih duduk sambil mengerang kesakitan karena desakkan yang menimpa tubuh mungilku tadi tidak lagi memperhatikan kondisi ayahku yang sedang mengayuh becaknya.


Terdengar bunyi suara yang berkeretak mengendap -endap di dalam ke sandaranku. Suara itu tidak lain adalah suara adikku yang bernyanyi dengan riang di atas becak yang melaju. Tik, tik, tik bunyi hujan... suara nyanyian itu melebur di udara yang berembus di tengah kendaraan yang melaju lulu lalang terdengar di dalam kesadaranku dan menggema di udara kosong yang luas.


Sepanjang jalan suara nyanyian itu masih saja terdengar menggema di telingaku. Aku yang masih bergulat dengan emosional kesedihan menarik sedikit bibir dan ekspresi wajah sedikit bahagia mendengar alunan lagu yang dinyanyikan oleh adikku yang terdengar sedikit mengisi udara kosong yang luas.


Dari balik embusan angin aku mendengar suara ayahku berbalut dengan terpaannya. "Nak, apa kalian sudah lapar?" tanya ayahku yang mengkhawatirkan kami sambil mengayuh becaknya terus melaju.


"Ayah, sebenarnya aku dari tadi sudah lapar," rintih adikku sambil memandang wajah ayahku yang letih. Gurat wajah adikku sedikit menahan lapar. Aku yang melihatnya sedikit ke samping begitu perihatin.


Aku yang masih bertahan melihat wajah adikku yang telah kelaparan mengatakannya. "Ayah, jalannya ramai sekali." Aku membuka mulut bersuara pelan kepada ayahku. Nada suara yang getir menahan sakit akibat kerumunan orang-orang tadi. "Ana, sudah kelaparan, Ayah," paparku. Melihat adikku dengan sendu.


"Iya Nak! Makanya, Ayah sedikit pelan mengayuh becaknya agar kita tidak tertabrak," sambung ayahku yang duduk di atas kemudi. "Ayah juga tahu kalau kalian sudah lapar. Tapi ayah tidak bisa melaju dengan kencang," tutur ayahku. "... karena orang-orang juga banyak yang berjalan," ucap ayahku dengan nada suara yang di balut dengan embusan angin yang kencang.


"Kalau begini kita bisa terkena hujan, Yah," timpal adikku.


Aku yang melihat adikku dan ayahku refleks mengangkat kepala melihat ke atas langit. "Tapi awannya jalan-jalan," ucapku dengan keheranan karena aku hari ini pertama kali melihat awan bisa berjalan.


"Berjalan, Kak?!" Adikku langsung melihat langit ke atas. "Kak, awannya kenapa bisa berjalan?" tanya adikku terheran.


"Mungkin awannya ngikutin kita," jawabku yang belum mengerti tentang itu.


"Apa ia juga sampai ke rumah kita, Kak?" tanya adikku kembali ingin tahu.


"Kalau ia berjalan?!" Aku melihat awan sambil berpikir. "Kayaknya iya, awannya akan mengikuti kita sampai ke rumah," jawabku dengan polos sebagai seorang anak kecil.


"Hahaha!" Adikku tertawa seakan dia merasa lucu dengan jawabanku.


"Kenapa kau tertawa?" tanyaku. "Ada yang lucu, ya?" Aku menurunkan pandangan melihat ke arah adikku bertanya.


"Kak, aku membayangkan kalau awannya ikut ke rumah kita. Ia masuknya dari mana?"Adikku berpikir sambil menatap awan bertanya kepadaku. Dia pun terlihat masih menarik bibirnya menatap awan sedikit sumringah.


Aku yang masih kekanak-kanakan menjawab. "Awannya 'kan bisa menghilang," paparku dengan spontan.


"Bisa menghilang, Kak?" tanya adikku kembali berpikir memutar kepala melihatku dengan jengah.


Perjalanan di atas becak masih saja kami nikmati dengan senang. Tawa kecil seorang anak kecil pun semakin terdengar menggema di udara yang kosong yang luas. Jalanan yang lengang pun terus di lalui ayahku terlihat seakan, seperti mengendap -endap.


Awan gelap yang menutupi sebagian bumi yang terang menemani jalan kami sampai ke rumah sehingga angin pun tidak di sadari telah menerbangkan hujan yang turun dengan rintik-rintik.


Tik! Tik! Tik!


Rintik hujan yang jatuh di atas tanganku dan adikku menempel dengan kebeningannya. Aku yang melihat itu berasal dari kegelapan udara yang padat. Jalanan yang sempit di mana hanya ada udara gelap yang terperangkap di dalamnya. Bukan asap kendaraan yang tebal, buka pula siraman air yang menghapus kepulan asap yang menyelimuti sekeliling.


Ayahku pun meminggirkan becaknya dan berhenti. Mengambil baju hujan dan memakainya. Ayahku pun kemudian


mengayuh becaknya semakin kencang menyeliap dari kerumunan orang-orang yang memadati jalan. Turunnya hujan begitu di sambut gembira oleh aku dan adikku. Di mana, kami yang telah lama tidak pernah bermain hujan. Oleh karena itu, hujan di siang ini begitu menyenangkan hati kami berdua.


Dengan kata lain, aku dan adikku tidak ingin segera beranjak dari becak yang kami naiki. Kami masih ingin berlama-lama agar tubuh kami ini basah kuyup tersiram air hujan.

__ADS_1


"Hujaaaannn!" teriakkan aku dan adikku terdengar menggema di dara yang tersiram rintikkan air hujan.


Suara itu pun terdengar sedikit buram karena tertimbun angin dan air hujan yang turun. Kami berdua yang tadi duduk kini langsung berdiri. Di samping itu, aku tidak lupa menyembunyikan tasku di dalam terpal plastik yang tebal agar tidak basah terkena hujan. Aku juga tidak lupa memasukkan belanjaan yang telah di beli ayahku di dalam terpal plastik yang di mana tempat tasku tadi tersimpan.


"Ana, tasmu taruh di sini!" usulku pada adikku yang gembira.


"Apa tas Kakak sudah di situ?" Adikku langsung berputar menoleh dan berdiri tepat di hadapanku.


"Iya, itu...!" Aku menunjuk tas yang telah kusembunyikan. Mengangkat terpal.


Adikku pun langsung mengambil tas dan meletakkannya di tempat yang aku suruh. Hujan yang membasahi bumi dan juga membasahi tubuh ayahku yang mengayuh becak dengan kencang. Turun dengan derasnya.


Di jalanan yang lengang yang di basahi oleh air hujan yang turun dengan deras membasahi bumi. Ayahku terlihat sedikit mengurangi kecepatan becaknya yang telah sampai di depan rumah. Becak yang tadi dia kayuh kini sudah berhenti. Kami pun sudah selayaknya turun dari atas becak yang tadi membawa kami sampai ke rumah.


Hujan yang deras menimpa kami tidak kunjung jua berhenti. Ayahku yang tadi memakai baju hujan tergopoh-gopoh turun dan mengambil belanjaan yang tadi di beli di pasar.


"Cepat turun, Nak!" Ayahku membuka terpal plastik yang lebar. "...nanti kalian sakit." Ayahku mengambil belanjaan.


"Ayah, hari ini kami kuat, kok." Aku dengan senang mengatakannya.


"Liyan, kau baru sembuh. Nanti kalau kau sakit lagi, Ayah akan susah, Nak!" terang ayahku berjalan. Mengambil belanjaan.


Ayahku yang berlari menghampiri pintu rumah kami membuka baju hujan. Belanjaan yang di bawa dia letakkan di sudut dinding tepatnya tidak jauh dari pintu.


Aku yang sangat gembira menyambut hujan yang turun yang membasahi tubuh ini. Bertekuk setelah mendengar ayahku menyuruhku untuk berhenti. Aku sedih sekali mendengarnya. Hujan yang jarang sekali bisa kunikmati sekarang harus kutinggalkan.


Di balik rintikkan hujan yang deras. Aku berdiri melihat tetesannya yang turun secara beraturan. Di balik hujan senyumku pun seketika terukir indah melihat lompatan adikku yang bermain dengan genangan air.


Senyuman yang terukir di balik air hujan terlihat dengan samar menatap adikku yang berteriak dengan gembira. Atap seng yang terdengar berbunyi akibat rintik hujan menyeret kakiku pelan untuk berdiri di bawahnya. Sepatuku yang sobek kini semakin menyeruak lebar. Air hujan pun langsung masuk ke dalam sepatu dan membasahi kaos kaki.


Rasanya kakiku begitu dingin dan pucat karena air hujan yang membasahi sepatu. Aku pun segera berlari ke rumah untuk berteduh sambil membuka kaos kaki yang telah basah.


Sementara aku yang masik fokus mengeringkan kakiku yang basah hanya menatapnya dari balik hujan yang turun. Lantai rumah yang basah akibat jejak kaki ayahku dan aku membuatku ingin terpeleset.


"Aauuugh!" jeritku menahan kaki agar aku tidak terjerembab ke lantai.


Sepatu yang basah kini aku letakkan di pinggir tepat berdiri tegak bersandar di dinding. Bajuku yang basah juga aku peras meski masih dalam keadaan terpakai.


Perlahan aku berjalan mengambil handuk. Mengilap wajah yang telah basah. Lalu aku memutar badan berjalan memasuki kamar dan mengganti pakaianku yang telah basah. Sekilas aku menatap ke jendela yang terbuka. Aku berjalan dan berdiri menatap hujan yang turun seakan anganku pun terbang melayang bersama tetesan air hujan. Di depan jendela aku yang berdiri sambil mengilap rambut masih menatap nanar keluar dengan lekat. Pohon jambu yang sering kami gunakan untuk berteduh dan bermain serta menggambar mengenang ibuku terlihat basah dan berguguran.


Halaman pun kini di penuhi oleh sampah dedaunan dan bunga jambu yang berserakan. Hujan yang masih membasahi bumi belum juga reda. Tanah yang di gunakan adikku menggambar wajah ibuku terlihat basah dan becek.


Sementara teriakan adikku masih saja terdengar menggema dan percikan air hujan pun terdengar berdecak oleh kedua kakinya yang berlari-lari sambil memainkan air hujan. Tawa sumringahnya pun kini menghiasi guyuran hujan yang deras.


"Kak," sapa adikku dari luar tepat di depan jendela.


Cik!


Dia pun memercikkan air hujan dengan jemarinya tepat ke wajahku yang telah kering.


"Anaa!" jeritku dari depan jendela sambil menepis wajahku darinya tepat ke sebelah kanan.


"Hahaha! Kak, main hujan enak lah!" teriak adikku sambil berlari dengan riang. Menyimpulkan tawa ke arahku dengan pakaian seragam sekolah yang masih di pakainya.


Aku yang mendengar dan melihat di tengah guyuran hujan yang deras hanya bisa tertawa di dalam hati dan menatapnya dari balik air hujan yang turun.


Pakaianku yang basah pun telah aku taruh di tempat pakaian kotor. Melihat adikku yang gembira aku pun ikut merasakan kegembiraan itu juga.


Handuk yang mengilap wajahku tadi kini terletak di samping tepat di atas tempat tidur sebelah kiriku.

__ADS_1


"Liyaaan!" teriakkan ayahku dari dapur pun terdengar dengan keras memanggil namaku.


"Iya, Ayah." Aku langsung keluar menghampiri ayahku. "Ada apa, Yah?" tanyaku. Berdiri tegak lurus dengan pakaian yang telah terganti.


"Berikan handuk ini pada adikmu!" pinta ayahku mengayunkannya tepat di hadapanku.


"Suruh adikmu mengilap tubuhnya sampai kering," terang ayahku menjelaskannya kepadaku.


"Baik Ayah." Aku langsung mengambil handuk dan memberinya pada adikku.


Aku pun langsung memutar langkah menghampiri adikku yang berdiri tepat di depan pintu.


"Ana, ini handuknya." Aku memberikan handuk itu langsung kepada adikku. "Kata Ayah, ilap sampai kering." Aku menatapnya dan mundur ke belakang.


Jeglek!


Adikku pun mendorong pintu dengan keras hingga terhempas dengan keras ke dinding.


"Anaaa!" jeritku. Mendelik.


"Kak, maaf aku sudah kedinginan." Adikku gemetar sekali. "...Bajuku masih basah. Aku harus menggantinya sekarang, Kak." Tolak adikku menggeser tubuhku.


"Jangan lupa! Nanti pel lantainya sampai kering," perintahku dengan lembut.


"Aku mana bisa mengepel lantai, Kak. Aku 'kan masih kecil." Adikku melihatku dari pintu kamar mengeluarkan sedikit kepalanya.


"Ana, 'kan tidak basah kali lantainya," kataku. Melihat lantai yang basah mulai dari pintu hingga ke kamar.


Lantai yang basah akibat hujan yang membasahi seluruh pakaianku dan adikku kini membasahi sepanjang jalan yang kami lalui.


Siang yang dingin karena hujan yang deras. Tidak ada satu anak pun yang keluar untuk bermain. Aku yang menggigil terpaksa memakai pakaian yang tebal.


Baju lengan panjang yang jarang terpakai sekarang terlihat manis ketika kukenakan. Baju setelan hoodie pink ini begitu memanjakan aku ketika melihatnya. Pakaian yang seragam ini akhirnya, pun keluar kami pakai.


Setelan hoodie yang manis ini di belikan oleh ayahku serupa dengan adikku. Makanya ketika aku dan adikku memakainya orang- orang sering beranggapan kalau aku dan adikku itu adalah anak kembar.


Setelah hoodie yang manis bergambar hello kitty ini sekarang telah kami pakai. Aku dan adikku terlihat manis dan imut.


"Kak, baju kita sama," kata adikku sambil melihat bajunya.


"Hehehe, iya." Aku langsung nyengir.


Aku kembali berdiri bersama adikku di depan jendela melihat hujan yang belum reda. Hujan yang menetes ke bumi sangat menyenangkan hati ketika aku memandangnya. Lengan kecilku pun aku ayunkan ke luar dari celah jendela sambil merasakan tetesan hujan yang mengenai jemariku.


Begitu senang hatiku dan tersenyum bahagia. Meski aku tidak bisa bermain hujan dengan lama. Tapi aku masih bisa merasakan rintikkanya.


Adikku yang berdiri tepat di samping bersamaku juga melakukan seperti yang kulakukan. "Kak, hujannya masih deras." Adikku bermain-main air hujan dengan jemarinya.


"Iya, tapi kau enak sekali. Ayah tidak melarangmu bermain hujan," kataku pelan. Melirik adikku yang berdiri di sebelahku.


Adikku kini hanya mendengar dan tidak menjawabnya. Dia masih saja enjoy memainkan air hujan yang rintik-rintik itu.


"Padahal Kakak masih mau bermain hujan," ungkapku dengan nada suara pelan sambil menjentikkan air hujan dengan jemariku.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2